Jumat, 19 Juni 2015

Separation -Enam belas-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.14


Sebelumnya terimakasih yang udah sempet kasih komentar baik itu langsung di blog ini, di twitter, di bbm, di facebook dan sms. Yang pernah sms saya, maaf ya gak saya bales smsnya. ^_^ itu karena saya tidak pernah punya pulsa. *bukaaib*Jadi jangan anggap saya gimanaaa gitu. Hehehe… maaf ya.. ohya, buat yang pernah invite bbm saya dan belum saya acc, boleh invite ulang ya…

Untuk komentar “Nur fadilah syawal  memang iya cerita ini udah tertulis –hampir—sempurna di tiga buku mesti belum ending. Sebenarnya ini gara-gara saya yang membuat ‘Intro’ cerita tanpa membaca ulang dulu keseluruhan cerita dan berakhir dengan tuntutan penciptaan karakter baru dan perombakan besar-besaran jalan cerita. Bahkan dari part (kalau gak salah) 12, saya sudah tidak terpaku pada buku-buku itu. (saya benar-benar minta maaf pada Lina yang sudah seenak lutut saya merubah cerita ini).  Dan cerita ini menurutku cukup berat mengingat ini cerita pertama saya dengan karakter-karakter tokoh yang buat saya cukup sulit. Tapi… berjuang dan Ganbatte!.. thanks buat spiritnya… ^.^

Untuk beberapa komentar lainnya yang selalu nanyain, “kak, kapan Alvinnya disiksa?” hahaha… gak sabar ya? (sebentar aja tobat dong nyiksa Alvin. gak kasian apa?) hehehe…  Dan buat yang nanya, soal “Cakkanya disiksa juga, ngga?” Yang pasti, di separation ini saya tidak berniat menyiksa Alvin saja, tapi juga semua tokoh cowok. *SeringaiEvil* jadi, terus ikutin cerita ini sampai detik-detik mengenaskan di mana keenam cowok ganteng yang lagi ngerebutin penulis amatir tapi kece ini benar-benar menderita.. hahaha.. *Dikeroyokmasal*

Yasud… keep reading and enjoy… ^_^


SEPARATION

-Enam belas-

-------------------

Hangat. Ify merasa tubuhnya hangat. Meski ia yakin tangan yang melingkar di tubuh rapuhnya bukan salah satu tangan sahabatnya, tapi entah kenapa ia merasa begitu tenang. Seolah semua beban yang menyesak dalam dadanya terhisap oleh kehangatan tubuh orang itu. Tapi sedikit pun Ify tak ada niat untuk mengangkat wajahnya dan memastikan siapa yang tengah memeluknya seerat ini. Entah untuk alasan karena wajahnya pasti berantakan dan ia tidak biasa menunjukan air matanya di depan orang, atau karena ia terlalu nyaman dengan pelukan orang itu.

" Nakanaide, imōto. Jangan nangis, Kak..."

Deva?

Tentu saja, siapa lagi yang sering keceplosan menggunakan bahasa Jepang selain dia.

Ify mengepalkan tangannya semakin erat. Sangat erat hingga buku-buku tangan itu memutih. Ia tahan isakannya yang entah kenapa malah semakin gencar meminta keluar ketika sadar bahwa pelukan hangat itu benar-benar bukan berasal dari tangan salah satu sahabatnya. Padahal ia berharap untuk itu.

"Baiklah... kalau gitu, menangislah! Sesuatu kalau ditahan itu cuma nimbulin sesak. Dan sesuatu yang menyesakan itu tidak baik. Dan sesuatu yang tidak baik itu harus dihindari. Sekarang, menangislah! Teriaklah! Marahlah! Aku bisa jadi pelampiasanmu." Deva melepaskan pelukannya. Diusapnya punggung Ify dengan lembut. Ia memang baru beberapa hari ini mengenal Ify. Dan Cuma Ify yang langsung dekat dengannya di antara sahabat-sahabat kakaknya yang lain.

Mendengar kata-kata Deva, Ify langsung saja melepaskan tangis tertahannya yang begitu memilukan. Sesekali disertai jerit dan teriakan. Suasana sepi membuat isakan itu terdengar begitu jelas di telinga Deva. Laki-laki yang memilih untuk mengikuti Ify begitu sadar ada yang tidak beres dengan kakak kelasnya itu, langsung tersenyum melihatnya. Ify bahkan sudah mulai mengangkat wajahnya dan tidak lagi merasa malu menunjukan air matanya. Toh,  hanya mereka berdua di tempat itu. Deva janji tidak akan membocorkan semua yang terjadi sekarang pada siapa pun termasuk kakaknya. Meski baru kenal, Deva sudah bisa menebak bagaimana sifat Ify. Tertutup dan tidak suka masalah apa pun yang ada dalam hidupnya diketahui banyak orang.

Ayolah... Deva bahkan tidak tahu alasan sebenarnya gadis penyuka warna abu-abu itu menangis.

Untuk beberapa menit Deva membiarkan Ify menangis. Membiarkan gadis itu mengeluarkan semua sesak dalam dadanya. Meski tidak sampai mengungkapkan unek-uneknya, tapi Deva cukup senang karena Ify akhirnya berangsur membaik. Finalnya, gadis itu balik memeluknya.

Jangan salah, meski usia mereka selisih satu tahun dan Deva lebih muda dari Ify, tetap saja postur tubuh mereka tidak bisa menyangkal kalau Deva pantas dibilang kekasih Ify. Memikirkan hal itu, laki-laki yang baru saja terkaget-kaget karena mendapat pelukan tiba-tiba dari Ify itu tertawa pelan.

Dōmo arigatōgozaimashita…” ucap Ify sok berbahasa Jepang. Dulu waktu masih bersama Rio, laki-laki yang sebenarnya tidak ingin diingatnya itu sering mengajaknya menonton anime-anime jepang dan mengajarkannya beberapa kosakata bahasa Jepang. Tapi, apa yang baru saja diucapkanya justru membuat Deva tertawa.

“Kenapa tertawa?” Tanya Ify sebal. Ia melepaskan pelukannya dan menatap adik kelasnya yang tampak lebih manis saat tertawa itu dengan kesal. Ia tidak suka ditertawakan. “Gue bilang terimakasih banyak, kenapa malah lo tertawain?”

Shimasen, Nee-san. Tidak, Kak. Dōitashimashite. You’re Welcome…”  Deva tersenyum simpul. Ditatapnya wajah Ify yang begitu berantakan. “Tak usah bersembunyi. Menangis jika sedih. Menepi jika lelah. Bersandar jika rapuh. Dan datang padaku jika kau menginginkannya.”

Secepat kilat Ify menghapus air matanya dan tersenyum lebar begitu kata-kata Deva meluncur begitu saja. Kata-kata yang pernah ia update beberapa waktu yang lalu di facebooknya. Kata-kata yang pernah ia lontarkan dengan tulus dalam hati ketika Rio memeluknya di tepi jalan waktu itu. Entahlah, ia merasa ketika Deva mengucapkan kata-kata itu, rasanya ada sayap-sayap yang  dengan siap siaga melindunginya. Bola mata yang lumayan mirip dengan bola mata milik Agni itu sama sekali tidak menyimpan dusta dan kebohongan. Polos dan begitu tulus. 

Deva menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya di balik pohon. Ia mulai membuka handycamnya. “Tau gak, Kak, kenapa batu kalau dilempar ke atas jatuh lagi?” tanyanya sembari mengarahkan kameranya ke langit yang tampak begitu cerah dan biru.

“Tentu saja karena adanya gravitasi bumi.” Ify menjawab. Ia sandarkan tubuhnya di sisi kosong batang pohon berdiameter cukup besar itu.

“Mentang-mentang anak IPA, jawabnya ilmiah banget! Tentu saja jawabannya karena batu itu tidak bisa terbang.”

Mendengar jawaban Deva sontak saja Ify tertawa keras. Saat tertawa seperti itu Ify merasa semua kesedihannya sirna seketika. Entah kenapa, ketika Deva mulai hadir sejak seminggu yang lalu, ada aura-aura ceria, ada hawa-hawa positif yang menyebar di sekitarnya. Si pemilik Mr. Son itu tampak seperti pewangi ruangan yang menyebarkan wangi menyejukan dan menenangkan. Kali ini Ify merasa tidak membutuhkan Alvin dan sahabatnya yang lain. Cukup Deva saja. Ya, saat ini… entah untuk esok dan hari-hari selanjutnya.

“Jadi kuat itu tidak enak. Yang enak itu jadi bebas. Bebas tertawa, bebas menangis, bebas marah, bebas mencintai, bebas membenci, bebas segala hal…” Deva tersenyum menatap langit dengan Mr. Son merekam dirinya dan juga Ify. Ify menghentikan tawanya dan tersenyum ceria ke arah Mr. Son.

Dan tanpa mereka sadari, sejak tadi, dari awal adegan itu berlangsung, gadis berambut lurus tergerai itu memperhatikan mereka.  Adik perempuan Alvin itu tersenyum dan tertawa kecil mendengar lelucon terakhir Deva. Ini tawa kedua yang berhasil lolos dari mulutnya karena Deva. Keceriaan teman barunya itu memang menyebar ke mana-mana, termasuk pada dirinya yang sebenarnya juga sedang dilanda galau berat karena pertengkaran sahabat-sahabat kakaknya itu. Suatu saat Dea, gadis yang entah kenapa memilih mengikuti Deva tadi, pasti akan menjelaskan kenapa ia merasa terluka juga melihat pertengkaran itu.

--------------------

"Sumpah, ya gue gak ngerti sama lo!" Cakka memulai pembicaraan setelah beberapa menit kesunyian dibiarkan melingkupi lapangan basket indoor sekolah itu. Salah satu lokasi yang sekiranya cocok untuk menyeret Iel mengingat anak-anak memilih untuk menghabiskan waktu istirahat dengan bermain basket di lapangan outdoor.

"Gue yang gak ngerti sama lo dan yang lain terutama Shilla." Iel mengacak rambutnya frustasi. Sungguh, ia memang tidak mengerti. Mungkin ia tidak peka, dan ia memang benar-benar tidak tahu. Lagipula tidak ada yang memberi tahu dia tentang apa yang sedang terjadi. Ayolah, Iel bukan Tuhan yang bisa membaca hati seseorang. Yang bisa tahu segalanya tanpa melihat dan tanpa diberi tahu.

"Lo gak ngerti juga? Waktu itu jelas-jelas lo sakiti Shilla. Tapi lo gak minta maaf sama sekali dan malah cuekin dia? Cewek mana yang gak sakit hati coba liat cowoknya gitu?" Lama-lama Cakka gemas juga melihat tingkah Iel. Untung saja ia bukan orang yang suka menyelesaikan masalah dengan fisik. Kalau tidak ia pasti sudah memukul Iel saat itu juga saking gemasnya. "Lama-lama gue beneran rebut dia juga dari lo," tukasnya kemudian.

"Baguslah... gue jadi tau kalo pengkhianat yang beraninya nusuk dari belakang di sini gak cuma Rio aja. Haahhh... gue makin yakin kalo gak ada yang namanya sahabat sejati di dunia ini."

"Eh? Kok anggepannya malah gini ya?" Cakka menggumam pelan. Memberi pertanyaan pada dirinya sendiri. “Maksud gue bukan gitu, Yel. Lo kenapa sih, kok sensitif gini?” tanya Cakka akhirnya.

Iel diam. Cakka ikut diam. Cukup lama.

"Shilla bilang dia gak mau dengerin penjelasan gue. Jadi buat apa lagi? Hidup gue udah ribet, Kka. Kalo orang minta gue tinggal, gue bakalan tinggal. Kalo orang minta gue pergi ya gue bakalan pergi. Gue gak mau mempersulit hidup gue yang sulit ini dengan mempermasalahkan hal kecil kayak gini."

Cakka menarik nafas dalam. Ditatapnya sahabatnya itu selama mungkin. Mencari sesuatu yang mungkin saja tersembunyi di balik bola mata yang tampak lelah itu.

"Sebenarnya gue mau aja merajuk. Tapi seperti yang gue bilang, gue gak mau memperumit hidup gue. Kalo gue boleh cerita..." jeda Iel. Ia menarik nafas sedalam mungkin. Cakka memperhatikan lebih serius.

"... beberapa hari ini gue nyaris putus asa."

"Putus asa? Kenapa?" Tanya Cakka tak mengerti. Mendengar putus asa, hal-hal buruk langsung saja berkeliaran dalam benaknya.

Iel menarik nafas sedalam mungkin dan Cakka justru merasa nafasnya tercekat. Tidak sabar menunggu jawaban Iel.

"Lo gak tau kalo perusahaan bokap gue bangkrut, kan? Lo gak tau kalo nyokap sama bokap gue melakukan aksi paling romantis seperti Romeo dan Juliet, minun racun bersama dan ninggalin tiga bocah malang di rumah yang sudah disegel dengan label 'rumah ini telah disita oleh bank', kan? Lo gak tau, kan?"

Saat itu juga, Cakka mendadak kepalanya pening. Sungguh ia tidak pernah tahu akan hal itu. Selama ini ia berpikir kalau kehidupan Iel baik-baik saja. Memang, belasan tahun bersahabat dengan Iel, hanya beberapa kali ia berkunjung ke rumah Iel. Itu pun hanya sampai depan saja dan ia tidak pernah tahu seperti apa di dalamnya. Dan hampir satu tahun ini Iel tidak pernah mengajaknya ke rumahnya lagi.

"Sejak kapan? Dan sekarang lo tinggal di mana?"

"Dan lo gak tau kalo Lintar, penjaga kantin genius itu adalah adik gue." Iel melanjutkan. Tidak menanggapi pertanyaan Cakka yang langsung membelalakan mata tak percaya mendengar kelanjutan ceritanya.

“Gab—”Cakka hendak bertanya kembali, namun ia urungkan. Sebaiknya ia mendengarkan sampai tuntas dulu apa yang hendak Iel bicarakan.

"Tiga hari yang lalu, sehabis jenguk Alvin di rumah sakit, gue kehilangan pekerjaan paruh waktu gue. Alasannya, karena empat hari gue terlambat berturut-turut. Jangan beritahu Alvin soal ini. Gue gak mau kondisinya memburuk karena mikir gue di-out gara-gara jengukin dia. Lagipula buat gue, liat Alvin sembuh dengan cepat udah cukup buat gue seneng mengingat dia kambuh gara-gara gue. Kehilangan pekerjaan gak sebanding kalo gue harus kehilangan dia."

Ya ampuuunn… bahkan Cakka yang selalu memaksa semua sahabatnya untuk menjenguk Alvin bersamaan. Laki-laki pecinta basket itu mengusap wajahnya dengan kasar. Kepalanya terasa begitu penuh sekarang. Jelas-jelas Iel salah. Bukan Alvin yang harus disalahkan, tapi ia yang salah. Seandainya ia tahu kalau Iel benar-benar sibuk, ia tidak akan memaksa Iel untuk menjenguk Alvin setiap hari sepulang sekolah.

"... sekarang gue lagi nyari pekerjaan lain. Dengan biarin Lintar sekolah dan berhenti bekerja, gue sadar kalo dua kerja part time itu gak cukup. Dan lagi kemarin..." Iel mengusap kasar wajahnya yang dipenuhi gurat-gurat negatif. Lelah, sakit, marah, benci, sedih, kecewa, semuanya tampak di balik wajah tampannya.

Cakka merasa kepalanya semakin pening saja begitu sadar ada air mata yang menggantung di balik pelupuk mata yang dalam penglihatannya selalu tegas dan berwibawa itu. Iel tampak begitu rapuh saat ini. Apa yang telah ia lewatkan selama ini? Kenapa bahkan ia tidak tahu seberat ini masalah yang ditanggung oleh sahabatnya itu? Bahkan jauh lebih berat dan memilukan dari masalah kecil yang Shilla alami.

"Kemarin apa, Yel?"

"Ada instansi perusahaan yang dulu bekerja sama dengan perusahaan bokap gue, nuntut gue buat lunasin hutang-hutang bokap gue. Gue bener-bener gak tau apa-apa. Gue gak tau harus gimana, Kka. Gue bener-bener... argh!" Iel menjambak rambutnya frustasi. Cakka dengan sigap menghentikan aksi itu dan merangkul Iel dengan kuat. Berusaha menyalurkan energi positif pada sahabatnya. Berusaha mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Yel..."

"Soal Shilla.. " Iel menepis pelan tangan Cakka dari bahunya. Cakka mengernyit. "Sebenarnya gue pengen selalu ada buat dia. Gue pengen ngajak dia jalan, ngajak dia makan, ngajak dia melakukan apa pun yang dia suka. Tapi keadaan gue aja yang gak ngedukung, Kka. Gue tau lo semua kecewa sama gue. Tapi, please... gue mohon! kalo emang kalian masih anggep gue sahabat, gue gak minta bantuan apa pun. Gue cuma minta, jangan nambah beban gue. Gue udah gak sanggup, Kka. Gue..."

Dalam satu gerakan, laki-laki penyandang gelar kapten tim basket Albider itu menarik Iel dalam dekapannya. Membungkam kata-kata Iel yang juga merobek sadis perasaannya. "Maafin gue, Yel. Maaf karena gue gak bisa jadi sahabat yang baik buat lo. Maaf..."

Untuk beberapa saat Iel diam dalam dekapan Cakka. Ia tidak merutuki kenapa Cakka harus mendekapnya seperti ini. Terlihat begitu berlebihan untuk seorang cowok. Tapi, bagaimana pun juga, dalam dekapan itu, ia merasa cukup tenang. Ia merasa ada wadah yang menampung semua beban kesedihan, beban kegundahan, beban penderitaan yang selama ini bertumpuk dalam dirinya.

“Kita cari jalan keluar masalah lo ini bareng-bareng, oke?!” kata Cakka tegas dan meyakinkan. Iel melepaskan pelukan Cakka dan menatap sahabatnya dengan rinci. Mencari kesungguhan dari balik bola mata yang selalu memancarkan keceriaan itu.

“Gue gak minta bantuan apa-apa dari lo dan yang lainnya. Gue cuma minta kalian jagain Shilla selama gue nyar—” Iel menghentikan kata-katanya. Ditatapnya Cakka dengan lebih intens lagi. Ia yakin ada yang salah. Entah penglihatannya atau memang…

Cakka mengernyit diamati seintens itu oleh Iel.

“—lo mimisan, Kka? Hidung lo kok berdarah?”

Refleks Cakka menyentuh bawah hidungnya. Basah. Amis. Dan merah. “Ah?  ini…”

-------------------

Alvin menarik nafas dalam. Diusapnya dada bidangnya, agak sedikit menekannya. Ada sesak dan nyeri di dalam sana. Ia tahu kondisinya tidak sepulih yang dipikirkan orangtua dan sahabat-sahabatnya. Beruntung kali ini Mas Elang yang menanganinya, sehingga ia bisa diizinkan pulang secepat ini. Ia tidak tahu pasti kenapa Ayah Cakka memberikan kepercayaan atas dirinya pada anak sulungnya itu. Mas Elang hanya bilang kalau Dr. Nuraga—Ayah Cakka—sedang menangani pasien lain yang kondisinya jauh lebih buruk darinya. Alvin tidak terlalu memikirkan hal itu. Setidaknya bersama Mas Elang jauh lebih menyenangkan ketimbang dengan Ayah Cakka. Bagaimana pun juga bersama yang muda pasti lebih asyik.

Ah, memikirkan Mas Elang, membuat ia tiba-tiba saja teringat Cakka. Apa sahabatnya itu sudah bisa membujuk Iel? Mungkin sudah karena buat Cakka menangani sikap tempramen Iel itu bukan hal yang sulit. Alvin bahkan yakin kalau kedua sahabatnya itu sudah kembali ke kelas masing-masing mengingat jam istirahat sudah berakhir sejak ia kembali dari parkiran setelah mengantar Shilla untuk pulang. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk menelepon supir pribadinya dan pulang. Alvin yakin kondisi sahabat sejak kecilnya itu lebih buruk dari sebelumnya setelah pertengkaran di UKS tadi.

“HEH!!!”

BRUKK!

“Auww… argh!”

Wajah Alvin memucat. Ia meringis, mengerang tertahan. Baru saja seseorang mendorongnya  dari samping dengan begitu keras hingga bahunya membentur loker siswa yang tengah dilewatinya. Ia bahkan langsung jatuh terduduk. Butuh satu menit untuk Alvin menetralisir sakit di dadanya karena terkejut dan juga karena benturan di bahunya yang entah kenapa langsung merambat cepat menciptakan sakit di jantungnya juga, sebelum menatap orang yang baru saja mendorongnya.

Alvin menarik nafas dalam. Diturunkannya tangannya yang sejak awal nangkring di dadanya. Lantas setelah itu ditatapnya orang itu. Sebelum memastikan siapa yang melakukan tindakan kasar itu, Alvin sudah dapat menduga siapa yang melakukannya. Tak ada yang pernah berbuat kasar padanya selain adiknya sendiri. “Kalau lo mau ngebully orang, gue bukan orang yang cocok,” tukas Alvin membuat ekspresi lawan bicaranya itu semakin mengguratkan kemarahan. Bersusah payah ia menyembunyikan sakitnya dan segera bangkit.

Listen to me, Alvin Jonathan! Never  take care of my business! Don’t intervene on my life!” Sivia—si pendorong—berteriak marah. Ditatapnya wajah pucat Alvin dengan sengit. Nafasnya memburu setelah berteriak sekeras itu. Beruntung lokasi mereka cukup jauh dari tempat belajar mengajar sehingga teriakan Sivia tidak akan mengganggu siapa pun.

Awalnya ketika Alvin tahu kalau bukan Dea yang mendorongnya melainkan Sivia, ia mengernyit bingung. Seingatnya tadi pagi Sivia dan ia baik-baik saja. Meski kejadian tadi pagi—ketika ia menggoda Sivia—tidak bisa dibilang suatu kemajuan untuk membuat Sivia berubah menjadi lebih baik, karena Alvin memang belum memulai rencananya, ia yakin tidak ada alasan untuk Sivia berbuat hal sekasar ini padanya. Tapi begitu mendengar kata-kata yang Sivia lontarkan barusan, Alvin tahu kalau Sivia sudah tahu tujuannya pindah ke kelasnya. Itu alasan kenapa gadis cantik itu begitu marah padanya. Memang, tidak ada alasan untuk tidak marah ketika kehidupan kita, kenyamanan kita, diganggu bahkan dituntut untuk diubah. Meski memang itu untuk kebaikan, pasti sangatlah sulit.

“Jangan ganggu hidup gue! Jangan coba-coba masuk dalam kehidupan gue atau gue bakalan buat kacau kehidupan lo! Jangan pernah lakuin apa pun dengan gue dan hidup gue! Jangan merubah apa pun yang ada dalam diri gue!”

“Gue gak pernah berniat. Gue gak pernah ada maksud untuk merubah apa pun.” Alvin berujar santai. Disandarkannya tubuh ringkihnya di balik loker. Sumpah demi Tuhan, Alvin bahkan ingin pingsan saat itu juga mengingat dadanya begitu nyeri dan tubuhnya sangat lemas.

“Kalau gitu, jauhi gue! Kembali ke kelas IPA dan jangan pernah berusaha menuruti perintah konyol nyokap gue dan kepala sekolah.”

“Gue gak pernah bermaksud merubah apa pun. Gue hanya ingin menuntun lo dan berjalan di samping gue sebelum akhirnya gue berhenti dan biarin lo berjalan di depan gue.” Jeda untuk mengambil nafas dan kemudian kembali berujar, “berjalanlah lebih dulu. Tak perlu menengok ke belakang. Karena saat kau melakukan itu, tanpa kau sadari aku sudah berjalan mendahuluimu. Aku akan mengunggulimu.”

Untuk beberapa saat Sivia terdiam, ia menatap Alvin tidak percaya. Kata-kata terakhir Alvin membuatnya berpikir lebih keras. Ia sadar kalau apa yang Alvin ucapkan barusan adalah kata-kata yang pernah terlontar dalam hatinya malam itu. Malam di mana ia melihat Alvin berjalan memunggunginya. Malam di mana ketika ia benar-benar merasa begitu ingin mendahului Alvin. Kenapa laki-laki pucat itu tahu ia mengatakan hal itu padahal jelas-jelas ia mengatakannya dalam hati? Sivia bertanya-tanya.

“Gue gak mau berjalan lebih dulu. Gue lebih seneng kalau kita berjalan bersama. Setelah itu, gue janji bakal berhenti dan biarin lo berjalan lebih dulu dari gue.”

Sivia baru ingat. Ia menulisnya di buku catatannya. Dan ia yakin Alvin membacanya tadi pagi. Ditatapnya Alvin yang mulai tertunduk dengan lebih sengit. Apa pun alasan Alvin, ia tidak suka Alvin berada di dekatnya. Ia tidak suka Alvin melakukan apa pun untuk hidupnya. Dan dalam hitungan detik, ia maju mendekat ke arah Alvin. Ditekannya dada Alvin dengan maksud membuat tubuh itu semakin tertekan di balik loker. Alvin mengangkat wajahnya dan menatap Sivia dengan senyuman sebelum akhirnya ia menutup matanya dengan rapat, digigitnya bibir bawahnya menahan nyeri. Tangan Sivia yang menekan dadanya sama sekali tidak berarti apa-apa, sama sekali tidak menciptakan nyeri sedikit pun. Tapi tangan kasat mata itu, tangan lain di dalam tubuhnya yang saat ini tengah bermain-main dengan jantungnya yang membuatnya terlihat begitu payah.

“Belum selangkah, lo bahkan sudah ketakutan begini! Kalo lo bisa berjalan sejajar dengan gue, lakukan saja!” Sivia menjauhkan tangannya setelah sebelumnya mendorong Alvin lagi. Alvin berucap syukur karena Sivia menganggap kalau reaksinya adalah bentuk ketakutan. Alvin tidak pernah ingin Sivia tahu sisi terlemah sesungguhnya dalam hidupnya.

Gadis itu menghentakan kaki kesal sebelum akhirnya melenggang pergi meninggalkan Alvin yang langsung terduduk. Segera mungkin ia mengeluarkan ponselnya.

“Yo, gue di loker sekolah. Tolong… obat gue!”

-----------------------

“Ayah. Ibu. Kakak. Paman. Bibi. Monumen Nasional. Jakarta. Albider.  American Hospital. NRG Hospital. Dr. Pitt. Suster Angel. Alvin…”

Laki-laki dengan kemeja kotak-kotak itu tampak asyik sendiri. Tak mempedulikan seberapa ramainya taman kota saat itu, ia tetap anteng duduk di salah satu kursi taman sembari melihat gambar-gambar di balik LCD Display Cannon EOS 60D-nya sambil bergumam pelan melafakan apa yang tampak di balik camera SLR kesayangannya itu. Terlihat seperti anak kecil yang sedang menghafal gambar-gambar binatang saja.

“Hah… apa benar semuanya gak bakalan percuma?” Laki-laki itu mendesah pelan. Dialihkannya bola matanya ke arah lain. Ia tidak benar-benar mengamati keadaan di sekitarnya karena ia jauh lebih sibuk memikirkan hal lain. “Kadang gue milih buat menggantung diri sendiri, atau meminum detergen, atau nyayat urat nadi, atau lompat dari menara Eifel, atau apa pun biar gue gak usah rasain kenyataan pahit ini. Tapi…” laki-laki itu menggantungkan kalimatnya. Dialihkan kembali tatapannya pada kameranya yang masih menampilkan gambar orang terakhir yang ia panggil Alvin itu.

“Gue masih mau liat siapa yang bisa bertahan lebih lama di dunia yang kejam ini, Alvin Jonathan…” Ia menatap lekat gambar Alvin yang jadi objek bisu lawan bicaranya. Lantas setelah itu ia tersenyum simpul. “Gue bahkan yakin perjuangan lo jauh lebih keras selama ini. Mari bersaing siapa yang berhasil membujuk Tuhan untuk memberikan jatah hidup lebih banyak sampai mimpi kita terwujud.” Dan setelah itu ia tertawa pelan menyadari sikap bodohnya berbicara dengan gambar seperti itu.

“Gue harus berusaha lebih keras sampai—

—argh…”

Laki-laki itu mencengkram kepalanya kuat-kuat saat sakit yang tidak tertahankan terasa menusuk bagian itu. Ia memejamkan matanya serapat mungkin, menahan nyeri. Nafasnya mulai memburu seiring meluncurnya cairan merah pekat dari salah satu lubang hidungnya. Sial! Ia mengumpat pelan. Diamankannya camera SLR-nya di samping tubuhnya. Beberapa orang menoleh padanya namun kemudian berlalu begitu saja ketika mereka mendekat, si pemilik Cannon EOS 60D itu memberi isyarat ia baik-baik saja dan tidak usah mendekat.

Buru-buru laki-laki dengan rambut agak sedikit panjang itu mengobrak-ngabrik isi tasnya begitu ia merasa sakit itu tak bisa dihalaunya lagi. Ia butuh pil-pil ajaib itu untuk menghentikan aksi gila penyakitnya. Setelah ia menemukan apa yang ia cari di dalam ransel palazzo hitamnya, dengan agak tergesa ia menjejalkan pil-pil dengan ukuran cukup besar itu ke dalam mulutnya. Tanpa air ia menelan pil pahit itu. Salahkan ia yang selalu lupa membawa air.

Butuh beberapa menit untuk obat itu bereaksi dan menghilangkan sakit mencekam di kepalanya. Ketika sakit itu mulai mereda, ia segera mencoba menghentikan aksi mimisannya yang lumayan banyak. Darah sampai mengotori jeans hitamnya. Dalam hati ia merutuk tiada henti.

“Apa yang gue lakuin memang selalu berakhir percuma. Gak ada hasil sama sekali!”

----------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225
Pin : 5467BAFB

Jangan lupa sisipkan komentar. Semakin banyak yang komen, semakin cepat update. *merajuk* hehehe..

Terimakasih ^.^

5 komentar:

  1. Yeay! Dilanjut juga. Sempet frustasi gak bisa ngasih komentar di part kemarin -,-
    yang terakhir itu siapa ya? Cakka? Entahlah :-D
    Sivia sadis. Tapi aku suka! Kan gak enak juga kalau ada orang tiba tiba ikut campur urusan kita. Kekeke~
    entah cuma perasaan atau bukan, kayaknya part ini lebih pendek dari part sebelumnya.
    Emm. . Bingung ngetik apalagi. Pokoknya, next lagi kak! Ditunggu bagian para cowok menderita :)

    BalasHapus
  2. wohooo, update lagi \(>.<)/
    adegan yg terakhir itu cakka ya kak ??? ya kan?? Yakan?? Cakkanya sakit juga ya kak T_T tapi aku suka yang hurt comfort macem ni wkwkwk
    apa nanti ada scandal cinta segi empat dea-deva-ify-rio #sotoy (=.=")
    si iel idupny miris bgt ys hohoho
    kak, kok aku ngerasa part ini pendek ya kak, apa aku yg menikmati bacanya eh tiba2 ketemu tbc #kodebiardipanjangin :D
    yo wis lah lanjut, kalau bisa seminggu sekali #ngarep (=.=\/)
    #ngomong-ngomong aku dah bisa buka kolom komennya sekarang

    BalasHapus
  3. Gak sabar liat cakka tersiksa hohoho

    BalasHapus
  4. Adegan yang terakhir Ray kalo menurut aku. Karena--kalo gak salah inget--di intro ada Ray juga. Dan kalo lagi lagi gak salah inget, Ray belum muncul dari part kemaren kemaren. Iyakan kak? Menurutku gak mungkin salah satu dari CRAG, soalnya siapa dari mereka yg suka bawa bawa SLR? Yakan yakan. Ah tapi au ah. Gue kan sok tau.-. Jadi lanjut aja yah kak, jangan toge eh maksudnya tega bikin kami para readers penasaran disini/? .-.

    BalasHapus
  5. Btw, nama saya terpampang nyata di atas situ.-. Hihihi Iya kak.. Makasih penjelasannya. Sekarang aku ngerti *yeay* #apaancoba. Kalo gitu semangat yah kak! Jangan bosan buat ngelanjut cerita ini. Semoga gak ada halangan pas berusaha ngerombak cerita ini. Ganbatte!! Lagi._. Hihi

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea