Minggu, 10 Mei 2015

Separation -Dua belas-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 22.56


Terimakasih lagi untuk yang udah kasih komentar di part sebelumnya.
Terimakasih juga karena udah suka dan bersedia nunggu cerita gak jelas ini. Sebenarnya saya juga masih belajar. Sungguh masih belajar dan rasanya gak tepat jika ada yang ingin belajar menulis sama saya. Tapi, jika untuk sharring dan belajar bersama, bisa kontak saya di beberapa sosial media yang saya punya.

Twitter : @nhyea1225
Facebook : Nia Sumiati (nhyea_leviosa@yahoo.co.id)
Pin BBM : 5467BAFB

Untuk yang tidak memiliki blog dan ingin kasih komentar, kritik, dan saran, bisa lewat media sosial di atas. Kita bisa jadi teman dan belajar bersama. Terimakasih ^.^

-----------------------

SEPARATION

-Dua belas-

------------------- ---

Mata cokelat itu berkedip perlahan. Seirama dengan detik waktu yang tiba-tiba saja terasa lebih lambat. Rasa hangat yang perlahan menjalar menelusuri jalur peredaran darahnya dan berakhir hinggap di dalam jiwanya. Menuntut kelopak mata itu akhirnya tertutup sempurna. Dibiarkannya rasa hangat itu membunuh rasa tidak percaya yang baru saja mampir di hatinya.

Cukup lama adegan itu berlangsung. Angin malam yang berhembus, tidak cukup  tangguh untuk mengalahkan kehangatan pelukan itu. Waktu seketika bernyanyi, mengiringi tiap hembus nafas yang berpadu dengan isak tertahan. Menuntun tangan halus dan lembut bergerak dan mengusap pelan punggung kokoh yang melindungi kerapuhan jiwa di dalamnya.

Meski tak mengerti. Meski tak faham. Meski batinnya ketar-ketir dalam kebimbangan, namun ia yakin bahwa dirinya sedang diinginkan.

‘Tak usah bersembunyi. Menangis jika sedih. Menepi jika lelah. Bersandar jika rapuh. Dan datang padaku jika kau menginginkannya.’ –Ify-

-----------------------

Ini seperti mimpi. Apa yang menjadi sandarannya sekarang—ia yakin—bukan sesuatu yang layak. Namun entah kenapa terasa begitu nyaman dan hangat. Ia bahkan tidak rela membuka mata indahnya.  Mimpinya menahan ia untuk tetap tenang pada posisinya. Untuk tetap dalam tidur lelapnya.

Jika di dunia nyata ia tidak dibiarkan merasakan kehadirannya, maka dalam mimpi, biarkanlah sebentar saja untuk ia tetap menutup matanya. Jangan bangunkan ia sampai ia merasa puas bersandar.

Suara berisik berasal dari kendaraan-kendaraan lain, juga gerakan mobil saat berbelok atau melindas jalan berlubang dan polisi tidur, tak lantas membuat mimpinya pergi. Ia tetap mempertahankan bunga tidur itu. Setidaknya, sampai rindunya lunas terbayar.

‘Jika dunia mimpi jauh lebih indah. Jika dunia mimpi adalah satu-satunya cara merasakan ketentraman jiwamu. Aku rela tak bangun selamanya.’ –Shilla-

-----------------------

Tangan itu terhenti di jarak satu senti meter dari objek yang hendak disentuhnya. Bukan getaran ponsel atau benda lain yang ada di sekitarnya yang menghentikan pergerakannya. Namun getaran di hatinya yang membuat tangannya mengaku. Secepat mungkin ia menarik tangannya.

Diletakannya telapak tangan itu di dadanya yang masih menciptakan irama cepat tanpa aturan. Apa mungkin wajah itu, wajah yang masih menyimpan rona pucat itu yang menyalurkan getaran aneh di dadanya.

Ia menggeleng cepat. Tidak. Tidak mungkin. Tarikan nafasnya yang keras, mencoba mengingkari rasa. Ia segera berbalik, memunggungi orang yang masih tertidur dalam damainya. Keadaan jauh lebih baik dari beberapa saat yang lalu. Namun, hatinya tidak mengatakan itu.

‘Lepaskanlah! Semuanya, semua beban yang kau sembunyikan dalam senyum semumu. Bahkan kau tak tahu wajah damaimu, wajah tanpa kepalsuanmu bisa membuat hati ini bergetar sehebat ini.’ –Agni-

-----------------------

Sekali lagi. Tubuh itu berbalik. Udara yang bergerak ke arah yang berlawanan dengannya, seolah memaksa ia untuk kembali menatap punggung tegak itu. Entahlah, ia tidak tahu apa yang menjadi alasan ia menyukai punggung itu. Di sana, di balik punggung tegak nan kokohnya, ia seolah melihat ketulusan yang begitu besar. Ketulusan yang tak banyak orang fahami.  Tapi, apa iya hanya punggungnya saja?

Hatinya langsung melakukan berdebatan sengit kali ini. Ia bahkan tidak tahu kebimbangan apa yang menyekam di dalam sana. Yang pasti, apa yang baru saja terjadi, membuat hati kecilnya tertawa riang. Tawa yang belum pernah ia rasa sebelumnya. Namun ada bagian kecil dari hati terkecilnya itu yang masih menyimpan kebencian.

Ia masih larut dalam keraguannya sampai punggung itu tak lagi terjangkau oleh indera penglihatannya. Namun ia masih enggan mengalihkan sedikit pun titik pusat matanya, seolah sosok itu membekas di sana. Masih berdiri di sana. Melakukan tingkah-tingkah lucu yang membuat sebagian hati kecilnya tertawa. Dan tentu sebagiannya lagi menggeram tak suka.

‘Berjalanlah lebih dulu. Tak perlu menengok ke belakang. Karena saat kau melakukan itu, tanpa kau sadari aku sudah berjalan mendahuluimu. Aku akan mengunggulimu.’ –Sivia-

-----------------------

“Agni! Hei, Agni!”

Merasa ada yang mengusik tidurnya yang tidak bisa dibilang lelap, Agni membuka matanya perlahan. Sambil menunggu seluruh sistem tubuhnya kembali berjalan normal, gadis dengan kepribadian sedikit tomboi itu menatap keadaan di depannya.

Tepat ketika bola matanya yang sempat buram kembali jelas, ia buru-buru mundur. Saking kaget, ia lupa di belakangnya ada sebuah meja. Alhasil, mau tidak mau punggungnya membentur sisi meja itu. Ia meringis dan menatap orang yang jadi objek pertama yang dilihatnya dengan salah tingkah.

“Lo biasa aja bisa, kan? Jangan bersikap seolah gue lakuin tindakan tidak senonoh sama lo.”

Tidak merespon. Otak Agni masih sibuk merekam ulang kejadian sebelumnya. Sebelum tubuhnya bisa tertidur di samping Cakka. Tentu saja dengan posisi duduk berbantal tangan sofa. Dan seingatnya, setelah memaksa Cakka menelan obat maag, hingga pemuda itu tertidur, ia mendengar handphone Cakka bergetar. Begitu tahu siapa yang menghubungi Cakka, langsung saja ia mengangkatnya. Setelah itu ia lupa apa yang membuat ia akhirnya terlelap tidur. Ah, mungkin kebiasaan. Dulu, setiap Deva sakit maag dan ia mengobatinya, adik laki-lakinya yang hiperaktifnya melebihi kapasitas itu selalu mengancamnya agar tidak beranjak sebelum ia menginzinkannya.

Tapi, bukan itu yang membuat Agni tertegun dan membuat Cakka mengerutkan kening bingung.

“Hallo?”

“Hallo, Vin?”

“Halloooo, Alvin?”

“Kka, lo di mana?”

“Cakka di rumah gue.”

“Gue perlu bicara sama dia.”

“Cakkanya tidur, Vin. Tadi…”

“Eh? Tunggu! Ini siapa, ya?”

“Gue Agni, Vin.”

“Hah? Lo sama Cakka? Yang bener aja… Di rumah lo? Tidur lagi? Gimana ceritanya?”

Tentu saja Agni sudah bisa memprediksi tanggapan Alvin ini. Tidak akan ada yang percaya jika mereka bisa berdekatan seperti ini.

“Ya udah, gue ke sana sekarang.”

“Ja—”

Tut… tut… tut…

Sambungan terputus. Bersamaan dengan terputusnya juga lamunan Agni begitu, “lo kenapa, sih? Sumpah ya, gue gak ngapa-ngapain lo! Lagian, ngapain juga lo tidur di sisi gue? Lo khawatir sama gue?” Cakka merutuk kesal melihat Agni terbengong-bengong seperti kehilangan separuh jiwanya.

“Alvin mana?” Agni mengintai tiap sudut rumahnya dengan bola matanya. Tidak mempedulikan rutukan Cakka.

“Heh, Angsa Jelek! Lo waras, dong! Mana iya Alvin ke sini malam-malam. Jangan gara-gara khawatir sama gue, otak lo jadi geser juga dong!”

“Heh, Cicak!” Kesal. Agni tak segan-segan menoyor kepala Cakka yang langsung meringis. “Otak gue tuh masih waras, tahu! Lagian, amit-amit jabang janin ya, gue khawatirin lo. Yang gue khawatirin  tuh Alvin yang belum dateng juga padahal dia telepon katanya mau ke sini jemput lo!”

“Gue udah dateng kali, dari tadi juga. Kaliannya aja yang tidurnya pules banget!” Alvin, dengan kalem berjalan dari arah dapur menuju meja makan. Di tangannya sebuah nampan  dengan tiga mangkuk yang—dari aroma sedapnya—Agni yakin berisi mi instan. Laki-laki yang malam ini terlihat sangat pucat itu memberi isyarat agar Agni dan Cakka menghampirinya.

Tanpa ba bi bu, langsung saja Cakka dan Agni berjalan menghampiri Alvin dan duduk saling berhadapan di meja makan dengan empat kursi itu.

“Rumah lo sepi banget, jadi tadi gue langsung masuk aja,” jelas Alvin sembari menyodorkan kedua mangkuk ke hadapan kedua temannya. “Ngerasa bosen nungguin kalian tidur, gue putusin buat cari makanan. Karena yang adanya cuma mi instan doang, ya…” kata-kata Alvin terputus.

“Heh, Cicak! Lo gak boleh mak—”

Agni mendesah begitu mi instan yang harusnya tidak dikonsumsi oleh Cakka, sudah lebih dulu lolos ke dalam mulutnya sebelum ia mencegahnya. Harusnya Cakka tidak makan mi instan dulu mengingat beberapa jam yang lalu maagnya kumat. Alvin hanya memandang Agni yang tampak menggerutu dan Cakka yang sok tidak peduli itu dengan kekehan pelan.

Agni mendesah dan mulai menikmati jatah makanannya. Masa bodoh dengan kondisi Cakka. Perutnya juga lapar. Dan akhirnya mereka membiarkan waktu diselimuti kesunyian selama mereka menikmati mi instan masing-masing.

“Nyokap lo ke mana, Ag?” tanya Cakka tanpa niat mengalihkan fokusnya dari mi instannya.

“Ke Jepang. Nemuin Deva sekalian jemput dia pulang juga, sih,” jawab Agni  yang juga sudah fokus  pada makanannya. Cakka  mengangguk singkat tanpa minat merespon lebih. Sebentar Agni menatap Alvin yang juga sedang sibuk dengan jatahnya. “Kenapa harus repot-repot ke sini, Vin? Gue yakin lo lagi gak baik-baik aja. Iya, kan?” sambungnya membuat Cakka akhirnya ikut menatap Alvin.

Alvin mengangkat kepalanya dan menatap Agni dan Cakka yang tampak cemas.  Rasa sakit yang sejak bertemu dengan Sivia tadi menyerangnya sebisa mungkin ia  sembunyikan dengan baik dari teman-temannya. “Gue gak pernah ngerasa direpotin kalo buat jagain sahabat-sahabat gue. Gue cuma takut aja lo diapa-apain sama Cakka. Makanya gue mau nyeret nih bocah buat pulang.” Alvin tersenyum sesimpul mungkin.

“Tapi lo gak perlu jemput gue, Vin. Kalau waktunya udah pas juga gue bakalan pulang.” Cakka menatap wajah pucat Alvin. Lantas memandang Agni dengan sebal. “Lagian, lo ember banget pake bilang ke Alvin gue di sini. Kalo Alvin kenapa-napa di jalan gimana?”

“Idih… lo tuh, ya malah nyalahin gue. Salah lo dong, bikin Alvin cemas.”

“Tapi kalo lo gak ember, Alvin gak bakalan repot-repot ke sini!”

“Heh, Cicak! Bagus tau, gue bilang lo di sini. Kalo nggak, lo mau Alvin kelimpungan sendiri nyari lo di mana-mana? Kalo Alvin kenapa-napa salah lo, ya…”

“Salah lo kali…”

“Udahlah… gak ada yang salah, kecuali lo mau pulang, Kka. Maksud gue, anterin gue ke rumah lo.” Alvin bermaksud menengahi. Ia menyimpan sendok yang sempat dipegangnya.

“Gue gak bisa pulang malem ini, Vin.” Cakka menolak.

“Gue gak bilang lo pulang, Kka. Gue minta lo anterin gue. Dada gue sakit dan gue butuh bokap lo!” Dengan lemas Alvin mendorong mangkuk di hadapannya. Melipat tangannya di atas meja, lantas membenamkan kepalanya di sana. “Gue mohon…”

“Cakka! Jangan diem aja, lo mesti bawa Alvin sekarang juga. Lo peka dong, kalo jantung Alvin tuh lagi kumat.” Agni panik. Ia segera berdiri dan berlari pontang-panting menuju kamarnya. Ia kembali dengan sebuah kunci mobil di tangannya dan menyerahkannya pada Cakka. Cakka harus segera pulang—tepatnya Cakka harus segera membawa Alvin ke rumahnya, mengingat Ayah Cakka adalah Dokter yang menangani penyakit Alvin selama ini. Dan juga mengingat tak ada dari mereka yang membawa kendaraan, jadi ia memutuskan untuk meminjamkan mobilnya.

Cakka terhenyak. Bangkit dari duduknya dan langsung merapatkan diri dengan tubuh Alvin yang masih bertahan pada posisinya. Pemuda sipit itu tampak mengerang tertahan.  Cakka cemas dan segera memapah Alvin keluar rumah Agni. Sepintas Alvin memandang Agni dan tersenyum. Ia menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran pertanda ia baik-baik saja. Agni mengernyit untuk beberapa saat, sampai ia mulai paham dan ikut tersenyum.

“Alvin tuh emang keren! Keren dalam banyak hal,” gumam Agni saat Alvin pergi bersama mobilnya. Akting yang bagus. Cakka berhasil ditipunya.

-----------------------

“Lo kenapa bisa pindah?”

“Selama ini si Ourel ngarep banget sekelas sama lo, loh…”

“Lo juga kan, Git.”

“Lo gak tau kan, kalo banyak banget cewek di kelas ini yang seneng sama lo.”

“Oh ya… lo siap-siap ya, De. Peringkat satu lo bentar lagi diambil alih.”

“Gak bakalan. Asal lo tau aja, gue bakal pertahanin peringkat gue. Ayo, kita bersaing dengan sehat!”

“Ngomong-ngomong wajah lo pucet ya? Lo keringetan juga. Lo gak sakit, kan?”

“Kulitnya emang putih, kan? Mungkin dia terlalu gugup dikerubuni gini. Iya, kan?”

“Tapi, jujur ya… gue baru nyadar kalo di jarak sedeket ini lo itu, tampan.”

Ramai. Kelas berlabel XI IPS-1 itu tampak ribut seperti pasar dan sejenisnya. Hampir setengah siswa duduk mengerubuni satu meja. Meja nomor 3 barisan kedua dari kiri. Meja yang dikenal sebagai meja Rio. Semua dari mereka tampak sibuk memberi sambutan tak mengerti dan tak percaya pada orang yang saat ini menjadi penghuni bangku itu.

Alvin Jonathan.

Laki-laki super pintar yang semula duduk di kelas IPA-1, kelasnya anak-anak berotak cerdas,  tiba-tiba datang ke kelas IPS-1. Semula semua siswa mengira laki-laki yang selalu berseragam rapi itu salah masuk kelas. Otak jeniusnya membuat ia lupa kelasnya sendiri. Bahkan Shilla sendiri awalnya tidak percaya kalau Alvin dipindahkan ke kelasnya. Tapi, keadaannya memang begitu.

Alvin sekarang duduk di kelasnya. Di bangku yang sengaja diberikan oleh pemiliknya. Membuat kelasnya heboh karena kehadirannya. Semua orang tahu bagaimana kepribadian Alvin. Baik, ramah, pintar, jadi tidak ada alasan untuk mereka tidak bahagia Alvin menjadi bagian dari mereka.

Tentu saja ada pengecualian. Gadis berambut emas sebagian itu melangkah tergesa. Sepatu merahnya yang tidak sesuai dengan peraturan sekolah itu, menimbulkan derap langkah penuh emosi saat ia berjalan ke arah keumunan itu. Mata cokelatnya yang entah terkontaminasi dengan senjata tajam apa, mampu mengusir kerumunan itu hanya dalam satu lirikan saja.

Alvin yang selama waktu tertentu tidak berbicara sepotong kata pun, hanya menatap sendu teman-temannya yang perlahan menjauhinya dan kembali ke bangku masing-masing. Meski ia merasa begitu pengap dengan kerumunan itu, hatinya tetap senang dengan sambutan mereka.

“Lo tau, kan ini bukan bangku lo?” Sivia—si pemilik sepatu merah itu—berdiri di samping Alvin. Teman-teman yang lain memilih sibuk dengan kegitan masing-masing ketimbang berurusan dengan  putri pemilik Albider itu.

Alvin mengangguk dan tersenyum.

“Terus kenapa lo duduk di sini?” tanyanya sengit. Ia menggebrak meja dengan kasar hingga membuat Alvin terlonjak kaget. Shilla yang sejak tadi tidak melepaskan fokusnya dari Alvin, hendak beranjak sebelum tangan Alvin memberi isyarat untuk ia tetap diam.

Alvin tersenyum. Menatap Sivia dengan lebih lembut. “Lo tau, kan ini bukan bangku lo?” sedikit memiringkan kepalanya, Alvin melontarkan pertanyaan serupa pada Sivia.

Sivia mengernyit.

“Bukan, kan? Terus kenapa lo larang gue duduk di sini? Rio aja nggak larang gue, kok.”

Telak. Langsung saja Sivia bungkam. Ekor matanya melirik Rio yang pindah tempat duduk ke pojok ruangan. Ia bahkan tidak terusik sedikit pun dengan keributan yang terjadi. Laki-laki berwajah datar itu tetap sibuk dengan cerita bergambarnya. Sivia kembali menatap Alvin yang bahkan tidak goyah sedikit pun dengan tatapan tajamnya. Ia hendak kembali mengomel saat Bu Oki—guru matematika—berjalan tergesa ke dalam kelas. Suara cemprengnya yang tidak selaras dengan tubuh besarnya, menyapa anak-anak yang langsung mejawab kompak.

“Ngapain sih lo pake pindah ke kelas ini segala? Duduk di bangku gue lagi.”

“Bangku Rio.” Alvin menyela. Ia mengeluarkan buku matematikanya. Mencatat apa yang baru saja Bu Oki catat di papan tulis.

Sivia merenggut. Itu memang bangku Rio. Bukan bangkunya. “Maksud lo pindah ke sini apa, sih? Hm, biar bisa deket-deket sama si Shilla itu, ya? Oh my god, setelah puas berduaan sama… siapa sih cewek kemarin tuh?”

“Ify…”

“Ya, si Ify di kelas IPA 1, lo pindah ke kelas ini. Enak banget ya jadi lo. Gue aja putri.pemilik.Albider. gak bisa pindah-pindah kelas kayak lo. Awas aja, lo.” Sivia terus aja mendumel. Ia mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Alvin mengernyit, mengamati Sivia yang sudah sibuk mencatat namun tidak berhenti mengoceh.

“Lo jangan mikir bakalan betah ya, duduk di samping gue. Besok gue pastiin lo pindah bangku, atau bahkan kembali ke kelas lo. Jangan salahin gue kalo ada apa-apa sama lo. Salah lo sendiri pindah ke kelas ini. Emang beneran ya lo pindah kelas ini cuma biar bisa berduaan sama shilla?”

“Tujuan gue sebenarnya, buat bikin lo berjalan di depan gue. Itu yang lo mau, kan? Jadi jangan coba-coba macem-macem sama gue kalo lo emang pengen lebih unggul dari gue.” Alvin mengalihkan pandangannya. Mulai fokus kembali pada tugas mencatatnya.

Tangan Sivia berhenti sejenak. “Huh, ancaman apa itu?” desisnya. “Tanpa lo duduk di sini, gue bisa kok ngalahin kepopuleran lo.”

Alvin tersenyum singkat. Tidak berniat merespon lagi karena Bu Oki sudah mulai menerangkan pelajaran yang dicatat di papan tulis.

-----------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225

Tinggalkan komentar, kritik, dan pujian juga boleh…
Sungguh ‘satu kata’ saja yang kalian tulis di kolom komen, meningkatkan semangat saya untuk menulis ‘banyak kata’…

Terimakasih

------------------------

Gimana? Bagian Alvinnya udah lumayan panjang, kan? Maaf kalo gak memuaskan.

3 komentar:

  1. Kalo dibandingin sama cerita kak nae yg lain, aku ngerasa cerita ini gak kurang ditata bahasanya. Tapi aku paling suka sama inti ceritanya. Sivia sama alvin yg musuhan terus ada aren yg irian gitu. Keren. Tapi kak nae, mana bagian siksaannya? Parah. Udah part 12 belum muncul2 juga huhuhu. Kak, postnya seminggu sekali dong, jangan lama2 hehehehe

    BalasHapus
  2. Kak nia, part yg ini nge'drama' banget..haha,keren!
    Adegan alvia-nya bikin dag dig dug:o.
    part selanjutnya harus lebih panjang lagi oke kak! #maksabgt
    bagian alvin juga tuh.ditunggu, kak!

    BalasHapus
  3. lanjut kak, jangan lama-lama :)

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea