Sabtu, 16 Mei 2015

Separation -Tiga belas-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 06.04


SEPARATION

-Tiga belas-

------------------- ---

Shilla berjalan perlahan. Mengitari rak-rak supermarket. Bola matanya tidak berhenti membaca semua produk yang tersusun rapi di baliknya. Jika ada yang menurutnya dibutuhkan, tangan berkuku cantik itu dengan cekatan mengambil produk itu dan memasukannya ke dalam trolley yang bahkan sudah menampung banyak produk. Mulai dari bahan makanan pokok, bumbu masak, snack, minuman, dan keperluan-keperluan lain seperti tissue, detergen, sabun mandi, obat-obatan, pasta dan sikat gigi, dan lain sebagainya.

“Udah?” Rio bertanya malas. Ia menatap Shilla yang berhenti di rak paling ujung. Tempat berbagai makanan pokok, seperti beras, gula, minyak goreng, dan bahan dapur lainnya yang sebenarnya sudah berulang kali dilewati mereka.

“Apa gue beli ini lebih banyak ya, Yo?” tanya Shilla menatap Rio meminta persetujuan.

“Terserah.”  Rio benar-benar dibuat bingung dengan sikap Shilla hari ini. Tepat ketika bel pulang sekolah berbunyi, gadis cantik itu dengan terburu-buru menariknya keluar kelas dan meminta antar ke supermarket. Ia bahkan tidak sempat menyapa Alvin yang hanya menatap mereka bingung saat itu.

Dan di sinilah ia sekarang. Mengelilingi supermarket super luas. Membuntuti Shilla ke mana-mana  untuk membeli banyak barang yang ia sendiri tidak tahu untuk apa. Setahunya Shilla tidak pernah repot-repot belanja seperti ini. Ia punya banyak pembantu. Dan orangtuanya tidak akan membiarkan Shilla kerepotan seperti ini. Tapi, ia terlalu malas untuk bertanya. Jadi ia memutuskan untuk diam saja sampai Shilla mau memberitahunya.

Merasa tidak mendapat jawaban memuaskan dari Rio, Shilla memasukan lima beras kemasan ke dalam trolley yang sudah menumpuk. Rio benar-benar tidak bisa dimintai pendapat. Salah ia sendiri mengajak laki-laki dingin itu. Harusnya tadi ia mengajak Alvin saja. Ah, ia lupa kalau Alvin sekelas dengannya sekarang. Pikirannya benar-benar hanya terpusat pada satu hal. Kejadian malam itu…

-Flashback-

“Maafin gue.”

Shilla membuka matanya perlahan ketika tubuh itu beranjak dari sisinya. Dengan jelas, ia melihat punggung tegak itu berjalan menjauhinya. Pandangannya terus tertuju pada laki-laki bernama panggilan Iel itu. Bahkan hingga bus berlawanan arah itu menelan tubuh Iel dan membawanya kembali, Shilla enggan mengalihkan tatapannya.

Shilla tersenyum penuh arti.

Ia memang buka tipe gadis yang konsisten dan memegang kata-katanya sendiri. Ia sering berubah pikiran hanya dalam beberapa saat saja. Itulah alasan kenapa ia rela keluar malam. Berjalan sendiri  menyusuri jalan-jalan sepi, menyusuri gang-gang kecil yang sempat ia pijaki juga sebelumnya. Seolah ia lupa apa yang pernah terjadi sebelumnya. Seolah ia lupa apa yang pernah ia tekadkan sebelumnya. Ia kembali mencari di mana tempat tinggal Iel sebenarnya.

“Kalau malam ini gue gak bisa ketemu Iel lagi kayak waktu itu, gue bener-bener janji sama Tuhan buat berhenti. Benar-benar berhenti dan gak akan peduliin dia lagi. Ini janji gue sama Tuhan. Sungguh!”

Tekad Shilla waktu itu, membuat ia dipaksa untuk berjuang lebih keras. Karena sungguh ia tidak pernah bisa jauh dari Iel. Ia tidak bisa melupakan Iel. Ia mencintai Iel. Sungguh mencintainya!

Dan perjuangannya terbayar juga. Informasi dari beberapa warga tentang kepindahan Iel juga alamat rumah barunya membuat Shilla bernafas lega. Meski ketika akhirnya ia menemukan tempat tinggal Iel yang baru, ia dipukuli dengan banyak kenyataan pahit. Sungguh banyak hingga rasanya ia seperti orang paling tidak berguna di dunia ini.

Kedua orang yang salah satunya ia kenali itu berdiri di depan pintu. Menyambutnya. Bahkan sempat mengajaknya masuk. Lintar dan Aren. Kedua adik Iel yang bahkan selama hubungan mereka berjalan, ia sama sekali tidak mengetahuinya. Ia tidak tahu kalau Iel memiliki dua adik yang bahkan ia kenali salah satunya. Ketidaktahuannya membuat ia akhirnya bertanya, siapa sebenarnya ia di mata Iel? Dia siapanya Iel sampai ia tidak tahu kalau Lintar adalah adik kekasihnya itu?

Shilla membatin sedih.

Tapi tidak cukup sampai di situ. Kenyataan pahit lain ia dapatkan ketika Lintar mulai menceritakan semuanya. Tentang bagaimana perusahaan ayah mereka bangkrut. Tentang bagaimana pabrik dan rumah mereka disita, dan mereka dipaksa pindah ke rumah yang lebih kecil. Dan tentang bagaimana akhirnya Ayah dan ibu meninggalkan mereka. Memaksa Iel harus bekerja keras. Iel bahkan harus kerja paruh waktu di tiga tempat sekaligus.

Shilla benar-benar terpuruk. Apa yang baru saja ia dengar, membuat ia merasa tidak berguna. Tiga tahun hubungan mereka berlangsung, dan iel sama sekali tidak menaruh kepercayaan padanya. Iel bahkan tidak menceritakan semua beban hidupnya.

“Kak Iel gak ada di rumah, Kak Shilla.”

Dan itu tentu adalah pernyataan paling pahit yang harus ia terima. Ia tidak bertemu iel dan ia harus menepati janjinya pada Tuhan. Di saat ia mengetahui semua beban yang terpikul itu, ia justru harus menjauhi orang itu dan bersikap tidak peduli. Ia sungguh tidak bisa melakukan itu. Tapi, ia juga tidak bisa melanggar janjinya. Jika janji pada Alvin atau dirinya sendiri, ia bisa mentoleransi, tapi jika pada Tuhan? Shilla benar-benar sedih saat itu.

Tapi tidak ketika Iel menghilang di balik pintu bus itu.

“Gue yang harusnya minta maaf, Yel.” Shilla mulai mengalihkan tatapan matanya ke depan. Dekapan Iel masih terasa menempel di tubuhnya. Semula ia merasa bahwa apa yang terjadi hanya mimpi. Namun ketika Iel membelai rambutnya dengan lembut, ia mulai terusik, bangun dari tidurnya dan menyadari kalau orang yang duduk di sampingnya itu adalah Iel. Benar-benar Iel dan ia tidak sedang bermimpi. Laki-laki tangguh yang baru saja menaiki bus yang tidak searah dengan tempat tinggalnya hanya untuk satu bus dengannya dan—mungkin— untuk  menjaganya.

Tiba-tiba saja senyum Shilla terukir. Selain karena apa yang Iel lakukan padanya barusan, ia juga sadar kalau ia baru saja bertemu dengan Iel, yang artinya ia tidak perlu menjauhi Iel. Dalam hatinya, ia bertekad untuk memperbaiki semuanya. Ia akan mulai membantu Iel menanggung bebannya. Ia akan berusaha agar Iel percaya padanya.

-Flashback End-

Dan aksi belanja ini adalah salah satunya. Semua yang ia beli saat ini untuk keperluan Iel dan adik-adiknya. Shilla berpikir hanya ini yang bisa ia bantu.

“Sehabis dari sini, gue mau ke suatu tempat dulu. Lo mau ikut?” tanya Rio. Shilla terhenyak dan kembali mendorong trolley-nya.

“Ngga deh, Yo. Gue juga  mau ke suatu tempat. Tadinya mau ngajak lo, sih. Tapi kalo emang lo mau ke tempat lain, gue bisa pergi sendiri.”

Kedua remaja yang masih menggunakan seragam itu berjalan beriringan menuju kasir. Wanita ber-make up tebal, si penjaga kasir itu, tersenyum ramah dan mengamati mereka dengan begitu rinci. Melihat belanjaan yang banyak dan jenisnya yang jarang dibeli oleh anak-anak remaja seumuran mereka membuat penjaga kasir itu mengernyit bingung. Mereka tampak seperti pasangan suami istri saja.

“Gue bisa anterin lo dulu, Shil.”

“Gak usah. Tempatnya gak jauh dari sini, kok.”

“Tadi lo minta anter gue. Jadi gue ha—”

“Gak usah maksa, Yo. Berapa, Mbak?”

“Tiga ratus dua puluh enam ribu lima ratus rupiah.”

“Belanjaan lo banyak, Shil. Pokoknya gue—”

“Makasih, Mbak. Lo kenapa mendadak cerewet gini, Yo?”

Akhirnya Rio bungkam. Dibilang cerewet membuat imagenya benar-benar turun. Akhirnya ia menghela nafas dan berjalan mengikuti Shilla yang tampak kerepotan dengan tiga kantung belanjaan di kedua tangannya. Ingin saja ia membantu, tapi mengingat kata-kata Shilla tadi membuatnya jadi enggan. Terserah Shilla sajalah…

Penjaga kasir hanya tersenyum melihat kedua remaja berseragam yang mulai keluar dari pintu kaca itu.

-----------------------

Lapangan Basket outdoor sekolah itu sepi. Sekolah juga benar-benar sunyi mengingat sudah sejak satu jam yang lalu bel pulang berbunyi. Tidak ada  ektrakulikuler yang dijadwalkan di hari selasa ini. Dan satu-satunya penghuni lapangan basket kosong itu saat ini hanya seorang gadis berambut panjang terikat. Gadis itu tampak termangu. Bosan. Ia sandarkan tubuhnya di kursi penonton. Memainkan bola yang bukan miliknya itu dengan asal.

Pikirannya melayang pada kejadian tadi malam. Ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Yang pasti, setelah kejadian itu, saat dengan jelas ia melihat raut wajah pucat dan lelah itu, saat ia menggenggam lengan dingin berpeluh itu, dan saat satu centi meter lagi saja tangannya hendak membelai lembut wajah tenang itu, ia merasa ada sesuatu yang bertabuh ramai dalam hatinya. Entah apa itu, yang pasti itu membuatnya tak nyaman.

Apa itu cinta? Ia menggeleng kuat. Sebisa mungkin hatinya memunafikan semuanya.

“Kemarin Cakka gak dimarahi sama bokapnya kok, Ag. Tapi dia marah sama gue gara-gara gue kerjai.”

Agni terkesiap. Ia menengok sebentar ke arah orang—yang dari suaranya—sudah ia kenal itu. “Mana bisa Cakka marah sama lo.” Tangannya berhenti memainkan bola basket milik orang yang sedang mereka bicarakan itu dan meletakannya di atas pahanya. Lantas dijadikannya bola itu tumpuan dagunya.

“Harusnya dia sekolah sekarang. Tapi kayaknya dia gak masuk ya?” tanya Alvin. Ia mengamati Agni yang tampak begitu kusut. Mood buruk sungguh kentara di wajahnya.

“Tadi pagi Mas Elang ke rumah nganterin mobil gue. Tapi dia gak bilang apa-apa soal Cakka. Sebenarnya kemarin Cakka sakit loh, Vin.”

“Gue tau. Pas dia pegang tangan gue juga gue tau suhu tubuhnya panas.”

“Dia selalu gitu ya, Vin. Bersikap seolah hidupnya itu bebas tanpa masalah apa pun. Dia selalu bersikap seolah semuanya itu baik-baik saja. Padahal kenyataannya itu tuh gak kayak gitu.”

“Lo khawatirin Cakka, ya?”

Agni mengubah posisinya. Menjauhkan dagunya dari si bundar orange dan langsung menatap Alvin. Laki-laki yang saat ini mengenakan sweater putih bergambar Tazmania itu tengah menatapnya dengan tatapan menggoda. “Ngga, tau…” kilahnya kemudian.

Masih dengan senyum menggodanya, Alvin menghidar dari tatapan mata Agni yang masih berusaha menyembunyikan rasa itu serapat mungkin. Tapi, tetap saja. Alvin termasuk salah satu orang yang percaya bahwa mata itu tidak pernah bisa berbohong. Alvin tahu betul rasa yang tersimpan rapi di baliknya.

“Haahh… cinta dan benci bedanya emang setipis lapisan kulit epidermis, kan?”

“Vin….” Agni merengek. Ia tidak suka dipojokan sepeti ini.

“Oke… oke… Shilla udah pulang duluan. Lo pulang bareng gue aja, yuk?” ajak Alvin sembari berdiri. Ia tidak tega juga menggoda Agni lebih lama lagi. Toh, tidak digoda juga sudah jelas kalau gadis penyuka game itu mulai menyukai Cakka.

Agni mengangguk singkat dan ikut berdiri. Dan baru saja tubuh kedua remaja itu berbalik, mereka sudah menemukan sosok gadis berpakaian yang jauh dari peraturan sekolah berdiri di hadapan mereka. Tangannya tersilang di dada. Bola matanya menatap remeh pada kedua orang di hadapannya. Agni menatap gadis yang baru dikenalnya itu dengan bingung.

“Shilla, Ify, dan…” Sivia—gadis itu—mengacungkan kedua jarinya. Sebelum mengacungkan jari manisnya, ia menatap Agni dengan intens.

“Agni.” Seolah mengerti apa yang ada di pikiran Sivia, Alvin dengan rajinnya memberitahu nama Agni pada Sivia. Agni hanya mengernyit tidak mengerti dengan gadis di hadapannya itu.

Sivia mengangguk-nganggukan kepalanya paham. “Ya, Agni. Dan gue gak tau siapa lagi cewek lo yang belum gue temui setelah ketiga cewek yang menurut gue… agak bego. Mauuu aja, jadi pacar cowok playboy kayak lo.”

Alvin hanya tersenyum mendengar kata-kata Sivia. Tapi lain dengan Agni. Gadis tomboi  itu langsung berjalan mendekat ke arah Sivia. Alvin yang melihat reaksi Agni langsung menarik Agni untuk kembali.

“Udah yuk, ah. Kita jalan-jalan hari ini.” Tanpa permisi, Alvin langsung saja berjalan melewati Sivia yang langsung mendengus tak suka.

Agni menatap Sivia sekilas dengan tajam. “Kalo gak bisa berkata baik, lebih baik lo diam!” kecam Agni ketika ia yang masih dalam genggaman Alvin, berjalan melewati gadis itu. Kalau tidak ada Alvin, gadis itu pasti sudah habis oleh Agni.

“Vin… ceritain dong, acting lo di rumah Cakka gimana.”

“Kenapa? Mau tau lebih banyak tentang Cakka ya?”

“Ih… Alvin!”
-----------------------

-Flashback-

BRAKK!

Wanita dengan gurat-gurat kecemasan di balik wajah lelahnya itu terlonjak kaget. Baru saja ia mendengar suara gebrakan yang begitu keras. Dengan segera ia berdiri dari duduknya, berjalan menuju pintu utama rumah mewah itu. Tempat yang ia yakini  menjadi sumber suara barusan. Bola matanya berbinar ketika dengan jelas melihat sosok yang begitu ia cemaskan berdiri di hadapannya.

“Cakka…” panggilnya. Ia hendak memeluk putranya itu ketika tiba-tiba Cakka berteriak panik sembari mengguncang bahunya. Kelegaan yang sempat mampir ke dalam hatinya seketika saja sirna. Ia menatap Cakka dengan penuh kebingungan.

“Ayah mana, Bu? Ayah mana?!”

“Hm… Ayah, Ayah ke rumah sakit, Kka. Ada panggilan darurat. Sebenarnya ada apa, Kka?” Kecemasan Cakka menular dengan cepat padanya.

“Kalau gitu… Mas Elang! Mas Elang mana, Bu?” Cakka mengguncang bahu sang Ibu lebih keras lagi. Menuntut untuk segera menjawab pertanyaannya.

Wanita itu tidak langsung menjawab pertanyaan Cakka saat dilihatnya Alvin berdiri di ambang pintu. Ia menatap Alvin yang langsung tersenyum hangat padanya. Senyuman penuh magic yang membuat perasaan siapa pun tenang dan damai. “Ini sebenarnya ada apa, Vin?” tanyanya berharap kebingungannya segera berakhir.

“Ngga ada apa-apa, Tante. Alvin rasa Cakka mau minta maaf sama Dokter dan Mas Elang karena udah buat keributan di rumah.”

Berhenti. Cakka merasa waktu berhenti. Tiba-tiba saja semua gerakannya terkunci oleh kata-kata Alvin. Oleh suara tenang Alvin yang sama sekali tidak mengisyaratkan kesakitan seperti beberapa jam yang lalu ketika di rumah Agni dan perjalanan.  Perlahan ia melepaskan cengkraman tangannya dari bahu ibunya dan berbalik guna menatap Alvin..

Lo ngerjain gue, Vin?!  Meski tidak dilafalkan secara lisan, Alvin bisa melihat sorot menuntut penjelasan di balik bola mata cokelat itu.

“Sori, Kka. Tapi itu satu-satunya cara biar lo mau pulang malem ini juga. Ibu lo khawatir banget sama lo.” Alvin mencoba menjelaskan. Ia hendak berjalan lebih mendekat ke arah Cakka, sebelum tubuh sahabatnya itu berjalan lebih dulu ke arahnya. Dan butuh beberapa detik untuk Alvin mulai menyadari ketika laki-laki tertutup itu mendorong tubuhnya keluar dari rumah mewah itu. Tidak kasar, memang. Tapi tetap saja itu membuktikan kalau sahabatnya itu sedang marah padanya.

“Kalo emang lo gak sakit, lo pulang aja. Lagian Dokter lo juga gak ada di sini.”

Dan saat itu juga, pintu berkayu jati itu tertutup rapat. Bahkan sebelum Alvin mengeluarkan sepatah kata pun.  Alvin bisa mendengar dengan jelas suara kunci berputar. Cakka benar-benar marah padanya.

Untuk beberapa menit kedua sahabat baik itu sama-sama terdiam di balik pintu.  Sama-sama memikirkan apa yang baru saja terjadi. Dalam hidupnya, Cakka tidak pernah merasa sekecewa sekarang ini.  Jika Agni atau yang lain yang melakukan ini, mungkin ia bisa terima. Tapi ini Alvin. Orang yang bahkan tidak pernah terlintas dalam benaknya bisa berpura-pura dan menipu orang lain, terlebih sahabatnya sendiri.

Bukan apa-apa, hanya saja Alvin tidak tahu seperti apa rasa cemasnya tadi. Ia sendiri bahkan tidak tahu seperti apa itu, yang pasti sepanjang jalan ia tidak berhenti berdo’a pada Tuhan untuk keselamatan sahabatnya itu. Alvin tidak tahu,  ketika erangan dan nafas Alvin yang tersenggal-senggal bertepi di telinganya, ia seakan merasa jantungnya juga akan berhenti saat itu juga. Tapi rupanya kecemasannya hanya untuk sebuah tipuan.

“Kka, sori…”

Dan setelah kata-kata itu terucap pelan, Alvin berbalik meninggalkan rumah mewah itu. Percuma jika ia bertahan di sana untuk mendapatkan maaf dari Cakka. Karena baru saja, tepat ketika Alvin melangkahkan kakinya, sahabat baiknya itu juga melakukan hal yang sama. Ia berjalan menuju kamarnya tanpa mengucapkan sedikit kata pun pada ibunya. Perasaannya sedang kacau dan ia bukan tipe orang yang bisa dengan mudah meluapkan kemarahannya. Sudah cukup aksi marah-marahnya waktu sore saja yang membuat masalah akhirnya harus bercabang hingga menyeret Alvin. Ia berjanji tidak akan mengumbar kemarahan lagi.

“Argh…”

Langkah Alvin tertahan di depan gerbang tinggi rumah Cakka. Refleks ia membungkukan tubuhnya. Meremas dada kirinya, berharap dengan begitu sakit yang  menyerangnya tanpa aba-aba itu mereda. Ia mengigit bibir bawahnya sekuat yang ia bisa, menghalau erangan lolos dari mulutnya. Dadanya benar-benar sakit. Ia merasa ada yang menekan jantungnya dari dalam, meremasnya, dan menusuk-nusuknya dengan sadis.

Sebisa mungkin ia menjaga kesadarannya yang mulai datang dan pergi seenaknya. Ia berusaha memfokuskan matanya yang hampir diambil alih kegelapan. Ia terduduk, menyandarkan tubuhnya di balik gerbang besi yang dingin. Nafasnya terputus-putus.  Masih dengan tangan yang tak henti mencengkram dadanya sendiri, seolah memaksa tangan kasat mata yang tengah bermain-main dengan jantungnya untuk segera terlepas.

Dan saat itu, handphonenya berbunyi. Bersusah payah laki-laki bertubuh ringkih itu mengangkat panggilan itu. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berusaha berbicara.

“Alvin…”

“To..hh.. long! Tolong… sa.. hh.. ya…”

“Alvin, kamu di mana? Katakan!”

“Ca..hh.. Kka. Tolong…!”

Gelap! Dan semuanya gelap.
------------------------

-Flashback End-

“Itu kemajuan yang bagus.” Ify merespon dengan antusias—tepatnya pura-pura antusias—begitu Cakka, sahabatnya yang ia temui sedang termenung di pinggir jalan itu menyelesaikan ceritanya. Sahabat baiknya itu tampak kusut. Ia tidak mengerti kenapa Cakka bolos sekolah padahal sudah jelas seragam Albider melekat di tubuhnya. Laki-laki yang sering dipanggil cicak oleh Agni itu malah duduk termenung sendiri seperti orang linglung di tepi jalan ketika ia melihatnya.

Merasa penasaran, akhirnya Ify memutuskan untuk menanyakan alasan kealpaan sahabatnya itu. Dan berakhirlah dengan cerita panjang Cakka tentang apa yang terjadi semalam antara ia dan juga Alvin. Ify menyimak dengan baik ketika Cakka bercerita. Jarang-jarang Cakka bercerita sepanjang itu pada orang lain.

“Lo itu, Fy! Mana bisa hal kayak gitu dibilang kemajuan. Stres, lo?” Cakka mendengus sebal.

“Lah, lo kan yang pengen banget Alvin itu bisa bertindak. Lo, kan yang sering misuh-misuh sendiri kalo Alvin diem aja pas Dea ngerjain dia? Lo juga kan, yang selalu nyuruh Alvin cari ide buat ngerjain orang? Berarti, aksi Alvin semalem itu kemajuan yang baik. Lo harusnya bersyukur tau!”

Cakka merenggut kesal mendengar kata-kata Ify. “Tapi bukan berarti ngerjain gue juga. Gue kecewa tau sama Alvin.””Cakka mengembungkan pipinya. Membuat Ify gemas dengan tingkahnya. Sahabatnya itu bisa juga berekspresi lucu seperti itu.

“Jadi, alasan lo gak masuk sekolah itu gara-gara Alvin? Gara-gara lo marah sama Alvin dan gak mau ketemu sama dia?” tebak Ify. Ia menatap Cakka dengan sengit. Ia hendak menjitak kepala Cakka sebelum tangan Cakka dengan sigap menahannya.

“Gue sakit, Fy. Itu alasan gue. Bukan karena gue marah sama Alvin. Lagian mana bisa gue marah sama dia.”

Mata Ify berkedip perlahan. Sensasi panas yang merambat di pergelangan tangannya membuat ia yakin kalau Cakka tidak sedang berbohong. Ia melepas genggaman tangan Cakka dan segera menyentuh kening sahabatnya itu. Panas. Benar-benar panas.

“Gue emang udah niat mau sekolah, sebelum Bokap sama Nyokap gue malah nyeret gue ke rumah sakit pas liat gue mimisan. Gue pasrah dan memutuskan buat dateng ke sekolah pas udah pulang dari rumah sakit. Tapi, gue gak tau kalo Bokap gue malah nyuruh gue lakuin banyak pemeriksaan. Dan lo tau hasil pemeriksaan itu apa?”

“Apa?”

“Gue cuma demam biasa, dan mimisan gue tadi pagi tuh cuma karena ada pembuluh darah yang pecah akibat hantaman bola basket Iel kemarin. Itu tuh yang bikin gue ogah jadi dokter. Hiperbolis dan sok dramatis.”

Ify menarik nafas sedalam mungkin. Memar di hidung Cakka memang masih terlihat. “Apa pun jenis sakit lo, lo tetep harus banyak istirahat.” Ia menepuk pundak Cakka. “Lagian, yang hiperbolis dan dramatis itu biasanya sastrawan, bukannya dokter,” lanjutnya berdiri dan membantu Cakka untuk berdiri juga. Wajah pucat Cakka dan juga suhu tubuhnya yang panas membuat Ify berpikir kalau mereka harus segera pulang.

“Lo tau, Fy? Bokap gue gak jadi marah pas tau gue mimisan.”

“Lo aneh hari ini.”

------------------------

“Kita bicara.”

Shilla diam. Mengunci mulutnya serapat mungkin. Menahan air mata sekuat yang dibisanya. Sementara Iel masih berdiri tegang di belakangnya. Dan Rio yang saat ini duduk di samping Shilla, hanya menatap tak mengerti keduanya.

Rio benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Setahunya, sepulang dari super market, ia dan Shilla mengambil arah pulang berlawanan. Semula ia memang berencana untuk datang ke lapangan basket tua tempat mereka kumpul dulu. Dan setelah beberapa jam ia menghabiskan waktu untuk duduk-duduk di tempat penuh kenangan itu, ia melihat Shilla berlari ke arahnya dan langsung duduk di sampingnya. Ia tidak menangis, tapi dari raut wajahnya Rio tahu kalau ada yang tidak beres. Dan semuanya semakin jelas saat ia melihat Iel juga berlari mendekati mereka.

“Lo butuh penjelasan dari gue, Shil.”

“Gak. Gue gak mau denger apa pun dari lo. Pergi, Yel!” Shilla tertunduk. Air matanya tak terbendung lagi. Ia menangis. Dengan sigap Rio mengelus punggung Shilla dengan lembut. Bermaksud mentransfer ketenangan tanpa perlu banyak kalimat yang terucap.

Melihat aksi Rio, Iel segera beralih posisi dan berdiri di hadapan Shilla. Ia harus mengambil alih Shilla dari dekapan Rio. Ia tahu hubungan apa antara Rio dan kekasihnya itu. Sahabat. Ya, hanya sahabat. Tapi bukan berarti adegan itu harus berlangsung di hadapannya. Ingat Iel yang begitu cemburuan.

“Shil, dengerin gue!”

“Pergi, Yel!” Shilla menepis kasar tangan Iel yang hendak menyentuhnya. Rasa nyeri yang baru saja tercoret dalam hatinya membuat gadis berhati lembut itu mejadi keras.

“Shil!!!” Sikap Shilla mau tidak mau membuat Iel marah juga akhirnya. Dengan agak kasar ia menarik tangan Shilla dan menjauh  dari dekapan Iel.

“Pergi, Yel! Gue benci sama lo!” Shilla memberontak sekuat tenaga saat Iel menarik tubuhnya untuk berdiri dan mendekat padanya. Iel tetap mencengkram kuat tangan Shilla. Shilla menangis semakin keras. Sarat dengan kemarahan dan kesakitan.

Melihat Iel yang mulai bersikap kasar, membuat Rio yang sejak tadi diam, akhirnya marah juga. Dalam satu detik saja ia berdiri dan menarik Shilla. Menjauhkan gadis itu dari tubuh Iel.

“Maksud lo apa, hah?” seru Iel tak terima. Ia menatap Rio sesengit mungkin.

“Gue gak suka ya, lo main kasar gitu sama Shilla! Lo gak denger apa kalo Shilla minta lo pergi?! Lo gak usah gangguin dia lagi!”

“Eh, Yo! Gue cowoknya Shilla, dan harusnya lo yang gak usah ganggu urusan gue sama Shilla.”

“Shilla sahabat gue dan gue gak suka lo sakitin dia kayak gini!!!”

“Sahabat?”

Dan detik itu juga, terjadi perkelahian. Berawal dari Iel yang memukul telak wajah Rio. Rio tidak terima dan memberi pukulan balasan. Shilla menjerit panik. Berusaha menghentikan tapi tak bisa. Air matanya semakin deras saja. Di tengah keputusasaan yang bergelayutan dalam hatinya, ekor matanya melihat kedua sahabatnya yang lain berjalan tergesa ke arah mereka.

Alvin dan Agni. Kedua sahabat baik Shilla yang memang sudah berencana untuk datang ke tempat itu, sesegera mungkin mendekat ke arah mereka. Wajah bingung mereka bercampur dengan kepanikan. Ada apa dengan sahabat-sahabatnya? Alvin membatin.

Melihat aksi sahabat-sahabatnya, Alvin memilih memendam dulu pertanyaannya. Menghentikan mereka adalah prioritas utama. Laki-laki pucat itu sesegera mungkin berdiri di antara Rio dan Iel saat Agni berhasil menarik tubuh Rio menjauh dari Iel.

“Udah, Yel!” Alvin menggenggam tangan Iel. Mengantisipasi laki-laki yang tidak mudah didiamkan saat marah itu menyerang Rio lagi. “Kalo ada masalah, kalian bisa bicarain ini baik-baik.”

“Gak bisa. Kalo cowok udah mulai kasar sama cewek, tidak ada alasan buat kita tidak melakukan kekerasan juga!” Rio berseru di sela-sela ringisannya. Agni semampunya menenangkan Rio. Ia tidak mengerti kenapa Rio yang dikenal begitu kalem bisa sebuas ini. “Kalo lo nyakitin Shilla lagi… gue gak segan-segan ngajak ribut sama lo!”

“Gak bisa ya, kita nyelesainnya pake cara yang lebih baik?” tanya Alvin barengan saat Iel menepis tangannya dan bergerak maju hendak memukul Rio lagi. Alvin meringis. Tubuhnya terdorong ke samping. Menubruk Shilla yang tampak bergeming dalam tangisnya.

“Jangan…” Tubuh Agni berbalik. Ia memeluk Rio. Terkesan selain menahan Rio untuk menyerang lagi, juga berusaha melindungi tubuh itu dengan tubuhnya.

Alvin menarik nafas dalam sebelum melirik posisi sahabat-sahabatnya itu. Iel tidak akan berhenti. Emosi Iel tidak mudah disurutkan kecuali jika—

“WOY!! INI ADA APA?!”

Alvin berharap bisa bernafas lega saat Cakka berlari ke arah mereka. Tapi, sesak dan nyeri di dadanya membuat nafas lega itu menguap entah ke mana. Meski pun begitu, ia bersyukur dengan kedatangan Cakka juga Ify yang memang sangat dibutuhkan. Selama ini, selama mereka bersahabat, hanya Cakka yang bisa menghentikan Iel dari amukannya. Entah apa alasannya, tapi memang seperti itu. Cakka memang selalu punya cara untuk menghadapi Iel dan juga dirinya.

“Berhenti, oke! Kalo kalian berhenti gue janji traktir kalian sepuasnya. Kalo gak berhenti, gue cium Shilla sekarang juga.”

Langsung saja Iel menghentikan aksinya. Ia menatap Cakka dengan tajam dan Cakka hanya nyengir lebar. Alvin tersenyum melihat perkelahian itu akhirnya terhenti. Namun perlahan senyuman itu memudar seiring timbulnya sesuatu yang tak nyaman di dadanya. Ia memandang keadaan di sekitarnya yang tampak memburam. Ia mengernyit kala rasa itu semakin terasa menekan dadanya. Ia mengernyit, sedikit meringis. Dicengkramnnya dadanya semampunya. Dipejamkannya matanya serapat mungkin. Menghalau nyeri itu untuk tidak menyerangnya lebih hebat lagi.

Nafasnya mulai memburu. Sakit di dadanya yang terasa seperti tusukan ribuan paku itu membuat seluruh persendian tubuhnya melemah. Ia berlutut. Membungkuk sedalam mungkin. Tangannya kian kuat mencengkram dadanya.

“ALVIN!!!”

Semua kompak berteriak panik. Shilla yang paling dulu menyerukan nama itu dan menahan tubuh Alvin. Sepintas Alvin menatap teman-temannya yang dengan cemas berjalan tergesa menghampirinya. Mengerumuninya. Dan terakhir, yang ia ingat, Cakka menggendongnya dengan begitu panik. Setelah itu rasa nyeri itu mengambil alih kesadarannya.
------------------------
To be Continue…

Follow me
@nhyea1225
Pin : 5467BAFB

Part ini udah panjang, kan? Jadi beri komentar yang panjang juga. Saya mengharapkan komentar membangun dan membuat saya bisa memperbaiki semua kesalahan saya.
Buat saya semangat melanjutkan cerita ini. Oke! >_<

Terimakasih

------------------------

5 komentar:

  1. Omaygat kak Nae! Ini part yg paling cetar! Walau kadang ada beberapa dialog yg gak cocok kata2nya tapi ini keren banget. Semuanya ada. Dan bagian akhirnya itu yg keren banget!! Sukses buat pembaca penasaran.

    Kak, aku suka banget deh sama alvia disini *gakadayangnanya* alvin kayak suka ngeledek via gitu hahaha. Sivianya juga galak2 gitu wkwk.

    Kak, makasih yaa udah upload hehehe. Tadi hape aku lagi dicharge langsung aku cabut pas liat ada postingan baru dari kak nae. Kak, kalo part selanjutnya udah dibuat, post dong hahaha. Ketagihan nih wkwk. Jangan ngaret yaa kak *eaa

    Komen aku gak kurang panjang kan? Hahaha

    BalasHapus
  2. makasih udah kasih komentar yg panjang. tp, boleh gak memperjelas bagian dialog yg gak cocok itu maksudnya gimana dan yg mana? biar aku bisa memperbaikinya.

    terimakasih, brenda.. ^.^

    BalasHapus
  3. Next kak Nae, kayaknya gak perlu komentar panjang-panjang. Udah perfect sih :D
    Jangan lama-lama ya kak Nae, udah penasaran sama lanjutannya..

    BalasHapus
  4. Hemm,,heem..:x
    Aku penasaran sama part selanjutnya:|*kepo*

    Rey gak tau mau komentar apa,kak:|. Hahaha:D, aku ketawa baca adegan terakhir Alvin dan adegan Cakka ngelerai Iel sama Rio, part ini absolutly!! Part lain juga great kok, rey aja kehabisan kata buat komentar.
    Part selanjutnya harus lebih 'wow' dan panjang ya, kak.
    Jangan lama2.

    BalasHapus
  5. yeayyy alvinnya udah mulai disiksa hahah #devillaught. aku suka yg kayak gini, partnya panjang dan kalau bisa panjangin lagi ya kakk #readergataudiri :D. tapi kak gimana nasib si alvin waktu di gerbang rumah cakka kok ga dijelasin apa akunya ya yg g mudeng :?
    cieee mulai ada benih cinta antara cakka-agni, dan apakah nanti akan terjadi kesalahpahaman antara shilla-iel-rio-ify ?? kutunggu jawabannya di part2 selanjutnya. dan kak aku penasaran kenapa shilla bisa marah sama iel. next asapp #BOW

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea