Kamis, 11 Juni 2015

Separation -Lima belas-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 07.19


SEPARATION

-Lima belas-

-------------------

Setelah menghabiskan satu minggu lamanya di rumah sakit, laki-laki yang saat ini mengenakan jaket lebih tebal dari biasanya itu kembali berjalan menyusuri lorong-lorong bangunan besar bernama SMA Albider. Langkah santainya seirama dengan langkah dua orang lainnya yang saat ini berjalan beriringan dengannya.

“Oh, ya, Vin. Ngomong-ngomong lo kok pindah ke kelas Shilla, sih?” Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Alvin, Ify melontarkan pertanyaan  yang beberapa hari ini membuatnya penasaran.

“Hmm, itu…”

“Apa ada hubungannya sama aksi pingsannya lo di depan rumah gue?”

Kompakan Alvin mau pun Ify menoleh ke arah Cakka yang saat ini berjalan di antara mereka. “Pingsan? Di rumah lo?” tanya Ify tidak mengerti. Kerutan di dahinya mulai bermunculan.

“Semalam gue lihat rekaman CCTV di depan rumah gue. Waktu itu lo kumat. Lo sempet telponan dan gak lama kemudian kepala sekolah dateng nyelamatin lo. Terus besoknya lo pindah kelas ke kelas IPS. Sebenarnya ada apa? Lo gak punya masalah apa pun sama kepala sekolah kan, Vin?” Cakka menatap Alvin meminta jawaban yang sesungguhnya. Tidak mempedulikan pertanyaan Ify sebelumnya. Sebenarnya, yang jadi pertanyaannya itu kenapa Alvin tidak bilang kalau ia benar-benar sakit waktu itu? Kenapa ia bersikap baik-baik saja dan malah membiarkan dirinya pingsan di depan rumah. Itu bahkan membuat Cakka jauh lebih kecewa. Setelah Mas Elang memberi tahu soal rekaman itu, perasaan bersalah terus menghantuinya.

“Ngga kok, Kka. Lo santai aja… Gue sama kepala sekolah kan emang udah deket dari pas gue masuk sini juga.”

"Gue gak percaya kalo alasannya cuma itu."

"Ayolah... cerita aja. Lo ada masalah apa sama Pak Aris? Gak usahlah main sembunyi-sembunyiin masalah kayak gini. Kita kan sahabatan udah lama." Ify ikut nimbrung.

"Kayak yang lo berdua nggak aja." Alvin mencibir. Setelahnya ia terkekeh begitu kedua sahabatnya itu langsung tutup mulut tanpa komentar. Toh, kenyataannya memang seperti itu. Bahkan kedua sahabatnnya yang saat ini berjalan bersamanya itu terkenal dengan pribadi yang super tertutup. Mereka sangat pandai menyekap kuat permasalahan hidup mereka tanpa boleh orang lain tahu, bahkan sahabat mereka sendiri.

Baik Cakka mau pun Ify yg masih diam, hanya merenggut mendengar kata-kata Alvin yang sepenuhnya tepat. Tapi, sungguh! Tidak ada maksud untuk menyembunyikan apa pun. Mereka hanya tidak tahu bagaimana cara mencurahkan perasaan mereka.

"Baiklah... baiklah... jadi apa yg harus gue ceritain sama lo berdua?" Akhirnya Alvin menyerah. Tidak enak juga melihat kedua temannya membisu. Lagi pula, apa yang dihadapinya sama sekali bukan masalah besar. Mata Ify dan juga Cakka sama-sama berbinar mendengar kata-kata Alvin.

-------------------

"Jadi bagaimana, Pak? Sudah ada rencana untuk membuat Sivia berubah ke arah yang lebih baik?"

"Saya belum yakin, Bu jika saya sendiri sanggup membuat putri Ibu berubah, mengingat tanggung jawab saya tidak hanya pada Sivia saja. Melainkan semua siswa di Albider ini juga. Guru-guru yang lain pun sependapat dengan saya."

"Tolong, Pak. Bapak usahakan yang terbaik untuk Sivia. Jujur saya sudah angkat tangan menghadapinya. Saya bergantung sekali pada Bapak dan sekolah ini. Dan juga tolong jangan beritahu suami saya tentang ini semua."

"Sebenarnya tidak ada guru mau pun sekolah yang ingin siswanya gagal dan berperilaku buruk. Hanya saja, seperti yang Ibu tahu. Guru itu manusia biasa yang segalanya terbatas. Kami tidak bisa mengubah semua siswa dengan jumlah banyak, terlebih jika tidak ada kesadaran dari diri siswa itu sendiri."

"Memang benar, Pak..."

"Tapi Ibu tenang saja. Saya sudah menyusun rencana lain. Saya sudah meminta bantuan pada salah satu siswa terbaik di Albider ini. Saya percaya ia bisa membuat Sivia benar-benar berubah."

"Siapa?"

"Namanya Alvin Jonathan. Ibu bisa percaya padanya."

"Kalau begitu, panggil dia. Saya ingin bertemu dan bicara dengannya."

"Hm... tidak bisa, Bu. Sudah enam hari ini Alvin tidak masuk sekolah."

"Enam hari? Yang benar saja... bagaimana mungkin Bapak mempercayakan anak saya pada siswa yang bahkan berani membolos sebanyak itu."

"Ibu tidak perlu khawatir. Alvin tidak masuk bukan karena membolos, tapi—"

"Kak Via! Lo ngapain di sini? Katanya lo mau kasih tau rencana buat kerjain kakak gue."

"Hah? Ah, iyaaa.."

Sivia mendengus sebal. Percakapan antara kepala sekolah dan ibunya di balik pintu ruang kepala sekolah kemarin lusa, berputar tanpa jeda dalam kepalanya. Ia sama sekali tidak habis pikir kalau Alvin dipindahkan ke kelasnya semata untuk menyeretnya ke arah yang—tentu dalam pemikiran ibunya—lebih baik. Menyebalkan! Lihat saja, semuanya tidak akan semudah yang kalian pikirkan. Sivia merutuk dalam hati.

Sebentar ia menatap tulisan di balik buku tulisnya yang random luar biasa. Ia sendiri bahkan tidak tahu apa alasan menulis hal-hal tidak penting seperti itu. Lantas dialihkannya bola matanya ke arah bangku kosong di sampingnya.

Ke mana anak itu, heh? Batinnya. Coba saja kalau waktu itu Dea tidak mengganggu aksi mengupingnya. Pasti ia sudah tahu kenapa laki-laki kurus itu absen selama itu. Sebenarnya ia ingin bertanya, tapi gengsinya bahkan jauh lebih menggunung ketimbang rasa penasarannya. Entahlah, ia tidak tahu perasaan apa yang kini membelit hatinya. Yang pasti tanpa ia sadari, setiap hari, ia selalu menyimpan sesuatu bernama harapan. Harapan kalau orang yang baru satu hari duduk dengannya itu segera menghuni kembali bangku kosong itu. Ia tidak tahu kenapa ada harapan seperti itu. Apa mungkin itu yang orang bilang...

"Kangen, ya? Waahh.. sebanyak itu ya lo ngangenin gue?"

"Hah?" Sivia dengan gerakan cepat, menoleh ke arah suara yang baru saja tertangkap indera pendengarannya. Ia menatap Alvin yang sudah duduk di sampingnya dengan bingung. Terlebih ketika Alvin merebut buku tulisnya, mengamatinya sebentar, lantas membuka halaman kosong lainnya sebelum menulis sesuatu.

"604800 detik. Sebanyak itu, kan lo ngangenin gue? Tiap detik lo gak pernah berhenti mikirin gue, kan?" Alvin melingkari salah satu angka yang Sivia tulis berulang kali di bukunya—maksudnya angka 604800. Lantas ditatapnya Sivia yang menatap tak percaya buku tulisnya.

"Pede! Lagi pula, sok tau banget sih lo," ketus Sivia sebal. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Kelas masih tampak sepi. Rio dan Shilla bahkan belum datang.

"604800 itu sama dengan 10080 menit  168 jam yang artinya 7 hari. Pas sama jumlah absen gue, kan? Lo pasti bertanya-tanya kenapa gue langsung tau aja maksud angka yang lo tulis di buku lo ini.” Tanpa menoleh ke arah Sivia, laki-laki berjaket Adidas biru cyan itu, mulai asyik menuliskan sesuatu di balik buku Sivia.

Tanpa sadar, saat Alvin kembali mencorat-coret bukunya, bola mata gadis cantik itu juga kembali memperhatikan laki-laki ber-IQ tinggi itu. Ia mengamati tiap gerakan tangan Alvin yang mencoretkan banyak angka di bukunya itu tanpa protes, seolah ia menikmati setiap gerakan dan penjelasan Alvin mengenai seberapa sering ia memikirkan laki-laki itu. Mungkin semuanya tepat. Tapi tetap saja, ada waktu meski itu kurang dari sedetik, ada bagian hatinya yang menyangkal kebenaran itu.

“You’re  wrong, you know?!” tukas Sivia sebal.

“Kalau gue salah, maksud 604800 itu apa ya?” Alvin tersenyum, menunjukan angka 406800 yang hampir memenuhi satu halaman penuh yang iseng Sivia tulis. Gadis itu mendengus kesal. Ia memang menulis semua angka itu. Tapi bukan seperti itu juga maksudnya. Atau, memang seperti itu, ya? Entahlah, ia melakukannya tanpa sadar.

“Jangan kepedean!” Alvin terkekeh. “and don’t feel the most clever” Gadis itu merebut paksa bukunya dari tangan Alvin dengan kesal. Gerakannya yang tergesa-gesa membuatnya tanpa sadar menyikut dada Alvin. Alvin refleks saja melenguh. Menekan dadanya. Sivia yang menyadari hal itu menatap Alvin penuh selidik.

“Kenapa lo? Bengek?” Sivia bertanya dengan cuek.

Alvin menggeleng. Tersenyum dan menahan sakit itu agar tidak bertindak lebih jauh lagi. Jantungnya memang sangat sensitif akhir-akhir ini.

--------------------

Ohayo (selamat pagi), Mr. Son! Ini hari pertama kamu berkunjung ke Albider. Sekolah baruku.”

Laki-laki itu berbisik pelan. Ia melambai-lambaikan tangannya dengan gerakan cepat meski lawan bicaranya saat ini berada tepat di hadapannya. Sony HD-XR200E, handycam dengan panggilan Mr. Son itu, dengan anteng merekam apa yang tengah dilakukan pemiliknya. Seolah tidak bosan mendengar apa pun yang keluar dari mulut yang tidak pernah bisa diam itu.

Ia sedang berada di taman belakang sekolah saat ini. Keadaan sekolah yang masih begitu pagi, membuat suasana taman belakang itu begitu sunyi. Hanya ada beberapa siswa yang lewat, melirik sekilas ke arahnya dan setelah itu pergi begitu saja. Tidak begitu peduli dengan aktifitas Deva. Apa yang Deva lakukan bukan hal aneh. Anak-anak yang update di sosial media, pasti senang melakukan hal itu.

“Ini taman belakang  Albider. Udara di sini jauh lebih sejuk ya? Hahh… saat musim dingin di Jepang, kadang aku selalu rindu dengan tempat kelahiranku ini.” Kali ini Deva membiarkan kameranya menyorot segala objek di taman itu. Dan ia melakukan itu selama beberapa waktu. Sampai ia sadar kalau ia harus segera kembali ke kelas.

Laki-laki murah senyum itu langsung saja berbalik meninggalkan taman belakang sekolah. Ketika ia mulai melewati koridor, ia menghentikan langkahnya di depan ruangan berlabel Perpustakaan. Dibiarkannya bola matanya berputar mengelilingi suasana sekolah yang sudah mulai ramai itu. Sepuluh menit lagi bel masuk berbunyi. Jadi wajar jika para siswa sudah mulai berdatangan.

“Sepuluh-dua. Sepuluh-dua. Sepuluh-dua.”Sambil menggumamkan kalimat yang sama, Deva kembali melangkah. Diliriknya tiap label ruangan yang menggantung di sisi pintu. “Hah, I know if this school is so big. Tapi, masa iya sih aku lupa di mana kelasku sendiri?” Deva menggerutu. Ditatapnya handycam kesayangannya dengan lirih, seolah meminta bantuan pada Mr. Son-nya itu untuk menemukan ruangannya yang benar-benar ia lupakan. Sungguh! Ia benar-benar lupa. Albider ini sangat luas dan ada lebih dari tiga lorong di sekolah ini. Wajar jika laki-laki yang baru empat hari ini menjadi bagian dari Albider itu sulit mengingatnya.

“Heh, anak baru! Ngapain lo di sini? Bentar lagi masuk tau!”

Deva langsung mendongak. Ia mengernyit sebentar saat bola matanya menangkap sosok yang ia yakini teman sekelasnya itu. Sambil berusaha mengingat siapa nama gadis di hadapannya itu, dibiarkannya bola matanya mengamati gadis itu. “Dea…” Akhirnya Deva ingat. Diarahkannya handycamnya ke arah Dea yang langsung menghindar dari sorotannya.

“Iiishh… dasar aneh!” Dea melangkah meninggalkan Deva. Deva buru-buru mengikuti langkah gadis itu sambil sesekali memanggil gadis itu untuk tidak meninggalkannya. Dea acuh saja dan terus berjalan. Mr. Son  masih merekam  jelas punggung Dea yang berjalan jauh di hadapannya. Sampai di depan pintu ruangan berlabel X-2, Deva mengganti arah fokus kameranya pada label kelas yang tergantung di sisi pintu. Ternyata kelasnya tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri tadi. Lantas setelah itu ia berjalan ke arah tempat duduknya.

Anoo.. aku kan murid baru di sini. Harusnya kamu menyambutku dengan baik. Tapi, dari awal aku masuk sini, kamu gak merespon baik kehadiranku. Kenapa?” Tanya Deva. Ia membalikan badannya guna menatap Dea yang memang duduk di belakangnya. Memang, dari semua siswa, hanya gadis dingin itu yang tidak merespon dengan baik kehadirannya selama ini. Ia tampak acuh, tak peduli, sinis, dan kadang galak sekali.

“Terserah gue, dong mau nyambut lo dengan baik atau nggak. Lagian, lo pikir lo itu siapa? Presiden? Kenapa harus gue sambut dengan baik?” jawab Dea ketus.

Deva mengangguk mafhum. Tentu saja Dea benar. Ia bukan seorang Presiden atau orang penting yang harus disambut dengan wah. Tapi meski pun begitu, bukan berarti Dea harus menyambutnya dengan dingin dan sinis juga, kan? Bahkan seingatnya, dari awal masuk sekolah, Deva merasa tidak melakukan kesalahan apa pun pada gadis yang sejak awal menarik perhatiannya itu.

Sambil mencoba mengingat-ngingat kesalahan apa yang ia perbuat, ia kembali menyalakan handycamnya. Siapa tahu kalau ia tidak menyimpan ingatan itu di kepalanya, ia menyimpanya di balik memori Mr. Son-nya.

"Lo gak ada kerjaan banget ya? Perlu gitu rekam-rekaman gitu?" Dea merutuk sembari memperhatikan aktifitas Deva. Deva tak menanggapi sampai bel masuk berbunyi, dan tak lama setelah itu seorang guru masuk ke dalam kelas.

Pelajaran pertama hari ini, sejarah.

Ya, sejarah! Salah satu pelajaran yang begitu Deva juga Dea benci.

Deva menghela nafas sembari memutar tubuhnya menghadap ke arah depan. Fokus laki-laki penyuka film itu masih tertuju pada handycamnya. Dea yang merasa pertanyaannya diacuhkan hanya mendengus tak suka. Samar-samar ia mendengar suara Deva yang masih saja sibuk dengan handycamnya. Laki-laki itu tampak sedang merekam dirinya sendiri. Tak mempedulikan guru sejarah yang sudah mulai membuka-buka buku paketnya.

"Kau tau, Mr. Son? Kenapa coba perang harus dicegah?"

Dea mengernyit. Tapi ia turut memikirkan pertanyaan laki-laki berbahasa—yang menurutnya— formal itu.

"Karena, biar tidak ada lagi nama pahlawan yang harus dihafal."

Dan mendengar jawaban itu, Dea tertawa kecil. Deva mematikan handycamnya, menyimpannya ke dalam tas dan mulai mengeluarkan buku catatannya yang terlihat masih baru. Dilihatnya laki-laki itu dengan heran. Ia sudah sibuk mencatat semua hal yang dijelaskan oleh guru sejarah mereka. Dea bahkan tidak ingin repot-repot melakukan itu. Dari awal, Dea yakin kalau teman barunya itu termasuk siswa teladan. Dan Dea tidak suka dengan laki-laki seperti Deva. Terlalu aktif, banyak bicara, selalu ingin menjadi pusat perhatian, ceria, dan tentu saja aneh.

-------------------

Shilla memijit pelan keningnya. Kepalanya benar-benar terasa penuh. Seminggu ini, ia bahkan tidak bisa tidur dengan baik. Masalah antara ia, Iel, dan tentu saja Rio, memaksa tidak hanya otaknya tapi juga hatinya bekerja lebih keras. Ia yakin kalau sahabatnya yang lain juga mengalami hal serupa. Mengingat ternyata hubungan Rio dan Iel tidak kunjung membaik. Mereka benar-benar baikan di hadapan Alvin saja. Setelah itu mereka kembali pada medan perang dingin yang entah kapan berakhir.

Tapi, satu hal yang membuat Shilla merasa begitu terpuruk. Membuat Shilla merasa hatinya begitu terluka. Membuat Shilla merasa kalau tidak ada setitik celah pun untuk ia mengambil udara.

Memang. Gadis mana yang tidak sakit hati, ketika terang-terangan disakiti, lantas diabaikan begitu saja. Tak dipedulikan. Diacuhkan. Seolah luka yang ia alami dalam sekejap bisa pulih tak berbekas. Bahkan sampai saat ini luka seminggu yang lalu itu masih terasa ngilu dan nyeri.

Nova memang sudah menemuinya dan meminta maaf padanya. Meski berat, gadis dengan sifat tak suka konsisten itu akhirnya memaafkannya. Tapi, Iel, kekasihnya, pujaan hatinya, orang yang tiap detik memenuhi memori otaknya, orang yang tidak pernah sekejap pun ia lupakan, orang yang ia posisikan di tahta teratas sanubarinya, tanpa perasaan mengacuhkannya begitu saja. Padahal langit senja waktu itu pun tahu ia dilukai, ia dikhianati. Lalu ke mana ia? Bahkan tidak sehari pun setelah hari itu, ia meminta maaf dan mencoba membujuk gadisnya.

Air mata Shilla terbendung sempurna.

Dibayangkannya wajah itu. Wajah yang selalu membingkai indah di matanya, wajah yang membuat ia lupa bahwa tak ada hal lain yang indah di dunia ini selain wajah itu. Wajah Iel. Wajah kekasihnya yang setelah hari itu, setelah ia disakiti, mengabaikannya, menganggapnya tak ada sama sekali.

Shilla tak tahan lagi. Dadanya sesak. Pertahanannya runtuh.

Ia menangis di tengah-tengah pelajaran bahasa.

Kiki teman sebangkunya menoleh dengan cepat begitu mendengar isakan Shilla. Disusul dengan teman yang duduk di depannya dan di belakangnya. Dan kemudian Alvin, Rio, dan seluruh teman sekelasnya. Tak lupa Bu Winda, guru mata pelajaran bahasa mereka. Isak tangis Shilla cukup keras dan terdengar begitu memilukan. Jangan lupakan Shilla yang tidak pernah bisa menahan dan menyembunyikan perasaannya.

"Lo kenapa, Shil?" Kiki orang pertama yang memberi pertanyaan. Lalu diikuti oleh pertanyaan yang serupa dari teman-temannya yang lain.

Kompakan saat itu juga, Alvin dan Rio berdiri dari duduknya. Melangkah mendekati meja Shilla. Raut bingung dan cemas berpadu di balik wajah-wajah tampan itu. Sivia hanya menatap adegan itu dengan sinis. Cari perhatian banget sih tuh cewek! Batinya dalam hati.

"Ada apa, Shilla?" Bu Winda berjalan mendekat ke arah bangku Shilla yang sudah dikerubuni banyak siswa. Beberapa siswa memberi celah untuk guru yang terkenal asyik dan baik hati itu untuk mendekat ke arah Shilla.

"Lo kenapa, Shil? Sakit?" Kini giliran Alvin yang bertanya. Ia mengelus sayang rambut sahabatnya itu. Membuat beberapa orang menatap iri adegan itu. Rio memilih diam dan menunggu jawaban gadis yang masih menyembunyikan wajahnya di balik lengannya yang terlipat di atas meja itu.

Meski pelan, Alvin bisa melihat dengan jelas kalau Shilla mengangguk, mengiyakan pertanyaan Alvin. Ya, ia memang sakit. Di sana. Di dalam hatinya.

"Bu, saya boleh membawanya ke UKS kan?" Alvin bertanya. Menatap gurunya, meminta persetujuan. Bu Winda mengangguk dan tersenyum ke arah murid yang selalu ia banggakan itu.

"Saya akan menemaninya juga, Bu. Saya tidak percaya kalau orang sakit bisa merawat orang sakit."

Tanpa menunggu persetujuan, Rio, orang yang memberi pernyataan barusan segera melenggang, berjalan mengikuti Alvin dan Shilla yang sudah berjalan di depannya. Lagi beberapa siswa menatap iri melihat adegan itu. Persahabatan mereka memang membuat semua orang iri. Sivia tidak begitu mempedulikan adegan itu. Ia lebih tertarik untuk memikirkan kata-kata Rio.

Bu Winda menghela nafas panjang."Kita lanjutkan pelajaran."

---------------------

Shilla hanya bisa menatap haru teman-temannya yang saat ini mengelilingi ranjang tempatnya duduk. Sejak awal dibawa ke UKS, Shilla tidak berniat berbaring meski Alvin memaksanya. Tentu saja. Sakit yang Shilla rasa bukan artian sakit yang sesungguhnya. Tapi, ia merasa sakit—maksudnya, sakit hatinya—sedikit memudar begitu Ify, Agni, dan Cakka langsung melesat ke UKS begitu mendengar kabar dirinya masuk ke dalam ruangan yang sering ia kunjungi itu. Tentu saja itu karena Alvin yang juga sering sekali menghabiskan waktu di ruangan beraroma obat itu. Raut-raut khawatir tercetak jelas di balik wajah sahabat-sahabatnya itu.

Tapi setelah akhirnya ia menceritakan kronologis yang sebenarnya kenapa ia menangis sekeras itu, mau tidak mau membuat ekspresi cemas sahabat-sahabatnya berubah total. Itu memang hal konyol. Wajar jika kelima sahabat itu langsung menyeringai kesal karena gemas.

"Haaahh.. si Iel itu memang menyebalkan! Lo gak usah khawatir, gue bakal kasih dia pelajaran kalo ketemu." Cakka yang memposisikan diri di samping kiri Shilla, mengusap pelan kepala Shilla. Mencoba menenangkan gadis yang selama ini selalu berusaha ia lindungi. Shilla tersenyum manis. Alvin selalu bilang kalau ada banyak orang yang menyayanginya. Harusnya ia lebih bersyukur untuk itu.

Agni yang melihat adegan itu hanya tersenyum envy. Meski dari bola mata Cakka tidak terpancar sorot lain selain rasa sayang terhadap sahabat, tetap saja Agni merasa begitu...

...apa ya? Cemburu? Oh, tid—

"Lo kenapa, Shil?"

Belum sempat Agni menyelesaikan monolog dalam hatinya, pertanyaan orang yang baru saja membuka pintu dan berjalan mendekat ke arah kerumunan itu, mengalihkan perhatiannya juga seluruh orang yang ada di dalam ruangan.

"Gak usah sok peduli deh lo!"

Sungguh, pernyataan barusan membuat semua orang tercengang tak terkecuali. Pasalnya, bukan Shilla yang sempat sakit hati dan juga bukan Cakka yang memang berniat memberi pelajaran pada Iel yang melayangkan kata-kata menusuk itu. Melainkan sosok yang selama ini selalu diam. Sosok yang tidak pernah berkomentar apa pun dan lebih menyibukan dirinya dalam suasana dingin tanpa kalimat. Rio.

"Peduli gak peduli, itu bukan urusan lo!" Iel berjalan mendekat ke arah Shilla. Ditatapnya gadisnya yang lebih memilih menundukan kepalanya itu. Yang lain hanya memperhatikan itu dalam diam. Ify lebih fokus pada Rio yang tampak menahan marah. Ada banyak pertanyaan menusuk-nusuk hatinya ketika kata-kata kasar Rio terdengar.

"Ada apa?" Tanya Iel lembut. Shilla tak menjawab. Laki-laki itu bahkan tak menyadari kesalahannya. Laki-laki itu benar-benar tak tahu alasan gadisnya digiring menuju UKS sekarang ini. Menyadari hal itu membuat Shilla merasa perasaannya semakin kacau. Dan saat itu pula ia kembali menangis. Alvin dengan sigap merangkul bahu gadis itu dan menenangkannya.

Iel hanya menatap tak mengerti gadis di hadapannya.

"Kalo lo cuma bisa nyakitin dia, lebih baik lo tinggalin dia aja sekalian. Gak usah sok pura-pura peduli padahal hati lo udah berpaling sama cewek lain!"

"RIO!"

Tak ada yang tidak kaget mendengar kata-kata Rio, teriakan Iel, dan juga isak tangis Shilla yang saling bersahutan. Ify bahkan sampai menggenggam erat rok Agni yang langsung menoleh heran ke arahnya.

"Gue tau ada Alvin di sini. Tapi gue gak bisa pura-pura semuanya normal-normal aja seperti kemarin. Terlebih liat sikap lo yang terlalu jauh urusi urusan gue!"

Kontan saja, mendengar hal itu, raut wajah Alvin berubah kecewa. Ia bahkan tidak tahu kalau ia sudah ditipu oleh kedua sahabatnya itu. Tapi, itu bukan hal yang harus dipermasalahkan di waktu yang panas seperti sekarang ini. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya agar Iel dan juga Rio berhenti saling berteriak seperti itu. Terlebih ada beberapa pasang mata yang melihat mereka di luar ruangan sana. Dea, Deva, dan juga Sivia berada di antara kerumunan sana.

"Sebenarnya, ada apa antara lo dan Shilla sampai seorang Rio bisa bersikap kayak gini, hah?" Dalam satu gerakan Iel mencengkram kerah seragam Rio. Cakka buru-buru berdiri untuk menghentikan perkelahian yang akan terjadi lagi setelah sebelumnya mencegah Alvin untuk ikutan menengahi mereka. Hei, bahkan Alvin baru saja keluar dari rumah sakit.

"Karena gue sayang sama Shilla! Dan gue gak suka dia nangisin cowok kayak lo!" Dengan tenang Rio menjawab pertanyaan Iel.

Memang, Rio adalah orang yang jarang bicara, Rio terlalu irit kata. Tapi mereka sama sekali tidak tahu kalau setiap kata yang keluar dari mulut itu, selalu sukses membuat semua orang yang mendengarnya tercengang tak percaya. Terlebih untuk Ify. Gadis berdagu tirus itu, entah untuk alasan apa, mundur satu langkah ke belakang guna menyandarkan tubuhnya di dinding UKS. Tubuhnya seketika terasa begitu lemas. Agni yang memang sejak tadi berdiri di sampingnya, tidak menyadari hal itu karena saat itu juga ia melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Rio dan Iel.

"Udah, Yel... ada banyak orang di luar. Lo ketos dan gue yakin lo tau ini bukan hal yang baik buat lo."

Agni membimbing tangan Iel untuk lepas dari kerah baju Rio. Setelah itu ia memberi kode pada Cakka untuk membawa Iel ke luar ruangan. Ia sendiri langsung memaksa Rio untuk duduk di ranjang yang lain bersebrangan dengan ranjang Shilla setelah Cakka berhasil membujuk Iel. Sementara Ify, sekilas ia memandang satu persatu sahabat-sahabatnya. Alvin di sana, tampak sedang memeluk Shilla erat, mengelus lembut kepala Shilla, menenangkan gadis yang paling labil dari yang lainnya itu dengan dekapan hangatnya. Dan di ranjang lainnya, Agni tampak menepuk-nepuk tangan Rio, memberikan beberapa nasihat agar laki-laki yang sedang digulung kemarahan itu untuk lebih tenang. Rio tampak tidak menolak hal itu meski fokusnya terarah pada hal lain dengan tatapan kosong. Dan di tempat lain, ia yakin kalau Cakka juga tengah berusaha menenangkan Iel dengan caranya.

Lalu?

Ify menarik nafas perlahan. Ditegakan tubuhnya yang terasa begitu lemas padahal sekali pun tak ada hal berarti yang dilakukannya. Sedikit tersenyum, lantas saja ia melangkahkan kakinya ke luar ruangan. “Semuanya baik-baik saja. Gak ada hal yang perlu dihebohkan.” Ia tersenyum sesimpul mungkin ketika melewati beberapa anak-anak yang masih berkumpul di sana. Deva menatap bola mata Ify serinci mungkin. Bibirnya tersenyum, tapi matanya tidak.

Dan setelah itu, gadis tertutup itu segera berjalan menjauhi tempat itu. Semula ia melangkah cukup pelan, dan sesuatu yang sudah tak mampu dibendungnya, akhirnya memaksa kaki jenjangnya melangkah cepat, cepat, cepat, dan pada akhirnya ia berlari dengan kencang. Suara sepatunya menggema di koridor sekolah yang sepi karena ia memutuskan untuk berlari ke arah tempat yang jarang dilewati siswa.Ia terus  berlari ke mana pun asal ia bisa menyembunyikan raut sedihnya, asal ia bisa menyembunyikan air matanya, agar tidak ada yang tahu kalau seorang Ify yang selalu energik dan ceria menangis selirih ini.

Di tiap derap langkahnya yang cepat, pertanyaan-pertanyaan itu pun terus terlontar dalam hatinya.

Kenapa? Kenapa hanya Shilla, Vin? Kenapa? Kenapa hanya dia yang lo peluk? Kenapa hanya dia yang lo tenangin? Kenapa bahkan lo gak lirik gue juga yang sebenarnya jauh lebih rapuh dari Shilla? Kenapa lo gak lihat gue yang sebenarnya jauh lebih terluka dari Shilla? Gue juga sahabat lo kan, Vin? Gue juga pengen lo tenangin. Gue juga pengen lo peluk kayak lo meluk Shilla. Gue juga pengen lo bilang kalau apa yang Rio bilang itu gak bener. Lo harusnya bilang ke gue kalo apa yang Rio bilang itu cuma peringatan biar Iel lebih merhatiin Shilla. Harusnya lo bilang gitu sama gue, Vin. Harusnya lo tenangin gue juga, Vin…

Ify mendudukan dirinya di taman belakang sekolah, tepat di bawah pohon mangga yang tengah berbuah. Ditekuknya lututnya guna dijadikan benaman wajahnya yang sudah basah karena air mata. Lantas hatinya kembali melirih pedih.

Dan lo, Kka! Gue tau gue gak kayak Shilla yang baiknya itu banget sama lo. Gue tau kadang gue suka ngomelin lo. Gue tau, Kka… tapi kenapa gue gak berhak juga dapet perhatian lo? Gue tau Shilla jauh lebih lama jadi sahabat lo. Tapi tetep aja kan, gue juga sahabat lo. Lagian kan udah ada Alvin yang jagain Shilla. Kenapa semuanya harus jagain dia padahal ada gue juga yang butuh salah satu dari kalian?

Ag… lo harusnya tadi topang tubuh gue, kan? Lo tuh harusnya rangkul gue tadi. Harusnya tuh gue yang lo papah dan dibiarin duduk di ranjang UKS. Bukan Rio, Ag. Bukan laki-laki menyebalkan yang udah buat gue patah hati berat gini.

Hati Ify terus meracau tak tentu. Ia sendirian sekarang. Tidak! Ia sama sekali tidak iri dengan Shilla. Hanya saja, saat ini ia juga ingin ada seseorang yang menenangkannya. Ia juga ingin seseorang yang menghapus air mata dan kesedihannya. Karena faktanya, ia juga baru saja terluka. Sangat terluka, bahkan luka itu jauh lebih dalam dari luka Shilla. Setidaknya Shilla masih mempunyai banyak orang yang mempedulikannya, termasuk Rio, orang yang begitu disayanginya. Tapi tidak dengannya. Ia bahkan dibiarkan menangis sendiri di bawah pohon mangga tanpa ada yang memeluknya. Lain dengan Shilla yang sudah di dekap oleh Alvin. Ah, ia yakin dekapan Alvin itu begitu hangat dan menenangkan. Bahkan selama bersahabat, ia tidak pernah merasakan pelukan Alvin. Beda dengan Shilla.

Ify terus menangis, sampai tangan seseorang mendekapnya erat.

“Jangan nangis…”

---------------------  

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225
Pin : 5467BAFB

Sebenarnya pengen nambahin satu scene lagi. Tapi kayaknya ini juga udah panjang. Jadi diputuskan buat di update di part selanjutnya aja.

Kasih komentar ya, biar tetep semangat lanjutinnya, karena jujur kalau separation ini cukup berat dan saya butuh sekali dukungan kalian. Setidaknya komentar kalian membuat saya terus berjuang buat lanjutin cerita ini. Hehehe…

Terimakasih ^_^

2 komentar:

  1. Huaaa kaaaak!! Kenapa si To be continue itu harus muncul di waktu yang gak tepat? Siapa yang meluk Ify kak? Alvin kah? Cakka? Rio? Atau Deva *eh? Duh.. Daripada aku nebak2 sendiri, mending kaka buruan next deh, hehe. Kenapa berat? Bukannya ini yang udah ada naskahnya di buku tulis 3 lembar itu yah ka? Eh ini gak sih? Atau cerbung lain :/ tau ah-_- lupa.-. Yang jelas next yah kaaak.. Ganbatte!!

    BalasHapus
  2. Next kak, udah gak perlu diragukan lagi. Ohyaa kak, part selanjutnya yang panjang ya. Siksa aja tuh Alvinnya biar mampus (yaAllah)

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea