Jumat, 05 Juni 2015

Separation -Empat belas-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 00.52


SEPARATION

-Empat belas-

------------------- 

“Lo gini gara-gara gue kan, Vin?”

Bahu gadis berambut ikal itu bergetar. Kejadian beberapa jam lalu benar-benar seperti tsunami dalam dadanya. Mengguncang perasaannya, membuat air matanya bahkan membludak dan  tak mampu dihentikan. Kecemasan masih tersisa dalam sorot matanya meski orang yang paling ia khawatirkan sudah tertidur tenang di sampingnya. Tangannya terkepal menahan sesak dan isakan. Sebuah sweater berwarna putih yang sedang digenggamnya menjadi objek remasan tangannya.

“Ini semua gara-gara gue kan, Vin? Rio dan Iel berantem gara-gara gue, kan?”

Shilla kembali meracau. Perasaan bersalah terus menekannya. Bayangan wajah pucat Alvin kemarin sore terbayang tiada henti dalam benaknya. Membuat ia melewati harinya dengan sangat tidak baik. Ini memang bukan pertama kalinya ia melihat Alvin seperti itu. Bahkan ia pernah melihat yang lebih parah dari itu. Tapi, ini untuk pertama kalinya—tentu hanya dalam pemikirannya—ia menjadi penyebab kambuhnya penyakit Alvin.

Masih dalam posisi yang sama, Shilla memikirkan banyak hal. Dan banyak hal itu salah satunya adalah penyebab awal terjadinya perkelahian itu. Air matanya semakin deras saja saat ia mengingat hal itu. Tentang bagaimana ia menunggu Iel dua jam penuh di rumahnya. Tentang bagaimana akhirnya ia memutuskan untuk pulang saja dan memberikan semua hal yang dibelinya pada Lintar. Dan tentang bagaimana bola matanya menangkap sosok Iel sedang memeluk gadis lain dengan begitu lembut dan tulus saat ia berada dalam perjalanan pulang. Mirisnya ia bahkan mengenal jelas gadis itu.

“Maafin gue, Vin.”

Shilla mengangkat kepalanya. Berusaha untuk tidak mengingat lagi adegan Iel dan gadis itu. Wajah yang sudah penuh dengan air mata itu tersembul. Matanya menatap Alvin cukup lama sebelum akhirnya menatap nanar sweater yang tengah digenggamnya. Entah bagaimana caranya sweater bergambar Tazmania itu kini berada digenggamannya.

“Gue bawa oleh-oleh buat lo semua!” Shilla berteriak ceria waktu itu.

“Asyik… oleh-oleh dari California, nih,” seru Ify tak sabar.

“Burbank, Fy!” Cakka membenarkan.

“Burbank itu California, Kka. Amerika Serikat.” Rio ikut nimbrung.

“Udah… udah… liat ini!” Shilla menengahi. Menunjukan apa yang dibawanya.

“Hah? Sweater?!”Keempat sahabat itu berteriak kompak melihat apa yang Shilla keluarkan dari ranselnya.

“Jauh-jauh ke California cuma bawa sweater, Shil?” komentar Iel.

“Iiisshh, ini bukan sweater sembarangan tau. Ini tuh hadiah spesial dari CEO Warner Bros. lengkap sama tanda tangannya. Ini, nih… buat Ify, sahabat gue yang paling cantik. Tweety, si lucu yang harus selalu dilindungi. Buat lo, Yel… Duffy Duck, a lunatic vigilante but a sometimes be a greedy gloury hound. Buat Rio, sahabat gue yang paling anteng dan kalem, Sylvester, tenang namun cukup berbahaya. Haha… And than, Alvin… Bugs Bunny, banyak akal dan tidak mudah putus asa. And the last, Tasmanian Devil, si tukang buli dan jahil, cocok buat lo, Kka.” Cerocos Shilla sembari membagikan sweater berwarna putih itu kepada teman-temannya.

“Shil, ini gak lucu tau. Kita kan bentar lagi SMA. Masa iya masih pake sweater  Looney Tunes gini?” Cakka berkomentar yang langsung meringis karena mendapat cubitan keras dari Ify. Shilla langsung saja menatap teman-temannya kecewa.

“Hahaha, masksud gue, gambar Tazmania ini gak lucu tau! Lagian, cocok apanya sama gue? Gue gak suka makan benda-benda yang lebih kecil dari gue, dan gue gak bisa muter percis gangsing kayak nih kartun. Jadi, punya gue dituker aja ya, sama Alvin?” Tanpa persetujuan, Cakka mengambil jaket Alvin dan menukarnya dengan miliknya.

“Gak bisa gi—”

“Gak apa-apa kok, Shil. Lagian menurut gue, Tazmania gambarnya gak terlalu kekanak-kanakan kayak Bugs Bunny. Kan mau SMA.” Alvin tersenyum lebar. Cakka langsung meringis. Sementara sahabatnya yang lain hanya tertawa tertahan melihat ekspresi Cakka.

Shilla tertawa dalam tangisnya kala memory itu kembali hinggap dalam benaknya. Bahkan di antara semua temannya, hanya Alvin yang saat ini masih mau mengenakan sweater pemberiannya dua tahun yang lalu itu. Ia memang tidak memikirkan hal itu. Harusnya ia memberi oleh-oleh yang lebih dewasa dari sweater bergambar kartun Looney Tunes saat itu. Tapi Alvin memang yang paling mengerti. Alvin yang paling bisa menghargai sekecil apa pun pemberian orang lain. Alvin sahabatnya yang sejak kemarin sore belum juga membuka matanya. Alvin yang mungkin untuk saat ini tidak akan mengenakan sweater pemberiannya lagi—seperti teman-temanya yang lain.

Gadis bermata hazel itu perlahan menarik tiap sisi pakaian itu. Ia menghela nafas begitu melihat bagian depan sweater itu sudah sobek, terbelah, mengingat dokter terpaksa mengguntingnya untuk menyelamatkan nyawa Alvin kemarin. Harusnya ia memberi sweater yang beresleting untuk Alvin waktu itu.

“Kalo tiap kali penyakit gue kumat baju gue dirusak gitu, gue yakin bukan karena biaya pengobatan gue yang mahal gue jatuh miskin. Tapi karena harus beli baju baru terus.”

Refleks saja Shilla menurunkan baju yang sempat dibentangkannya itu. Ditatapnya Alvin yang entah sejak kapan membuka mata dan menatapnya dengan sayu. “Gue panggil dokter dulu, ya?” Dengan cepat ia menghapus sisa-sisa air matanya. Dan ia hendak beranjak sebelum Alvin berujar dan menahan gerakannya.

“Gak usah. Yang lain mana?” tanya Alvin. Ia berusaha mengangkat tubuhnya yang entah sudah berapa lama tertidur. Dadanya terasa lebih baik meski masih terasa linu setiap ia bicara dan melakukan gerakan sekecil apa pun. Nafasnya juga sudah stabil meski ia tahu itu karena alat bantu pernafasan yang digunakannya. Dengan sigap Shilla membantunya.

“Nyokap sama bokap lo pulang dulu. Cakka dan yang lain baru jenguk lo entar pas udah ganti seragam.”

Alvin melirik sejenak jam dinding yang menempel di dinding bercat putih polos itu. 13:30. Ia mengernyit dan menatap Shilla dengan bingung. “Berapa lama?” tanyanya.

“Menurut lo?” tanya Shilla balik. Gadis berseragam Albider itu tidak terlalu peduli berapa lama Alvin pingsan, yang terpenting buatnya Alvinnya kini sudah membuka mata dan terlihat lebih baik dari pas pingsan kemarin. Lagian, ia yakin sahabatnya yang jenius itu cukup pintar untuk menghitung seberapa lama waktu yang ia lewati selama menutup mata.

Alvin mengangguk singkat begitu tahu seberapa lama ia tertidur. Ia memandang Shilla sejenak sebelum memandang sweater putih yang gadis itu genggam. “Soal sweater itu…”

“Entar liburan taun depan gue mau minta Bokap biar jalan-jalan ke Amerika lagi. Lo gak usah khawatir,” potong Shilla cepat. Ia tersenyum ceria. Tepatnya pura-pura ceria. “Lo mau gambar yang gimana? Tazmania lagi? Atau Batman? Spiderman? Hm… kita kan udah SMA, ya? Jadi gue rasa harus minta gambar yang lebih kece dan sesuai sama umur kita. Atau gimana kalau lambang Warner Brosnya? Gue rasa—”

“Ada apa sebenarnya, Shil?”

“Hah?”

“Lo, Rio, sama Iel?”

Alvin tahu, sejak bola matanya sejajar dengan manik cokelat Shilla, ada kesedihan yang sedang berusaha disembunyikan di sana. Shilla bukan gadis yang gampang menyembunyikan perasaannya, Alvin tahu itu. Jadi ia bisa dengan mudah membaca tiap gerak-gerik sahabat sejak kecilnya itu. Ia tahu sejak tadi, selain dirinya yang shilla pikirkan, ada hal lain juga yang mengganggu gadis itu. Dan ia yakin itu tentang Iel juga Rio.

-------------------
-Flashback-

Gadis berkacamta itu mendudukan dirinya di bangku kayu di pinggir jalan. Dimainkannya minuman kaleng yang bahkan belum sempat ia buka. Cuaca hari ini cukup terik, padahal waktu sudah mendekati sore. Iseng saja ia mengetuk-ngetukan ujung kakinya yang ditemani pantofel hitam. Sebenarnya ia lebih suka warna marun. Seperti warna bingkai kacamata yang baru tiga hari ini dibelinya. Tapi, peraturan sekolah membuat ia terpaksa menggunakan sepatu berwarna hitam itu. Sepatu yang setelah sepulang sekolah ini menemaninya hingga ke tempat ini.

Sebenarnya gang menuju rumahnya sudah terlewat. Ia hanya sedang malas pulang. Rasanya percuma saja ia pulang. Ia tidak akan menemukan apa pun di rumah itu selain kesunyian dan keheningan. Jadi gadis itu memilih untuk berjalan-jalan saja. Ke mana pun itu, yang penting ia tidak lagi merasa kesepian. Meski pada akhirnya, tetap saja ia merasa kesendirian menjadi teman sejatinya.

“Haaahh.. gue gak ngerti kenapa semua orang begitu suka ninggalin gue.” Ia mendesah, berbicara pada angin. Dibukanya minuman kaleng yang sedari tadi dimainkannya. Ia tandaskan minuman itu dalam sekali teguk saja. Berharap dengan begitu kemarahan dalam dadanya turut mendingin.

Untuk beberapa saat ia terdiam. Menatap sayu kaleng kosong di genggamannya. Pikirannya jauh melintasi banyak hal yang selama ini selalu membuatnya merasa begitu terpuruk. Semua hal yang membuatnya sering menangis dalam diam dan kesunyian. Tanpa teman, tanpa ada bahu yang mau turut menampung banyak kesedihannya. Ia memang benar-benar sendiri. Ia tidak mengerti kenapa semua orang yang begitu disayanginya selalu meninggalkannya. Kenapa orang yang begitu disayanginya senang membuatnya terkurung dalam ruang gelap penuh harapan kosong dan keheningan.

Ia mendesah sekeras mungkin kala kesedihan  itu menghujam dadanya hingga sesak. Kaleng yang digenggamnya ia lempar sembarang arah sebagai bentuk pelampiasannya. Lantas setelah itu ia biarkan telapak tangannya jadi tempat terbenamnya wajah menyedihkannya. Dan di sana, ia tumpahkan tangisnya. Tak peduli kalau baru saja—saat kaleng kosong itu ia lempar—ada teriakan kesakitan di sebrang jalan sana.

“Gue baru tau kalo ternyata ada juga siswa Albider yang selalu dituntut rapi, bersih, dan tau aturan, seneng juga buang sampah sembarangan.” Laki-laki yang saat itu mengenakan seragam yang sama dengan gadis itu berujar santai. Ia sudah tahu siapa gadis yang saat masih sibuk membenamkan wajahnya tanpa terusik oleh kehadirannya itu. Segera saja ia mendudukan dirinya di samping gadis itu.

“Di sini gak ada aturan apa pun. Jadi bebas,” sahut gadis itu tanpa berniat mengubah posisinya dan juga menoleh ke arah orang yang duduk di sampingnya.

“Termasuk melempar kaleng ke kepala orang. Begitu ya, Nova Chintya Sinaga?”

Untuk beberapa detik gadis yang rupanya bernama Nova itu terdiam begitu mendengar namanya dilafalkan sempurna. Perlahan ia mengangkat kepalanya. Saking penasarannya dengan orang yang saat ini duduk di sampingnya, ia lupa menghapus air matanya. Membuat orang yang saat ini duduk di sampingnya itu mengernyit.

“Lo nangis?”

“K-kak I-Iel?”

Dan keadaan hening. Dibiarkannya bola mata mereka beradu. Hingga di detik ke sepuluh, Iel terhenyak begitu tiba-tiba saja tubuh Nova merapat dengan tubuhnya. Gadis itu tiba-tiba saja memeluknya. Butuh beberapa menit untuk Iel mencerna apa yang sedang terjadi. Hingga mau tidak mau, ketika isak tangis adik kelasnya itu bertepi di gendang telinganya, ia membalas pelukan itu. “Ada apa?” tanyanya.

“Ada apa dengan kalian? Ada apa dengan otak kalian sampai berani berpelukan di jalan umum seperti sekarang? Masih menggunakan seragam juga, ya?”

Refleks saja Nova melepaskan pelukannya begitu suara lain itu terdengar. Buru-buru ia memutar bola matanya ke arah suara itu. Begitu pula dengan Iel. Kompak  mata mereka membulat melihat siapa yang saat ini berdiri di hadapan mereka.

“Shilla?” pekik Iel tertahan. “Gue bisa je—”

“Jangan pernah ikutin gue!” Dan setelah itu, gadis cantik bernama lengkap Ashilla Zahrantiara itu berlari meninggalkan kedua orang yang tampak shock itu.

Nova menarik nafas dalam. Ia merasa sangat bersalah. Ia sungguh tidak bermaksud apa-apa. Ditatapnya punggung Shilla yang perlahan menghilang di belokan jalan. Air matanya kembali menderas.

“Jangan ikutin gue, ya? Biar gue yang jelasin semuanya sama Shilla. Lo pulang dan anggap ini gak pernah terjadi.”

Nova terhenyak begitu Iel mengacak-ngacak poninya. Ia mengalihkan tatapannya kembali pada Iel.  Kakak kelasnya itu memberikan senyuman menenangkan sebelum akhirnya juga berlari meninggalkannya.

Ia terdiam cukup lama. Sibuk dengan pemikirannya sendiri.  Ia memang selalu ditinggalkan.

-------------------

-Flashback End-

“Lagian, lo jadi cewek ganjen banget tau!” Dengan kesal, Dea menjitak kepala Nova begitu sahabat kutu bukunya itu menyelesaikan ceritanya. Ia baru tahu penyebab awal terjadinya perkelahian antara sahabat-sahabat kakaknya itu. Ternyata sahabatnya sendiri biang keroknya.

Sungguh! Ia tidak mengerti dengan sahabatnya yang satu itu. Dalam film-film drama yang sering ditontonnya, biasanya cewek kutu buku model Nova itu digambarkan sebagai gadis lugu, baik, pendiam, kadang-kadang culun, dan jadi korban pembulian. Tapi Nova, bahkan tidak ada sisi anggunnya sama sekali. Ia hiperaktif, cerewet, ganjen dan selalu mendekati cowok mana pun yang menurutnya ganteng, dan jangan lupakan sikap dramatisirnya yang sudah menginjak stadium lanjut.

“Tadinya gue iseng aja, De. Gue juga ketanggung malu sama Kak Iel. Ya, jadi gue peluk aja sekalian cari simpati dan kesempatan. Kan jarang-jarang gue bisa pelukan sama cowok ganteng. Gue mana tau kalo Kak Shilla bakalan lewat sana juga. Lagian, kemarin gue emang lagi sedih banget tahu!”

“Sedih sih, sedih. Tapi bukan berarti peluk-peluk cowok orang juga, kali! Kalau mau meluk-meluk juga cari cowok yang emang belum punya cewek!”

“Iya… iya… gue juga mau minta maaf kok sama Kak Shilla. Tapi, by the way, lo kok kayaknya jadi ikutan sensitif gini ya sama persoalan yang satu ini? Sampai ikut marahin gue segala lagi. Apa jangan-jangan… lo udah mulai care ya, sama kakak lo? Lo marah sama gue gara-gara perkelahian kemarin, kakak lo masuk rumah sakit, kan?”

Refleks saja bola mata Dea melebar. Ia menatap Nova horror. “Ish… Kagak! Gak ada kerjaan tau gue peduliin kakak gue!” tukasnya. Ia memalingkah wajahnya sembari menyilangkan tangannya di depan dada. Baginya, Alvin masuk rumah sakit itu bukan hal aneh. Udah biasa. Gak ada yang perlu dicemasin.

“Lo gak khawatir gitu?” tanya Nova heran. Ia membenarkan letak kacamatanya. Menatap Dea seintens mungkin. Siapa tau ada yang salah dengan sahabatnya itu sampai kondisi buruk kakaknya saja tidak membuatnya peduli.

“Udah banyak yang khawatirin dia. Gue gak mau ikutan repot-repot juga.”

Nova hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban itu. Dea memang tidak waras!

-------------------

Ruangan itu hening. Suara detaik jam yang bertengger di dinding bagian barat menjadi satu-satunya pemecah keheningan di antara lima siswa berseragam itu. Ruangan yang dipenuhi bangku tempat belajar siswa itu terasa lebih panas meski hanya dihuni oleh lima orang saja.

“Jadi, kalian berdua gak mau baikan?” Gadis berdagu tirus yang akrab dipanggil ify itu menatap kedua pemuda di hadapannya bergantian. Bola matanya berputar jengkel.

Ayolah… ini sudah hampir satu jam penuh mereka terperangkap di dalam ruangan berlabel kelas XI-IPA 2—Kelas Iel. Mencoba membujuk kedua sahabat mereka yang kemarin sempat saling pukul itu untuk segera berbaikan.  Tapi…

… kedua pemuda yang menjadi terdakwa sidang itu hanya diam dan tidak ada yang mau ambil suara. Tidak ada yang setuju, dan tidak ada yang bilang tidak setuju. Kebungkaman mereka benar-benar membuat ketiga sahabat itu pening.

“kalo emang gak bisa baikan beneran, pura-pura bisa, kan?” Cakka mendesah. Sungguh hari ini ia lelah. Masuknya Alvin ke rumah sakit, dan ia tidak tahu apa sahabat nomor satunya itu sudah siuman atau belum, benar-benar membuat moodnya rusak parah. Laki-laki yang biasanya selalu ceria itu memang selalu tampak lebih sensitif, dan kusut jika Alvin dalam kondisi yang buruk seperti sekarang ini. Dan kedua sahabatnya yang lain malah memperburuk keadaan dan juga moodnya.

“Kalo kalian gak bisa pura-pura baikan di hadapan Alvin nanti, jangan salahin gue kalo besok atau lusa lo berdua dapet kejutan dari gue!” Dan setelah itu, Cakka memilih bangkit dari duduknya. Berjalan meninggalkan ruangan. ia benar-benar lelah menghadapi kedua orang egois itu.

Agni mengernyit begitu kata-kata Cakka bertepi di telinganya. Dipusatkannya bola matanya pada laki-laki bermarga Nuraga yang perlahan menghilang di balik pintu ruangan. Ia baru mengenal Cakka satu tahun ini, dan ia baru tahu kalau laki-laki yang dikenal tidak bisa serius itu bisa mengerikan seperti ini juga. Ternyata , Alvin benar-benar berpengaruh banyak pada kepribadian Cakka.

“Lo berdua bisa, kan gak childish gini?” Ify yang memang sudah mengenal Cakka lebih lama hanya memandang Cakka sekilas sebelum kembali fokus pada kedua orang di hadapannya. Iel dan Rio.

Rio mendengus. Ia berdiri dari duduknya. Lantas tanpa bicara sepatah kata pun, laki-laki yang tampak lebih sayu dari biasanya itu berlalu meninggalkan ruangan. Ify hanya bisa menatap sedih punggung tegak itu.

“Kita ketemuan di rumah sakit aja. Waktu gue gak banyak.” Tepat lima menit setelah Rio keluar dari ruangan, Iel melakukan hal yang sama. Pergi meninggalkan ruangan juga. kedua gadis itu hanya menghela nafas lelah dan kemudian saling tatap. Saling meyakinkan kalau semuanya pasti akan baik-baik saja.

Ini memang bukan pertama kalinya persahabatan mereka dilanda masalah. Tapi, entah kenapa mereka merasa kalau masalah yang tengah mereka hadapi sekarang akan terasa lebih rumit, mengingat sumber permasalahan mereka adalah dua orang dengan keegoisan yang sama besarnya.

“Udahlah…” Agni menepuk bahu Ify. “Hari ini gue pulang naik mobil nyokap. Lo mau nebeng?” tawar Agni sembari bangkit. Ify mengangguk singkat dan ikut berdiri. Berjalan keluar ruangan.

“Setidaknya mereka masih mau nengok Alvin bareng-bareng juga udah syukur kan, Fy?” tanya Agni. Mereka sedang berjalan menyusuri koridor sekolah yang sudah sepi.

“Hmm… Oh, ya… tumben lo bawa mobil,” kata Ify mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin membahas apa pun lagi tentang Iel da Rio saat ini. Ia sendiri tidak mengerti kenapa rasanya ada sesuatu yang membuat ia merasa begitu lelah untuk mengingat Rio dan Iel. Tepatnya, hanya Rio saja.

“Nggak bawa mobil, sih. Nyokap gue yang ke sini. Dia lagi ngurusin kepindahan adik gue,” jelas Agni. Ify hanya mengangguk-nganggukan kepala. Agni pernah bercerita soal adiknya yang tinggal di Jepang. Ia juga masih ingat siapa namanya. Hanya saja ia tidak tahu wajahnya.

“Deva, ya?” tanya Ify. Agni mengangguk. “Gue jadi penasaran gimana adik lo. Dia pas—”

Nee-Chan…?”

Sontak saja kedua gadis itu berbalik.

-------------------

Gadis itu menghela nafas. Melepas beban yang terasa menumpuk dalam kepalanya. Disandarkannya punggungnya di balik sandaran kursi yang sau jam terakhir ini ia duduki. Baru saja, sahabat baiknya meninggalkan ia di tempat itu. Setidaknya ia merasa kesendirian ini lebih baik. Ia memang sedang ingin sendiri.

Lagi. Ia menghela nafas. Kali ini sembari menatap ponsel hitamnya dengan nanar. Ia lelah sekali hari ini. Di sana… di dalam hatinya.

“Ehm.. Kakak lo ke mana? Kok gak masuk?”

Butuh beberapa detik untuk gadis bernama Dea itu menoleh ke arah kirinya.  Ia menatap orang yang sudah duduk di sampingnya itu sedatar mungkin. “Kenapa? Lo mulai peduli sama dia? Lo mulai simpati juga sama dia?” ketusnya. Dipalingkan lagi wajahnya ke arah lain. “Semua orang memang gak ada yang benar-benar membencinya kayak gue.”

“Kecuali gue!” sengit Sivia menatap Dea dengan serius. Diperhatikannya wajah gadis itu. Dan ia mulai menyadari satu hal. Gadis yang saat ini duduk di sampingnya adalah pantulan dirinya. Gadis menyedihkan. Ia melihat dirinya sendiri di dalam diri Dea. Kebencian, kemarahan, iri hati, dan tentu saja...

… kesepian.

“Gue sedih kakak lo gak masuk hari ini.” Sivia—gadis itu—terkekeh begitu Dea beralih menatapnya kembali. Sorot matanya sinis dan penuh kebencian. Bercampur dengan kesedihan dan kerapuhan.

“Gak konsisten!” sungut Dea.

“Abisan, semalaman gue udah nyusun rencana buat kerjain dia. Sia-sia deh…” Senyum Sivia semakin mengembang. Dea menatapnya tidak percaya.

“Bagaimana kalau rencananya kita lakuin bareng-bareng?” tawar Sivia. Bola mata Dea membulat sempurna.

“Kita jadi partner, oke? Alvin Haters!”

-------------------

Senyum merekah di balik wajah pucat itu saat satu persatu sahabat-sahabatnya datang dan memenuhi ruang rawatnya. Ruangan serba putih yang semula diselimuti keheningan  itu kini terasa lebih hidup dan ramai. Membuat satu-satunya sosok yang tengah duduk di ranjang itu merasa tak hanya raganya saja yang hangat. Tapi, jiwa dan hatinya pun demikian. Entah kenapa, Alvin selalu merasa sangat baik dan sehat jika melihat sahabat-sahabatnya itu berkumpul. Seolah, kebersamaan mereka adalah obat paling mujarab untuknya.

“Gue telat ya?”

Pintu terbuka. Seluruh mata langsung saja beralih ke arah sumber suara.

Agni, orang yang baru saja memasuki ruangan itu tersenyum dan menatap Alvin yang terlihat lebih baik dari sebelumnya. Ia berjalan mendekat dan memposisikan dirinya di sebelah kiri ranjang Alvin, dan menatap Cakka yang tampak sibuk memperhatikan objek lain. Ia segera melirik ke arah teman-temannya yang lain. Dan ia baru sadar kalau tak hanya Cakka, tapi semua orang di ruangan beraroma obat kimia itu tengah menatap objek lain selain dirinya. Dan itu adalah seseorang yang sejak Agni memasuki ruangan itu mengekor di belakang Agni.

“Ah, gue lupa!” Agni menepuk jidatnya pelan. Ia berbalik dan berpindah posisi di samping orang itu. “Ini adik gue. Deva,” katanya menepuk bahu Deva. Deva menatap teman-teman kakaknya itu bergantian dan membungkukan badannya, membuat Agni refleks memukul kepalanya. Alvin dan yang lain cukup kaget dengan aksi Agni.

“Gak usah berlebihan! Ini Indonesia, Deva!” tukas Agni sengit.

Deva menyeringai dan menatap Agni tajam. “Nee-Chan! This is so sick, you know?”  protesnya mengelus-ngelus kepalanya.

Agni hanya mengerling malas. “Abisan lo lebai banget, tau. Lo sepuluh tahun lebih lama di Indonesia, Deva. Jadi gak usah pura-pura lupa kebiasaan di sini. Dan satu lagi. Jangan panggil gue Nee-Chan, oke?!” kesal Agni. Lima tahun di Jepang membuat segala hal di Negara Sakura itu mempengaruhi Deva. Dan itu membuat Agni cukup risih.

“Ngga apa-apa dong, Ag. Adik lo bahkan belum tujuh puluh dua jam di Indonesia. Jadi wajar kalo belum bisa nyesuain diri,” bela Ify. Ia tersenyum ke arah Deva. Baru tadi siang ia bertemu Deva, laki-laki yang satu tahun lebih muda darinya itu. Menurutnya Deva itu asyik. Orangnya easy going, gampang akrab, dan cepat bersosialisasi. Laki-laki dengan handycam yang menggantung di lehernya itu membalas senyuman Ify dengan cengiran lebar. Dalam hati ia bersorak dengan pembelaan Ify.

“Harusnya lo biarin kita kenalan sama adik lo dulu sebelum lo marah-marah, Ag.” Alvin yang sejak tadi larut dalam kebingungannya mengenai kedua kakak beradik itu, mulai bersuara.  Ditatapnya adik sahabatnya itu dengan rinci. Ia tersenyum saat Deva tersenyum padanya. Entah kenapa, senyuman tulus Deva membuat perasaannya begitu hangat. Seandainya Dea yang memberi senyuman setulus itu padanya. Alvin membatin.

“Ah… kenapa harus kenalan? Kalian udah kenal aku, dan aku juga udah kenal kalian, kok.” Dalam beberapa gerakan, Deva menyalakan handycamnya. Setelah seluruh sistem siap, ia segera mengarahkan Sony HD-XR200E-nya ke  arah teman-teman kakaknya itu. Dimulai dari Alvin yang memang lebih dekat dengan posisinya.

Laki-laki pengidap PJB itu menatap kamera dengan bingung. Tapi beberapa detik setelah itu ia menyematkan senyuman terbaiknya.

“Alvin Jonathan. The most intelegent and nice man, famous, pemilik suara emas yang super perhatian,pengertian, jelemaan malaikat yang semasa hidupnya tidak pernah menyimpan kebencian, dendam, dan penyakit hati semacamnya. Everyone likes him.  And  nothing a reason for all the girls don’t loves him. Termasuk Nee-chan, loh.”

Bola mata Agni membulat. Apa yang Deva katakan, percis dengan apa yang pernah dikatakannya beberapa waktu yang lalu. Ketika ada waktu untuk mengobrol dengan Deva, baik via-telepon mau pun e-mail, Agni memang tidak pernah absen menceritakan semua sahabat-sahabatnya  pada adiknya itu. Agni hendak menghentikan Deva saat Alvin menggenggam tangannya dan mencegahnya. Kamera Deva kini mengarah ke arah Shilla yang langsung tersenyum dan melambaikan tangan ke arah kamera. Deva tersenyum melihat respon gadis cantik yang bergerak-gerak di balik layar kameranya.

“Ashilla Zahrantiara. Beautiful girl, a Loney Tunes cartoon lover, baik, rendah hati, tidak sombong, penyuka film animasi. Up, Toy Story, Thinker Bell, dan Upin-Ipin. Agak cengeng, sih… Tapi nee-chan seneng sama sikap terbukanya. Everyone is always trying to protect her.”

“Ah… Alyssa Saufika. Kita udah ketemu sebelumnya.” Deva mengarahkan kameranya ke arah Ify.  Ify langsung menyembunyikan wajahnya di balik lengan Iel. “ Nama panggilannya Ify. Smart girl, ceria, dumay maniak, agak tertutup, creative, asyik, tapi kurang pede. Ayolah… My Mr. Son minta senyummu!” Deva memaksa Ify untuk menatap kameranya. Ify menengok sebentar, tersenyum singkat, lantas kembali memalingkan wajahnya. Kali ini ia memilih untuk berjongkok dan menyembunyikan diri di bawah ranjang Alvin. Semua orang—kecuali Rio—langsung tergelak melihat sikap Ify.

“Gabriel Steven. The girl named Shilla was fortunate to be the owner of your heart. Udah ganteng, pinter, pekerja keras, ketua osis lagi. Terkesan cuek, padahal paling perhatian. Agak temperamen juga katanya.  Tapi… siapa yang tau kalau hatinya tulus banget!” Iel hanya tersenyum mendengar kata-kata Deva tentang dirinya yang hampir sepenuhnya tepat. Ia bahkan tidak tahu Deva bisa sehafal itu tentang dirinya. Merasa malu lama-lama di depan kamera, segera saja ia menuntun kamera itu ke arah Rio yang sejak tadi berdiri di sampingnya. Cakka dan yang lain sempat mengira mereka baikan sungguhan ketika Iel menarik komik yang menutupi wajah Rio dan memaksa pemuda itu untuk menatap kamera.

“Mario Stevano.” Rio menatap kamera tanpa ekspresi. “That’s right! You like a Sasuke and Itachi Uchiha, Kaede Rukawa, L Lawliet, Ulquiorra Cifer, Killua Zoldyck, Levi Heichou. Dingin, datar, irit kata juga ekspresi. Nanti, aku boleh pinjem komik-komiknya kan, kapten futsal Albider? ” Yang pasti suara Deva terdengar kagum. Rio menatap kamera tidak percaya. Deva tahu banyak tentang tokoh anime berkarakter dingin. Sebagai pecinta komik ia tahu nama-nama yang baru saja Deva sebutkan.

And the Last, Cakka Nuraga.” Deva memfokuskan kameranya ke arah Cakka yang entah kenapa, sejak tadi diam saja memperhatikan Deva.

“Tentu saja gue itu ganteng!” Narsis Cakka membenarkan rambutnya dan pakaiannya. Agni mencibir. Alvin dan yang lain—lagi-lagi kecuali Rio—tertawa singkat.

“Aku gak tau kenapa Nee-chan selalu bilang dia jelek dan menyebalkan. Padahal menurutku dia cukup ganteng, Mr. Son…” Agni melotot mendengar desisan Deva. Cakka menyeringai ke arah Agni. “Haha… Cicak menyebalkan, narsis, sok ganteng, tulalit, jail, dan satu-satunya cowok yang paliiiiinnng jelek! Katanya begitu, sih… Tapi, yang membuatku heran, dia adalah satu-satunya cowok yang paling sering Nee-chan bicarakan. Bahkan se—”

“Deva!” Agni buru-buru menarik handycam Deva. “Udahlah…” Gadis tomboy itu tampak salting. Membuat beberapa mata menatapnya penuh intimidasi. Sementara Cakka hanya menatap kedua adik kakak itu dengan bingung.

Melihat hal itu, Alvin hanya tertawa kecil. Di balik sikap cuek Agni, ternyata menyimpan perhatian yang begitu besar pada sahabat-sahabatnya. Ia tidak menyangka gadis yang tidak pernah menggerai rambutnya itu, begitu hafal bagaimaa karakter teman-temannya. Padahal jelas-jelas Agni belum lama bersahabat dengan mereka.

Mendengar celotehan Deva, tentu saja menciptakan senyum haru di balik wajah Alvin. Dan sore itu, menjadi sore paling indah setelah sore yang buruk dua hari ke belakang untuknya. Tawa ceria itu membuat kebahagiaan menjalar di setiap detakan jantungnya yang kapan saja bisa berhenti.

-------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225
Pin : 5467BAFB

Maaf karena part ini lama update. Sory banyak typo. ini terlalu ngebut.

Silahkan tinggalkan komentar, kritik, dan pujian juga boleh…

Baca juga cerita baru saya di 

Terimakasih

5 komentar:

  1. Setelah lama nunggu akhirnya dilanjut juga :D
    penasaran sama rencananya Sivia. Semoga part depan Alvinnya disiksa #plak
    ya, part ini cukup seru, apalagi ditambah kehadiran Deva dan penjelasan part sebelumnya. ^^

    BalasHapus
  2. Keren banget kak nae. Semuanya dapet porsinya masing2. Kayaknya nih cerbung bakalan panjang deh hahaha. Jangan nyerah buat post sama tamatin ini cerbung yaa kak.

    Tapi btw, MR. Son yg dibilang Deva itu maksudnya apaan kak?

    Kak Naeee, lentera hati aku udah dilanjut lho hahaha kalo mau baca disini yaa kak coretanpunyabrenda.blogspot.com komen juga yaa kak. Hehehe

    BalasHapus
  3. yeayyy....akhirnya yg ditunggu2 update jg
    semuanya udah oke bgt kok kak. moment alvianya tambahin dong kak, dan ayo siksa alvin lagi #hehehe
    semangat ya kak buat update & slesain ceritanya #\(*^*)/
    Oya kak nasib alvin waktu di rumahnya cakka itu gmn? masih g ngertiiiii
    #Bow

    BalasHapus
  4. Cakkanya bisa disiksa juga ga? '-'

    BalasHapus
  5. Kak Nae, nasibnya cakka yang tadinya demam & mimisan gimana ? cepet lanjut ya kak Nae ^^

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea