Kamis, 19 Maret 2015

Separation -Enam-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 03.15
SEPARATION

-Enam-

-----------------------

Seperti biasa. Taman belakang sekolah adalah pilihan Sivia untuk menenangkan segenap kepenatannya. Atau lebih tepatnya, untuk menghindar dari pelajaran sosiologi yang sedang berlangsung. Sungguh, sedikit pun ia tidak tertarik dengan semua mata pelajaran IPS di Albider ini. Semuanya terasa sangat basi dan membosankan.

Salah satu soundtrack film Twilight, mendayu-dayu di balik headsetnya. Menemani keresahan hatinya. Matanya yang dihiasi bulu mata panjang dan lentik itu dibiarkan menyapu keadaan di sekitarnya. Tepat ketika bola matanya terpusat pada tumpukan daun mangga yang sudah menguning, Sivia melihat sesuatu di atasnya. Penasaran, gadis cantik itu mendekat ke arah daun-daun itu dan mengambil apa yang membuatnya penasaran. Sebuah buku bersampul cream kini beralih posisi di genggamannya. Sesaat ia mengernyit melihat nama di sudut kanan atas jilid buku tulis itu.

“Alvin J. Sindunata,” gumamnya membaca nama pemilik buku itu. “Siapa, ya? Kok naruh buku di mana aja, sih? I’m convinced the owner of the book is not a smart person. Orang pinter gak mungkin naruh buku sembarangan kayak gini.” Entah sadar atau tidak, Sivia memasukan buku itu ke dalam tasnya. Ia berjalan meninggalkan taman belakang. Bel istirahat baru saja berbunyi dan ia ingin segera mengisi perutnya di kantin.

“Masa iya, sih Alvin dapet hukuman?”

“Katanya dia sampai di panggil ke ruang Pak Aris.”

“Padahal cuma karena gak ngerjain tugas. Dan setahu gue itu juga baru pertama kalinya dia kayak gini. Harusnya Pak Rus gak sampai segitunya juga kali…”

Sekilas percakapan kedua siswa itu menarik perhatian Sivia saat mereka berpapasan di koridor sekolah. Baru saja kedua siswa perempuan itu menyebut-nyebut nama Alvin. Nama yang sama yang tertera di jilid buku yang ia temukan. Raut penasaran semakin tergurat banyak di wajah cantiknya.

-----------------------

“Gue gak tahu, Shil. Gak mungkinlah, Alvin sebegitu cerobohnya sampai kehilangan buku matematikanya. Dan lo tahu? Pak Rus itu gak kenal kompromi. Dia hukum siapa aja yang buat kesalahan di jam pelajarannya. Alvin sampai dibawa ke ruang kepala sekolah masa.”

Sivia semakin menajamkan indera pendengarannya. Sejak ia datang ke kantin, ia mendengar kedua gadis yang salah satunya ia kenal itu membicarakan nama Alvin. Rasa penasaran semakin bertumpuk saja. Ia memandang Ify dan Shilla yang duduk jauh di hadapannya dengan cukup rinci.

“Terus sekarang dia dapet hukuman apa, Fy?” tanya Shilla. “Mudah-mudahan gak hukuman fisik, sih.”

“Ya, mana mungkinlah, Shil Pak Rus nyuruh Alvin keliling lapangan. Itu sih sama aja pembunuhan tidak langsung tapi disengaja.” Ify sadar, sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan ia dan Shilla. Dan itu membuatnya risih. “Ke kelas yuk, Shil,” ajaknya.

Untuk beberapa saat Shilla terdiam. Sebentar ia mengamati keadaan kantin. Orang yang ditunggunya sama sekali tidak ada. Ah, ia lupa kalau orang itu bukan termasuk jajaran orang yang senang menghabiskan uang jajan di kantin sekolah. Ia menghela nafas dan mengangguk, mengiyakan ajakan Ify.

“Emang Alvin kenapa sih, Yo?”

Baru saja Shilla beranjak, ketika orang yang dicarinya datang dari arah yang berbeda. Ia duduk di meja yang ditempati shilla dan Ify sebelumnya. Iel, orang itu tampak memandang wajah datar Rio yang hanya mengangkat bahu untuk menjawab pertanyaannya.

Kening Sivia semakin berkerut saja. Berbagai pertanyaan tentang Alvin terus berjajar dalam kepalanya. Emang siapa Alvin sampai dibicarakan banyak orang di Albider ini? Sepopuler itukah?

“Hei!” Sivia memanggil seorang siswa beratribut kelas X yang baru saja melintas di hadapannya.

“Kenapa, Kak?” tanya adik kelasnya itu. Gadis berkacamata itu memandang Sivia heran. Penampilan kakak kelasnya itu sungguh lain dari yang lain.

“Lo kenal Alvin?”

Anak perempuan itu mengerutkan kening.

“Alvin J. Sindunata.” Sivia menegaskan dengan menyebut nama lengkap Alvin.

“Kakak anak baru, ya?” tanya gadis itu memastikan. Kali ini Sivia yang mengerutkan kening bingung. Ia sama sekali tidak mengerti.

“Semua siswa yang baru seminggu lalu nyelesain MOS aja tahu, kok  siapa Alvin Jonathan Sindunata itu. Dia bahkan jauh lebih terkenal dari ketua osis dan kapten futsal sama basket Albider.” Siswa itu menjelaskan. Lantas setelah itu ia pergi meninggalkan Sivia yang masih terbengong-bengong di tempatnya. Tepatnya, nama Alvin bahkan jauh lebih terkenal dari namanya yang jelas-jelas anak seorang pemilik Albider.

Penasaran, Sivia segera mengambil buku Alvin dari dalam tasnya. Dan di detik ke lima setelah ia membuka buku itu, kata “wow” langsung saja terucap dari bibir tipisnya. Angka 100 dan 90 itu memenuhi tiap lembar buku matematika itu. Dugaannya tentang pemilik buku itu bukan orang pintar melenceng hingga tiga ratus enam puluh derajat. Dan kali ini ia benar-benar ingin tahu siapa orang yang sudah mengalahkan pamor dan kepopulerannya. Harusnya semua orang jauh lebih mengenalnya ketimbang si Alvin, Alvin itu.

-------------------

Dua jam yang lalu bel pulang berbunyi. Hampir semua siswa sudah meninggalkan sekolah dan kembali ke rumah masing-masing. Hanya segelintir orang yang masih betah tinggal di sekolah, sibuk dengan aktifitas dan kegiatan masing-masing. Salah satunya gadis berdagu tirus yang saat ini masih anteng saja duduk di bangku penonton lapangan futsal indoor sekolah saat itu. Bola matanya tidak sedikit pun bergeser dari sosok laki-laki tinggi yang begitu asyik bermain-main dengan bola sepaknya.

Entah apa yang membawanya ke tempat ini. Duduk berlama-lama hanya untuk menemani Rio yang bahkan lebih asyik dengan bolanya. Semalam gadis pintar itu membuat catatan kecil di bindernya. Catatan itu diberi judul, “10 Cara Melupakan Orang yang Dicintai”.

Ini adalah cara pertama yang Ify jalankan. “Mendekati orang yang berusaha kita lupakan adalah hal yang paling tepat”. Dan menemani Rio bermain bola untuk pulang bersama adalah aksi pertamanya. Ia berharap cara pertama ini berhasil.

“Gak cape apa, Yo main bola sendirian?” tanya Ify memecahkan keheningan yang sejak tadi menguasai lapangan itu. Rio tak lantas menjawab pertanyaan Ify. Ia menggiring bola dengan lincah. Baru setelah ia menendang bola ke arah gawang tanpa kiper itu, ia bersuara, “sebenarnya selama ini gue gak pernah merasa sendiri,” katanya memandang Ify. Ia tidak mengerti kenapa mantan kekasihnya itu mau repot-repot menunggunya. Padahal, seingetnya, setelah mereka resmi putus, Ify tidak mau berduaan dengannya seperti ini.

Mendengar jawaban Rio, dada Ify langsung berdebar tak karuan. Apa maksud Rio itu, karena ia sedang bersamanya? Atau memang karena perasaan Rio juga sama seperti perasaannya? Apa maksud Rio tak pernah merasa sendiri itu, karena namanya masih ada dalam hatinya juga? Ify tiba-tiba saja membatin.

“Gue mau pulang. Lo mau di sini?”

Ify terhenyak. Kesadarannya memulih. Ia menatap Rio yang sudah berjalan menuju pintu keluar.  Ify buru-buru mengambil tasnya dan menyusul Rio. Tepat ketika di ambang pintu, langkah mereka terhenti. Dea tengah berdiri di balik pintu lapangan.

“Lo, kok ada di sini, De?” tanya Ify curiga. Ia memandang Dea penuh selidik.

Dea tampak salah tingkah mendengar pertanyaan Ify. Ia celingukan sendiri mencari alasan. “Hellooo… gue bayar kali sekolah di sini. Terserah gue dong, mau ada di sini juga. Bukan ruang kepala sekolah juga,” cerocos Dea kesal. Ia segera berlari meninggalkan kedua sahabat kakaknya itu.

Ify memandang Dea yang kemudian menghilang di ujung koridor sebelum membiarkan manik matanya  memandang wajah datar Rio.  Lantas setelah itu ia melanjutkan langkahnya. Sepintas ia melihat tangan Rio yang bebas. Perasaan sedih langsung saja menyergap bagian hatinya. Dulu, ya, dulu… tangan itu yang selalu semangat meraih tangannya, menggandengnya ketika berjalan beriringan seperti ini. Tapi itu dulu. Dan sekarang itu adalah hal yang tak mungkin.

------------------------

Ini ke sepuluh kalinya Shilla menoleh ke arah Agni dan ujung koridor. Agni masih asyik dengan game di handphonenya. Gadis tomboy itu pasti bosan menunggunya seperti ini. Sebenarnya ia juga tidak ingin berpanas-panasan seperti ini di parkiran sekolah. Tapi untuk kali ini saja, ia harus benar-benar ketemu Iel dan berbicara padanya. Ia harus mencaritahu kejelasan hubungan mereka.

“Apa Iel udah pulang, ya?” gumam Shilla.

“Katanya anak-anak osis, kan lagi rapat, Shil,” kata Agni tanpa mengalihkan fokusnya.

Dan Shilla terduduk lesu di samping Agni. Sebentar lagi sore dan Iel belum juga terlihat. Padahal ia sungguh ingin bertemu dengan laki-laki itu. Ia merindukan Iel, dan rindunya sudah menuntut untuk segera dilunasi saat itu juga. Shilla tertunduk dalam. Kenapa untuk bertemu dengan pacarnya saja terasa sangat sulit?

“Iel!!”

Shilla terhenyak begitu teriakan Agni terdengar memekakan telinganya. Ia mengikuti arah pandangan Agni.

“Yah, sialan si Iel. Main ngeloyor aja…” Agni mendumel. Iel baru saja pergi meninggalkan gerbang sekolah bersama  teman osisnya.

Air mata Shilla berkumpul. Sebisa mungkin ia menahan tangisnya. Ia tidak boleh menangis di hadapan Agni, atau Agni akan berulang kali mengatainya “stupid girl”. Agni tiak pernah suka melihat sahabat-sahabatnya menangis karena laki-laki. Tapi apa yang berkecamuk dalam dada Shilla, tentang Iel yang mulai menghindar darinya, Iel yang baru saja pura-pura tidak melihatnya dan pergi begitu saja membuat perasaannya benar-benar terluka parah.

“Ya udah kita pulang aja, Ag.” Shilla menarik nafas panjang. Ia sudah berencana untuk membludakan air matanya jika sampai rumah.

Agni mengangguk. Ia merangkul Shilla. “Masih banyak waktu.”

---------------------

Ia menyadari satu hal. Setelah kepergian orang yang begitu dicintainya tanpa kejelasan itu, ia merasa hidup dan perasaannya berubah. Hatinya yang dulu statis, kini bergerak-gerak mencari tempat di hati satu dan hati yang lain. Tapi sungguh tidak ada niat sedikit pun untuk memiliki hati itu. Ia hanya ingin ada tempat yang bisa melindunginya dari keterpurukan. Ia ingin ada yang menyelamatkan cintanya yang terombang-ambing tak jelas seperti ini.

Ia sandarkan tubuhnya di pagar besi Albider. Halaman terakhir novel yang baru selesai dibacanya, seakan memaksa ia untuk kembali mengingat masa-masa itu. Masa indah yang pernah ia lewati bersama dia-yang-telah-pergi, sesaat membuat dadanya sesak.

“Nov…”

Panggilan seseorang mengalihkan seluruh syaraf perhatiannya. Ia memandang orang yang kini berdiri di sampingnya. Cukup terkejut hingga untuk beberapa saat ia terpaku. Alvin, laki-laki tampan yang ia kagumi tampak memandangnya heran. Sedikit gugup ia mencoba menghindar dari tatapan Alvin.

“Eh, Kak Alvin. Ada apa, kak?” tanya Nova nervous. Ia memang sudah cukup kenal dekat dengan Alvin. Tapi dia tidak pernah mengerti kenapa selalu gugup setiap kali berhadapan dengan laki-laki baik hati itu.

“Lihat Dea gak, ya?” tanya Alvin balik.

“Tadi sih katanya, mau ke lapangan futsal gitu,” jelas nova menatap Alvin heran. Ia tidak mengerti kenapa Alvin masih memperhatikan Dea yang jelas-jelas selalu menjahatinya. “Kak Alvin kok belum pulang? Nungguin Dea? Bukannya Dea bawa motor sendiri ya?” tadinya hanya berbasa-basi untuk menyembunyikan rasa gugupnya.Tapi, pertanyaan yang dilontarkan tanpa jeda itu malah membuat kegugupanya terlihat bergitu jelas.

Alvin tersenyum dan menggeleng. “Gue gak lagi nungguin Dea, kok. Gue baru aja ngadep kepala sekolah dan nyelesain hukuman.”

“Hah? Hukuman?” Nova pura-pura kaget. Padahal ia sudah tahu, Dea sudah bilang padanya kalau dia yang mengambil buku Alvin dan membuangnya di tumpukan daun mangga kering biar dibakar sama Pak Nardi, tukang kebun sekolah.

“Iya, Nov, gue gak bawa buku tugas matematika gue. Dan sekarang gue nyari Dea, soalnya gue tau kalau dia yang bawa buku gue.”

“Kak Alvin mau marahin Dea ya?” Selama kenal Alvin dan Dea, ada satu hal yang begitu ia inginkan. Melihat Alvin memarahi Dea. Terdengar aneh, tapi ia memang benar-benar ingin itu terjadi.

Mendengar kata-kata Nova, sontal Alvin terkekeh. “Marahin Dea? Buang-buang energi aja, tau.”

Untuk kesekian kalinya Nova menatap Alvin dengan heran. Keinginannya selama ini memang tidak pernah ada wujudnya. Alvin adalah orang yang tidak pernah bisa dimengertinya. Entah karena hati Alvin itu memang bersih, atau karena Alvin memang begitu takut dengan Dea.

“Eh, Kak… gue balik duluan ya?” Begitu sadar jam di tangannya menunjukan pukul empat, Nova segera beranjak dan hendak meninggalkan Alvin.

“Lo pulang bareng gue aja.” Dalam satu gerakan, Alvin menarik tangan Nova.

Nova terkesiap. Dadanya langsung bergemuruh. Tangan Alvin yang melingkar di pergelangan tangannya terasa begitu hangat hingga ke dalam hatinya. Ia menatap wajah bingung Alvin dengan gugup. “Hm, bu-bukannya Kak Alvin mau… apa… itu… ng…”

“Lo boleh nolak ajakan gue kalo lo punya minimalnya lima alasan.” Sambil bicara seperti itu Alvin menarik Nova menuju parkiran sekolah.

“Kak Alvin kan lagi nungguin Dea.”

“Gue lagi nyari Dea, bukan nungguin Dea. Lagian lo diajak pulang kok kayak yang ditangkep polisi aja.” Alvin berhenti di samping Viosnya.Tangannya masih melingkar di tangan Nova.

“Bukan gitu, Kak. Tapi, ng… itu…” Nova mengalihkan pandangannya ke arah tangan Alvin. Alvin yang baru menyadari hal it segera mungkin melepaskan tangannya dan mengucapkan maaf berulang kali. Ia benar-benar tidak sadar. Ia merasa tidak enak hati dengan sikapnya. Ia lupa kalau Nova bukan Shilla, Ify, atau Agni yang biasa ia perlakukan seperti itu.

“Ngga apa-apa kok, Kak. Kalau emang Kakak niat banget nganterin aku pulang sih, ya udah yuk!” Melihat wajah tak enak Alvin, Nova memutuskan untuk balik memegang lengan Alvin. Alvin tersenyum dan membukan pintu mobil untuk Nova.

--------------------- 
To be Continue…

Follow me
@nhyea1225

Tinggalkan komentar, kritik, dan sedikit pujian juga boleh…
Terimakasih


1 komentar:

  1. Kak, kalo berputar 360 derajat itu berarti gak ada perubahan.. Oke, saya salah fokus.. hehe...

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea