Jumat, 01 Mei 2015

Separation -Sebelas-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 21.22


Terimakasih yang udah nyempetin kasih komentar di part kemarin. Itu membuat saya semakin semangat untuk melanjutkan separation ini. ^.^
 
--------------------------
SEPARATION

-Sebelas-

------------------- ---

Dengan intensitas kecemasan yang hampir melebihi batas, Alvin terus berjalan agak tergesa. Menyusuri trotoar jalan raya. Aktifitasnya masih sama seperti beberapa saat ketika ia keluar dari rumah. Mencoba menghubungi nomor Cakka. Beberapa menit yang lalu, Cakka masih merespon panggilannya meski dengan memencet tombol merah, yang artinya panggilannya dirijek. Tapi untuk panggilan ke sepuluh kali ini, Cakka sama sekali tidak meresponnya. Itu yang membuat Alvin begitu mencemaskan sahabat terbaiknya itu.

Entahlah, tapi ini pertama kalinya Cakka bersikap seperti ini. Semarah apa pun laki-laki slengean itu, dia tidak pernah mengacuhkannya. Dia tidak akan mengabaikannya seperti ini. Alvin benar-benar dibuat bingung. Cakka benar-benar tidak pernah seperti ini sebelumnya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan keluarga Cakka yang di matanya selalu tampak harmonis itu?

Pikiran buruk seketika merayapi benak Alvin. Membuat laki-laki bermata sipit itu memikirkan banyak hal, dan tentu saja itu hal yang tidak-tidak.

Tapi, bagaimana kalau seandainya itu terjadi?

Sungguh, Alvin tidak bisa membayangkan wajah pucat Cakka dengan luka di pergelangan tangannya akibat sayatan beling. Atau kaki menggantung dengan tali di lehernya. Atau mulut berbusa dengan botol pembasmi kecoa yang sudah masuk ke dalam perutnya. Atau juga jasad mengambang di sungai berarus deras di belakang lapangan basket tua yang dulu selalu di kunjunginya. Atau—

BRUKK!!

“Oh, my God!”

Pikiran buruk yang—untungnya—belum sepenuhnya menguasai benak Alvin itu seketika bubar. Pergi begitu saja saat tubuh kurusnya membentur tubuh seseorang yang ada di hadapannya. Beruntung tubrukan itu tidak begitu keras sehingga tidak membuat tubuh keduanya terjatuh. Tapi tetap saja itu membuat kaget. Alvin cukup tersentak.

Dengan canggung, Alvin memandang orang itu.

“YOU?!”

Dan baru saja Alvin hendak melafalkan maaf saat tiba-tiba orang itu berteriak dengan volume super kencang. Membuat Alvin kembali tersentak. Beruntung Tuhan masih berbaik hati tidak membuatnya kolaps seketika. Sebentar ia mengurut dada dan menatap Sivia—orang itu—dengan heran. Kenapa sih, gadis ini  hobi sekali marah-marah?

“Oh, Tuhan… I don’t understand with my bad fate today. Harus ya, orang yang gue temui tuh lo? Pake acara nabrak-nabrak gue lagi lo!”

Alvin menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Ia bingung. Ia tidak mengerti. Setahunya, mereka sama-sama sedang sibuk dengan  handphone masing-masing saat tabrakan itu terjadi. Keduanya sama-sama tidak fokus pada keadaan di depan. Jadi, kenapa gadis pemarah itu hanya menyalahkannya? Bukankah ia juga sama-sama salah?

Salah satu alis Sivia terangkat begitu melihat Alvin diam saja. Laki-laki pucat itu sama sekali tidak merespon sedikit pun cerocosannya. Membuat Sivia mau tidak mau berhenti mengoceh dan beralih mengamati Alvin dengan rinci. Dan itu malah membuat Alvin semakin bingung. Sivia jadi tidak yakin kalau Alvin adalah siswa nomor satu di Albider.

“Hallo?”

“Hallo, Vin?”

“Hallooo, Alvin?!”

Baik Alvin mau pun Sivia sontak celingukan begitu mendengar  sebuah suara bertepi hingga gendang telinga mereka. Bola mata mereka yang memang sejak tadi memancarkan banyak kebingungan, berputar mencari sumber suara. Ke kanan dan kiri. Tidak ada siapa pun—maksudnya orang yang ingin berinteraksi dengan mereka. Hanya beberapa orang yang berlalu lalang dan sama sekali tidak peduli dengan aktifitas mereka berdua.

Sampai akhirnya Alvin sadar kalau suara itu berasal dari handphonenya. Ia lupa kalau sebelum tabrakan itu terjadi, ia sedang mencoba menghubungi nomor Cakka, dan rupanya panggilan itu masih tersambung. Alvin tersenyum gendok ke arah Sivia. Gadis itu mendumel dalam hati; iishh, stupid boy!

Sebentar Alvin menatap layar ponselnya.

Tunggu?!

Bukankah barusan ada suara di balik speaker handphonenya? Itu berarti…

Cakka mengangkat teleponnya! Ya, Cakka merespon panggilannya. Buru-buru ia pergi meninggalkan Sivia. Ia sedang terburu-buru. Urusannya untuk mencari Cakka belum tamat.

Hei, stupid boy! Who do you think you are, hah? Harusnya lo minta maaf dulu sama gue!” Sivia membalikan badannya. Berteriak cukup keras agar Alvin yang sudah berdiri agak jauh darinya mendengar gerutuannya.

Alvin membalikan badannya. Ia mengangkat  kedua tangannya sebatas dada. Tangan kanannya ia kepalkan, sementara tangan kirinya yang masih memegang handphone dibiarkan sedikit terbuka. Ia sedikit mengangkat tangannya yang terkepal lebih tinggi. “Wuuussshhh….”  Desis Alvin  sembari menggerakan tangannya perlahan ke bawah dengan gerakan melengkung. “BRAK!” serua Alvin ketika tangan kanannya berhasil beradu dengan tangan kirinya.

Sivia mengernyit menyikapi sikap aneh Alvin.


 “I’m sorry Miss  Angry Bird. Gue harus pergi sekarang. Ternyata, Alvin menirukan game Angry Birds yang sering ia mainkan kala waktu senggang tadi.

Lantas setalah itu Alvin kembali berjalan meninggalkan Sivia. Ada kekehan pelan yang keluar dari mulutnya. Gadis itu memang seperti Angry Birds. Tukang marah-marah!

Sivia yang melihat adegan itu hanya tertawa sumbang. Meski Alvin sudah meminta maaf padanya, tetap saja rasa benci di hatinya tidak mau berkurang. Apalagi saat ia mendengar Alvin mengatainya, apa tadi?

Angry Bird?

Hah? Dasar stupid boy! Enak saja.

-----------------------

Iel menangkupkan telapak tangannya di mulutnya. Menguap lebar. Matanya mengerjap beberapa kali setelah menyempatkan untuk menengok jam tangannya. 21:22. Tidak biasanya ia mengantuk di jam segini. Mungkin tubuhnya yang lelah membuat syarat-syaraf matanya dipaksa untuk segera ditutup. Beruntung sekali salah satu tempatnya kerja sambilan sedang libur. Ia jadi bisa istirahat lebih awal malam ini. Ia juga bisa menepati janjinya pada Aren untuk tidak pulang terlalu larut.

Ia mengeluarkan ponselnya. Mengotak-ngatiknya sebentar dan mendesah sekeras yang ia bisa. Entahlah, setiap kali ia membuka ponselnya, ia selalu merasa ada kekecewaan yang meresap ke dalam sela-sela hatinya. Menyebarkan kegalauan dalam batinnya. Sungguh! Sebelumnya ia tidak pernah merasa seperti ini sampai ia mulai menyadari kalau sudah seharian ini Shilla—gadisnya yang sesungguhnya—selalu ia rindukan itu tidak mengirimnya pesan sama sekali.

Jangankan pesan perhatian. Pesan marah-marah seperti seharian kemarin pun tidak ada yang mampir di ponselnya. Mungkin Shilla benar-benar marah padanya.

“Shilla?”

Baru saja ketua osis Albider itu memikirkan Shilla, gadisnya yang saat ini tengah duduk di bangku besi halte bis itu, tengah memenuhi titik fokus matanya. Iel menghentikan langkahnya di jarak lima meter dari halte bis. Matanya yang sudah begitu sepet, mengerjap beberapa kali. Memastikan kalau pemandangan yang jadi fokusnya saat ini memang benar-benar gadisnya yang tengah ia rindukan. Ngapain gadis itu duduk sendiri di halte bis malam-malam seperti ini?

Iel maju beberapa langkah. Dua meter spasi antara mereka dihapusnya. Menyisakan jarak tiga meter dengan tihang penyangga canopy halte yang memisahkan mereka. Serinci mungkin laki-laki itu mengamati Shilla. Gadisnya.

Shilla tampak menghela nafas panjang. Dilepasnya headset berwarna putih yang sedari tadi menempel di telinganya. Woody, si penyiar radio—yang entah bagaimana caranya—menjadi penyiar favorit Shilla, sudah sekitar dua puluh menit yang lalu mengucapkan salam perpisahan. Entahlah, mendengar suaranya, membuat perasaanya begitu tenang. Setenang berada dalam dekapan Iel.

Ah, laki-laki itu lagi. Ia sudah berjanji untuk melupakannya.

Buru-buru Shilla mengubah posisinya menjadi berdiri. Selain karena bus yang ditunggunya sudah datang, ia juga mencoba menghindar dari bayangan Iel yang baru saja hendak menguasai pikirannya lagi. Ia segera melangkah memasuki mobil berukuran besar itu. Tidak begitu banyak penumpang, sehingga ia bebas memilih tempat duduk yang menurutnya nyaman. Kursi bagian tengah sebelah kiri menjadi pilihannya. Ia langsung saja melemparkan pandangannya keluar jendela mobil. Mengamati kendaraan dengan bentuk dan warna berbeda dengan asyiknya. Ia bahkan melewatkan sosok Iel yang juga ikut masuk ke dalam bus.

Mata Iel menyapu keadaan sekitar. Langsung saja ia memilih kursi bagian kanan, bersebrangan dengan Shilla begitu ia menangkap sosok itu. Gadisnya itu belum menyadari keberadaannya saat ini. Ia terus saja mengamati Shilla.

Hei, bukankah mereka sepasang kekasih? Bukankah tidak seharusnya mereka duduk terpisah seperti ini?

Sebenarnya Iel ingin saja menghampiri Shilla. Tapi, mengingat sikap Shilla seharian ini membuat keinginannya untuk itu ia urungkan.  Tidak adanya pesan satu pun dari Shilla, padahal gadis itu tidak pernah sehari pun membiarkan inbox-nya kosong tanpa pesannya, membuatnya yakin kalau Shilla tidak ingin bertemu dan berinteraksi dengannya. Jadi sebaiknya ia diam dan memperhatikan saja.

Ternyata ada keasyikan tersendiri saat mengamati wajah polos Shilla. Terlebih ketika ia melihat Shilla terkantuk-kantuk. Wajah polosnya yang lucu sungguh menggemaskan. Membangkitkan nalurinya untuk selalu melindungi gadis rapuh itu. Gadis rendah hati yang bahkan memilih terkantuk-kantuk di dalam bis padahal ia bisa menelpon supir pribadinya untuk menjemputnya pulang. Gadis yang hidupnya difasilitasi kemewahan namun tetap bersikap sederhana dan apa adanya. Gadis yang sesungguhnya begitu ia sayangi. Gadis yang membuatnya begitu menyesal karena telah diacuhkannya.

Lama-lama, Iel greget juga melihat Shilla menahan kantuk seperti itu. Ia sungguh tidak tahan dan segera pindah posisi di sebelah Shilla yang memang kosong. Sebentar ia mengamati Shilla yang belum menyadari keberadaannya. Lantas setelah itu, ia menuntun kepala Shilla untuk bersandar di bahunya. Langsung saja gadis yang sepertinya tengah kelelahan itu tertidur nyaman di bahunya. Seolah pundak keras yang menanggung banyak beban itu seempuk bantal di kamar mewahnya.

Iel tersenyum melihat wajah sepoloh HVS tanpa coretan itu. Perlahan ia mengelus rambut ikal Shilla yang ditemani jepit berbentuk bunga itu dengan lembut. Sungguh, ia menyayangi Shilla. Apa pun yang terjadi, ia akan menyayangi Shilla. Ia berjanji akan belajar membagi waktu untuk gadis yang memang semestinya ia perjuangkan sekuat yang ia mampu.

-----------------------

Di tengah-tengah taman kota yang mulai menyepi, Rio memutar-mutar tubuhnya ke segala arah percis orang linglung. Manik matanya terus bergerak mengamati keadaan sekitar. Mencari sosok yang sempat berhasil ia ikuti sampai akhirnya menghilang di taman kota ini. Ia kehilangan jejak ibunya di tempat luas itu. Kali ini ia tampak seperti bocah kehilangan orangtuanya. Hanya saja ia tidak menangis meraung-raung memanggil nama sang Ibu.

Merasa ibunya tidak berada di tempat itu, Rio mengerang marah. Tangannya terkepal begitu kuat. Berbagai rutukan terlontar tanpa jeda dalam hatinya. Sampai akhirnya ia menghela nafas lelah dan mulai beringsut, berjalan terseok-seok  meninggalkan tempat itu namun rasa kecewanya tetap mengikuti. Jika saja ia diciptakan sebagai seorang perempuan, ia akan menangis saat itu juga.

Sungguh ia tidak mengerti. Benar-benar tidak faham dengan hidupnya. Ia hanya menyayangi ibunya dan tidak ingin sesuatu terjadi pada wanita itu. Lantas kenapa wanita itu tidak juga mengerti keiinginannya? Tidak faham kekhawatirannya? Tidak peduli dengan kesakitan dan kesedihannya? Kenapa Ibu selalu mengacuhkannya dan tetap bekerja di tempat sialan itu?

Rio membatin sedih. Ia tidak menyadari langkahnya sudah sampai di gerbang utama perumahan tempatnya tinggal. Langkahnya terasa berat bak menyeret besi beton puluhan ton. Namun, hati dan perasaannya terasa sangat hampa seperti tidak ada gravitasi yang menariknya. Ia melayang namun terhimpit banyak sesak.

“Ya ampuuunn…”

Ia bahkan tidak menyadari kalau baru saja ia menabrak tubuh seseorang. Dan ia baru sadar saat orang yang ia tabrak memekik tertahan. Segera ia memandang orang itu dan mengernyit.

“Ify?”

Gadis yang tengah berjongkok, membereskan barang-barangnya yang berhamburan,  langsung menengadah, memandang orang yang saat ini berdiri di hadapannya. “Rio?” pekiknya kaget. Buru-buru ia membereskan barang-barangnya. Tidak cukup peduli dengan raut wajah datar Rio yang sebenarnya mengguratkan kepedihan di baliknya.

Rio menaikan alisnya sebelah. Memicingkan mata setelahnya begitu melihat apa yang sedang Ify bereskan. Barang-barang itu…

Ah, sekarang ia tidak sedang punya minat untuk memikirkan apa yang sedang Ify lakukan dengan barang-barang pemberiannya. Ia sedang lelah. Ia sedang kacau dan ia hanya ingin—

“Ify…”

—berjongkok di hadapan Ify yang masih membereskan barang itu dan memeluk gadis itu seerat mungkin.

Ify membulatkan matanya tak percaya. Gerakan tangannya mengaku. Untuk beberapa saat otaknya yang sebenarnya encer, tapi agak lambat itu, memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sampai akhirnya sebuah sinyal mengirim perintah pada system motoriknya untuk membalas pelukan Rio. Tak peduli apa pun alasan laki-laki pengagum karya Masashi Kisimoto itu.

“Rio?”

Tak merespon. Rio hanya ingin mencari ketenangan dalam dekapan gadis beraroma passion itu. Ia ingin mengisap wanginya berharap dengan begitu ketenangan dan keceriaan yang selalu ada dalam diri gadis itu bisa dibagi dengannya yang sebenarnya begitu lusuh. Dalam dekapan itu, secara terang-terangan ia biarkan air matanya mengalir begitu mengingat bahwa gadis yang pernah membuatnya patah hati hebat itu adalah termasuk salah satu kenyataan pahit dalam hidupnya.

“Rio, ada apa?”

“Jangan berkomentar apa-apa. Gue cuma pengen meluk lo bentar aja.”

-----------------------

Cakka menghentikan langkahnya ketika ia mulai merasa persendian kaki dan juga tangannya yang tidak berhenti mendrible bola selama kakinya melangkah, dihinggapi rasa pegal. Dengan lemas, ia mendudukan dirinya di trotoar jalan yang sepi mengingat jalan yang dilewatinya itu bukan akses menuju jalan raya.

Dalam diamnya, ia memikirkan kejadian beberapa jam lalu yang menimpanya. Sedikit penyesalan bersarang dalam hatinya. Seandainya saja tadi ia bisa meredam emosi seperti Cakka biasanya. Seandainya ia tersenyum dan pura-pura ceria, seolah tidak tersakiti sedikit pun seperti Cakka biasanya. Seharusnya ia tidak perlu mengumbar kemarahan, hingga harus berakhir dengan penyesalan seperti ini. Memang benar ya, kemarahan selalu berujung dengan penyesalan pada akhirnya. Kalau saja ia bisa bersabar, mungkin ia tidak akan luntang-lantung tanpa tujuan seperti sekarang. Ia juga tidak akan selapar dan sekeroncongan seperti saat ini.

Tapi, jika tidak seperti ini…

Harus ya, ia terus menerus berada dalam cengkraman kuat peraturan hidup ayahnya? Dipaksa memilih jalan yang jelas bukan kebahagiaannya. Ia bahkan berani bertaruh degan seluruh kebahagiaannya , bahwa Elang, Kakak tunggalnya, tidak pernah merasa bahagia setelah impiannya sebagai komiker terpaksa dikubur dalam-dalam layaknya jasad-jasad tak bernyawa di kamar mayat. Mati. Tak ada harapan untuk hidup kembali. Apa harus ia melakukan hal yang sama seperti kakaknya yang bodoh itu? Yang rela menyingkirkan kebahagiaannya hanya untuk ambisi ayahnya.

Cakka mendengus. Ia rasa tidak. Mimpi adalah kebahagiaan yang patut diperjuangkan sampai ujung nyawa.

“Sial!” Cakka mendumel. Memegang perutnya yang terasa perih. Ia mengernyit, lapar.

“Ehm, ngapain lo di sini?”

Refleks Cakka membalikan badannya begitu yakin pusat suara itu berasal dari belakangnya. Ia mendecih. Mood-nya sedang tidak asyik dan ia sedang tidak ingin berdebat dengan orang yang tengah berdiri di belakangnya saat ini.

“Lo sendiri ngapain di sini?”

Agni—orang itu—agak mengernyit mendengar nada suara Cakka. Tidak nyolot seperti biasanya. Raut wajahnya yang selalu ceria, tampak padam. Senyumnya redup, kalah dengan gurat kekecewaan di sana.

Hei! Ini adalah pertama kalinya Cakka seperti ini. Ia tidak pernah sekacau saat ini. Agni yang baru menyadari hal itu hanya mengernyit bingung sembari mengarahkan telunjuknya ke arah rumah bercat putih pucat di belakangnya. “Ini rumah gue. Wajar gue ada di sini.

Cakka terdiam. Larut dalam pemikirannya sendiri. Bukan rumah bercat putih pucat yang menampakan kesan horror itu yang membuatnya tampak seperti ada yang mempause aktifitasnya itu. Tapi, sejauh itukah ia berjalan? Bahkan setahunya—menurut cerita Shilla dan Alvin yang pernah berkunjung ke rumah Agni—butuh dua kali naik angkutan umum untuk sampai ke rumah gadis yang sering ia katai angsa itu.

“Hellooo… jangan bilang lo mau ngerampok rumah gue, ya?! Gitu amat lo ngamatinnya.”

Cakka terhenyak. Bukan tuduhan sadis Agni yang mengganggu acara melamunnya. Melainkan getaran di handphonenya. Alvin Calling. Alvin lagi. Sebenarnya ia tidak bisa mengacuhkan Alvin. Ia sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Terlebih Alvin yang seharusnya lebih memikiran kondisinya sendiri.

“Ishh…” Melihat Cakka yang tidak biasanya diam saja, membuat Agni mulai kesal. Ia berniat meninggalkan laki-laki yang masih berseragam Albider itu, sebelum tiba-tiba bola basket yang sempat Cakka genggam menggelinding begitu saja tanpa arah. Cakka tampak membungkuk lebih dalam, mengerang tertahan sembari mencengkram perutnya dengan kuat.

Agni mengernyit sebelum akhirnya gadis berpakaian santai itu mulai menyadari kalau sahabatnya yang paling menyebalkan itu sedang tidak baik-baik saja. Cakka sedang sakit. Dengan sedikit rasa cemas yang baru saja mampir ke dalam hatinya, ia berjalan lebih dekat ke arah Cakka dan duduk di samping laki-laki yang masih mengaduh itu. Dengan gerakan ragu-ragu ia merangkul tubuh Cakka yang tampak bergetar. Melihat mata Cakka yang tertutup dengan sangat rapat, bibirnya yang mulai memutih, dan warna kulitnya yang tampak berwarna merah padam, membuat Agni sadar kalau Cakka adalah orang kedua setelah Alvin yang berhasil membuatnya cemas dan kalut seperti sekarang.

“Lo kenapa, Kka? Lo sakit ya? Sakit apa? Apa yang sakit? Lo butuh apa? Ya ampuunn, gue harus. Ah. Lo bertahan. Jangan sekarat dulu. Cari bantuan. Ke klinik. Ah, tidak. Rumah sakit. Ya, gue—“

“Maag gue, Ag. Aduuhhh…”

Kepanikan Agni sedikit menyurut begitu Cakka memberitahu apa penyebabnya seperti itu. Sumpah, Agni tidak biasa menangani orang sakit. Ia mudah panik saat dihadapkan dengan rintihan kesakitan seseorang. Sekecil apa pun rintihan sakit itu, Agni selalu panik. Tapi jika alasan kesakitan Cakka adalah maag, Agni bisa sedikit menanganinya. Ia dulu sering menangani si lebai Deva, Adiknya yang juga pemelihara penyakit maag.

Agni bangkit. Menarik lengan Cakka, memaksa Cakka berdiri. Cakka tidak memprotes saat Agni menyeretnya masuk ke dalam rumahnya. Ia tahu, meski gadis itu begitu menyebalkan dan juga membencinya, ia tidak akan mungkin tega meninggalkannya dalam kondisi buruk seperti ini. Ya, bagaimana pun juga mereka itu sahabat. Meski ada embel-embel ‘tak pernah akur’ di belakangnya.


-----------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225

Tinggalkan komentar, kritik, dan pujian juga boleh…
Sungguh ‘satu kata’ saja yang kalian tulis di kolom komen, meningkatkan semangat saya untuk menulis ‘banyak kata’…

Terimakasih

7 komentar:

  1. Huuuuuwaaaaa suer kak ini kkeeerrreeeennn bangetttt semua permasalahannya itu dapet bnget bikin greget, apalagi tentang alvin, dan dea juga sivia, juga tentang rio, ibunya dan jg ify tentang iel, lintar dn aren pokoknya lanjutin kak, semangat ngetiknya ya hehehe :)

    BalasHapus
  2. makasih.. iya, semangat nulisnya kalo yang bacanya juga semangat! semangaaaaattt...

    BalasHapus
  3. Kak nia, part sebelas ini aku nunggunya lamaaa bgt,tpi gak pa2 deh penantian ku selama ini terbayar begitu aku baca kelanjutan cerita kakak nyiksa alvin cs #plaksaikobgt.
    Keep writing kak, kita selalu nunggu 'banyak kata' dari kakak. Ngeposnya jgn lama2 ,oke kak;).

    BalasHapus
  4. hehehe.. iyaa.. yuuuukkk bareng-bareng nyiksa alvin cs. #ditimpukbata

    BalasHapus
  5. Kirain aku, di part ini bakalan ada adegan alvin yg disiksa hehehe. Kak kapan kak? Lagi2 bagian alvinnya dikit huhuhu. Kak, buat bagian mereka kumpul rame2 kayak yg waktu di kantin itu dong. Pasti seru haha. Kak nae jangan lama2 dong postnya, penasaran nih ehehehe

    BalasHapus
  6. aiisshhh.. udah pada gak sabar yaa, liat alvin disiksa? hhaha. lagian alvin miris bgt hidupnya. punya alvinoszta, hobinya liat dia menderita. hahaha
    sabar yaa.. mudah2an part selanjutnya dapet bagian nyiksa alvin. sebenarnya, aku juga greget sih.. hehe

    BalasHapus
  7. gue baru nemuin blog ini sekitar seminggu tapi gue udah baca dari post awal sampe post ini and i love it! jangan lama-lama ya postin part selanjutnya.
    oh iya, gue lagi belajar nulis nih. karena gue suka karya-karya lo, gue pingin tanya-tanya agiamana caranya bisa nulis kaya lo. jadi gue bisa ngehubungin lo lewat apa ya? soru kepanjangan. udah kaya bikin cerpen nih gue. Makasih sebelumnya :D

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea