Minggu, 08 Maret 2015

Separation -Tiga-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 07.49


SEPARATION

-Tiga-

--------------------

Perlahan mata itu ia rapatkan. Wajah cantiknya yang dibiarkan menengadah, menantang langit pekat, disapu lembut angin malam. Dalam kesunyian malam yang ikut merasuk ke dalam hatinya, Shilla hirup udara malam sebanyak mungkin. Berharap dengan begitu sesak yang sempat berhimpit di dalam dadanya hilang seketika. Ia angkat tangannya, seolah dengan begitu, ia mampu meraih bentangan langit di atasnya. Entahlah, setiap kali ia melakukan ini, hatinya selalu terasa lebih tenang. Setenang air kolam yang jauh berada di bawah balkon kamarnya saat ini.

“Gabriel Steven.” Mata itu sempurna terbuka. Gugusan bintang yang jadi satu-satunya objek yang ia lihat ketika membuka mata, tampak seperti melukiskan wajah laki-laki yang baru saja namanya ia lafalkan. Ia tersenyum mengingat wajah itu.

Shilla akhirnya menurunkan tangannya dan menundukan kepalanya. Entah karena ia mulai merasa tangan dan lehernya pegal, atau karena tiba-tiba saja rasa lelah itu kembali merayap di dinding hatinya. Yang pasti, tiba-tiba saja senyuman yang sempat terukir manis di wajahnya secara perlahan memudar dan hilang. Mata indahnya yang polos itu mulai berperan. Ia menangis dalam diam.

Seiring berjatuhannya tetesan hangat dari bola matanya, kenangan-kenangan itu mulai bermunculan dalam kepalanya. Membuat dadanya semakin terhimpit dan menyempit. Harus seperti inikah akhir kisah yang selalu ia harapkan? Meski ini belum benar-benar berakhir, tapi ia yakinkalau cepat atau lambat semuanya akan berakhir. Dan akhirnya itu pasti tidak akan sesuai dengan harapannya.

Shilla terhenyak begitu getaran di sampingnya merambat terasa hingga pahanya. Ia tengok sebentar ponsel berkeyped qwerty yang sedang  ngetren  itu. Dan dengan malas, ia meraih handphone keluaran Kanada itu dan membaca kata-kata di balik layarnya.

Gabriel
23-02-2012
21:07:09

Sori baru bls. Td gue sbk bgt.
Lo tng aja. Gue bsa jga diri.

Bukan senang dengan jawaban itu, Shilla malah semakin merasa begitu sedih. Ia mengirim Iel pesan tadi siang sepulang sekolah, dan Iel baru membalasnya malam ini. Dan kata-kata Iel yang disingkat seperti itu, membuat ia tahu kalau Iel tidak benar-benar berniat membalas pesannya. Shilla merasa begitu terabaikan dan menjadi urutan nomor terakhir untuk orang yang selalu menjadi orang pertama dalam hidupnya. Shilla tahu, sejak dulu Iel adalah orang sibuk, tapi dia tidak pernah sampai mengacuhkannya seperti ini. Shilla tetap berusaha memberi perhatian meski Iel sudah tidak peduli dengan semuanya. Yang pasti, Shilla tidak ingin Iel berubah meski faktanya laki-laki yang sudah menjadi kekasihnya selama tiga tahun ini sudah begitu.

Merasa kesedihannya malam ini harus diakhiri, Shilla memutuskan untuk mencari kontak seseorang dan mengubunginya.

“Hallo, Shil…” Suara di balik telepon.

Shilla diam sejenak. Menghapus air matanya dan menarik nafas panjang. Si lawan bicara tidak boleh tahu kalau ia baru nangis.

“Shil, ada apa? Lo baik-baik aja, kan?” Suara itu terdengar lagi.

“Iya, Vin, gue baik-baik aja, kok.”

Hening. Orang yang rupanya Alvin itu, tidak menjawab lagi. Dan itu membuat Shilla bingung.

“Vin?”

“Lo nangis ya, Shil?”

Shilla membulatkan matanya. Ketahuan juga. Alvin memang yang paling peka di antara yang lainnya. “Nggak, kok. Lo lagi apa? Gue harap telpon gue gak ganggu waktu istirahat lo.”

“Kalem aja… gue lagi nonton TV. Gue tahu Shil, suara lo itu gak bisa bohongi gue. Kalo lo mau cerita, cerita aja. Kalo lo mau nangis, lo nangis aja. Dua-duanya gue dengerin. Tapi kali ini aja. Gue gak mau lo sedih terus.”

Alvin memang paling baik dan paling pengertian. Dan itu membuat Shilla akhirnya mau menceritakan semua yang ada dalam hatinya itu pada Alvin. Tentang Iel yang berubah hingga tiga ratus enam puluh derajat. Iel yang mulai menjauhinya. Iel yang mulai cuek padanya. Iel yang mulai bosan membalas semua pesannya. Iel yang tidak lagi mau mengangkat teleponnya. Iel yang begitu ia rindukan.

Sebenarnya, selalu ada sisi positif dalam perubahan, Shil. Hanya saja gak semua orang suka dengan itu, dan itu yang membuat kita akhirnya gak nyaman. Lo gak suka perubahan Iel dan itu membuat lo natapnya sisi negatifnya doang. Coba lo lihat sisi positifnya juga, deh.

“Tapi kan, semua orang juga gak suka ada di tempat yang samar dan membingungkan gini. Setidaknya dia kasih gue alasan kenapa dia kayak gini.”

Iel lagi sibuk kali, Shil. Anak-anak osis, kan lagi buat laporan pertanggungjawaban MOS kemaren.”

“Tapi dulu, sesibuk apa pun Iel, dia gak  pernah giniin gue, Vin. Gue tuh kangen Iel yang suka manja-manja gue, Iel yang suka perhatiin gue, Iel yang suka panggil gue dengan sebutan sayang, Iel yang selalu ada buat dengerin keluh kesah gue…” Air mata Shilla yang sempat berhenti kembali menetes.

Kalo gitu sih gak usah Iel, gue juga bisa kali. Panggil lo sayang itu gampang, karena yang namanya sahabat kan pasti saling menyayangi. Gue juga bisa perhatiin lo. Entar gue sms lo tiap pagi, siang, sore, sama malam ya, ingetin lo jangan lupa makan, mandi, sama ngerjain PR. Lo juga bisa manja-manja sama gue. Lo mau apa? Mau senderan sama gue? Mau gue traktir tiap hari? Mau gue antar jemput juga gak masalah. Terus, kalo lo perlu seseorang buat denger keluh kesah lo, gue juga bisa. Lo gak perlu sedih karena Iel gak bisa lakuin semua itu lagi sama lo. Kan, masih ada orang yang bisa melakukannya buat lo.

Shilla diam. Alvin benar, selama ini ia terlalu memikirkan Iel. Padahal di sekitarnya, masih banyak orang yang mempedulikannya. Ada Ify yang juga selalu menyebutnya sayang setiap kali gadis ceria itu menghiburnya saat ia sedih. Ada Agni,  cewek tomboy yang selalu membelanya saat ia benar-benar terpojok dan terpuruk. Ada Cakka, yang meski teledor dan selengean, tapi selalu ada saat dia membutuhkan bantuan. Ada Rio, yang meski selalu diam, tapi selalu perhatian dan paling bisa membaca raut wajahnya.

“Vin…” panggil Shilla. Udara malam mulai terasa menusuk. Shilla mengusap-ngusap lengannya.

Ya?”

“Lo emang bener, Vin. Gue gak boleh gini terus. Gue gak boleh menomor satukan orang yang udah nyimpen gue diurutan akhir urusannya. Makasih ya, Vin. Perasaan gue jauh lebih baik kalo bicara sama lo. Gue istirahat ya, Vin. Lo juga, istirahat dan jangan lupa minum obat.” Shilla beringsut ke dalam kamarnya. Udaranya benar-benar dingin. Tapi perasaannya tidak sedingin sebelumnya. Senyum manisnya kembali merekah.

Iya, moga lo dapet mimpi paling indah.”

Kalimat terakhir Alvin sebelum pembicaraan berakhir, membuat Shilla benar-benar bisa tidur dengan tenang. Siap menyambut bunga tidurnya tiba. Ia terlelap dengan perasaan damai. Dan itu karena Alvin, orang yang jauh dari tempatnya berada. Orang yang saat ini tengah duduk termenung di tepi ranjangnya setelah pembicaraan itu terputus. Orang yang dengan enggan menatap pil berbagai warna di telapak tangannya. Orang yang juga secara diam-diam termotivasi untuk tetap bertahan setelah berbicara dengan Shilla. Padahal, sempat terpikir dalam benaknya untuk menyerah.

“Setidaknya gue bisa hibur lo saat ini, Shil. Karena besok atau lusa, lo pasti nangis lagi inget Iel.” Alvin tahu betul Shilla seperti apa. Labil. Perasaannya berubah-ubah dengan cepat.

-------------------

Kedua laki-laki berseragam sama itu berdiri di tepi lapangan basket malam itu. Tidak ada yang bersuara. Keduanya sama-sama larut dalam pirkiran masing-masing tentang tempat yang menyimpan banyak kenangan itu. Bersama kesunyian, mereka mengamati semua hal yang ada di sana. Sebuah lapangan basket tua yang lama tak terjamah. Tempat itu, terasa lebih luas untuk mereka berdua.

Cakka, salah satu dari mereka, mulai berjalan. Dirabanya kursi penonton yang terbuat dari besi itu dengan jari jemarinya. Seketika, seolah ada sebuah koneksi, file-file yang pernah tersimpan di balik kursi yang sudah berkarat itu, kembali ditransfer dalam benaknya. Kenangan itu terputar kembali.

“Lo ingat kan, Yel?” Cakka mendudukan dirinya di atas kursi itu. Telapak tangannya ia tumpu di antara kedua pahanya.

Iel mulai berjalan mendekat ke arah Cakka. Laki-laki hitam manis itu ikut duduk di samping Cakka. “Selalu ingetlah, Kka.” Ia menghirup udara sebanyak mungkin. Rasanya perasaannya begitu lega. Cakka membawa ia  ke tempat yang tepat di sela kesibukan dan kepenatan yang berderet-deret tanpa ampun dalam kepalanya.

“Dulu, waktu kita duduk di bangku SD, gue, lo, Alvin sama Shilla gak pernah bolos dateng ke sini. Taman kota ini jadi saksi bertumbuhnya badan kita dan bertambahnya usia kita. Sampai kita SMP, tempat ini tuh masih jadi tempat favorit kita. Sampai kita ketemu Ify dan bersahabat baik dengannya.  Tempat ini juga kan saksi terjalinnya hubungan cinta monyet lo sama Shilla, kan?”

Iel tersenyum mendengar kilas balik yang Cakka bicarakan. Ia tiba-tiba saja ingat Shilla, gadis yang paling disayanginya itu. Apa hubungan yang sudah berjalan tiga tahun lamanya masih harus dibilang cinta monyet? Ia tak yakin.  Ia melirik layar handphonenya sekilas. Tidak ada balasan dari Shilla. Mungkin gadis itu sudah tidur. Rasanya, ia merasa begitu bersalah, mengingat beberapa bulan ini ia sering mengacuhkan gadis itu.

“Waktu kelas tiga, usai kelulusan, kita ketemu Rio. Kalo gak gara-gara Ify suka sama dia, kita gak mungkin punya sahabat yang dinginnya minus nol derajat kayak dia. Setelah itu, kita gak pernah ke sini lagi gara-gara insiden pingsannya Alvin. Waktu itu, gue ngerasa bersalah banget nolak permintaan Alvin buat ajarin dia dribble bola. Gue gak nyangka kalo anceman Alvin itu beneran, Yel. Gue gak tau kalo dia beneran muterin lapangan gara-gara gue gak mau ajarin dia. Gue kapok berurusan sama Alvin. Makanya sampe sekarang gue gak pernah berani nolak permintaan dia.”

Iel yang sejak tadi jadi pendengar setia Cakka, hanya diam menyimak sambil mengingat-ngingat semuanya. Di antara semua sahabatnya, Cakka memang paling hiper aktif, ceroboh, banyak bicara, bodoh, dan jahil. Tapi, Cakka itu yang paling setia kawan. Dia boleh gampang lupa sama semua mata pelajaran, tapi dia yang paling ingat semua hal tentang sahabatnya. Bahkan tanggal jadian ia dan Shilla pun, laki-laki pecinta basket itu hafal di luar kepala.

“Udah malem banget nih, Kka.” Iel melirik jam hitam polos yang menempel di pergelangan tangannya. Kedua jam itu sudah berhenti di angka sebelas. Tidak disangka, pekerjaan dan tugasnya yang menumpuk, membuat ia terjebak di ruang osis dan pulang larut. Dan ia juga tidak menyangka sama sekali menemukan Cakka terkunci di toilet. Dan yang lebih tidak menyangka lagi, Cakka membawanya ke tempat ini hingga semalam ini.

Cakka mengangguk. Ia berdiri dan meregangkan otot-ototnya yang kaku. “Ya udah, yuk!” katanya sembari melepas jaketnya. Ia menyerahkannya ke hadapan Iel yang langsung mengernyit. “Nama lo sebagai ketos bisa saja tercemar  kalo ada orang yang lihat lo keluyuran selarut ini masih pake seragam Albider.”

“Tapi, kan…”

“Nama gue sih, tercemar juga gak masalah. Gue gak terkenal ini di sekolah.” Padahal semua orang tahu Cakka kapten basket yang hebat di Albider.

“Bukan soal nama baik, tau. Tapi soal kesehatan. Lo kan yang bawa motor, entar lo masuk angin lagi!”

Untuk sesaat Cakka terdiam. Berpikir dan mencari solusi terbaik.  Tapi rupanya cara berpikir Iel jauh lebih cepat. Laki-laki pekerja keras itu segera mengenakan jaket putih Cakka dan meraih kunci motor yang masih Cakka genggam.

“Naik!” perintahnya. Cakka nyengir dan segera menaiki Tiger merahnya. Lantas dengan segera Iel menjalankan motor kesayangan sahabatnya itu dengan kecepatan normal. Meninggalkan tempat kenangan itu, namun tak lantas meninggalkan memori yang pernah tercipta. Bahagia, sedih, tawa, duka, persahabatan, pertengkarang, ketakutan, kepanikan, cinta, benci, dan semua hal sederhana yang selalu mereka simpan di sana dan juga dalam hati mereka.

---------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225

Tinggalkan komentar, kritik, dan sedikit pujian juga boleh…
Terimakasih

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea