Sabtu, 25 April 2015

Separation -Sepuluh-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 00.52



SEPARATION

-Sepuluh-

-------------------

“Bermain basket lagi, ya?”

Cakka menghentikan langkahnya. Baru saja kaki yang ditemani sepatu dengan merk terkenal itu dua langkah melewati pintu utama, suara baritone khas ayahnya sampai di telinganya. Dengan ragu, ia menoleh ke arah suara itu berasal setelah sebelumnya melirik si bundar orange di tangannya. Satu-satunya bukti yang membuatnya tidak bisa beralasan.

“Dan sepertinya sekarang sudah berani berkelahi ya?”

Butuh beberapa detik untuk Cakka menyadari bahwa pria yang tadi berdiri, bersandar di samping pintu salah satu ruangan itu sudah berdiri di hadapannya. Menekan hidungnya hingga mau tidak mau membuatnya meringis. Ia tidak bisa menebak apa yang ada di balik suara tenang ayahnya. Mungkin saja itu aba-aba sebelum pria berwajah tegas itu menyemburnya dengan berbagai kata-kata kasar dan menyakitkan.

“Cakka gak berkelahi, Yah.” Dan akhirnya Cakka menunduk dalam. Tidak kuat menatap mata sang ayah yang semakin lama terlihat semakin berkilat marah.

“Apa gak bisa kamu meninggalkan hal-hal tidak penting? Apa gak bisa kamu berkonsentrasi pada sekolahmu? Pikirkan masa depanmu dan berhenti bermain-main, Cakka! Berhenti bersikap seperti anak remaja yang selalu semaunya sendiri dan tidak bisa diatur.”

“Yah…” Hanya lirihan yang Cakka keluarkan. Ia memandang ayahnya dengan sendu. Berharap agar tidak sekarang ayahnya mengomel dan mengamuk. Ia baru pulang sesore ini setelah mengantar Shilla pulang. Ia benar-benar lelah. Ia juga benar-benar lapar. Ia ingin menyantap makanan yang sudah ia bayangkan sejak tadi dan ingin segera beristirahat.

“Tidak ada bantahan, Cakka! Ayah tidak suka dibantah!” Dan laki-laki itu berteriak. Cakka terlonjak kaget. Ibu dan Mas Elang yang entah sejak kapan berdiri sekitar dua meter di belakang Ayah, memandangnya cemas. Cakka tahu mereka ingin membela, tapi membela seseorang—yang di mata Ayah salah—hanya akan memperburuk situasi.

Sesungguhnya, laki-laki paruh baya itu tidak ingin bersikap seperti ini pada Cakka. Tapi, mengingat sikap Cakka yang tidak menggubris semua perintahnya, membuat ia akhirnya harus bersikap seperti ini. Bersikap lebih tegas dari biasanya. Ia tidak suka dibantah. Dan ia sadar—meski tidak ada kata-kata bantahan dari bibir Cakka—sikap dan perilaku Cakka yang masih saja bermain basket, tidak peduli dengan nilai sekolah, tidak mau berusaha untuk lebih pintar, dan tidak peduli dengan aturan dan peringatan darinya adalah sebagai bentuk bantahan.

“Apa salahnya jadi anak baik-baik, Cakka? Apa salahnya nurutin perintah Ayah? Ap—”

“Cakka gak suka diatur! Berhenti mengatur Cakka!” Kemarahan itu tersembur juga. Ia tidak habis pikir dengan kata-kata sang Ayah.

Jadi anak baik-baik? Apa selama ini ia termasuk jajaran anak nakal? Apa selama ini ia bukan anak baik untuk mereka? Ia memang bodoh. Nilainya tidak sebagus nilai-nilai Alvin. Ia memang tidak pernah dapat piala dan piagam penghargaan siswa terbaik. Ia memang tidak berhasil masuk kelas IPA. Ia memang tidak pernah mendapat rangking sepuluh besar di rapornya. Ia memang tidak pernah berhasil membawa Ayah dan Ibu berdiri di podium kehormatan untuk mengambil piala karena prestasinya. Tapi, seingatnya ia juga tidak pernah membawa Ayah dan Ibu ke ruang BP atau ke ruang kepala sekolahnya karena kenakalannya.

Jadi apa karena ia bermain basket, lantas ia dibilang bukan anak baik-baik?

Perasaan Cakka benar-benar kacau.

“Hidup ini aturan, dan hanya manusia tidak tahu diuntung yang tidak mau diatur!” suara Ayah kembali menyadarkan Cakka dari emosinya yang sempat meredup.

“Tapi aturan yang harus Cakka patuhi bukan aturan Ayah. Ayah selalu bilang semua yang Ayah lakukan adalah untuk kebaikan Cakka. Tapi Ayah gak tahu kalau selama ini Cakka gak pernah baik-baik saja!”

“Itu karena kamu tidak pernah tahu terimakasih!”

“Sumpah ya, Cakka gak ngerti sama semua orang yang ada di rumah ini. Sama Ibu. Sama Mas Elang. Dan terutama sama Ayah!”

“CAKKA!”

Refleks saja Cakka menutup matanya serapat mungkin begitu dalam hitungan detik tangan Ayah terangkat. Melayang hendak menyentuh pipinya. Namun, setelah hampir sepuluh detik menunggu, Cakka tidak merasakan sedikit pun hantaman mendarat tepat di pipinya. Perlahan Cakka membuka matanya dan sudah menemukan Mas Elang di hadapannya. Tangan Kakak laki-lakinya itu menahan tangan  Ayah yang masih mengudara.

“Yah, tangan kita ditakdirkan untuk mengobati dan menyelamatkan orang lain. Bukan melukai orang lain, terlebih keluarga kita sendiri. Mengertilah!” Elang menatap mata runcing milik sang Ayah penuh harap. Berharap sorot tajam itu diredupkan. Ia ingin pertengkaran—yang baru ia sadari adalah pertengkaran pertama semasa ia hidup—yang  terjadi di bawah atap rumah super mewah yang di dalamnya dipenuhi barang-barang antik dan mahal itu tidak diteruskan.

“Cakka pergi…” Dengan lunglai Cakka membalikan badannya. Suaranya lirih terdengar. Sarat dengan kekecewaan, dengan penyesalan, dengan kesedihan, dan dengan kemarahan. Tanpa menoleh lagi ke arah anggota keluarganya, Cakka membuka pintu dan benar-benar keluar dari rumah.

“Jangan pergi, Kka!” Ibu dengan buru-buru menyusul Cakka. Meraih tangan putranya yang paling ia sayangi itu, dan mencengkramnya dengan kuat sebelum Cakka benar-benar keluar dari rumah. “Jangan pergi…,” lirihnya. Air matanya mengalir begitu saja. Ia takut. Sangat takut Cakkanya benar-benar meninggalkannya.

“Kalau selama bertahun-tahun Ibu diam, maka Cakka minta jangan bicara apa pun juga saat ini.” Dengan pelan Cakka menepis tangan Ibu. Tanpa niat menoleh sedikit pun ke arah wanita yang sesungguhnya selalu ia inginkan di saat keadaannya kacau seperti ini. Ia kembali melanjutkan langkahnya. Elang dan Ayah hanya menatap punggung Cakka dengan nanar. Jika Ibu yang notabennya begitu Cakka sayangi, begitu Cakka patuhi saja tidak bisa mencegah kepergiannya, apalagi mereka.

“Cakka…” Ibu kembali melirih.

“Sudahlah, nanti juga dia kembali ke sini.”

------------------

Rio menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk di belakangnya. Menyalakan televisi dan kemudian memejamkan matanya dengan rileks. Sebenarnya ia tidak sedang ingin menonton TV yang acaranya itu-itu saja. Membosankan. Ia hanya perlu sesuatu yang bisa memecahkan keheningan di rumah besar itu. Rumah yang hanya ditinggali ia dan ibunya itu memang selalu terlihat sepi dan dingin. Sedingin hati dan perasaannya.

Selama hidupnya, Rio tidak pernah mengerti dengan kondisi keluarganya. Dari sejak kecil, ia tinggal bersama paman dan bibinya di Bandung. Ayah dan ibunya hanya mengunjunginya setahun sekali. Ia tidak diperbolehkan pulang untuk ikut dan tinggal bersama. Alasannya adalah karena mereka terlalu sibuk, dan kasihan jika Rio ditinggal sendiri di rumah. Rio kecil hanya menurut saja waktu itu. Sampai ia tumbuh dewasa Ibu mengajaknya pulang. Dan seperti inilah…

Ia tidak tahu kalau enam tahun sebelum ia diajak pulang, Ayah dan ibunya sudah resmi bercerai. Ia sungguh tidak tahu kalau arti pulang yang sesungguhnya adalah untuk menerima kenyataan yang bahkan lebih pahit dari sekedar dasingkan lima belas tahun lamanya.

Rio mendesah dalam pejamannya. Masalahnya sudah sampai klimaks sekarang. Terlebih mengingat bahwa ternyata ayahnya—

“Tunggu! Sepuluh menit lagi saya sampai di sana.”

Rio membuka mata secara refleks begitu decitan pintu diiringi suara wanita itu menjamah gendang telinganya. Ia menoleh perlahan ke arah wanita dengan pakaian super seksi itu. Dan tanpa berpikir panjang, ia segera berlari ke arah wanita itu dan menghentikan langkahnya.

“Ibu mau ke mana, Bu? Ini udah malam.” Yang pasti suara Rio terdengar lirih. Lain dengan suara dingin Rio biasanya.

“Ibu mau kerjalah, Yo.Minggir! Ibu sudah telat.”

Rio mencengkram lengan ibunya dengan kuat. Memaksa wanita yang begitu disayanginya itu untuk tidak melangkahkan kaki sejengkal pun meninggalkan rumah. Sudah cukup rumah ini diselimuti kesepian. Tapi jangan dengan hati orang-orangnya. Bahkan selama ini Rio tidak pernah merasa dipeluk, dibelai, disayang oleh Ibu. Jadi apa ia tidak boleh juga meminta ibunya tetap tinggal di rumah. Menemaninya untuk malam ini saja. Sungguh, ia tidak pernah merasa baik-baik saja dengan kesunyian itu.

“Jangan pergi, Bu! Rio akan mencari kerja, asal Ibu berhenti melakukan ini semua.” Dengan nada memohon, Rio menatap wajah ibunya dengan sedih. Sebenarnya ia merasa begitu lelah. Terkadang, ia ingin kembali ke Bandung dan pergi dari rumah ini. Toh, ia sudah biasa jauh dari kedua orangtuanya. Tapi, rasa rindu dan harapan yang terlalu besar yang ia pelihara dengan sangat baik dalam hatinya membuat ia berpikir ribuan kali lagi untuk itu. Ia merindukan ibunya dan ia percaya bahwa semuanya akan membaik.

“Apa yang bisa kamu lakukan, hah? Kamu sekolah saja yang benar! Jangan berpikir untuk kerja. Ibu masih sanggup membiayai hidup kita berdua.”

“Tapi gak gini caranya, Bu. Rio gak mau Ibu kayak gini. Gimana kalau Ibu disakiti orang lain?”

“Selama ini Ibu sudah cukup kebal untuk selalu disakiti!”

Meski tidak pernah tahu kejadian apa yang pernah terjadi di keluarganya. Tapi Rio dapat melihat ada banyak luka, ada banyak rasa sakit di mata sayu Ibu. Rio tahu seberapa terluka ibunya karena kehancuran keluarganya. Rio tahu, tapi Rio tidak pernah berharap kekebalan ibunya menjadi senjata yang membuat ia berpikir untuk melakukan pekerjaan laknat itu.

“Bu… Rio gak bahagia.” Rio menatap wajah ibunya lebih dalam lagi. Mencoba menyelami telaga kepedihan di dalamnya. Tepatnya mencoba menarik Ibu untuk menatap matanya dan membaca semua kata dalam manik hitamnya yang bahkan lebih kelam dari malam tanpa bintang.

Sesaat Ibu membeku. Kata-kata Rio menusuk perasaannya. Selama ini ia memang tidak pernah mampu membuat anak laki-lakinya itu bahagia. Lima belas tahun ia tak menyentuhnya, sudah cukup membuat luka dalam hati Rio. Tapi, hatinya terlalu keras. Hatinya terlalu dijajah keegoisan. Memaksa ia akhirnya membutakan mata dan hatinya untuk melihat kenyataan itu.

“Sudahlah!” Ibu mendorong pelan tubuh Rio dan berjalan tergesa keluar rumah.

Untuk beberapa detik Rio terdiam. Sampai kesadaran akhirnya menamparnya cukup keras.  Ia harus mengejar ibunya. Ia harus berusaha lebih keras lagi untuk mencegah ibunya pergi.  Ia harus menyusul ibunya. Ia harus menghentikan semua ketidakbahagiaannya. Ia sudah muak dengan semuanya. Dengan kebungkaman dirinya. Dengan pekerjaan nista ibunya. Kesedihan, keterpurukan, dan kesuraman hidupnya harus segera dihentikan dan diakhiri dengan yang lebih terang dan indah.

Dengan segera laki-laki jangkung itu berlari keluar rumah. Mencari ibunya yang ternyata sudah menghilang di belokan komplek.

----------------- 

Dengan perlahan Iel menyodorkan selembar kertas kehadapan adik laki-lakinya. Membuat si adik mengernyit bingung begitu membaca apa yang tertera di kop surat kertas itu. Perlahan ia mengambil kertas itu dan membacanya dengan teliti. Lantas setelah itu ia menatap sang Kakak dengan bingung.

“Maksud lo apa?” tanyan adik laki-lakinya yang hanya berselisih satu tahun dengannya itu.

“Isi folmulir itu dan sekolah.” Kali ini Iel menyodorkan pena kehadapannya.

“Gak mungkin. Di Albider lagi.”

“Gak usah ngoceh. Lo pinter, lo mesti sekolah juga. Lo itu punya masa depan yang cerah. Lo mesti bisa bikin hidup Aren lebih baik entarnya. Gue  bakal usaha sekuat yang gue bisa buat dukung lo dan cita-cita lo.” Iel berkata mantap. Tanpa melirik adiknyapun, ia sudah tahu ekspresi tidak percaya yang adik laki-lakinya tunjukan padanya. Ia sibuk dengan pekerjaannya.

“Lo bekerja keras selama ini buat gue dan juga Aren. Gue gak mau karena gue sekolah beban lo lebih berat lagi.”

“Iya, gue tahu. Makanya gue pengen kerja keras gue bisa bikin lo sama Aren pinter dan sukses.” Tidak ingin berbicara lebih panjang lagi, Iel segera berdiri dari duduknya. “Gue berangkat kerja dulu.”

“Bukannya Kakak lagi gak enak badan ya? Kenapa kerjanya gak libur?” Aren yang sedang asyik menonton TV tiba-tiba menengok ke arahnya dari balik punggung sofa. Sinar matanya yang polos dan berbinar cerah, secerah masa depannya, menatapnya dengan penuh kekhawatiran.

Iel berjalan mendekat ke arah adik perempuannya itu. Mengusap pelan puncak kepalanya. “Siapa bilang Kakak gak enak badan?” Sebenarnya, bukan badannya yang gak enak, tapi hatinya yang saat ini terasa begitu dipenuhi kegalauan. Dan entah untuk alasan apa.

Aren merenggut. “Kak Iel pulangnya jangan malam-malam banget ya?”

Iel mengangguk pasti. Jadwal pekerjaannya memang tidak begitu padat untuk malam ini. Ia berjalan ke luar rumah. Kedua adiknya mengikutinya sampai ambang pintu. Mereka menatap dalam mata lelah namun penuh semangat kakak terbaik mereka. Seandainya Ayah dan ibu tidak pergi secepat ini, mungkin laki-laki itu tidak harus berkerja sekeras ini. Mungkin hidup mereka akan bahagia seperti dulu. Namun, sekarang adalah sekarang. Dulu adalah dulu. Bukankah waktu diputar ke masa lalu adalah salah satu hal yang masuk ke dalam daftar hal yang mustahil? Sekarang tinggal menjalani apa yang sedang terjadi saja.

“Jaga Aren dengan baik. Dan soal folmulir itu, lo bisa mikir-mikir dulu. Tapi gue berharap lo mau. Gue percaya sama lo,—

Iel memegang pundak adik laki-lakinya dan menatapnya penuh harap.

—Lintar.”

--------------------

“Mama sama Papa bisa jual mobil Alvin.” Alvin menarik nafas panjang setelah kata-katanya terucap sempurna. Ia menatap orangtuanya dengan yakin. Keputusannya untuk menjual mobil pertamanya untuk biaya operasinya sudah bulat. Jika memang ada kesempatan untuk itu. “Alvin bisa berangkat sekolah bareng Papa atau naik motor bareng Dea.”

Mama dan Papa menatap Alvin dengan penuh penyesalan. Rasanya mereka ingin menolak saran Alvin. Tapi, tuntutan keadaan dan kenyataan kalau keuangan mereka sedang tipis-tipisnya, mereka tidak punya pilihan lain.

Sebenarnya, mereka sudah menabung jauh-jauh hari sebelumnya untuk persiapan operasi Alvin sambil menunggu pendonor yang tepat. Tapi  rupanya, tabungan itu bahkan belum cukup untuk biaya operasi yang begitu besar.

“Mobil itu hadiah dari Mama sama Papa buat kamu, Vin. Rasanya berat banget ngambil itu kembali.” Papa menatap Alvin bingung. Ia ingat bagaimana perjuangannya mengumpulkan uang untuk membeli mobil itu sehingga Alvin tidak perlu lagi naik bus untuk berangkat sekolah.

“Ujung-ujungnya kan buat Alvin lagi, Pa. Lagian kalo operasinya berjalan lancar dan Alvin bisa sehat total kan harganya jauh lebih berharga dari si Vios Biru.” Alvin tersenyum antusias. Meski sedikit tak yakin dengan operasi itu, tapi apa salahnya untuk terus berusaha sampai ujung nafas terakhir?

“Sambil nunggu keputusan keluarga pendonor, Alvin pake aja dulu mobilnya,” putus Mama mengelus punggung Alvin selembut mungkin.

“Tapi bukannya lebih baik kalau kita jual mobilnya dulu?”

“Alvin, kalau kamu berangkat sekolah bareng Papa, Papa bisa telat masuk kantor. Karena selain harus nganterin Mama, Papa harus nganterin kamu juga. Terus, Mama gak bisa bayangin kamu naik motor bareng Dea yang usilnya gak kira-kira. Dan naik bus itu bukan keputusan yang baik.”

Alvin mendesah pasrah. Tidak menolak keputusan Mama yang diam-diam dalam hatinya mengiyakan juga. Bagaimana pun juga ia sudah menyayangi si Vios Birunya. Rasanya berat untuk kehilangan.

“Terserah Mama sama Papa aja, deh.” Alvin tersinyum simpul. “Alvin percaya apa yang jadi keputusan kalian itu terbaik untuk Alvin,” sambungnya yang langsung mendapat pelukan hangat Mama. Tanpa disadari ada tatapan benci sekaligus sedih yang melihat adegan itu di tempat lain.

“Bentar, Ma.” Alvin melepaskan pelukan sang Mama begitu ponselnya yang ia taruh di atas meja bergetar. Cakka’s Home Calling. Segera ia meraih handphonenya. Menjauh dari orangtuanya dan mengangkat panggilan itu.

“Hallo…”

“Cakka ke rumah Alvin gak, ya?”

“Nggak. Emangnya kenapa, Tante?”

“Cakka pergi dari rumah, Alvin. Tante khawatir banget. Dia gak bawa motor dan gak tahu ke mana.”

“Tante tenang dulu, ya? Alvin coba hubungi Cakka dulu. Nanti kalau ada kabar, Alvin hubungi Tante lagi.”

“Baiklah… Makasih banget sebelumnya, Alvin.”

“Iya… Tante tenang aja ya?”

Alvin menutup teleponnya dan mendesah. Sambil mencoba menghubungi nomor Cakka yang langsung disambut suara lembut dan menggoda operator—pertanda teleponnya dirijek—Alvin memikirkan banyak hal. Suara Mama Cakka terdengar sangat panik dan khawatir. Dan itu menular kepadanya begitu lagi dan lagi panggilannya ditolak. Ia mulai berpikir untuk mecari Cakka. Ia yakin Cakka ada di tempat itu. Ya… lapangan basket tua itu.

“Ma, Pa, Alvin keluar bentar ya?”

-----------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225

Tinggalkan komentar, kritik, dan pujian juga boleh…
Sungguh ‘satu kata’ saja yang kalian tulis di kolom komen, meningkatkan semangat saya untuk menulis ‘banyak kata’…

Terimakasih

9 komentar:

  1. Kak Nae, bagian alvinnya dikit banget huhuhu. Part selanjutnya,da alvin yg banyak ya kak. Nyiksanya belum keliat2an nih

    BalasHapus
  2. makasih komentarnya, brenda.
    hehehe. . . siap! panjang nggaknya gak janji. soalnya sesuai kebutuhan cerita. tapi kalo nyiksa alvin, itu pasti! hahaha.. *ditamparAlvinGakHentiHenti*

    BalasHapus
  3. Kak Nia, Rey mau jujur nih ya #nariknafaspanjang. Kak nia bener-bener penulis idola aku:D tulisan2 kakak yg always super great selalu bisa menginspirasi aku buat lebih nyiksa alvin. Hehe..
    Tpi swear, separationnya asik.besok2 lebih panjangin lagi;) ok kak?

    BalasHapus
  4. Kak Nia, Rey mau jujur nih ya #nariknafaspanjang. Kak nia bener-bener penulis idola aku:D tulisan2 kakak yg always super great selalu bisa menginspirasi aku buat lebih nyiksa alvin. Hehe..
    Tpi swear, separationnya asik.besok2 lebih panjangin lagi;) ok kak?

    BalasHapus
  5. makasih, rey sebelumnya. seneng deh bisa jadi inspirasi buat orang lain. apalagi buat nyiksa alvin. *digebukinAlvinoszta* Hahaha...
    kapan-kapan kita bisa nyiksa alvin bareng-bareng, oke?! hehehe..
    semangat nunggu separationnya yaaa..

    BalasHapus
  6. Kak Nae cepet lanjut ya.. ditunggu, suka banget sama yang ini :)

    BalasHapus
  7. yahh part Alvinnya dikit sekali... kepo banget sama konfliknya alvia nanti gimana
    Chapter depan panjangin ya kak... 3000 word mungkin?? :D tapi terserah kakak aja yg LANJUTTT.....

    BalasHapus
  8. aulia jihan, sipokeh. ditunggu aja yaa.. :D

    eve capable, gak janji yeee. hehehe.. baru awal, kan. jadi alvinnya lagi nyiapin diri dulu buat saya siksa. hahaha.. *tawaEvil*

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea