Senin, 30 Maret 2015

Separation -Tujuh-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 05.05
SEPARATION

-Tujuh-

-------------------
Rio menumpukan dagunya di balik tangan kirinya yang ia lipat di atas meja belajarnya. Tangan kanannya dibiarkan bermain-main dengan pensil mekaniknya. Tumpukan HVS di sekitarnya sudah penuh dengan gambar tokoh-tokoh anime favoritnya. Raut wajahnya yang biasanya datar tanpa ekspresi kali ini terlihat bad mood parah.

Merasa dengan seperti ini suasana hatinya tidak akan kunjung membaik, ia memutuskan untuk menyalakan laptopnya. Sudah begitu lama ia tidak berselancar di dunia maya. Ia ingin mengecek facebooknya yang hampir setengah tahun ini tidak dibukanya. Ya, sudah dapat ditebak. Orang seperti Rio memang tidak begitu suka beraksi di dunia semu apalagi untuk membeberkan perasaannya di sosial media seperti itu.  Jangankan di dunia maya, di dunia nyata pun Rio tidak begitu suka dengan itu. Ia sangat tertutup dan tidak begitu banyak cerita.

Ada 30 permintaan pertemanan dan 12 pemberitahuan. Tapi ia tidak minat membukanya. Ia memilih untuk melihat ada status apa saja di berandanya. Ia menyinggungkan senyuman tipis membaca status beberapa temannya yang hanya berjumlah kurang dari 200 itu. Ia berpikir, mereka yang hobi update status itu, kalau bukan orang narsis dan suka pamer, ya pasti karena tukang galau.

Di antara status teman-temannya yang tidak begitu dikenalnya, Rio membaca beberapa status terbaru sahabat-sahabatnya. Ada status Cakka, Shilla, Ify, dan Alvin. Hah, bahkan Alvin yang dikenal tidak begitu suka membuang-buang waktunya untuk urusan tidak penting pun mulai berekspresi di dunia maya. Mungkin ketularan Cakka atau Ify, sahabatnya yang memang paling aktip di dunia maya.

Cakka Nuraga
Kalau udah gini, siap-siap kuatin mental.

Ashilla Zahrantiara
Bosen? Ya, tinggal ngomong aja! Jangan diem kayak manekin di toko baju. Gue capek tau, gak?!

Alvin Jonathan
Tidak ada beban dalam hidup. Yang ada hanya tantangan. Harus bisa melewatinya dan berusaha sekuat yang kau bisa, sampai Tuhan yang memerintahkanmu untuk menyerah.

Saufika Umari
Masih ada sembilan cara lainnya.

Rio tertegun. Ia tidak begitu mengerti maksud teman-temannya. Mungkin hanya Shilla yang memang paling mudah mengutarakan perasaannya yang dimengertinya. Dan mungkin juga Alvin. Sementara Cakka dan Ify, ia tidak begitu mengerti. Mereka itu selalu ceria dan banyak bicara, tapi tidak pernah sekali pun berbicara tentang perasaan mereka. Tapi, intinya teman-teman baiknya itu sepertinya  sedang dilanda kegalauan.

Rio menghela nafas. Seandainya ia bisa seperti teman-temannya yang mudah mengutarakan perasaannya. Atau paling tidak seperti Ify dan Cakka yang masih bisa bicara, meski tidak sampai membeberkan perasaannya.

“Apa yang harus gue update, ya?” gumam Rio. Melihat status teman-temannya, ia merasa ingin juga mencoba menuangkan apa yang ada dipikirannya di sosial media itu. Kata Ify, meski tidak begitu berpengaruh banyak, tapi perasaannya tidak akan terlalu buruk. Lagi pula, selama dua tahun ia dibuatkan facebook oleh Ify, belum pernah ia update status sekali pun.

Perlahan tangannya mulai memencet keyboard. Sebelum apa yang ada dipikirannya tertuang, ia mendengar suara ribut di luar kamarnya. Sebentar ia terdiam sampai tangannya kembali bergerak. Setelah statusnya ter-update, Rio segera beranjak keluar kamarnya. Lagi, seperti malam-malam sebelumnya, ia akan kembali dikhianati keadaan.

Mario Stevano
Kadang gue benci hidup gue!


“Bu…”

“Gak usah urusi urusan Ibu!”

“Ibu gak boleh kayak gini terus. Ibu masih punya Rio, Bu.”

“DIAM!!”

“Bu… Rio capek liat Ibu gini terus…”

---------------------

Cakka menutup laptopnya begitu seseorang membuka pintu kamarnya. Seorang wanita paruh baya menyembul di balik pintu bercat cokelat tua itu. Sedikit menyunggingkan senyuman, Cakka beranjak dari meja belajarnya dan segera menghampiri wanita yang ia panggil Ibu itu. Cakka sudah mengerti dengan kehadiran ibunya di kamarnya. Wanita penurut yang jarang sekali berbicara itu, mengajaknya turun dan makan malam bersama.

“Hari-harimu pasti berat dan melelahkan,” kata Ibu saat mereka sama-sama berjalan menuruni undakan tangga.

Cakka tersenyum selebar mungkin. Memberitahu wanita paling disayanginya itu kalau hari-harinya tidak seperti yang ia duga. “Hari-hari Cakka selalu ceria seperti matahari pagi, Bu. Yang berat dan melelahkan pasti hari-hari Ibu.” Cakka merangkul tubuh ibunya. Tubuhnya sekarang bahkan jauh lebih besar dari tubuh Ibu.

Ibu menatap putra bungsunya itu dan tersenyum. Mereka tidak lagi bersuara ketika langkah mereka sama-sama berhenti di depan meja makan. Ayah dan Elang sudah menunggu mereka berdua. Segera Cakka dan ibunya mendudukan diri di kursi masing-masing.

Sebentar Cakka menatap anggota keluarganya bergantian. Setahunya semua orang menganggap keluarganya adalah keluarga paling harmonis. Memang, selama hidupnya, ia tidak pernah mendengar pertengkaran di rumah super mewah ini. Tentu saja itu hanya anggapan orang-orang yang sekilas melihatnya. Bagi Cakka yang ikut berperan di dalamnya, semuanya tidak seindah sentuhan mata.

Pria yang saat ini duduk dengan khidmat sembari menikmati makanannya di hadapan Ibu, adalah kepala keluarga. Ia seorang Dokter yang hebat. Pemilik rumah sakit terbersar. Mungkin di luar sana, semua orang menganggapnya dokter yang lembut dan baik hati.Tapi di dalam rumah, ia Ayah yang paling keras, berpendirian teguh, dan tidak bisa dibantah.

Dan mungkin, faktor paling kuat yang menciptakan keharmonisan itu, adalah sifat anggota keluarganya yang lain—yang bisa dibilang—sesuai dengan karakter Ayah. Tidak suka berdebat dan penurut. Mereka selalu menuruti semua keputusan Ayah. Terlebih Ibu. Ia adalah satu-satunya wanita paling patuh. Wanita pendiam yang semasa hidupnya tidak pernah membantah ucapan suaminya.

“Gimana pekerjaan kamu, El? Semuanya baik-baik aja, kan?” Ayah bertanya saa mereka sama-sama menghabiskan makan malam mereka.

“Dari semua tempat di dunia ini, rumah sakit bukan tempat yang bisa dibilang baik-baik saja, Yah. Kalau tidak terpaksa, tidak ada yang suka berada di tempat itu.” Elang, Kakak Cakka satu-satunya, menjawab dengan santai. Laki-laki yang tiga tahu lalu lulus dari fakultas kedokteran itu, baru seminggu yang lalu resmi jadi dokter tetap di rumah sakit terbesar di Belanda. Dan baru tiga hari yang lalu ia kembali untuk berlibur di Indonesia.

Mendengar jawaban Elang, Ayah hanya merenggut. Elang memang anaknya yang paling cerdas. Selain menguasai ilmu kedokteran, ia juga menguasai banyak bidang lainnya. Termsuk merangkai kata-kata untuk menjawab pertanyaan orang lain hingga si pemberi pertanyaan cukup kikuk.

Kadang Cakka selalu iri dengan kakak tunggalnya itu. Tapi tentu saja rasa bangganya jauh lebih besar dibanding keirian itu.

“Mas Elang mau berapa lama di Indonesia?”

“Tinggalah lebih lama sembari mengajari adik bandelmu ini. Dia bahkan gak berhasil masuk kelas IPA. Sungguh mengecewakan.”

Ayah yang menjawab pertanyaan Cakka. Dan jawaban Ayah menusuk tepat ke dalam hatinya. Ia memang selalu mengecewakan Ayah dan ibunya. Tidak mau ambil pusing, Cakka langsung nyengir. Ia tidak suka ibunya melihat ia murung. “Maaf, Yah… Tapi bidangnya Cakka itu bukan IPA.”

“Apa? Basket? Sudah Ayah bilang, berhenti bermain-main dengan sekolahmu. Jangan memprioritaskan hal-hal tidak penting seperti itu. Ayah tuh cuma mau anak-anaknya Ayah itu hanya menguasai ilmu kedokteran dan jadi dokter hebat seperti Ayah. Berapa kali pun kamu menjuarai basket, Ayah tidak akan bangga sama kamu!

“Ayah tegaskan sekali lagi! Berhenti bermain basket!

“Berhenti bermain baket!

“Berhenti!

“Belajar yang benar dan jadi dokter  seperti Ayah!!”

---------------------------

“Kakak hati-hati, ya?” Iel mengangguk sembari mengusap pelan rambut hitam gadis kecil di hadapannya.

“Jangan pulang terlalu malam. Pintunya gak kita kunci.”

Iel tersenyum. Ia memandang kedua adiknya bergantian. “Iya, sekarang kalian masuk dan istirahat.” Iel memang Kakak yang paling baik. Setelah Ayah dan ibunya pergi, ia bertugas mengurus kedua adik laki-laki dan perempuannya itu. Mungkin itulah alasan pertama ia harus bekerja keras selama ini. Selain harus membiayai dirinya sendiri, ia harus membiayai dua orang lainnya.

Hidupnya memang begitu keras selama beberapa tahun setelah kepergian ayah dan ibunya. Ia bukan jajaran orang kaya. Malah bisa dibilang kehidupannya berada di kalangan bawah. Selama ini ia bersyukur masih bisa bertahan di sekolahnya yang jelas membutuhkan biaya yang begitu besar. Ia meluangkan waktu kosongnya setelah sekolah untuk bekerja.

“Kita masuk, Kak.” Setelah memastikan kedua adiknya menutup pintu, Iel segera berjalan meninggalkan rumah menuju tempat kerja sampingannya.

Baru saja Iel menutup pagar rumahnya, handphonenya berbunyi. Sambil berjalan, Ia membuka pesan itu dan membacanya.

Shilla-
30-02-2012
19:11:09

Yel, gue ngerasa lo bener-bener beda! Lo jangan giniin gue, dong. Kasih alasan kenapa lo gini!

Iel mendesah. Ini pesan ke sepuluh yang Shilla kirim seharian ini. Dan ia selalu lupa membalasnya. Salahkan pekerjaannya yang super menumpuk dan tidak ada waktu untuk ia memegang handphone apalagi menjawab pesan. Ia sungguh merasa bersalah pada Shilla, tapi ia yakin gadis itu akan memakluminya. Ia tahu Shilla begitu pengertian padanya.

Sembari berjalan, Iel mencoba membalas pesan Shilla. Ia akan meminta maaf pada gadis yang begitu dicintainya itu. Namun, belum sempat kalimatnya terketik sempurna, handphonennya bergetar. Getarannya lebih panjang. Ada panggilan masuk. Dengan segera Iel menjawabnya.

“Yel, bisa datang lebih cepat?”

“Bukannya jadwal gue entar jam sembilan ya?”

“Debo gak bisa hadir, ada halangan. Lo mesti gantiin dia.”

“Oh…”

“Buruan, Yel. Bos marah-marah nih…”

“Oke, oke…”

--------------------

Alvin merasa dadanya penuh dengan sesak. Ada denyutan menyakitkan di baliknya. Ia menarik nafas dan rasanya begitu nyeri. Ia menutup matanya rapat-rapat. Tangannya terkepal menahan sakit. Aksi Dea kalo ini keterlaluan. Tapi, dari pada memikirkan seberapa teganya Dea melakukan hal itu padanya, ia lebih memikirkan bagaimana sakitnya itu bisa hilang, sementara beberapa jam yang lalu Dea membuang semua obatnya ke dalam kloset kamar mandi.

Ia berharap Mama dan papanya cepat pulang dan membantunya. Tapi…

Ia melirik jam dinding kamarnya. Orangtuanya tidak akan pulang di jam-jam sekarang. Mereka pasti tengah sibuk dengan pekerjaan mereka. Ia bisa saja menghubungi mereka. Dan ia sangat yakin Papa dan mamanya pasti akan meninggalkan pekerjaan mereka. Tapi Alvin tidak ingin seperti itu.

“Lo itu emang nyusahin tau, gak?! Lemah, sok cari perhatian, gak bisa hidup mandiri, dan manja. Lo pikir Mama sama Papa itu cuma ngurusin lo doang apa? Lo nyadar dong, gak ada di diri lo yang bisa bikin gue seneng, kagum, dan sayang sama lo!”

Kata-kata Dea terngiang lagi di telinganya. Membuat dadanya terasa lebih nyeri.  Tangannya meremas kuat dada kirinya hingga kaos merah polosnya terlihat kusut di bagian itu. Dea memang benar. Selama ini keluarga mereka tidak bisa dibilang keluarga kaya raya seperti keluarga Cakka atau Shilla. Papanya hanya seorang sekretaris di perusahaan Ayah Shilla. Sementara mamanya hanya pengelola butik kecil-kecilan. Mereka pasti sangat kerepotan mengurusnya. Selain harus membiayai sekolahnya, biaya pengobatannya juga pasti tidak bisa dibilang murah dan sedikit. Belum lagi waktu mereka yang sering terbengkalai karena kondisinya. Dia memang benar-benar menyusahkan.

“Arghh…”

Alvin mengerang pelan. Ia mengangkat kepalanya yang semula terbenam di balik bantalnya. Sakitnya tidak bisa ditahan lagi. Nafasnya memberat. Warna merah padam dan keringat yang menghiasi wajahnya, menandakan bahwa sakit yang Alvin rasakan bukan main-main lagi. Alvin sampai berpikir bahwa ia harus berakhir di sini.

Sampai seseorang tiba-tiba membekap mulutnya dan menjejalkan beberapa butir obat ke dalam mulutnya. Untuk sepersekian detik Alvin diam terpaku. Menatap tak percaya orang di hadapannya.

“Lo itu payah banget! Makanya gue gak pernah mau jadi adik yang baik buat lo.”

Alvin masih larut dalam diamnya. Menatap orang yang beberapa jam yang lalu berhasil mengerjainya, dengan tatapan tak percaya. Perlahan, cubitan yang menyerang area jantungnya itu menghilang dan berhenti seiring hinggapnya rasa ngantuk di area matanya. Ia merasa mengantuk dan ingin tidur. Sebelum pengaruh obat itu benar-benar  bereaksi, senyuman tipis tergurat di bibir pucatnya. Ternyata, Dea tidak benar-benar membuang obatnya. Dan juga… tentu saja adiknya itu masih peduli terhadapnya.

----------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225
www.nia-sumiati.blogspot.com
Tinggalkan komentar, kritik, dan pujian juga boleh…
Terimakasih


0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea