Kamis, 19 Maret 2015

Separation -Lima-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 03.14
SEPARATION

-Lima-

----------------------

Rumah Alvin terasa lebih hidup dari biasanya. Kehadiran Rio, Shilla, Agni, serta Ify yang baru saja datang, membuat keadaan rumah yang biasanya sepi itu begitu ramai dan ceria. Meski mereka tampak sibuk dengan aktifitas masing-masing, karena Cakka—orang yang mengusulkan ide kumpul itu—belum juga terlihat batang hidungnya. Namun suasana kebersamaan itu tetap terasa begitu kental.

“Ada apa sih, Vin?” Ify mendudukan dirinya di samping Agni yang masih asyik dengan remot TV. Ia menggonta-ganti channel TV tidak jelas. Hampir semua saluran televisi menyiarkan program Music Chart. Membosankan sekali.

Alvin yang saat itu sibuk dengan buku fisikanya, memandang Ify sekilas. “Gue juga gak tau. Semalem Cakka sms gue, katanya kumpul di sini.”

“Makanya, Fy, punya handphone tuh jangan dianggurin terus. Lo gak tau deh, Cakka sms kita semua pake nomor Mas Elang dan ngajak kita kumpul di rumah Alvin. Smsnya sekitar jam sebelas malam sih.” Shilla yang waktu itu duduk di samping Rio, segera beralih ke samping Alvin. Rasanya tidak enak pada Ify. Meski Ify terlihat biasa saja, ia tidak ingin terkesan menempel terus pada Rio. Di sekolah mereka duduk bersama—tentunya sebelum ada anak baru itu—dan Shilla tidak harus duduk dekat dengan Rio juga di rumahAlvin.

“Iya, handphonenya ada di tas. Dia ninggalin tasnya di kantin kemarin. Udah parah kali ya, penyakit pikunnya.” Mata Ify yang semula terpusat pada Rio, kini beralih ke arah tas Cakka yang memang sengaja dibawanya. Agni yang baru menyadari keberadaan tas bermerk itu, baru ingat kalau kemarin Cakka ia kunci di toilet. Lalu,bagaimana caranya laki-laki menyebalkan itu bisa keluar?

“Terus, sekarang si Tuan Cicak-cicak di dinding itu mana?” tanya Agni masih tidak mengerti. Tapi baguslah, Cakka bisa keluar. Ia benar-benar lupa kemarin hari sabtu dan sekarang libur. Bagaimana  pun juga ia tidak ingin mengambil resiko Cakka pingsan terkunci di toilet sekolah.

“Ngga tau nih, Cakka. Dia yang ngajak, tapi dia yang gak hadir.” Shilla menggerutu. Bukan, bukan Cakka yang sebenarnya jadi objek gerutuannya. Tapi Iel yang juga tidak hadir, yang membuatnya merasa begitu kesal. Padahal ia merasa begitu ingin bertemu dengan laki-laki yang paling dikangeninya itu.

“Lagi di jalan kali.” Rio yang sedari tadi diam dan asyik dengan komiknya mulai bersuara. Untuk sepersekian detik ia menatap wajah bad mood Shilla. Setelah itu ia kembali larut dalam dunianya.

Ify yang sekilas melihat adegan itu hanya tersenyum. Senyumnya memang manis, tidak ada yang tahu kalau di balik senyum manis itu ada luka yang juga melebar. Dalam hati ia menertawakan dirinya sendiri, yang sok pura-pura semuanya baik-baik saja, padahal hatinya begitu sakit melihat pemuda itu. Kadang ia selalu berpikir lebih baik tidak perlu ada ikatan persahabatan lagi setelah hubungan mereka berakhir. Karena setiap kali melihat dan mendengar suara laki-laki yang saat ini duduk dengan anteng di hadapannya, rasa menyesal dan ingin memiliki lagi selalu membuatnya begitu rapuh.

“Oh, ya… katanya di kelas kalian ada murid baru ya?” pertanyaan yang baru saja Agni lontarkan jelas tertuju pada Shilla dan Rio. Dan tentu saja semua orang menunggu jawaban dari Shilla, karena tidak mungkin Rio mau menghabiskan tenaganya untuk menjawab dan menjelaskan.

“Iya, Ag. Sivia Azizah namanya. Katanya sih, anaknya Pak Albi.”

“Albi Azizi, pemilik Albider?” tanya Alvin dan Ify hampir bersamaan.

Shilla mengangguk. “Orangnya belagu, angkuh, sok. Ya… singkatnya sih menyebalkan!” katanya menjelaskan. Alvin tersenyum penasaran.

“Sori, gue telat.” Cakka duduk di samping Rio yang tetap acuh dengan kehadirannya. “Gue baru bangun tadi.”

“Emang lo tidur jam berapa sih, Kka?” tanya Alvin.

Cakka menguap. “Jam delapan kok…” Langsung saja Shilla dan yang lainnya mengernyit. Terus yang sms jam sebelas malam siapa? Masa Mas Elang, sih. “Maksud gue, jam delapan lebih lima jam.” Lanjut Cakka yang langsung mendapat toyoran spesial dari Ify. Kecuali Rio, yang lain tertawa.

“Lo itu, ya.. jadi orang gak bisa apa gak ribet?” protes Ify menatap wajah sayu Cakka yang masih cemberut karena toyorannya. “Gak usah manyun! Gue tuh udah baik hati bawain tas lo. Makanya, jangan suka tidur malam-malam, pikun kan, lo. Udah tau otak lo itu daya ingatnya cuma beberapa watt.” Cakka tahu, meski terkesan mengejek, protesan  Ify itu tetap saja bentuk perhatian terhadapnya. Ify memang tidak seperti Shilla yang perhatiannya selalu terlihat intens dan jelas.

“Gue gak lupa kali, Fy. Ini tuh gara-gara nih, cewek!” Cakka melempar bantal ke arah Agni yang langsung menyeringai kesal. “Dasar Bebek Angsa!”

“Apaan sih lo, Cicak?!” Agni kembali melemparkan bantal ke arah Cakka. Cakka yang memang pada dasarnya jago basket, dengan sigap menangkapnya.

“Lo semua bayangin aja! Gue baru pulang jam delapan malam gara-gara dikunci di toilet sama nih bocah! Kalo Iel waktu itu gak pulang malam, mngkin sekarang gue bener-bener menginap di toilet Albider,” cerita Cakka sembari menatap Agni tajam. Ify serta yang lain kecuali Rio ikut memandang Agni. Pandangan mereka mengisyaratkan; beneran, Ag? Agni hanya nyengir yang langsung membuat teman-temannya menggeleng-gelengkan kepala.

“Oya, sekarang Iel mana?” tanya Cakka celingukan sendiri. Ia baru sadar sahabatnya kurang satu.

“Ponsel lo geter tuh, Yo.” Alvin memberitahu begitu melihat Nokia putih yang nangkring di atas meja itu bergetar.

Rio menghentikan aksi membacanya. Ia segera mengambil handphonenya. “Iel gak bisa datang. Katanya ada urusan super penting.”

Dan keadaan menjadi lebih hening. Yang paling kecewa tentu saja Shilla. Gadis itu menunduk dalam. Berbagai pikiran negative berkecamuk dalam benaknya. Mungkin Iel memang gak mau ketemu sama gue lagi. Shilla membatin sedih. Alvin menghela nafas melihat raut sedih yang terpeta dalam wajah gadis itu.  Ia tidak pernah tahu kenapa Iel yang juga sahabat baiknya, harus membuat gadis sebaik Shilla terus sedih seperti ini.

“Shil…” Akhirnya Alvin menepuk pundak Shilla.

Shilla mengangkat kepala dan sudah menemukan wajah-wajah simpati sahabat-sahabatnya. “Gue ngerasa Iel emang niat ngehindar dari gue,” tukas Shilla. Gadis bermata caramel itu memang termasuk gadis terbuka dan tidak suka memendam perasaannya. Ia akan menangis jika ia sedih, dan ia akan tersenyum jika ia bahagia. Perasaannya sensitif dan begitu mudah tersentuh.

“Udah dong, Shilla sayang… Lo jangan neting gitu.” Ify duduk lebih dekat ke arah Shilla dan merangkul sahabat terbaiknya itu. “Gue ngerti kok, gimana perasaan lo. Tapi jangan sampai salah ambil keputusan. Gue gak mau sahabat gue tersayang rasain penyesalan yang mendalam itu gimana.” Karena dulu, sebelum hubungannya dan Rio berakhir, kondisinya sama seperti kondisi Iel dan Shilla sekarang. Rio sempat bersikap seperti Iel, Ify tidak tahan dan akhirnya membuat ia memutuskan laki-laki itu. Dan sampai sekarang Ify benar-benar menyesal memutuskan Rio. Seandainya ia bisa bertahan waktu itu.

Shilla tidak merespon. Matanya berkaca-kaca.

“Stop, Shil…” Agni buru-buru ikut mendekat ke arah Shilla. “Stop! Gue minta sama lo jangan nangis cuma karena cowok!” Gadis tomboy itu langsung saja menghapus air mata Shilla yang hampir menetes. Agni benar-benar tidak suka melihat wanita, terlebih sahabat-sahabatnya menangis hanya karena makhluk bernama laki-laki.

Alvin, Rio, dan Cakka hanya diam melihat adegan ketiga gadis itu. Mereka tidak ingin ikut campur urusan gadis-gadis itu. Jadi mereka memilih untuk diam menyimak.

“Jangan nangis! Air mata lo gak boleh turun cuma karena cowok bego yang bahkan gak bisa pertahanin rasa sayangnya sama lo. Cowok bego yang gak bisa buat lo selalu bahagia. Cowok bego yang bahkan gak tahu dua puluh empat dibagi empat itu berapa, gak pantes lo tangisi.” Agni memegang pundak Shilla agak kuat, berharap bisa menguatkan Shilla. Ia memang tidak tahu seberapa berartinya iel untuk Shilla, tapi ia tidak ingin Shilla menangis.

“Ag, gue aja yang nilai matematikanya di bawah rata-rata, tau kalau dua puluh empat bagi empat itu enam. Berarti biar bisa ditangisi cewek, gue gak perlu pusing-pusing jawab soal-soal aritmatika.” Ditengah suasana mellow itu Cakka tiba-tiba saja nyeletuk. Agni langsung saja melotot ke arahnya. Alvin tertawa pelan mendengar kata-kata Cakka.

“Gak ada cewek yang bakalan mau tangisi lo. Kalau pun ada, cewek itu sama begonya sama lo!” Agni benar-benar kesal sama Cakka yang entah lemot atau apa.

Cakka mendengus. “Haahh, ayolah! Jangan melodrama gini. Gak ada Iel tuh bukan berarti acara kumpulnya  kayak nonton film sad ending, kan?”

Dan keadaan hening. Tidak ada yang menyetujui mau pun menolak kata-kata Cakka. Sampai Cakka kembali bersuara…

“Ke tempat favorit kita, yuk! Semalam gue sama Iel ke sana. Lapangan itu benar-benar terlihat sangat tua.”

Langsung saja, begitu Cakka menyebutkan “tempat favorit kita”, semua orang yang saat itu berada di ruangan depan rumah Alvin itu, merasa sesuatu menarik mereka ke tempat itu. Dengan rekaman masing-masing, mereka membayangkan tempat itu dan kejadian apa saja yang pernah terlewati. Hanya Agni yang memang baru satu tahun ini berteman dengan mereka yang tidak tahu tempat seperti apa yang Cakka maksud.

“gak hari ini deh, Kka kayaknya. Gue mau pulang aja.” Shilla beranjak dari duduknya. “Vin, gue pulang, ya?” pamit Shilla. Alvin mengangguk. Ia tidak ingin memaksa Shilla untuk tetap tinggal. Shilla beringsut keluar dari rumah Alvin. Sahabat-sahabatnya hanya menatap punggung Shilla iba. Mereka tahu seberapa besar rasa sayang Shilla terhadap Iel. Shilla adalah gadis paling rapuh, namun cinta dan hatinya terlampau kuat untuk Iel. Di sela semua kesibukan dan kepadatan aktifitas Iel, Shilla tetap bertahan dan selalu mengerti Iel. Tapi rupanya, untuk sikap Iel yang terkesan menjauh darinya membuat pertahanan Shilla hampir roboh.

----------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225

Tinggalkan komentar, kritik, dan pujian juga boleh…
Terimakasih


0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea