Selasa, 03 Maret 2015

Separation -Satu-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 22.09
SEPARATION

-Satu-

-------------------

Suasana meja makan pagi ini cukup sepi. Hanya bunyi sendok dan piring yang sesekali beradu yang mengusik  pendengaran setiap orang yang duduk di meja berbentuk persegi panjang dengan enam kursi itu. Alvin, salah satu dari mereka, sekilas memandang orang-orang di sekelilingnya yang begitu fokus dengan sarapan masing-masing. Harum nasi goreng plus telur setengah mateng yang Mama  jadikan menu sarapan pagi ini membuat mereka begitu menekuni sarapan mereka.

“Alvin mau tambah lagi?” tanya Mama begitu melihat piring Alvin sudah kosong. Porsi makan Alvin sedikit sekali. Alvin menggeleng pelan.

“Makan yang banyak, Vin. Biar energinya gak cepet low,” sambung Papa sembari meminum seperempat gelas air putih yang sudah disiapkan Mama di samping kanannya.

Alvin memandang Mama dan papanya bergantian.Lantas tersenyum. “Namanya juga sarapan, Pa. Yang penting perutnya gak kosong.” Laki-laki pengidap penyakit jantung bawaan itu memutar bola matanya ke arah lain. Dea, Adik perempuan satu-satunya itu tampak memasang raut wajah kesal. Ia memotong-motong telur dengan begitu sadis. Dan tanpa harus menduga-duga, Alvin sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya…

“Dea berangkat!!!”

Sama serperti hari-hari sebelumnya. Nada tinggi yang dilontarkan gadis manis itu bersamaan dengan suara sendok yang cukup keras beradu dengan piringnya. Dea meninggalkan setengah nasi goreng dan telur tanpa rupa di piringnya. Nafsu makannya langsung sirna begitu saja. Wangi menu sarapan yang Mama buat kalah dengan aroma kebencian yang menguar dalam dadanya.

Selalu kayak gini! Menyebalkan sekali! Kalo emang gak mau anggep gue ada, kenapa kandungan Mama gak digugurin aja dari dulu. Gue gak perlu ngerasain diskriminasi gini! Dea mendumel dalam hati. Rasa kesal yang bersumber dari perih di hatinya itu membuat ia langsung keluar rumah tanpa mencium tangan Mama dan Papa terlebih dahulu.

“Alvin juga berangkat, Ma, Pa.” Alvin meneguk sedikit air, lantas berdiri dan mencium tangan Mama dan Papa yang masih memasang raut wajah bingung. Sampai sekarang, Alvin tidak mengerti dengan sikap Mama dan papanya itu. Entah mereka kurang peka dengan perasaan Dea atau apa. Tapi yang pasti, Alvin tidak pernah ingin berada di posisi seperti ini.

-----------------

“De!” Alvin mencekal kuat pergelangan tangan Dea begitu ia berhasil menyusul adiknya itu. Dea baru saja hendak membuka gerbang rumah dan tampak berdebat dengan Pak satpam.

Dea membalikan badan. Ia menatap Alvin dengan tatapan super tajam. Seolah dengan tatapan itu dalam sekejap bisa membuat laki-laki di hadapannya itu hilang. Selama ini  itulah yang selalu diharapkannya. Alvin hilang dalam hidupnya. Entah itu dengan cara ia yang pergi atau Alvin yang pergi. Ia hanya tidak ingin hidup bersama laki-laki penyakitan itu. “Ngapain sih, lo pegang-pegang gue?” sengit Dea mencoba melepaskan cengkraman tangan Alvin.

Sebelum Dea benar-benar berhasil melepaskannya, Alvin segera menarik gadis itu dan memaksanya masuk ke dalam mobil. “Lo pikir, Albider itu deket?” Alvin segera menstrater Vios hitamnya. Pak Badru, satpam rumah yang masih bingung dengan sikap kedua anak majikannya itu, segera membuka gerbang rumah dan tersenyum sopan saat mobil Alvin melaju meninggalkan rumah.

“Baru tiga hari yang lalu lo itu resmi jadi anak SMA, De. Belajar tinggalin sikap anak SMP lo itu, dong,” tegur Alvin tanpa mengalihkan fokus kemudinya. Ia mengerti bagaimana perasaan Dea. Tapi, harusnya Dea juga bisa mengerti bagaimana posisinya. Dia juga tidak pernah bermaksud merampas semua perhatian Mama dan Papa. Ia sudah menjelaskannya ribuan kali, tapi Dea tidak juga mengerti.

Dea diam saja dan itu malah membuat Alvin begitu cemas. Bukan cemas pada Dea, tapi lebih cemas dengan keadaannya sendiri. Kalau Dea diam seperti ini, itu artinya dirinya berada dalam situasi berbahaya. Dan Alvin tidak bisa menebak rencana apa yang akan Dea lakukan untuk mengerjainya. Meski pun Dea tahu betul kondisinya, Dea tidak pernah menghiraukan itu. Asal rencana berhasil, dia tidak peduli akibat apa yang akan terjadi. Yang terpenting, ia berhasil menghilangkan kekesalannya.

“Lo kenapa sih, De?” tanya Alvin.

Dea tetap bergeming. Berbagai kejadian yang pernah ia lewati, kembali berputar dalam kepalanya. Tentang bagaimana Mama dan Papa yang memperlakukan Alvin dengan begitu spesial, lain dengan perlakuan yang ia dapatkan. Tentang bagaimana semua pendapat, harapan, dan keinginannya selalu diacuhkan. Tentang bagaimana ia dinomorduakan. Tentang bagaimana orang-orang memuji Alvin dan menghina dirinya. Tentang bagaimana nama Alvin begitu terkenal dengan prestasi gemilang, dan tentang nama ia yang terkenal karena menjadi adik seorang Alvin dengan sifat dan sikap yang berbeda.

“Berhenti!” pekik Dea tiba-tiba seiring berhentinya rekaman masa silam itu dalam benaknya.

Alvin menoleh sebentar ke arah Dea. “Berhenti? Mau ngapain emang?”

“Pokoknya berhenti!” titah Dea kasar.

Alvin menghentikan mobilnya.

 Dea keluar dari mobil, membuka pintu di sebelah Alvin. “Geser! Biar gue aja yang nyetir!”

Alvin yang tidak mau banyak berdebat dengan Dea, langsung berpindah posisi ke tempat Dea sebelumnya. Selain itu, jika terlalu banyak berdebat, ia bisa telat ke sekolah.

Dea tersenyum jahil. Kakaknya itu memang cukup bodoh untuk menebak rencana jahatnya. Seringai kemenangan tersungging manis. Ini akan menjadi hal menyenangkan untuk menghilangkan kekesalan hatinya. Dan tanpa berpikir panjang lagi, langsung saja kaki yang ditemani sepatu hitam itu menginjak pedal gas tanpa perasaan. Ia menjalankan mobil yang selalu dicuci bersih itu di atas kecepatan rata-rata. Alvin saja tidak pernah membawa lari mobil hadiah juara olimpiade fisika tahun kemarin dari ayahnya itu dengan sebrutal ini.

“Lo gila ya, De? Lo mau kita mati?” Alvin panik sendiri begitu Viosnya melaju dengan cepat dan menyelip kendaraan-kendaraan lainnya yang masih berjalan dengan normal.  Bunyi klakson memprotes mereka dari arah sana dan sini.

“Kita? Lo aja sendiri.” Wajah puas Dea terlihat jelas. Sekilas ia memandang Alvin yang tampak memejamkan mata. Tangan kanan laki-laki itu meremas kuat sabuk pengaman. Sudah jelas Alvin sedang berusaha menahan kepanikannya agar kondisinya tidak tamat begitu saja. Wajah itu pucat pasi.

CKIIIITTTT

Suara decitan rem terdengar cukup keras saat Dea berhasil membawa mobil itu ke parkiran sekolah. Seorang siswa putra yang baru saja memarkir motornya, sampai menoleh ke arah mobil mereka.

Bye, Kak Alvin. Pastikan lo gak masuk UKS ya, setelah ini,” ejek Dea keluar dari mobil. Ia menutup pintu mobil dengan kasar. Sebelum ia benar-benar meninggalkan tempatnya, ia menatap seseorang yang tadi memarkir motor di samping mobilnya dengan sengit.

Cakka, pemarkir motor itu, segera membuka pintu mobil Alvin setelah Dea benar-benar pergi dari hadapannya. “Lo dikerjai lagi, Vin?” tanyanya mengamati Alvin dengan cemas.

Alvin menarik nafas sedalam mungkin. Menetralisir detakan jantungnya yang berdetak agak tidak normal. Beruntung ia tidak benar-benar collapse. Perlahan ia membuka mata dan langsung dihadiahi iris cokelat sahabatnya yang sarat dengan kecemasan. “Gak apa-apa,” katanya melepas sabuk pengaman dan keluar dari dalam mobil. Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah.

“Adik lo itu kualatnya udah stadium kacau tau gak? Kakak sendiri dikerjain. Lagian lo dieeemmm aja bisanya. Kerjain balik, kek!” protes Cakka kesal. Ini bukan pertama kalinya Alvin dikerjai seperti ini. Udah berkali-kali dan bahkan pernah lebih parah dari ini. Tapi sahabatnya yang paling baik itu  diam saja dan tetap memperlakukan Dea dengan manis. Ia tidak pernah mengerti dengan pemikiran Alvin.

Mendengar protesan Cakka, laki-laki bermata sipit itu langsung saja tertawa pelan. “Waktu gue yang singkat ini, sayang kalau cuma dipake mikirin rencana gak penting kayak gitu.”

“Gue punya banyak waktu dan ide jail buat bantu lo.” Cakka berdiri di depan kelas berlabel XI IPS-2. “Kalo lo minat buat gue bantuin, lo bisa hubungi nomor gue, atau bisa juga lewat inbox facebook gue. Hehehe…” setelah memamerkan cengirannya dan menepuk bahu Alvin, Cakka ngeloyor masuk ke dalam kelasnya yang sudah cukup ramai itu.

Mendengar kata-kata Cakka, Alvin hanya bisa tersenyum. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kelasnya. XI IPA-1 itu tujuannya. Ruangan yang cukup jauh dengan kelas Cakka. Masih dengan berbagai pertanyaan dalam benaknya, ia terus berjalan sambil sesekali menjawab salam atau membalas senyuman orang-orang yang berpapasan dengannya. Kebanyakan dari mereka mengenalinya, tapi tidak dikenalinya.

--------------------

Baru saja Dea hendak berbelok memasuki kelas barunya, saat bola matanya menangkap sosok Nova, teman sebangkunya sejak SMP  itu sedang duduk sendiri di taman sekolah. Gadis  itu terlihat begitu sibuk dengan novelnya. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk kelas dan segera menghampiri Nova.

“Tau gak, Nov?” tanya Dea begitu duduk di samping Nova.

Nova menarik nafas panjang. Ia menutup novelnya dan menyahut, “tau.” Melihat ekspresi senang Dea, Nova sudah tahu apa yang baru saja terjadi hingga temannya yang otaknya rada minus itu cengar-cengir sendiri seperti sekarang. “Lo ngerjain Kak Alvin pake cara apa lagi? Orang sakit juga, masih aja lo gituin. Kalo Kak Alvin beneran collapse baru nyaho lo!”

Nova, gadis cantik pecinta novel itu, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Ia sungguh tidak mengerti dengan sikap temannya itu. Semua orang yang tahu kondisi Alvin, begitu sibuk memperhatikan dan mengkhawatirkan Alvin. Tapi Dea tampaknya begitu senang membuat ide gila yang bisa saja membahayakan kondisi Alvin.

“Kak Iel!” Tanpa mempedulikan cerocosan Nova, Dea memanggil nama itu dengan keras begitu si pemilik nama melintas di hadapannya.

Laki-laki bernama lengkap Gabriel Steven  itu langsung saja menoleh ke arah adik-adik kelasnya yang saat ini berdiri agak jauh dari tempatnya. Ketua Osis Albider yang ramahnya super duper itu melemparkan senyuman khasnya yang selalu sukses membuat gadis mana pun terkapar. Senyuman terindah yang pernah ada.

“Salam nih, Kak dari Nova!”teriakan kedua Dea sontak saja membuat Nova yang memang menyukai Iel dari sejak MOS kemarin tersipu malu. Ia mencubit gemas lengan Dea yang langsung meringis.

Lagi-lagi Iel hanya merespon ucapan Dea dengan senyuman. Lantas, setelah itu ia berlalu meninggalkan tempatnya. Kelas XI IPA-2 menjadi tujuannya saat ini.

“Lo bikin malu aja tau…” protes Nova kesal.

“Gue gak ngerti kenapa Kakak gue yang penyakitan gitu, bisa punya temen-temen yang keren seperti Kak Iel. Baik, ramah, pinter, cakep, ketua osis lagi.” Dea dengan sangat rajinnya mengabsen semua kepribadian Iel, kakak kelasnya yang juga teman baik kakaknya.

“Kak Alvin juga kan cakep, baik, ramah, pinter, gak kay—”

“Tapi dia penyakitan, lemah, manja, dan perebut kebahagiaan orang!” Buru-buru Dea memotong ucapan Nova begitu tahu kalimat apa yang akan diucapkan teman baiknya itu. Ia berjalan meninggalkan Nova yang masih saja suka membanding-bandingkan ia dengan Alvin. Padahal sudah beberapa kali ia bilang ia tidak suka dengan hal itu. Dasar Nova bodoh!

---------------------

Lagu Zombie milik The Canberries mengalun di balik headset hitamnya. Menemani langkahnya menyusuri lantai-lantai marmer sekolah mewah itu. Albider. Sekolah elite. Sekolah pilihan. Sekolah milik ayahnya. Dan ini pertama kalinya ia menginjakan kaki di lingkungan berbangunan besar yang pongah  ini. Keadaan keluarganya yang semraut, membuat ia memilih untuk hidup bersama Oma dan opanya di Singapura. Dan baru kali ini, setelah menghabiskan waktu sembilan tahun lamanya di Negara singa itu, akhirnya ia memutuskan untuk kembali. Dengan harapan semuanya bisa lebih baik dari sebelumnya.

Koridor sekolah sudah lumayan sepi. Jelas, karena satu setengah jam yang lalu bel berbunyi dan memaksa anak-anak putih abu-abu itu masuk ke dalam kelas. Dan ini membuat gadis bernama Sivia itu lebih menikmati aksi keluyurannya di sekolah barunya ini. Ia tidak ingin terburu-buru memasuki ruang Kepala Sekolah. Lagian, ia memang sedang tidak ingin belajar saat ini.

“Lo ngapain di sini?” Seorang gadis berambut ikal gantung tiba-tiba bertanya, cukup mengagetkan  Sivia yang baru saja melepas headsetnya. “Lo bolos mata pelajaran ya?” Shilla-gadis itu- bertanya. Ia mengamati Sivia serinci mungkin. Penampilan Sivia yang jauh dari kata rapi, membuat Shilla mengernyit bingung.

Shilla dapat menebak kalau gadis berpipi chubby di hadapannya itu bukan siswa Albider yang selalu dituntut rapi. Penampilan gadis itu sungguh-sungguh berantakan. Baju seragamnya keluar, tidak ada dasi yang terpasang, roknya pendek sekitar 20 senti di atas lutut, sebagian rambut panjang sepunggungnya dicat berwarna kuning emas, sepatu berwarna merah, dan lengan seragamnya dilipat asal.

What do you see?!” tanya Sivia sengit begitu sadar ia menjadi pusat perhatian Shilla. Shilla terlonjak kaget. “This is my father school. So, whatever I do, it’s up to me! And you, go away from here now.

Mendengar kata-kata Sivia, Shilla melengos begitu saja. Bukan karena takut dengan gertakan dan penampilan sangar gadis berbahasa inggris fasih itu. Tapi, mengingat ia harus segera kembali ke kelas setelah mengantarkan buku tugas ke ruang guru, ia memang harus pergi dari tempat itu. Lagi pula, Shilla bukan tipe orang yang suka berdebat. Ia juga tidak begitu suka mengurusi urusan orang lain.

-----------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225

Tinggalkan komentar, kritik, dan pujian juga boleh…

Terimakasih 

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea