Rabu, 15 April 2015

Separation -Sembilan-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 20.55
SEPARATION

-Sembilan-

------------------- 

 “Yel, lempar sini!”

“Kka! Awas!”

“Auwww! Gila lo, Yel. Lo pikir muka gue ring apa?”

“Sori. Tadi lo nyuruh gue lempar bola ini sama lo, kan? Lo nya aja yang gak fokus.”

“Abisan si Rio nih bi—”

“Hidung lo berdarah, Kka.”

“Hah?!”

Shilla dan tertawa pelan melihat adegan di lapangan basket siang itu. Posisinya yang saat itu berada di ruang musik, bisa dengan jelas melihat aktifitas apa saja yang sedang terjadi di sana. Ify dan Alvin yang sejak tadi sibuk dengan pianonya, refleks menoleh ke arah Shilla yang masih tertawa sendiri. Mereka sama-sama mengernyit.

“Lo kenapa, Shil?” tanya Alvin bingung. Shilla menoleh dengan cepat ke arah kedua sahabatnya yang masih urung beranjak dari tempatnya itu.

“Kalo gak karena bisa lihat Iel, pasti karena dia udah gila, Vin.” Ify mencibir.

Shilla merenggut begitu mendengar nama Iel disebut. Memang, ia bisa melihat Iel saat ini setelah banyak cara ia lakukan untuk menemui laki-laki pujaannya itu. Tapi ia sudah berjanji untuk tidak terlalu memikirkan laki-laki itu lagi. Ia sudah berjanji tidak akan mempedulikannya lagi. Dan untuk alasan kenapa ia tertawa, mungkin alasan karena ia sudah gila lebih tepat.

“Jangan marah dong, Shil. Gue kan cuma becanda. Anggepan ih, lo mah…” Ify berjalan mendekat ke arah Shilla dan merangkul temannya itu.

Mendapat perlakuan manis dari Ify, sontak saja Shilla tersenyum. “Ohya…” katanya mengubah posisinya begitu ingat sesuatu. Ia memandang Ify dengan serius. “Jadi, temen chat lo itu siapa namanya?” tanya Shilla ingin tahu. Kemarin Ify bercerita tentang teman chatnya itu.

“Gak tahu sih, belum sempet nanya. Tapi, gue panggil dia Oji. Soalnya, pas lagi chat dia pake uname Orang Galau gitu,” jelas Ify. Shilla mengangguk-nganggukan kepala sembari mengamati aktifitas Alvin. Laki-laki itu sudah sibuk memainkan gitar.

“Lo sama Iel gimana?” Giliran Ify bertanya.

“Alvin makin kurus aja ya, Fy?” Ify sadar, Shilla sedang berusaha mengalihkan pembicaraan. Tapi, ia jauh lebih tertarik dengan pembicaraan Shilla. Langsung saja bola matanya berputar ke arah Alvin yang tampak sibuk mencari nada. Laki-laki yang seumur hidupnya ditemani penyakit mematikan itu memang terlihat makin kurus.

Hm… ini kisah sedihku
Kumelupakan dia. Betapa bodohnya aku
Dan kini aku menyesal
Melepas keindahan. Dan itu kamu…

Baru saja Ify hendak mengangguk dan mengiyakan kata-kata Shilla saat suara Alvin diiringi gitar cokelat tua itu memenuhi ruangan musik. Sesaat mereka terdiam, ikut menghayati suara Alvin. Sudah hampir satu tahun ini mereka tidak mendengar Alvin beraksi dengan suara emas dan gitarnya. Terakhir kali Alvin menyanyi pas perpisahan SMP. Setelah itu Alvin benar-benar vakum. Kondisinya membuat aktifitasnya dibatasi. Bahkan, sempat Alvin dianjurkan untuk home schooling.

 Tuhan, tolonglah aku
Kembalikan dia ke dalam pelukku
Karena kutak bisa, mengganti dirinya
Kuakui jujur aku tak sanggup, sungguh aku tak bisa…

Selain suara Alvin yang membuat Ify akhirnya terpaku, lagu yang Alvin bawakan juga mau tidak mau membuat ia akhirnya diam tanpa suara. Entahlah, ia merasa tersindir dengan lagu itu. Ia ingat bagaimana ia meninggalkan Rio dan akhirnya menyesal. Berharap kembali pada laki-laki itu. Apa mungkin Alvin sedang berniat menyindirnya? Tapi setahunya tidak ada yang tahu perihal perasaannya yang satu itu. Tiba-tiba saja Ify merasa begitu sedih. Bahkan cara pertamanya bisa dikatakan gagal total.

“Sory, ganggu!”

Sontak saja semua aktifitas di ruangan yang dipenuhi berbagai alat musik itu senyap seketika. Suara seseorang yang terdengar angkuh, menghentikannya. Semua mata kini berputar ke arah sumber suara itu berasal. Shilla yang sudah tahu siapa orang itu mendelik tak suka. Sementara Ify dan Alvin hanya menatap orang  yang saat ini berdiri di ambang pintu itu dengan bingung.

“Ngapain?” tanya Shilla akhirnya.

Sivia—orang itu—menatap Shilla dengan sesinis-sinisnya. “Gue mau tau aja siapa pemilik buku ini!” Ia menunjukan buku milik Alvin sembari maju beberapa langkah dan berdiri tepat di hadapan Alvin. Shilla dan Ify juga melangkah lebih mendekat pada Alvin.

Alvin berdiri. Menatap Sivia dan tersenyum setulus mungkin. Ini pertama kalinya ia melihat gadis dengan penampilan super beda di Albider ini.

“Alvin J. Sindunata. Anak kelas IPA 1 yang populernya melebihi ketua osis, kapten basket, kapten futsal, dan tentunya gue, Sivia Azizah yang jelas-jelas seorang putri pemilik Albider!” tegas Sivia yang hanya dibalas dengan senyuman bingung milik Alvin. Laki-laki yang setiap harinya dibebaskan mengenakan jaket di sekolah itu benar-benar tidak mengerti dengan ocehan Sivia.

Listen to me, Alvin Jonathan! Asal lo tahu ya! I don’t like you! Gue gak suka nama lo lebih famous dari nama gue! Jadi, lo gak usah ngerasa sok. Karena cepat atau lambat, gue bakal geser posisi lo!”

Alvin diam. Ia pintar dan ia mengerti dengan cepat maksud Sivia. Tapi ia tidak ingin berkomentar dan berdebat sebelum gadis itu menyelesaikan ocehannya.

“Lagian, hebatnya apa sih, lo?” Mata Sivia berputar jenaka. Ia mengamati tiap lekukan tubuh kurus Alvin. “Hm… May be, they think you’re handsome. Your face can make a lot of girl are willing to be your affair. Lo hebat bisa menggaet dua cewek sekaligus.” Sivia memandang Ify dan Shilla secara bergantian.

Ify maju selangkah lebih dekat ke arah Sivia. Lantas, gadis yang sejak tadi memilih diam itu menatap sivia dengan tajam. “Lo tadi bilang, cuman mau tau aja siapa pemilik buku itu, kan?” tunjuknya pada buku yang masih berada dalam genggaman tangan Sivia. “Jadi ngapain sih lo repot-repot komentarin Alvin yang nggak-nggak?” Nada Ify terdengar begitu sebal.

Sivia berdecak kesal. “I hate you All!” ketusnya sembari menempelkan buku yang ia genggam di dada Alvin. Cukup keras hingga membuat Alvin terdorong dan meringis.  Gadis bermata indah itu kemudian pergi meninggalkan mereka yang masih terbengong-bengong.

“Lo gak apa-apa?”

Shilla, Ify, dan Alvin sontak mengalihkan perhatian mereka keluar jendela. Iel dan Rio tampak memapah Cakka, berjalan lebih menepi ke pinggir lapangan. Cakka sendiri sibuk menengadahkan kepalanya. Menahan laju darah yang keluar dari hidungnya.

“Apanya yang gak apa-apa? Hidung gue berdarah nih gara-gara ciuman bola lo!” Cakka menggerutu. Ia mendudukan dirinya di beranda kelas. Iel dan Rio langsung mengapitnya. Dan ketiga sahabatnya yang lain segera berlari menghampiri mereka.

“Lo kenapa, Kka?” tanya Alvin cemas.

Cakka tak menjawab dan malah nyengir lebar.

“Mending sekarang kita ke UKS, Kka. Hidung lo mesti di kompres.” Sengaja, Shilla menarik lengan Cakka. Tidak mengiraukan keberadaan Iel. Bahkan tidak menatap laki-laki hitam manis itu.

Raut wajah-wajah itu seketika berubah.  Mereka memandang Shilla yang sudah berjalan memapah Cakka menuju UKS. Apa Shilla lupa, kalau kekasihnya adalah laki-laki paling cemburuan? Ify mengernyit begitu menyadari kalau sikap Shilla begitu aneh. Tidak biasanya Shilla tidak bercerita seperti ini.

Iel menarik nafas panjang. Lalu berdiri menghadap ke arah teman-temannya.  “Gue balik ya?” sebelum meninggalkan ketiga temannya yang tampak bingung, ia menepuk pelan bahu Alvin. “Lo jaga kesehatan ya, Vin,” pesannya. Alvin mengangguk dan tersenyum. Tidak heran dengan perhatian Iel. Karena tidak ada di antara sahabat-sahabatnya yang tidak memperhatikan kondisinya.

“Ada apa dengan mereka?” tanya Ify yang dijawab dengan gelengan Alvin dan juga Rio.

--------------------

“Dea, kamu harus jagain kakak kamu, ya? Dea, kamu awasi kakak kamu, ya? Dea, kalau kakak kamu lakuin aktifitas yang berat, jangan segan-segan ingetin dia. Shit! Mereka pikir, gue suster pribadinya,apa?”

Sepanjang koridor Dea terus mengomel. Menirukan gaya bicara sang Mama tadi pagi. Begitu sampai di kelas, ia segera menyambar sapu yang disimpan di sudut pintu dan segera melaksanakan piketnya. Petuah-petuah mamanya tadi pagi sungguh mengganggu perasaannya. Tentang ia yang harus jagain Alvinlah, ia yang harus ingetin Alvin minum obatlah. Apa gak ada dipikiran orangtuanya tentang ia dan perasaannya?

“DEA!!!”

Dea yang sedari tadi sibuk dengan sapunya, terlonjak kaget. Ia memutar tubuhnya dan menatap Nova dengan sengit. Entah sejak kapan dia berdiri di ambang pintu. “Ngapain sih, lo ngagetin aja? Untung gue bukan pengidap penyakit jantung seperti Kakak gue!”

“Iishh, dilebih-lebihkan gitu…” Nova melangkah memasuki kelas dan duduk di bangku terdekat. Dea memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia ingin cepat-cepat pulang.

“Tau gak, De? Beberapa hari ini, keberuntunga lagi mihak sama gue.”

“Kenapa emang?”

“Kemarin gue diajak pulang bareng sama Kak Alvin. Tangan gue digenggam dan rasanya deg-degan banget. Dan tadi lo tau? Pas gue mau daftar jadi anggota osis, Kak Iel natap gue, senyumin gue, dan dia juga usap-usap rambut gue. Ya ampuuunn…” cerita Nova rame sendiri.

“Ikh, lo tuh jadi orang gaje dan gape tuh kira-kira, dong! Hal gitu aja lo omongin. Gak penting seratus persen tau, gak?” Dea mendumel. Ia kembali menyapu tanpa mempedulikan Nova yang menggerutu kesal.

BRUKK!

“Aduuuhhh…”

“Oh, DAMN!!”

Dea memekik. Orang yang baru saja menabraknya juga sama. Ia hendak menyapu teras bagian depan saat seseorang menghantam tubuhnya. Sapu yang digenggamnya terpental dan tubuhnya jatuh terduduk. Segera saja ia berdiri dan menatap tajam orang dihadapannya.

“Siapa sih, lo nabrak-nabrak gue?!” bentak Dea kesal. “Jangan mentang-mentang lo Kakak kelas ya, lo bisa lari-lari di koridor sekolah seenak tumit lo!” Dea emosi. Pasalnya, bukan meminta maaf dan menyesal, orang itu malah menatapnya lebih tajam.

“Hei, Bocah!!!” Sivia—orang itu—mendorong bahu Dea. Ia hendak memperkenalkan siapa dirinya, tapi merasa semua percuma, Ia menggaruk belakang kepalanya dengan gemas. “Percuma gue bilang siapa gue. Toh, nyatanya  si Alvin Jonathan itu jauh lebih terkenal di sini!” Sivia jadinya malah mencak-mencak sendiri.

“Ngapain lo bawa-bawa Kakak gue?” tanya Dea yang cukup peka mendengar nama Alvin disebut-sebut.

What do you say? Your brother? Oh, my god! Ternyata emang bener ya, si Alvin itu. Gue gak nyangka, saking dikaguminya, ada cewek model lo yang ngaku-ngaku adiknya!”

Dea mengangkat salah satu alisnya. Senyum sinisnya tersungging. “Lo pikir gue bohongan? Lagipula, kalo gue boleh milih, gue gak pernah berharap tuh jadi adiknya dia. Merepotkan saja!”

Giliran Sivia yang mengerutkan kening.

“Asal lo tau aja. Gue satu-satunya orang yang benci sama dia. Jadi, lo percaya atau nggak, gue gak peduli!” Dea balik kanan dan kembali ke dalam kelas setelah sebelumnya mengambil sapunya. Nova yang sejak tadi jadi penonton, segera menghampiri Dea dan bertanya banyak hal. Dea mengacuhkannya. Moodnya rusak parah!

Sivia berdecak dan segera berlalu. Ternyata, selain dirinya, ada juga yang membenci Alvin. Mungkin bisa jadi sekutu. Ia tersenyum licik.

----------------------

“Sebenarnya ada apa, Shil?” tanya Cakka. Ia menundukan dirinya di bangku semen parkiran sekolah. Mengamati Shilla yang jauh lebih dulu duduk di sampingnya. Sejak di lapangan sampai UKS, Shilla terlihat begitu aneh. Tentu saja Cakka tahu, Shilla bukan orang yang pandai menyembunyikan masalah.

Shilla menarik nafas panjang. Ia menatap Cakka sebentar. Sebenarnya, ia tidak begitu sering cerita banyak pada Cakka tentang perasaannya. Selama ini, ia lebih sering cerita pada Alvin atau Rio yang memang teman sebangkunya. Menurutnya, sifat tidak bisa serius Cakka tidak asyik buat diajak curhat.

“Hidung lo ungu banget, Kka.” Shilla mengalihkan pembicaraan.

Cakka tertawa. “Lemparan cowok lo kece banget tadi! Hahaha… Tapi, gak apa-apalah. Gue tetep ganteng ini, kan?”

Shilla tertawa pelan. Bener, kan? Cakka memang tidak bisa serius. Dia bahkan tidak tahu kalau—

“Apa pun yang terjadi, sahabat lo yang gantengnya melebihi Andrew Garfield ini selalu ada buat lo. Jangan sungkan buat cerita.”

—dia tidak benar-benar mengalihkan pembicaraan dan ia ingin bercerita.

Tapi rupanya salah sangka. Cakka tahu, cakka mengerti apa yang sedang dirasakannya, karena tiba-tiba saja kata-kata itu terlontar. Rengkuhan pemuda itu terasa begitu hangat. Bertepi hingga jiwanya yang terasa dingin. Sedingin malam itu…

-Flashback-

Shilla mengatur nafasnya. Sekali lagi ia mengamati keadaan di sekitarnya. Rumah-rumah penduduk yang saling berdempetan, sama sekali tidak dikenalnya. Ini sudah satu setengah jam lebih ia berjalan. Menyusuri gang selebar satu meter setengah itu, mencari tempat tinggal Iel. Setahunya, ketika pertama kali ia diajak ke rumah Iel, gangnya tidak sebanyak sekarang. Shilla benar-benar tidak tahu apa yang salah. Entah ia salah gang, atau ia memang salah komplek.

Ia mulai merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menjadi pengingat yang baik. Yang diingatnya, rumah Iel itu satu-satunya rumah paling luas di antara rumah-rumah lainnya. Halaman depannya terawat, dan catnya berwarna kuning cerah. Tapi ia sama sekali tidak menemukan rumah itu. Matanya berkaca-kaca, dan ia mulai berjalan lunglai menuju jalan utama. Ia gagal menemui Iel.

Baru ketika kakinya sampai di ujung gang, di depan jalan utama, ia menghentikannya lagi. Berpikir.

“Sekali lagi. Kalau masih gak ketemu, gue janji bakal berhenti harepin dia.” Shilla bertekad dan sekali lagi menyusuri gang-gang itu. Memastikan kalau ada jalan yang ia lewatkan. Udara semakin dingin. Gadis bermata indah itu mengeratkan tali jaketnya. Tetesan dari langit perlahan-lahan turun, semakin lama semakin banyak. Dingin serentak memeluk tubuhnya hingga ke dalam jiwanya. Air matanya mulai bercampur dengan air hujan. Beberapa warga menawarkan gadis cantik itu untuk berteduh. Tapi shilla menolak. Ia mengeluarkan handphonenya dan menghubungi seseorang.

“Ayah, jemput Shilla…”

Haruskan seperti ini ia memperjuangkan cinta yang bahkan selalu mengabaikannya?

-FlashbackEnd-

“Jujur gue gak tahu harus bilang apa. Gue gak sebijak Alvin yang selalu bisa tenangin perasaan lo. Tapi, setidaknya, lo bisa bersandar di dada gue, Shil. Walau pun gak sixpack kayak brad pitt, tapi cukup lapang buat nampung kesedihan lo.”

Sedikit tertawa mendengar pemaparan Cakka, Shilla membenamkan wajahnya lebih dalam di dada pemuda itu. Meski tidak ada solusi seperti saat curhat pada Alvin, perasaannya jauh lebih tenang. Parfum maskulin Cakka menambah poin ketenangan dalam hatinya. Lagipula percuma diberi solusi, akhirnya sehari saja ia bisa membenarkan solusi itu. Setelahnya ia lupa dan kembali terpuruk.

“Iel sahabat gue, dan lo juga sahabat gue. Gue selalu berharap yang terbaik buat kalian berdua.”

Shilla tak merespon. Ia semakin terisak begitu tangan yang selalu mencetak angka saat bermain basket itu membelai rambutnya. Cakka tertegun. Hidung memarnya yang berdenyut, ia hiraukan. Pikirannya terfokus pada Shilla. Pada gadis yang sejak kecil selalu dilindunginya.

Dulu, ketika mereka belum mengenal cinta, Shilla adalah hal yang paling penting untuk ia, Alvin, dan juga Iel. Shilla adalah gadis yang wajib mereka lindungi. Dan ia menyayangkan sikap Iel yang menyakiti Shilla seperti ini.

“Gue yakin Iel gak maksud nyakitin lo, Shil.” Karena Cakka tidak ingin berburuk sangka dulu pada Iel.


-------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225

Tinggalkan komentar, kritik, dan pujian juga boleh…
Terimakasih

1 komentar:

  1. Kak Nae mah gitu. Ngepostnya lama banget huhu. Nextnya ditunggu yaa kak. Suka banget sama konflik sivia alvin sama dea. Aaah gak sabar

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea