Rabu, 24 Juni 2015

Separation -Tujuh belas-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 08.53


SEPARATION

-Tujuh belas-

-------------------

Ruangan bernuansa ungu cerah itu terasa begitu sepi. Hanya senandung kecil yang diciptakan bibir mungil itu yang menguasai ruangan super luas itu. Senyum di balik bibir tipisnya tidak bisa berhenti di setengah jam terakhir ini. Bahkan atap kamar dengan aksen luar angkasa itu pun menjadi sasaran senyum manisnya. Ruangan yang dipenuhi dengan poster dan banyak hiasan yang menempel itu tampak begitu cerah. Secerah hati gadis yang saat ini tengah berbaring terlentang menghadap atap.

“Enam ratus ribu empat ribu delapan ratus detik. Benarkah?
Di tiap detik ketika wajahmu membingkai di mataku.
Di tiap detik ketika jantung ini berdetak memanggil namamu.
Di tiap detik ketika hati ini berharap kehadiranmu…
Benarkah?”

Sivia mengubah posisinya menjadi telungkup setelah melafalkan bait-bait puisi yang mengalun begitu saja dari hatinya. Diraihnya buku diary-nya yang tergeletak sembarang di tempat tidur berukuran besar itu. Masih dengan senyum manisnya, dibiarkannya tangannya bergerak lincah di balik halaman bergambar lucu itu. Merangkai kata indah yang selama ini menjadi kesenangannya untuk menuangkan apa yang ada dalam hatinya.

“Alvin Jo—”

Belum sempurna tangan itu mengguratkan apa yang hendak ditulisnya, dengan gerakan kasar gadis berwajah cantik itu kembali membalikan tubuhnya. Dilemparnya buku tebal yang menampung semua perasaannya itu ke sembarang arah. Lantas ia mendesah dengan keras dan menatap tajam langit-langit kamarnya. Seolah di balik angkasa ciptaannya itu terlukis wajah orang yang saat ini tengah bermain-main dalam kepalanya.

“Ini yang gue takutkan. Ini yang gak pernah gue harepin, Vin. Lo masuk dalam hidup gue. Bukan mengubah apa yang ada dalam diri gue, tapi merasuk ke dalam pikiran gue, menanamkan benih-benih harapan yang nantinya bakal gue pupuk dan tumbuh namun tak dapat gue petik. Gue takut. Makanya gue gak ingin selangkah pun lo mendekat ke arah gue. Apa pun alasan lo, gue gak mau kayak gini.”

Sivia mendesah keras-keras. Ditutupnya bola matanya dengan lengannya. Sungguh ini yang tidak pernah diinginkannya. Ini alasan kenapa tadi siang ia marah pada Alvin. Karena belum selangkah Alvin masuk ke dalam hidupnya dan mengubah apa yang ada dalam dirinya, laki-laki pucat itu bahkan sudah berhasil mengusik hatinya, mengusik perasaannya. Dan Sivia benci akan hal itu. Terlebih ketika ia ingat adegan itu…

“Alvin lembut banget sama Shilla. Dia pasti sayang banget sama gadis cengeng itu.” Sivia kembali berujar. Sesaat kejadian tadi siang, ketika Alvin memapah Shilla menuju UKS, ketika Alvin memeluk Shilla, membelai sayang rambut Shilla, berputar kembali dalam kepalanya. Dan sungguh, entah kenapa ia tidak suka dengan itu semua. Ia benci. Benar-benar benci. Dan kebencian itu membuat ia semakin yakin untuk menyingkirkan Alvin dalam hidupnya. Mencegah Alvin memasuki dan mencampuri kehidupannya lebih jauh lagi.

Ia segera bangkit. Mengambil handphonenya dan mengetik pesan pada seseorang.

PRAANNGG!!!

Sivia terlonjak kaget saat suara pecahan itu terdengar begitu keras hingga telingnya. Laporan pengiriman pesan masuk. Ia menatap sebentar sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya ke  arah pintu kamarnya yang tertutup.

“Wanita tak berguna! Apa susahnya berhenti menjadi wanita murahan, hah? Urus anak bandelmu itu!!!”

“Jangan pernah panggil saya wanita murahan!!!”

“Karena memang seperti itu kenyataannya. Kamu gak ada bedanya dengan pelacur!”

“Saya bukan pelacur! Jaga mulut kamu!”

BRAAKKK!

Langsung saja Sivia menghempaskan tubuhnya kembali. Disumpalnya kedua telinganya dengan bantal. Ia benar-benar lelah. Sangat lelah. Kadang setiap kali telinganya mendengar pertengkaran itu, ia ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Dan air mata itu untuk kesekian kalinya mengalir meratapi kondisi keluarganya.

-----------------------

“Gue pulang ya, Vin. Istirahat yang banyak.”

Alvin mengangguk, melemparkan senyum terimakasihnya pada laki-laki yang saat ini berdiri di samping tempat tidurnya. Rio—laki-laki itu—tersenyum tipis dan segera beranjak dari kamar Alvin setelah sebelumnya berpamitan pada orangtua Alvin yang baru saja datang.

“Tante makasih banget loh, Yo, sama kamu. Udah mau anterin Alvin dan jagain dia juga sampai kami pulang,” papar mama Alvin.

“Sama-sama, Tante. Rio pulang dulu.” Dan setelah itu Rio berjalan meninggalkan kamar Alvin. Papa berjalan di belakangnya, berniat mengantar sahabat putranya itu sampai depan. Sempurna tubuhnya melewati pintu, Rio menghentikan langkahnya dan melirik ke arah Dea yang entah sejak kapan berdiri di sisi pintu itu.

“Dea? Ngapain di sana?” tanya Papa heran. Dea tak menjawab dan segera berlari menuju kamarnya. Debuman pintu terdengar cukup keras saat Dea menutup pintu kamarnya yang berada tidak jauh dari kamar Alvin. Dan tidak ingin ambil pusing, Rio kembali melanjutkan langkahnya. Ia ingin segera pulang dan mengistirahatkan tubuhnya. Ia merasa, hari ini adalah hari yang paling melelahkan.

Setelah mendapat panggilan super mendadak dari Alvin, Rio dilanda panik luar biasa. Meski ekspresinya saat itu terbilang datar dan biasa saja, jantungnya tetap berpacu dengan cepat. Ia buru-buru mengobrak-ngabrik ransel Alvin dan mencari sesuatu yang Alvin bilang obat. Setelah itu dengan tergesa ia berlari menuju lokasi di mana sahabatnya berada. Tidak peduli meski pada saat itu pelajaran sedang berlangsung.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika sedetik saja ia terlambat menemukan Alvin dan memaksa Alvin menelan obatnya. Alvin benar-benar dalam kondisi mengenaskan saat itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membawa Alvin pulang, mengingat tidak mungkin Alvin masuk kelas dalam keadaan super kacau. Dan keadaan rumah Alvin yang benar-benar sepi saat itu mau tidak mau menahan Rio untuk tetap tinggal dan menunggu orangtua Alvin kembali. Dan baru pukul setengah delapan ini ia bisa pulang.

“Kenapa gak panggil dokter?” tanya Mama sembari duduk di tepi ranjang Alvin. Mengelus lembut kepala Alvin.

“Alvin sudah memperhitungkan semuanya. Jika dalam satu jam kondisi Alvin gak juga membaik, Alvin bakal minta Rio bawa Alvin ke rumah sakit. Tapi, ya… beginilah. Alvin udah lebih baik, Ma. Tadi Rio merawat Alvin dengan baik.” Sungguh, tak ada yang mampu membuatnya merasa lebih baik ketika Rio dengan cekatan merawatnya. Tidak pernah terpikirkan sedikit pun kalau pemuda dingin macam Rio yang biasanya tidak peduli dengan apa pun, begitu memedulikannya. Ah, sahabat-sahabatnya kan memang seperti itu.

“Ini bukan matematika, sayang…” protes Mama tidak setuju. Harusnya Alvin memanggil dokter tadi. Penyakit Alvin bukan penyakit ringan yang bisa ditangani dengan mudah. Salah perhitungan sedikit saja bisa berakibat fatal.

“Ya udahlah, Ma… Mama istirahat gih. Alvin juga mau tidur.” Alvin menarik selimutnya setelah sebelumnya mencari posisi yang nyaman. Dadanya masih terasa sesak, hingga ia harus menumpuk bantal agar tubuhnya tidak sepenuhnya berbaring dan lebih memudahkannya menghirup udara.

“Baiklah… istirahat yang cukup.” Wanita paruh baya itu beranjak setelah sebelumnya mencium lembut kening Alvin.

Alvin menarik nafas sedalam mungkin saat wanita yang paling disayanginya itu menghilang di balik pintu. Sebentar ia meraih ponselnya yang tergeletak di  sisi kirinya. Ia tidak benar-benar ingin tidur sehingga memutuskan untuk memainkan ponselnya. Di sudut kanan ponselnya, waktu menunjukan pukul delapan kurang, biasanya di jam-jam seperti ini Cakka dan yang lainnya sedang online, jadi ia memutuskan untuk membuka facebook juga.

Sign in. Tepat setelah facebooknya terbuka, status Ify menjadi status teratas di beranda facebooknya. Dan status itu sesaat membuat kening Alvin berkerut.

Saufika Umari
Buat apa punya banyak sahabat kalau kita masih merasa sendiri?

Sekarang Alvin boleh menyesali perbuatannya, karena tidak memilih langsung tidur dan malah membuka facebook. Jelas karena status Ify yang baru saja ter-update dan baru saja dibacanya juga, sesaat membuat dadanya kembali berdenyut.

Ify. Ya, ia melupakannya tadi. Sungguh, ia melupakannya karena terlalu fokus pada Shilla. Melihat status itu, Alvin yakin kalau gadis itu pasti sangat kecewa padanya. Pada sahabat-sahabatnya yang lain juga. Beberapa saat Alvin merutuki kebodohannya, merutuki ketidakadilannya, ketidakpekaannya, dan ketidakperhatiannya pada Ify. Setelah pindah kelas, hubungannya dengan Ify memang sedikit jauh. Mereka jarang berbincang lagi, mereka jarang berdebat lagi soal pelajaran fisika atau kimia. Dan tadi, Alvin yakin—mengingat ia tahu perasaan Ify pada Rio—kalau Ify sama-sama terluka, sama-sama butuh sandaran, dan ia malah tidak ada di sampingnya. Tapi sepertinya ia tidak begitu terlambat. Setidaknya ia masih bisa memberi perhatian saat ini. Langsung saja ia menghubungi nomor sahabat perempuannya itu.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah—

Alvin mematikan panggilannya. Ify benar-benar marah. Ify memang sering melupakan ponselnya, tapi ia tidak pernah mematikannya seperti ini.  Kecuali jika sedang dalam keadaan benar-benar marah. Alvin menghela nafas berat. Kembali merutuki dirinya sendiri sampai sakit di dadanya memaksa ia untuk segera memejamkan mata. Ia memerlukan istirahat yang cukup. Ada banyak hal yang harus diselesaikannya besok, dan menuntut keadaannya untuk benar-benar pulih.

---------------------  

'Gue galau berat!'

Ify menggeleng. Menghapus kembali status YM-nya yang baru saja hendak ia update. Rasanya sudah cukup ia menuangkan perasaannya di facebook, dengan harapan salah satu dari sahabatnya membacanya. Ia tidak ingin uring-uringan juga di Yahoo! Messenger-nya. Ada salah satu dari sahabatnya yang tahu tentang statusnya di facebook saja sudah cukup. Apalagi jika itu Rio. Dan itu adalah hal yang tak mungkin.

Sesungguhnya, Ify tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ada dalam kepala Rio.

Ify mendesah kasar. Memutar tubuhnya yang semula berhadapan dengan laptopnya yang tersimpan di  atas meja belajarnya. Dipusatkannya bola matanya ke arah sudut ruangan, pada tumpukan kardus yang belum berubah posisi sejak beberapa minggu yang lalu.

"Rencana ini sudah gagal sejak awal." Ify mendesah lagi. Diam sejenak sebelum akhirnya mengubah posisinya ke arah semula, dan meraih binder dan spidol merah yang diletakan di antara tumpukan buku lainnya.

Cara nomor 2 melupakan orang yang ingin dilupakan.
Memetikan dan mengubur semua barang-barang yang berhubungan dengannya sebelum mengubur kenangan-kenangan lain yang tersimpan di dalam hati.


Dengan gerakan cepat, Ify membuat tanda silang besar di sisi tulisan itu. Yang ia ingat, ia bahkan belum sempurna melakukan cara keduanya. Ia sempat melupakan rencananya untuk menjalankan 10 metode melupakan orang yang ingin dilupakan itu. Aksi tabrakan antara ia dan Rio yang berujung dengan aksi pelukan beberapa minggu yang lalu, membuatnya akhirnya memutuskan untuk berhenti. Ia merasa kalau masih ada harapan saat itu. Namun, ketika indera pendengarannya menangkap kata-kata Rio tadi siang, mau tidak mau akhirnya membuat Ify kembali membuka catatannya dan berniat melanjutkan rencana yang sempat tertunda itu.

Ify kembali membalikan badannya, menatap nanar tumpukan kardus itu. Di titik koordinat matanya saat ini, tersimpan banyak kenangan tentang Rio. Mulai dari kenangan ringan dan sederhana, sampai kenangan paling berharga yang rasanya terlalu sayang untuk dibuang dan dilupakan. Bahkan dulu Ify sungguh semangat mengumpulkan kenangan-kenangan itu.

Di tumpukan dus itu, ada berbagai macam bentuk boneka dengan berbagai ukuruan juga, ada tiket bioskop, kupon kedai bakso, tiket tempat wisata, bungkus cokelat, kotak musik, baju couple, diary, bunga mawar yang telah layu, foto-foto, sepatu, jam tangan, dan banyak hal lagi yang sudah Rio berikan untuknya. Sialnya, Ify bahkan masih ingat kapan dan bagaimana barang-barang itu sampai di tangannya.

Ify akhirnya mengerang frustasi. Ia membalikan badannya lagi. Menyedekapkan kedua tangannya di atas meja untuk dijadikan sandaran kepalanya. Lantas setelah itu, ia biarkan air matanya mengalir dengan deras. Sesaknya tidak bisa dicegat lagi.

Ia mencintai Rio. Itu yang harus digarisbawahi. Dan mustahil untuknya melupakan Rio meski dengan seratus cara sekalipun. Kecuali dengan cara gila. Berdiri di tengah-tengah jalan, menabrakan diri pada truk yang melaju kencang. Jika tidak nyawanya yang menghilang, mungkin syaraf ingatannya terputus dan ia bisa melupakan semuanya. Semua tentang Rio.

Ify terus menangis. Sampai suara laptopnya mau tidak mau mengalihkan perhatiannya. Masih ditemani air mata, Ify menatap layar laptopnya.

1 new request conversation from AkuBknBgToyib

AkuBknBgToyib : Ify? Long time no see

Dengan cepat Ify menghapus air matanya. Di saat sedih seperti ini, ada teman yang menemani adalah hal yang patut disyukuri.

Alyssaufikaaaa: Gue galau, Zy…

Meluncur begitu saja dari hati Ify. Ia benar-benar tidak ingin berbasa-basi saat ini. Perasaannya benar-benar kacau dan ia butuh teman yang benar-benar bisa memahami perasaannya.

AkuBknBgToyib : orang galau biasanya jelek. :p
Alyssaufikaaaa : Ini serius. Gue galau berat! Gue butuh temen yang bener-bener bisa bikin gue have fun. Bisa bikin perasaan gue bener-bener free.
AkuBknBgToyib : Besok di kafe sebelah barat taman kota gimana?
Alyssaufikaaaa: hah?
AkuBknBgToyib : Gue lagi di Jkt. Besok ketemuan.
Alyssaufikaaaa : Oh… Jam berapa?
AkuBknBgToyib : Terserah lo sih…
Alyssaufikaaaa: Jam Sembilan pagi, oke?
AkuBknBgToyib : Lo gak sekolah?
Alyssaufikaaaa: Gue yang bakalan tanggung hukuman bolos gue. Lo tenang aja. Gue off.
Alyssaufikaaaa off
Seketika, perasaan bahagia buncah dalam dada Ify. Ia tersenyum dan menghapus sisa-sisa air matanya. Rasanya ia tidak sabar bertemu dengan teman chatnya itu. Langsung saja ia menutup laptopnya dan melompat ke arah tempat tidurnya. Ah, bahkan belum apa-apa, teman yang belum ia lihat wajahnya itu sudah membuat perasaannya berkali-kali lipat berubah.

---------------------

“Demi Tuhan, gue mohon sama lo, jangan pernah bantah perintah gue!”

“Lo selalu gini! Setidaknya kasih gue izin bantuin lo. Gue bisa bekerja sepulang sekolah kayak lo.”

“Jangan pernah lakuin apa pun. Apa susahnya fokus belajar dan jadi juara biar lo bisa dapet beasiswa full sampai kuliah nanti? Bahkan, dengan izinin lo masuk sekolah swasta biasa dan bukan di Albider cukup buat gue merasa bersalah.”

“Yel… gue janji bakal jadi yang terbaik. Tapi izinin gue bantuin lo, setidaknya sampai kita bisa lunasin hutang-hutang bokap. Gue nyaman di sekolah gue. Lagipula sekolahnya tidak begitu buruk. Gue mohon, Yel… gue gak bisa lihat lo kerja keras sendiri kayak gini. Gue mohon…”

“Nggak! Lo percaya sama gue—”

“Gue gak mau percaya sama lo! Bahkan beberapa hari ini gue lihat kesehatan lo menurun. Gimana gue bisa percaya lo bakal jagain kita, kalo lo sendiri gak bisa jaga diri lo sendiri!”

Gadis kecil itu menggigit bibir bawahnya. Ia terduduk di balik pintu lusuh ruangan sempit yang hampir dua tahun ini menjadi kamarnya. Ia menangis tertahan mendengar perdebatan kedua kakak laki-lakinya di luar sana. Mereka pasti mengira kalau adik kecilnya itu sudah tertidur. Namun faktanya, suara-suara bernada tinggi itu mengusik tidurnya dan mau tidak mau membuatnya terbangun dan menyaksikan perdebatan yang mengarah ke arah pertengkaran itu.

Perlahan gadis itu membuka pintu kamarnya. Melongokan kepala di balik celah pintu. Dan ia menangis tertahan melihat adegan di hadapannya.

Kakak keduanya tampak berlutut di hadapan kakak pertamanya. Lintar menundukan kepalanya sedalam mungkin, tangannya meremas ujung kaos Iel yang tampak mendongakan kepalanya guna menahan tangis.

“Gue takut, Yel…” Lirih. Suara Lintar sarat dengan kesedihan yang mendalam. “Sungguh gue takut! Gue takut lo sakit. Gue takut lo kenapa-napa. Gue takut lo ninggalin gue dan Aren kayak nyokap dan bokap ninggalin kita. Sumpah demi Tuhan, Yel… gue terlalu penakut. Gue takut hadepin semua ini sendiri. Gue takut hidup berdua dengan Aren tanpa lo. Jadi gue mohon… ja—”

“Gue gak akan ninggalin siapa pun. Gue gak akan ninggalin apa pun.” Tanpa menunggu kelanjutan kalimat Lintar, langsung saja laki-laki hitam manis itu menekuk lututnya. Menarik adik laki-lakinya dalam dekapannya. Dibungkamnya mulut itu dalam pelukan terhangatnya. “Gue gak akan ninggalin apa pun sampai lo sanggup berdiri tanpa gue.”

“Gak akan. Gue gak akan pernah sanggup tanpa lo.” Mencium parfum khas kakaknya itu, mau tidak mau membuat air mata Lintar akhirnya membludak. Ia menangis di dada Iel, kakak terbaik yang pernah ia miliki. Kakak yang selalu tampak kuat, namun begitu rapuh dan butuh perlindungan. Kakak yang diam-diam selalu menangis ketika mereka—ia dan Aren—tengah tertidur dengan lelapnya. Lintar menangis. Tak sanggup jika harus membayangkan kakak nomor satunya itu pergi dan tak bisa ia jangkau lagi.

Iel menarik nafas dalam-dalam. Masih memeluk Lintar dengan erat. “Dengar! Beri gue waktu sampai besok. Kalo besok gue belum dapet pekerjaan baru, gue izinin lo bantuin gue. Dengan syarat, hanya satu pekerjaan dan tidak mengganggu nilai-nilai lo.” Iel baru melepaskan pelukannya, ditatapnya mata Lintar yang masih tampak berair. Perlahan ia menghapus air mata itu. “Kita hadapi ini bersama, ngerti?”

Lintar mengangguk. Iel tersenyum. Meski usia mereka hanya berselisih satu tahun, tetap saja di matanya, Lintar itu adik kecilnya yang polos, yang harus selalu ia lindungi, harus selalu ia perjuangkan, harus selalu ia bahagiakan.

“Kakak?” Aren menghapus air matanya, keluar dari persembunyiannya dan berlari ke arah kedua jagoannya. Lantas tangan mungilnya meraih kedua leher kakaknya sekaligus. Berharap bisa merengkuh keduanya secara bersamaan. “Jangan bertengkar. Aren gak suka,” tukasnya dengan air mata kembali mengalir dari mata polosnya. Dan dalam satu gerakan, secara bersamaan kedua laki-laki remaja itu memeluk Aren dengan erat. Tangis haru Aren pecah lebih keras.

“Ya ampuuunn… Jam berapa ini?” Iel berteriak panik. Melepaskan pelukannya. Menganggu aksi mellow mereka dan itu membuat Aren merengut. “Kakak udah telat, Aren. Kakak pergi dulu ya? Aren jaga Kak Lintar. Dia ternyata lebih cengeng dari Aren.” Lantas setelah itu kakak yang paling Aren sayangi itu berlari pontang-panting keluar rumah.

Aren tersenyum dan menatap Lintar. Setelah itu dipeluknya tubuh kakaknya itu dengan protektif. Lintar hanya tersenyum mendapat perlakuan Aren.

--------------------

Shilla menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur mewahnya. Sebentar ia menatap langit-langit kamarnya. Memikirkan banyak hal. Kejadian tadi siang tentu adalah hal yang paling mengganggunya. Mengingat hal itu ia mendesah keras. Rasanya terlalu banyak sesak yang bersarang di sana, di dalam dadanya. Ia merasa begitu rapuh. Ia merasa begitu payah.

Sebentar bola matanya melirik ke arah jam dinding yang bertengger tepat di atas foto ia dan ketiga sahabat kecilnya. Dulu persahabatan mereka begitu indah. Ia sering bertanya, kenapa ia harus mencintai Iel dan tidak tetap menjadi sahabat saja seperti dulu? Mungkin  jika seperti itu, ia tidak perlu merasakan sakit seperti sekarang ini. Tapi Shilla tidak ingin menyesali perasaannya. Cinta itu bukan hal yang bisa diatur sedemikian rupa. Cinta itu bukan hal  yang patut disalahkan dan dipermasalahkan. Yang harus dilakukan sekarang, bukan menyesali apa yang telah terjadi, tapi menjalani apa yang sedang terjadi.

Sedikit mengubah posisinya, Shilla meraih radio portable yang ia simpan di meja lampunya. Menyalakannya. Harusnya siaran sudah berlangsung setengah jam yang lalu.

Selamat malam Sahabat Setia One Radio …”

Ternyata baru dimulai. Shilla memperbesar volume suara. Mendengar suara penyiar bernama Woody itu selalu membuat perasaannya begitu tenang.

“Seperti biasa, kamis malam, saatnya berbagi cerita, berbagi kisah, berbagi pengalaman. Hmm… kalau di malam-malam jum’at sebelumnya kita asyik membahas tentang persahabatan, kali ini, tema cerita bareng kita adalah about love. C-I-N-T-A. Cinta.  Para Sahabat One Radio, mendengar kata cinta, kira-kira apa ya yang langsung terbersit dalam benak kalian? Apa itu bahagia? Apa itu duka? Apa itu… hmm, baiklah, segera hubungi 082115631683 untuk berikan pendapat kalian, sekaligus ceritakan pengalaman para sahabat tentang kisah cinta kalian. Tentunya setelah lagu yang satu ini…”

Something About Love milik David Archuletta mengalun…

Shilla meraih handphonenya. Perasaannya berdebar. Selama menjadi Sahabat Setia One Radio, ia hanya menjadi pendengar saja. Di acara kamis malam, saatnya berbagi cerita, berbagi kisah, berbagi pengalaman kali ini Shilla ingin mencoba untuk bercerita juga. Dan ia ingin menjadi penelepon pertama. Selama lagu berputar tangan Shilla sudah siap menekan tombol hijau setelah sebelumnya mengetik nomor yang sudah ia hafal luar kepala itu. Saking setianya mendengarkan One Radio, ia jauh lebih hafal nomor itu daripada nomor sahabat-sahabatnya.

Lagu berhenti, dan dalam satu gerakan, Shilla memencet tombol hijau di ponsel keluaran Kanada miliknya itu.

Calling 082115631683…

“Hallo, Kamis malam, saatnya berbagi cerita, berbagi kisah, berbagi pengalaman. Bersama siapa di mana?”

Shilla menarik nafas dalam. “Ashilla Zahrantiara di sebuah tempat penuh kehampaan namun begitu penuh dan sesak.” Shilla tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja lidahnya berbicara dengan begitu lancarnya. Seolah hatinya ikut serta melafalkan hal itu.

Ahh… Ash.. Shil… maaf siapa?”

“Ashilla Zahrantira.”

“Oh, Ashilla Zahrantiara. Nama yang indah, namun tampaknya Woody yang kecenya ngalahin Justin Bieber ini baru mendengar alamat tempat tinggalmu itu. Di mana tadi? Di sebuah tempat penuh kehampaan namun begitu penuh dan sesak. Haha… tampaknya malam ini kamu sedang dilanda galau super hebat, benar?”

Shilla tertawa. Tebakan penyiar favoritnya itu benar.

“Well, jadi apa yang terbersit dalam benakmu saat mendengar kata cinta?”

“Buat aku, Kak Woody, cinta itu adalah segala tentang dia. Tentang dia. Tentang dia dan tentang dia. Dia dan tawanya. Dia dan tangisnya. Dia dan segala kepayahannya. Dia dan keegoisannya. Dia dan keacuhannya. Dia dan sikap emosiannya. Dia dan kebaikan juga keburukannya. Dia dan diriku yang tidak pernah bisa sedetik pun melupakan semua hal tentangnya.”

Hening. Woody diam, dan Shilla ragu untuk melanjutkan.

“Kenapa diam? Ayo… ayo… lanjutkan!”

Shilla menarik nafas lagi. Ia memantapkan hatinya untuk benar-benar bercerita. Pasalnya, ia tidak tahu ada berapa banyak siswa Albider yang mengenalnya, suka mendengarkan One Radio juga. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di sekolah nanti. Mungkin saja ia dibilang cewek sok cari sensasi dan perhatian orang lain. Tapi… Shilla tidak ingin memikirkan itu. Ia sudah ketanggung menelepon dan tidak lucu jika ia harus memutuskan sambungan juga.

“Aku punya pacar, Kak Woody…”

“Pacar? Namanya? Boleh disamarkan jika perlu…”

“Gabriel Steven.”

Woody kembali diam. Menunggu kelanjutan cerita Shilla.

“Kami berhubungan tiga tahun lebih. Aku tidak mengada-ngada, tapi di tiap detik yang terlewati aku menciptakan titik imajinasi, dan titik-titik itu kini telah membentuk satu kesatuan yang tidak mampu kuhitung berapa banyaknya. Dan sebanyak itulah cintaku padanya. Tiap detik, aku merasa cinta ini semakin tumbuh banyak, namun tiap detik juga aku merasa jarak antara kita semakin banyak pula.

Aku merasa, hari ini, kejadian siang tadi, adalah ujian paling berat yang pernah menimpa hubungan kita. Aku tidak ingin memikirkan kata-kata orang lain meski itu adalah kata cinta sekali pun, karena dalam benakku, dalam hatiku, dalam hela nafasku, hanya ada dia dan dia. Dia yang begitu kucintai. Aku bahkan berani bersumpah, apa pun yang terjadi, bagaimana pun dia, seburuk apa pun dia memperlakukanku, sebanyak apa pun dia mengguratkan luka di hatiku, aku tidak akan pernah meninggalkannya, aku tidak akan berhenti mencintainya, selama ia tidak memintaku untuk berhenti dan menyerah.”

Hening. Cukup lama.

“Baiklah… Ashilla Zahrantiara, kalau seandainya Gabriel Steven mendengarkan siaran ini, apa yang ingin kamu sampaikan padanya?”

“Tidak ada… hanya saja, ada saat-saat indah yang rasanya ingin kuulangi…”

-Flashback-

“Yel… tau gak kalau cinta gue sama lo itu sebesar ini?” Shilla membuat titik kecil di telapak tangannya dengan spidol merah yang entah sejak kapan dibawanya. Mereka tengan berada di halaman belakang sekolah SMP saat itu.

“Harusnya, bukan kata ‘sebesar’ yang lo gunain. Tapi ‘sekecil’. Lagian, kecil banget, sih…” Iel merengut. Shilla tersenyum dan menggenggam tangan Iel.

“Mungkin saat ini, hanya satu titik itu yang tampak di telapak tangan gue. Tapi percaya sama gue, tiap detik yang kita lewati, titik-titik itu akan bertambah, bertambah, dan bertambah. Memenuhi seluruh tubuh gue, bahkan ikut mengalir dalam darah gue, dan ikut keluar di tiap hela nafas gue.”

“Dramatis banget!” Iel mengacak gemas rambut Shilla.

“Gue serius, Gabriel Steven!” Giliran Shilla yang merengut. Gadis yang saat itu masih menggunakan seragam putih biru itu tampak cemberut.

Iel merengkuh Shilla dengan erat. “Iya, gue percaya…”

“Buktinya apa?”

“Gue beliin film animasi terbaru.”

“Beneran? Toy Story 3? Despicable Me? Megamind? Tangled?”

“Semuanya…”

Shilla tertawa. Dipeluknya laki-laki itu lebih erat.

“Shil… kalau gue jadi spiderman, lo jadi Marry Jane ya?”

“Ngga ah… kalo lo Spiderman, gue Peter Parker. Mereka dua orang yang tidak bisa dipisahkan.”

“Kalau gue, Doraemon?”

“Gue kantong ajaib.”

“Kalau gue Uchiha Sasuke, lo pasti jawab Sakura Haruno. Dia tidak pernah berhenti mencintai Sasuke.”

“Ngga, tapi gue Uzumaki Naruto, yang seberapa jauh pun lo pergi,  seberapa jahat pun lo, seberapa banyak pun perubahan lo, seberapa teganya pun lo khianatin gue, gue  gak bakal berhenti nyari lo dan bawa lo kembali.”

“Yayaya… kalau gue Detective Conan? Lo Ran apa Aibara?”

“Gue Shinichi Kudo tentunya.”

Iel terkekeh. Dan kembali mengacak-ngacak rambut Shilla.

“Kalau gue Andy, lo jadi Woody ya? Biar kalo ada orang baru dalam hidup gue, lo selalu cemburu dan takut gue berpaling dari lo.”

Iel mengangguk pasti.

-Flashback End-

“Ashilla Zahrantiara, gue minta maaf. Benar-benar minta maaf...”

Iel melepas headphone yang tengah ia kenakan. Lantas setelah itu ia keluar dari studio. “Gue gak enak badan, sungguh!” Lapornya pada beberapa kru dan setelah itu berlari meninggalkan kantor. Ia tidak peduli jika pada akhirnya ia harus kembali kehilangan pekerjaannya.

Sejak awal mendengar nama si penelepon, perasaan Iel sudah kacau luar biasa. Saat suara lembut Shilla yang penuh dengan ketulusan menggema di balik headphone yang digunakannya, ia merasa ada jarum-jarum kecil yang menusuk-nusuk hatinya dengan sadis. Dan mendengar cerita Shilla, membuat ia akhirnya tidak bisa menahan perasaannya lagi. Ia membongkar identitas tentang siapa dirinya sebenarnya. Ia tidak peduli dengan apa pun lagi saat ini.

Ia mendudukan dirinya di kursi yang tidak jauh dari kantor One Radio. Ia benamkan wajahnya di balik telapak tangannya. Dadanya sesak. Benar-benar sesak. Saat itu juga air mata mengalir dari mata lelahnya. Tiap tetes yang keluar adalah untuk kenangan-kenangan indah yang pernah dilewatinya bersama Shilla. Bukankah dulu semuanya begitu indah? Begitu membahagiakan? Kenapa ada banyak hal yang harus merubah hidupnya hingga semenyedihkan ini.

“Sungguh, Shil… tiap kali gue rapuh seperti ini, rasanya gue pengen meluk lo. Gue pengen bersandar di bahu lo. Gue pengen bilang semua kesulitan gue sama lo. Tapi, gue gak bisa… bahkan bahu gue yang kuat ini pun rasanya tak mampu menanggung beban ini. Apalagi bahu kecil lo, Shil. Maafin… gue. Sungguh, gue sayang sama lo, Shil…”

Dan malam itu, Iel habiskan waktunya untuk meratapi semua kesedihannya. Tidak memedulikan kru-kru di kantor yang keheranan melihat tingkahnya. Tidak memedulikan Debo yang terus menggerutu karena harus menggantikan posisinya. Tidak memedulikan Shilla yang langsung menutup panggilan dan terisak, larut dalam ketidakpercayaannya. Ia tidak peduli apa pun. Yang pasti ia merasa begitu rapuh saat ini.

---------------------

Kamar berukuran sedang itu tampak begitu berantakan. Sangat berantakan hingga rasanya tidak terlihat seperti tempat tidur. Barang-barang di ruangan itu tidak lagi berada di posisi seharusnya. Ada beberapa pecahan beling, sepertinya beling itu berasal dari pecahan gelas, figura foto, cermin, dan entah apa lagi. Beberapa pakaian dan buku tampak berserakan, beberapa basah karena air putih yang tampak sengaja ditumpahkan.

Dan laki-laki yang saat ini mengenakan jaket hitam dengan tulisan ‘Original’ di bagian dadanya itu, tampak bergulung dengan selimut tebal di tempat tidurnya. Ia bergerak-gerak gelisah di setengah jam terakhir ini. Tubuhnya menggigil seolah sengatan hawa dingin tengah mencubitinya dengan kasar. Digigitnya bibir bawahnya menahan nyeri yang dengan sangat pandainya menyiksa tubuhnya. Nafasnya memburu dengan cepat. Ia memeluk tubuhnya sendiri. Menahan segala sakit di sekujur tubuhnya.

“Ibu… hh… di-hh..ngin…”

Air mata meluncur bebas dari balik matanya. Ia mengadu pada seseorang yang tidak mungkin mendengar dan melihatnya saat ini. Berharap dia yang ia panggil Ibu itu segera menemukannya saat ini. Membantunya melewati semua kesakitannya.

Ia mengerang tertahan. Semakin merapatkan selimutnya kala dingin itu terasa menusuk daerah jantungnya. Debaran di dadanya terasa menyakitinya. Peluh dingin terus mengalir dari pori-pori tubuhnya. Nafasnya kian tercekat. Ia merasa perutnya mulai terasa sakit dan mual. Dan saat itu juga, ia memuntahkan semua isi perutnya yang hanya berupa cairan saja. Beruntung ia menggeser posisinya lebih menepi terlebih dahulu, sehingga cairan muntah itu mengotori lantai, tidak dengan tempat tidurnya.

Tidak ada yang bisa menolongnya saat ini. Sehingga ia memilih untuk pasrah dengan segala sakit dan nyeri itu. Ia benar-benar pasrah kalau pun ia harus kehilangan nyawanya. Dibiarkannya dingin itu menyiksanya. Percuma ia berteriak, mengerang, mengobrak-ngabrik semua isi kamarnya. Tidak ada yang bisa menolongnya. Karena satu-satunya yang bisa menolongnya benar-benar sudah tidak ada.

-----------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225
Pin : 5467BAFB

Maaf kalau part ini mengecewakan.

Jangan lupa sisipkan komentar. Semakin banyak yang komen, semakin cepat update.

Terimakasih ^.^

5 komentar:

  1. Eng. . Baru tahu kalau ini dinext. Telat baca XD .
    Aku penasaran siapa yang tersiksa di bagian akhir.
    Alvin? Kayaknya bukan.
    Siapa? Siapa?
    Siapa?
    Haish. . Apa seseorang yang muncul dibagian terakhir part kemarin?
    Makin kesini makin penasaran :-D
    next lagi kak!

    BalasHapus
  2. Kak Nae ayo lanjutin jangan lama-lama..

    BalasHapus
  3. Lagi lagi otak sok'tau saya berspekulasi bahwa, yang di adegan terakhir itu Rio. Cluenya 'Ibu'. Siapa lagi yang ibunya gak ada di rumah (eh Iyel juga sih._.)--Maksudnya, yang ibunya masih hidup tapi gak bisa ada buat dia--kalau bukan Rio? Tapi tetep sih. Ini hasil dari pemikiran so'tau gue. Eh tapi kalo itu Rio, berarti part ini Cakka gak muncul yah? Mm..
    Trus trus, si AkuBukanBangToyib itu, pasti orang yang ada di adegan terakhir pas part 16. Lagi lagi hasil dari otak so'tau gue.-.
    Btw btw, Ciyee Via ciyee.. Yang ternyata suka Alv :D . Cemburu yah Vi, liat Alvin sama Shilla? Tenang aja, mereka cuma sahabat kok. Hihiw. Ohya, itu yang Via sms pasti Dhea! Siapa lagi tokoh yang berhubungan sama Via selain Dea? Tapi lagi lagi gue sok tau-_-. Okelah, daripad saya terus nebak nebak dan penasaran kayak gini, mending buruan di net yah Kak. Ditungguuu^.^

    BalasHapus
  4. Kak Naeee, aku baru bisa komen. Maaf yah. Aku udah baca tiga part yg belum aku komen dan itu keren. Apalagi bagian Iyel dipeluk Cakka sama Iyel yg meluk Lintar. Aku suka sama penderitaan Iyel disini. Susahnya hidup dia tuh bisa kerasa banget. Agak gak suka sama Shilla, jadi cewek lemah banget wkwkwk. Disini Alvin baik banget, lembut banget, penyayang banget. Pengen deh kak, liat Alvin yg dikerjain abis2an sama Via dan Dea. Ditunggu next partnya ya kak! Semangat!

    BalasHapus
  5. Lanjut ya ka nae.. udah penasaran banget nih!! Uaaa ♥♥♥

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea