Kamis, 02 Juli 2015

Separation -Delapan belas-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 08.28


Lagi. Terimakasih yang udah kasih komentar di part sebelumnya.
Ini tanpa edit ulang, maaf kalo typo berserakan.
Keep reading and—

Enjoy!

-------------------

SEPARATION

-Delapan belas-

-------------------


Onee-chan, open the door!” Deva menggedor pintu bercat cokelat tua polos itu dengan agak keras. Sudah hampir sepuluh menit ia berdiri di depan pintu itu. Namun, kakak perempuannya, si pemilik ruangan tidak juga membuka pintu itu. Tapi meskipun begitu, adik laki-laki Agni itu tidak menunjukan raut kesal dan marah sedikit pun di balik wajah tampannya. Ia justru semakin iseng menggedor pintu itu. Senyum jahilnya mengembang di balik bibir tipisnya.

Onee-chan masih tidur, hn? Ini sudah siang, kita bisa terla—”

“Berisik!”

Deva terkesiap saat teriakan bersamaan dengan suara pintu yang dengan kasar terbuka, melengking hingga telinganya. Ia menatap Agni yang masih menggunakan piyama merah cerahnya.

“Gue gak sekolah. Males!” tukasnya sembari kembali masuk ke dalam kamarnya dengan membiarkan pintu itu terbuka.

Untuk sesaat Deva mengernyit mendengar ucapan Agni. “Kenapa?” tanyanya sembari ikut memasuki kamar bernuansa biru langit itu. “Ish... Onee-chan, tidakkah ini terlalu pagi untuk bermain game?” Deva melupakan pertanyaannya yang belum sempat dijawab oleh Agni. Ia memandang Agni yang sudah  duduk bersila di bawah tempat tidur, menghadap ke arah televisi yang menampilkan permainan Harvest Moon Back to Nature. Agni tidak merespon komentar Deva dan kembali asyik dengan dunianya. Deva menghela nafas memperhatikan kelakuan aneh kakak perempuannya itu.

“Hei, kenapa semua nama sapinya Cicak? Itu kan sapi, bukan cicak.” Deva berkomentar lagi. Ia mendudukan diri di tepi ranjang Agni. Matanya tetap terfokus ke arah permainan karya Natsume yang sedang dimainkan kakaknya itu.

“Gue kasih nama semua hewan peliharaan gue dengan nama Cicak,” kata Agni tanpa mengalihkan pandanganya.

Deva terdiam sejenak. Tampak memikirkan sesuatu. “Ah, bukankah Cicak itu panggilan kesayangan Nee-chan buak Kak Cakka? Hm… aku ngerti. Ketika cinta memanggil, yang diingat memang hanya nama orang yang kita cintai. Ketika cinta memanggil, hanya nama orang yang kita cintai yang rasanya setiap detik ingin kita lafalkan. Ketika cinta memanggil hanya nam—”

“Deva! Ini bukan waktunya bersajak. Mending sekarang lo keluar, oke?!” Buru-buru Agni berdiri dari duduknya. Menarik tangan Deva dan menyeretnya keluar. Deva menatap Agni sekilas. Ada rona merah di pipi kakak perempuannya itu. Ia tersenyum menggoda ke arah Agni sebelum pintu benar-benar tertutup. Dan saat itu juga tawanya meledak, membayangkan bagaimana saltingnya kakak tomboinya itu.

“Jangan ketawa!” teriak Agni dari dalam.

“Aku akan bilang ini sama Kak Cakka nanti.”

“Jangan bilang apa pun sama dia kalau gak mau Mr. Son lo berakhir mengenaskan.”

“Kalau gitu, gue bilang sama Kak Ify, biar dia yang bilang sama Kak Cakka.”

“Deva!!!”

“Apa? Pokoknya aku ak—”

“Jangan gangguin kakaknya, dong.  Yuk, Papa udah nunggu di bawah.” Mama berdiri di samping Deva, merangkul anak laki-lakinya itu dan mengajaknya turun ke bawah. Entah sejak kapan wanita yang hampir lima tahun lamanya tak ia temui itu berdiri di sampingnya. Deva sedikit kaget dengan kehadirannya.

Deva tersenyum ke arah wanita yang di matanya selalu tampak cantik itu. “Ma, tadi Nee-chan bilang mau bolos sekolah. Kenapa Mama gak marah dan biarin dia bolos?”

“Biarin aja… Kak Agni kan mau bantuin Mama beresin rumah, belanja ke pasar, masak, terus nganterin Mama ke rumah temen Mama juga. Hari ini pasti akan lebih menyenangkan dari pada di sekolahnya.” Ketika berbicara seperti itu, wanita paruh baya itu menaikan sedikit nada suaranya, bermaksud agar Agni mendengar suaranya. Ia terkikik pelan, begitu pun dengan Deva.

Sementara Agni, hanya merengut di balik pintu kamarnya. Mendengus sebal mendengar kata-kata mamanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana aktifitasnya di rumah seharian ini. Tapi, mengingat konflik di UKS kemarin, rasanya ia benar-benar tidak bersemangat untuk pergi ke sekolah. Membereskan rumah, mengantar mama ke pasar, menamani mama bertemu dengan teman-temannya yang berisik, sepertinya jauh lebih baik ketimbang harus merasakan suasana canggung dan permusuhan antara sahabat-sahabatnya. Sungguh ia tidak suka dengan situasi seperti itu. Jadi, ya sudahlah…

---------------------

Shilla mendudukan dirinya di salah satu kursi di pinggir jalan komplek rumahnya. Gadis berseragam Albider itu tampak berpikir keras. Matanya yang tampak sembab, sama sekali tidak menyorotkan semangat seperti biasa. Kasusnya sama seperti Agni, ia benar-benar malas untuk berangkat sekolah dan bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Meski seragam lengkap sudah ia kenakan, ia sama sekali tidak ada niat untuk benar-benar berangkat menuju sekolahnya.

Pikirannya sedang kacau, terlebih mengingat kejadian semalam. Ia tidak yakin kalau kegiatan belajarnya akan benar-benar berjalan dengan lancar sementara kepalanya terasa penuh dan penat seperti sekarang ini. Ia benar-benar butuh waktu sendiri.

“Pantes aja, gue selalu ngerasa begitu tenang dengerin suara itu. Gue selalu ngerasa bahagia dengerin suara itu. Gue bener-bener gak tau kalau itu lo, Yel.” Shilla mendesah. Sebentar ia menatap langit pagi yang tampak cerah, berbanding terbalik dengan suasana hatinya. Lantas setelah itu, gadis cantik itu segera beranjak dari duduknya. Berjalan meninggalkan tempatnya. Ia menuruti saja ke mana kakinya akan melangkah. Yang pasti itu bukan sekolah. Ia akan membolos hari ini.

Langkahnya terhenti begitu melewati rumah Rio yang memang berada di perumahan yang sama namun berbeda komplek dengan rumahnya itu. Motor Rio masih ada di depan, yang artinya Rio belum berangkat juga. Mungkin laki-laki dingin itu sedang dalam suasana hati yang sama sehingga memutuskan untuk membolos juga.

Mengingat kejadian di UKS kemarin, rasanya Shilla ragu untuk menemui Rio saat ini. Tapi, entah kenapa, perasaannya menuntun ia untuk melangkah memasuki pekarangan rumah itu. Untuk menemui sahabatnya itu. Ia tidak tahu perasaan apa itu, tapi ia merasa benar-benar perlu menemui Rio. Siapa tahu jika sudah bertemu dengan laki-laki yang kemarin bilang sayang padanya itu dan menceritakan bagaimana perasaannya terhadapnya, dan juga terhadap Iel, rasa gundah di hatinya akan jauh lebih baik.

Ia menarik nafas sedalam mungkin, menghilangkan ragu dan canggung yang ada dalam hatinya sebelum mengetuk pintu di hadapannya.

“Rio—

Eh? Gak dikunci?”

----------------------

Masih dengan laptop menyala, dan menampilkan layar Yahoo! Messenger-nya, Ify duduk di salah satu kafe yang jadi tempat janjiannya dengan teman mayanya yang ia panggil dengan nama Ozy itu. Waktu di sudut kanan laptopnya menunjukan pukul 9:15, sudah seperempat jam lebih dari waktu yang dijanjikan, dan Ozy belum juga terlihat. Perasaan gelisah, langsung merayap di sela-sela hatinya. Ia memutar bola matanya, mengamati keadaan sekitar yang masih tampak sepi. Wajar, ini masih begitu pagi.

Apa dia gak jadi datang ya? Apa dia main-main doang ya, ngajak gue ketemuan di sini? Atau, apa dia sebenarnya udah datang dan begitu liat wajah gue, dia langsung pergi lagi? Yang benar saja… Ify mulai membuat spekulasi sendiri dalam hatinya. Ia menumpukan dagunya di salah satu tangannya. Bosan.

“Apa gue pergi aja, ya?” tanya Ify entah pada siapa. Tapi tidak ada gerakan apa pun lagi darinya sampai di lima menit setelah pertanyaan itu terlontar, Ify mulai menutup laptopnya. Memasukannya ke dalam tas.

Sory, telat. Lo pasti udah nunggu lama.”

Baru saja Ify hendak beranjak, saat suara berat itu sampai di telinganya, bersamaan dengan sebuah objek yang diletakan di atas meja yang jadi tempatnya menunggu sejak tadi.

Sebuah kamera SLR menjadi titik fokus matanya sebelum benar-benar menatap seseorang yang baru saja meletakan kamera itu di hadapannya. Menatap kameranya saja, sudah membuat debaran hebat di dadanya. Rasa gugup menyebar dengan begitu cepat, membuat gerakannya terasa begitu lambat. Perlahan Ify mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki tampan di hadapannya. Laki-laki pemilik kamera bermerk Cannon itu  tersenyum ke arahnya, dan Ify benar-benar merasa waktu berhenti saat itu juga.

Hello, Ify. Nice to meet you…”

Ify merasa suaranya tercekat.

------------------  

“Wake up, a lazy!”

Dokter muda itu mengguncang pelan tubuh yang masih bergelung dalam selimut tebalnya. Si pemilik tubuh itu menggeliat. Terusik oleh tingkah iseng dokter muda bernama Elang Nuraga itu. Ia memukul lemah tangan yang menarik-narik baju tidurnya yang—dalam penglihatan Mas Elang—terlihat lebih besar dari sebelumnya. Lantas setelah itu, ia kembali bergelung, melanjutkan tidurnya.

Mas Elang menarik nafas dalam. Bersiap meluncurkan jurus terakhirnya. “satu…” Mas Elang mulai berhitung. Tangannya sudah bersiap menyerang tubuh Cakka. “Dua…” tangan itu semakin mendekat. “TI-GA!! Banguuunnn…”

Dan Cakka langsung menggeliat tak nyaman begitu jari-jemari kakaknya menggelitiki pinggangnya. “Mas Elang! Hahaha… hentikan, Mas! Ampun… hahaha..” Cakka berteriak kencang. Sebisa mungkin ia menangkis sembarang tangan jahil kakaknya. Ia segera membuka matanya dan mendudukan dirinya. Mas Elang masih belum mau menghentikan aksinya untuk membuat wajah adiknya yang tampak lebih polos saat tertawa itu memerah menahan geli. Ibu yang tengah sibuk memasak di dapur hanya tersenyum mendengar jerit histeris Cakka dan juga tawa anak pertamanya itu.

“Hahaha… sudah, Mas. Hahaha.. ampun… hahaha.. ugh!”

Mas Elang menghentikan aksinya seketika saat tiba-tiba Cakka melenguh. Matanya yang sempat terbuka, kembali terpejam. Kali ini terlihat lebih rapat. Bola mata Mas Elang segera berputar ke arah tangan Cakka yang semula sibuk menghalau serangannya, kini sudah sibuk meremas bagian perutnya. Raut kesakitan tampak di wajah adiknya itu, dan ia tahu kalau Cakka sedang tidak bermain-main.

“Kenapa?” tanya Mas Elang cemas. Cakka menggeleng. Dengan perlahan Mas Elang membantu Cakka untuk kembali berbaring. “Sakit lagi ya?” Kali ini Cakka mengangguk. Mas Elang memeriksa suhu tubuh Cakka dan ia baru menyadari hawa panas tengah menguasai tubuh adiknya itu. “Tunggu!” Dengan gerakan cepat, dokter muda itu beranjak dari kamar Cakka, hendak membawa peralatan medisnya.

Dan Cakka membiarkan tubuhnya kembali  bergelung. Tangannya sibuk meremas perutnya yang terasa begitu nyeri. Seperti ada yang melilit lambungnya dengan kuat dari dalam. Semalam juga ia mendapat serangan yang sama seperti pagi ini. Meski tidak separah semalam, tetap saja rasanya begitu menyakitkan. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Nafasnya juga mulai memberat seiring merambatnya sakit itu hingga ulu hatinya. Sebisa mungkin ia menghalau erangan yang hendak lolos dari mulutnya. Ibu sedang sibuk pagi ini; akan ada tamu penting yang datang ke rumah. Dan ia tidak ingin membuat kepanikan di pagi hari seperti ini.

“Kka…” Mas Elang yang entah sejak kapan kembali ke kamar bercat hijau dengan banyak poster pemain basket itu, segera membantu Cakka membenarkan posisinya agar lebih nyaman. Dipaksanya tangan adiknya yang semula meremas perutnya itu untuk menghentikan aksinya.

“Sa—kitt!” keluh Cakka. Tangannya kali ini sibuk meremas lengan kemeja panjang yang sedang dikenakan Mas Elang. “Sakit, Mas…”

Melihat raut kesakitan di wajah Adik yang paling disayanginya itu, mau tidak mau membuat Mas Elang merasa begitu sedih. Beberapa minggu ke belakang, kondisi Cakka terus memburuk, dan sebagai seorang dokter ia tidak bisa mencegah semua itu. Semuanya karena Cakka yang selalu bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Ia tidak  pernah ingin terlihat sakit di mata siapa pun. Padahal, sering sekali ia mendapati adiknya itu tengah mimisan. Bahkan sehari bisa sampai tiga atau lima kali ia melihat Cakka bolak-balik ke kamar mandi untuk memuntahkan semua isi lambungnya. Ia bahkan tidak yakin sahabat-sahabat adiknya itu tahu penyakit apa yang sedang menggerogoti tubuh yang selalu tampak kuat itu.

“Kalo gak mau Ibu tau, jangan ribut, oke? Jangan histeris juga. Siap?”

Cakka membelalakan matanya melihat apa yang dikeluarkan Mas Elang dari dalam tas kerjanya. Setelah memeriksa tekanan darahnya, detak jantungnya, dan hal lainnya yang sama sekali tidak Cakka mengerti, kakak satu-satunya itu mengeluarkan sebuah suntikan dengan jarum yang membuat Cakka benar-benar ingin rasanya mengutuki sakit yang menyerang saat ini. Sebelumnya ia pernah membuat keributan di rumah sakit saat ayahnya hendak menyuntiknya. Wajar jika Mas Elang mengatakan hal itu. Ia benar-benar benci benda itu.

Cakka memejamkan matanya saat Mas Elang mengoleskan sesuatu di lengannya. Sesuatu yang dingin, menelusp hingga dagingnya. “Kenapa harus de—argh!” Cakka membekap mulutnya dengan tangan kirinya begitu jarum yang menghantarkan cairan kekuningan ke dalam tubuhnya itu menembus kulitnya.

“Harusnya gue minum obat aja, Kak.” Cakka berujar lemah beberapa saat setelahnya. Tiba-tiba saja ia merasa begitu mengantuk.

“Dan kemudian sebelum obat itu berekasi, lo memuntahkannya kembali.” Elang tersenyum melihat mata Cakka yang mulai menutup. Dengan telaten ia mengurut lembut perut Cakka. Adiknya tampak nyaman dengan apa yang dilakukannya. Dan setelah itu ia menghela nafas lega. Ini hanya serangan ringan yang bisa diatasi dengan mudah olehnya. Entah jika penyakit itu semakin mengganas. Ia bahkan tidak yakin kalau gelarnya sebagai dokter muda yang hebat pantas untuk disandingkan dengannya lagi.

-------------------

“Rio… bangun, Yo! Bangun! Ini ada apa?”

Rio menggeliat, merasa terusik oleh suara lembut. Perlahan ia membuka matanya yang masih terasa lelah. Dan wajah Shilla, menjadi objek yang pertama dilihatnya. Ingin rasanya ia bertanya kenapa gadis itu bisa ada di kamarnya. Namun, rasa pening di kepalanya membuat ia akhirnya melupakan hal itu. Ia ingin saja bangun, karena bukan gayanya tidur dengan keadaan super berantakan di hadapan gadis seperti ini. Namun, rasa lemas dan sakit di beberapa bagian tubuhnya membuat ia terpaksa memejamkan matanya kembali. Ia ditarik kembali ke dalam kegelapan.

Shilla menarik nafas melihat Rio kembali terpejam. “Yo… bangun!” Ia tidak menyerah. Kali ini ditepuk-tepuknya pipi Rio. Dan sesaat ia berjengit. Hawa panas merambat di telapak tangannya. “Lo sakit, ya? Terus kenapa kamar lo berantakan kayak gini?” Tidak ada jawaban dan Shilla memutuskan untuk bangkit dan mengambil air dingin untuk mengompres Rio. Setelah itu, ia baru akan membereskan semua kekacauan yang terjadi di kamar laki-laki dingin itu.

Shilla memutuskan untuk langsung masuk ke dalam saat ia tahu kalau pintu rumah itu tidak dikunci. Setelah mengucapkan salam beberapa kali, dan tidak ada yang menyahut, Shilla yakin kalau tidak ada siapa-siapa di dalam rumah yang lumayan besar itu. Tapi, keberadaan motor Rio di depan, membuat Shilla yakin kalau Rio ada di rumah. Alhasil, ia akhirnya memutuskan untuk mencari Rio. Ketika ia melihat salah satu ruangan dengan pintu sedikit terbuka, membuat ia yakin kalau itu kamar Rio. Dan ia benar-benar tidak bisa bernafas saat melihat pemandangan di ruangan yang seluruh dindingnya ditempeli wallpaper lambang Uchiha itu.

Berantakan. Kacau. Seperti kapal pecah. Mengenaskan. Dan apa pun itu yang bisa menggambarkan suasana ruangan itu. Ia bahkan tidak tahu apa yang sudah terjadi di rumah itu. Ia sempat berpikir ada perampok yang masuk. Tapi, begitu melihat Rio yang masih bergelung di balik selimutnya, asumsi mengerikan yang ia ciptakan dalam kepalanya itu pun akhirnya pecah. Dan apa pun alasan itu, ia sedang tidak ingin memikirkannya dulu. Yang terpenting sekarang, tentu saja merawat Rio dan membereskan semua kekacauan itu.

Shilla kembali dengan sebaskom air dan handuk di tangan kanannya. Tak lupa segelas air hangat di tangan kirinya. Suasanya rumah yang sepi membuat ia benar-benar kerepotan. Ia tidak tahu ke mana ibu Rio. Ia yakin kalau Rio dan ibunya tidak memiliki pembantu untuk mengurus rumah yang lumayan besar itu. Dan lagi, ia sedang tidak ingin memikirkan hal itu.

Setelaten mungkin Shilla merawat sahabatnya itu. Dengan hati-hati ia melepas jaket dengan tulisan ‘Original’ yang masih menempel di tubuh Rio sebelum mengompresnya. Rio belum sempat mengganti baju begitu ia ingat kalau pakaian yang Rio kenakan saat ini sama dengan pakaian yang dikenakannya kemarin. Suhu tubuh Rio benar-benar panas. Shilla sedikit prihatin melihat kondisi laki-laki pendiam itu. Bahkan jika ia flu sedikit saja, Mama dan papanya selalu panik dan memaksanya ke rumah sakit. Sementara Rio, ia bahkan tidak yakin kalau Rio sendiri mau merawat dirinya sendiri.

Setelah melepas seluruh pakaian Rio hingga menyisakan kaos putih polos yang membalut tubuh yang baru Shilla sadari begitu kurus itu, gadis bermata hazel itu segera meletakan handuk basah di kening Rio yang tetap tenang dan tidak terusik sama sekali dengan kegiatannya. Diselimutinya tubuh itu sebatas dada dan ia mulai membereskan kamar itu dalam diam. Dan dalam diam itu, sekelebatan wajah Iel bermain-main dalam kepalanya. Di sutiuasi seperti ini ia bahkan tidak bisa berhenti memikirkan laki-laki itu.

----------------------

13:12

Angka itu yang terpampang di jam tangan hitam polos yang melingkar di tangan kurusnya. Sekolah benar-benar sudah sepi mengingat anak-anak sudah pulang 12 menit yang lalu. Hanya segelintir siswa yang masih asyik nongkrong di kantin, bermain basket, atau menunggu jemputan. Dan di antara mereka, tidak ada satu pun dari sahabatnya yang Alvin lihat. Bahkan bangku Shilla dan Rio tampak kosong tadi. Alvin tidak yakin kalau mereka bersekongkol untuk membolos secara bersamaan juga menonaktifkan ponsel mereka secara kompakan. Yang pasti, perasaannya  tidak jauh lebih baik hari ini. Belum lagi sakit di dadanya yang sejak kemarin timbul tenggelam tak jelas, membuat ia merasa sangat buruk saat ini.

Saat istirahat, ia sempat datang ke kelas Cakka dan ia tidak melihat Cakka juga di sana. Ia sempat menanyakan pada beberapa siswa yang dikenalnya sebagai teman sekelas sahabat-sahabatnya, namun ia mendapat jawaban yang sama. Tidak masuk dengan tanpa keterangan.

Merasa lelah, Alvin memilih berhenti. Lapangan futsal yang sepi menjadi tempatnya saat ini. Perlahan ia mendudukan dirinya di salah satu bangku penonton. Mengatur nafasnya yang terasa begitu sesak. Sakit itu kembali menyergap dada kirinya. Buru-buru ia melepas ranselnya dan mencari obatnya. Begitu menemukannya, langsung saja ia meminum pil yang tidak sedikit macamnya itu. Meski berekasi cukup lama, tapi perlahan sakit itu menghilang. Dan saat itu juga, ia merasa handphonenya berbunyi. Refleks ia mengambilnya, berharap kalau itu panggilan dari salah satu sahabatnya.

“KAK ALVIN!!!”

Alvin tersentak begitu teriakan itu memekikan indera pendengarannya.  Ia sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya.

“Tolongin gue! Gue gak tau kenapa, tapi ini… Kak Via. Kak Via—tolongin gue, Kak!!!”

Dada Alvin bergemuruh. Bayang-bayang wajah Sivia bermain-main dalam kepalanya. Sejak di kelas tadi, gadis itu tampak murung. Ia yakin kalau teman sebangkunya itu sedang dilanda masalah berat. Sivia bahkan tidak marah-marah seharian ini. Ia sempat bertanya ada apa dengan gadis itu, namun Sivia sama sekali tak menjawab. Ia tampak frustasi saat itu. Dan sekarang? Jantung Alvin berpacu dengan cepat. Khawatir.

“Kak Via mau loncat dari lantai empat, Kak!!! Cepat ke sini! Gue… gue gak tau harus apa! Bantuin gue, Kak! KAK ALVIN!”

Panggilan terputus…

Alvin terdiam sejenak, menatap nanar layar ponselnya. Lantas setelah itu ia berlari secepat mungkin. Menuju lantai empat. Tentu saja itu atap sekolah. Ia terus berlari, tak mempedulikan seberapa fatalnya hal itu untuknya. Ia hanya tidak ingin sedetik saja terlambat. Ia tidak ingin sedetik membuat penyesalan tiada ujung dalam hidupnya. Ia harus menyelamatkan Sivia apa pun yang terjadi, meski setelah ini ia tidak yakin nyawanya bisa diselamatkan.

Nafas Alvin terus memburu, namun langkahnya semakin melemah. Ia merutuki kondisinya yang buruk hari ini. Hei, ia bahkan baru saja menginjakan kaki di tangga pertama lantai dua, tapi jantungnya sudah menolak untuk bekerja. Berhenti sebentar untuk meraup oksigen sebanyak mungkin, lantas setelah itu ia kembali berlari. Meski tidak bisa dibilang berlari, mengingat langkahnya begitu pelan, ia terus melangkah menaiki tiap undakan tangga dengan kecemasan yang membuat kondisinya malah semakin buruk.

Dan tepat di tengah-tengah lantai dua, Alvin kehilangan fokusnya. Kakinya benar-benar tidak menuruti perintah otaknya. Lemas tak bertenaga. Dalam satu sentakan, Alvin merasa ada yang menusuk dadanya. Sakit. Sakit sekali. Jantungnya berdetak dengan cepat tanpa irama. Refleks ia meremas bagian dadanya dengan kuat. Nafasnya tercekat, dan di detik berikutnya setelah ia merasa keadaan di sekelilingnya berputar dan menguning, ia tidak ingat apa pun lagi. Yang terakhir ia ingat, tubuhnya terhuyung dan berguling di atas tangga.

--------------------- 

You are crazy, you know?! I never belive you are fiendish!” Deva berteriak kesal. Suaranya menggema di lorong sekolah yang tampak sepi siang itu. Ia menatap tajam kedua orang yang tampak berdiri di hadapannya. Mereka bahkan terlihat biasa saja, tampak tidak ada raut cemas sedikit pun di wajah mereka. Dan Deva benci dengan hal itu. “Tuhan, aku selalu berpikir kalau orang-orang jahat seperti mereka itu cuma ada di film doang.”

“Apa peduli lo? Lo gak usah ikut campur urusan gue bisa, kan? Dia Kakak gue dan terserah gue mau kerjain dia apa nggak! Dia bahkan gak pernah marah soal itu. Jadi lo ga—” teriakan Dea terpotong.

“Justru itu! Justru karena Kak Alvin kakakmu. Karena dia tidak pernah marah, karena dia tidak pernah dendam, karena dia begitu baik, karena dia begitu menyayangimu, dan terpenting, karena dia SAKIT, jadi kamu gak seharusnya lakuin hal sejahat itu pada orang sebaik Kak Alvin seperti sekarang ini!” Deva menekan kata-kata ‘sakit’ berharap mereka mengerti.  Sivia terdiam di tempatnya. Otaknya sibuk mencerna baik-baik kata-kata Deva.

“Aku benci kalian berdua!!!” Dan setelah itu Deva berlari meninggalkan mereka. Kecemasan bertumpuk dalam dadanya. Do’a terus terlafal tiada henti dari balik bibir tipisnya yang tampak pucat karena cemas. Ia terus berlari menuju tempat yang sempat didengarnya tadi. Lantai empat. Lantai empat. Lantai empat. Deva berusaha mengingat di mana tangga sekolah berada. Dan di saat seperti ini, ia merutuki sifat pelupanya, bahkan untuk mengingat di mana tangga sekolah, ia benar-benar tidak bisa.

Deva hampir saja menangis karena panik dan cemas saat sadar kalau ia tidak menemukan di mana tangga sekolah itu. Ia bahkan tidak tahu ia berada di lorong sekolah yang mana. Ia hanya berlari tanpa arah. Kepalanya mulai terasa berputar. Yang dilihatnya bahkan hanya jalan yang sama, bangunan yang sama, ruangan yang sama. Ia mengusap kasar wajahnya yang dipenuhi peluh dingin. Sampai akhirnya sebuah tangan menariknya dengan kasar.

“Katakan Alvin sakit apa?!” tanya si pemilik tangan itu tanpa menghentikan langkahnya dan terus menyeret Deva menuju tangga sekolah yang tidak berhasil Deva temukan.

Deva benar-benar bersyukur saat ini. Ditatapnya punggung kecil gadis dengan rambut berwarna emas sebagian itu. Ia bersyukur untuk penunjuk jalan. Ia bersyukur untuk genggaman hangat gadis cantik itu. Genggaman hangat yang membuatnya yakin kalau gadis bernama Sivia itu tidak benar-benar jahat seperti yang ada dalam pikirannya.

Tell me now, Deva! Alvin sakit apa?”

Shinzล-byล.”

Indonesian language, oke!”

Deva menggeleng cepat. Merutuki kebiasaannya yang masih sering keceplosan menggunakan bahasa Jepang. “Sakit jantung.”

Dan langkah Sivia terhenti. Jika tidak mengerem langkahnya dengan cepat, Deva pasti sudah menabrak tubuh yang lebih pendek darinya itu. Dada Sivia berdebar keras. Benar-benar keras hingga rasanya begitu sesak. Sakit jantung? Sakit jantung dia bilang? Apa yang gue lakukan selama ini? Apa yang baru saja gue lakukan? Apa yang gue pikirkan selama ini? Menyingkirkan Alvin? Menyingkirkan orang yang bahkan berusaha mati-matian mempertahankan nyawanya? Dan—

“Kak, kita harus cepat!”

mempertahankan nyawa gue juga?

Dan dia kembali berlari. Masih menggenggam tangan Deva. Tanpa sadar air mata mengalir di balik mata indahnya. Ia sadar kalau selama ini ia sudah berubah menjadi orang paling jahat seperti yang Deva katakan. Kata maaf dan do’a untuk Alvin saling bersahutan dalam hatinya.

-----------------------

“Jadi, kenapa lo bolos?”

“Tentu saja karena ketua osisnya juga bolos.”

“Hei, mana ada alasan seperti itu?”

“Hahaha… malas aja. Gue ngerasa bersalah banget.”

“Gak usah terlalu dipikirkan, oke? Semuanya murni salah gue.”

Gadis berkacamata itu tersipu begitu tangan itu menepuk pelan puncak kepalanya. Ia tersenyum ke arah kakak kelasnya yang tampak kusut hari ini. Ia tidak menyangka kalau aksi bolosnya sekarang malah mempertemukan ia dan juga Iel di alun-alun kota saat ini. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan kejadian kemarin. Ia merasa menjadi biangnya masalah yang dihadapi Iel dan juga sahabat-sahabatnya. Ia merasa begitu buruk. Sangat buruk. Padahal, awalnya ia hanya iseng saja. Ia tidak menyangka kalau masalahnya akan menjadi serumit ini.

“Alasan Kak Iel bolos apa, Kak?” tanya gadis bernama Nova itu.

Iel menarik nafas dalam. “Nyari kerja. Dan ternyata susah banget. Banyak yang tidak memperkerjakan anak-anak yang bahkan belum mendapatkan ijazah SMA.” Iel menjelaskan diiringi helaan nafas lelah setelahnya.

Nova memandang Iel lebih rinci lagi. “Kenapa nyari kerja, Kak?” tentu saja Nova belum tahu kondisi keluarganya. Bahkan di antara sahabat-sahabatnya, hanya Shilla dan Cakka saja yang tahu. Itu pun kalau mereka berdua belum memberitahu yang lainnya.

Iel membalas tatapan Nova dan tersenyum sehangat mungkin. Meski raut wajah lelah itu tidak bisa disembunyikan oleh senyumnya. “Gak usah dipikirkan, oke? Alasan itu cuma gue yang tau.” Kalimat yang hampir serupa dengan kalimat sebelumnya tentu dengan aksi Iel yang serupa juga. Menepuk puncak kepalanya. Nova merasa begitu senang dengan hal itu. Bukankah sebenarnya laki-laki yang selalu terlihat tempramen itu begitu hangat dan lembut? Hah, bukankah Kak Shilla harusnya begitu bersyukur mempunyai cowok seperti Kak Iel?

“Kak Iel kenapa gak minta bantuan Kak Shilla aja, sih? Setahu aku, keluarga Kak Shilla itu kaya raya dan mempunyai cabang perusahaan yang banyak. Kak Iel bisa bekerja di perusahaan mana saja dan jadi apa saja. Kak Shilla pasti mau bantu.”

Sontak saja Iel memandang Nova lebih dalam lagi. Nova benar. Ia bahkan tidak berpikir sampai ke sana.

“udah… udah… gimana kalau kita makan bareng hari ini?” Nova risih. Hatinya berdebar mendapat tatapan seintens itu dari Iel. Meski ia tidak yakin kalau ia mencintai Iel, karena ia  memang selalu merasa berdebar saat dekat dengan laki-laki yang menurutnya tampan, tetap saja ia dibuat salting oleh tatapan itu. “Sebagai bayaran kerja keras Kak Iel hari ini, gue teraktir Kak Iel sepuasnya, oke!”

Iel hanya tersenyum melihat gerak-gerik salah tingkah yang ditunjukan Nova. “Ayo… bener ya, ditraktir? Gue makannya banyak loh…”

Nova mengangguk semangat dan menarik Iel ke kafe terdekat.

----------------------

“Mas Elang?” Agni tersenyum kikuk begitu melihat wajah tak asing yang baru saja membukakan pintu rumah super mewah itu. Mama Agni menoleh dengan cepat ke arahnya, wajahnya tampak bingung.  Loh? Kalian sudah saling kenal? Seperti itulah kira-kira pertanyaan di balik wajah wanita paruh baya itu. Setelah beberapa saat memikirkan kenapa ada Mas Elang, dalam hati Agni langsung ber’oho’-ria. Ternyata teman mamanya itu ibunya Cakka.

“Masuk, Tante.” Dengan sopan, Mas Elang membukakan pintu lebih lebar. Ia tersenyum ke arah mama Agni setelah membalas senyuman Agni sebelumnya. “Ibu udah nunggu di dalam,” sambungnya lagi. Mama tersenyum dan mengucapkan terimakasih sebelum melangkah masuk ke dalam rumah yang benar-benar besar itu.

Agni  mendudukan dirinya di samping mamanya setelah memberi salam pada ibu Cakka. Mama langsung asyik bercerita banyak hal dengan teman lamanya itu. Ibu Cakka banyak diam. Mamanya lebih mendominasi percakapan. Dari hematnya, sifat wanita cantik itu tampak sangat berbeda dari Cakka. Cakka bahkan sangat cerewet dan hiperaktif. Memikirkan Cakka, Agni langsung mengamati keadaan rumah bercat cream cokelat yang dipenuhi barang-barang antik itu. Ia tidak menemukan Cakka di mana pun. Ia melirik jam besar yang menggantung di salah satu dinding. Apa Cakka masih di sekolah ya?  Agni bertanya dalam hati. Ini sudah siang, dan jam pulang sudah satu jam yang lalu.

“Nyari Cakka ya?” Mas Elang duduk di samping Agni yang tampak begitu bosan. Pertanyaan yang dilontarkan dengan suara normal itu mau tidak mau menghentikan percakapan kedua wanita dewasa di hadapan mereka. Mereka memandang Mas Elang dan Agni dengan bingung.

“Kalian sudah saling kenal?” Dan pertanyaan itu terlontar dari wanita pendiam yang murah senyum dan baik hati itu.

Elang mengangguk. “Dia teman Cakka, Bu. Hm… Elang anterin Agni ke kamar Cakka dulu ya, Bu? Siapa tau, kalau ada Agni Cakka bisa sembuh lebih cepet.”

Eh? Agni terkesiap begitu tangannya ditarik bahkan sebelum kedua wanita itu mengangguk memberi persetujuan. Dengan pasrah, Agni mengikuti langkah dokter muda itu. “Aku kira Cakka belum pulang sekolah.” Agni akhirnya bersuara.

“Cakka gak sekolah. Tadi pagi dia demam.”

“Demam? Cakka sakit?” Suara Agni sarat dengan kecemasan. Mas Elang tersenyum mendengarnya.

“Kayaknya dia udah bangun, nih,” kata Mas Elang saat mereka berhenti di salah satu ruangan. Mas Elang baru saja membuka pintu ruangan itu. Masih mengandeng tangan Agni, ia masuk ke dalam ruangan yang luasnya dua kali lebih besar dari kamar Agni.

Agni mengamati keadaan ruangan yang dipenuhi dengan berbagai ornamen basket itu sebelum memandang Cakka yang sudah menatapnya dengan heran. Laki-laki itu tengah bersandar di kepala tempat tidur. Tampak lemas dan pucat.

“Lo ngapain di sini?” pertanyaan pembuka yang sungguh tidak enak didengar. Mas Elang menyentuh kening Cakka, bermaksud memeriksanya, namun Cakka menepis pelan tangan itu. Jelas ia tidak suka Agni ada di kamarnya. Tepatnya, ia tidak suka terlihat sakit seperti ini di hadapan temannya.

Agni menghela nafas, menatap Cakka dengan iba, lantas duduk di sisi kosong tempat tidur Cakka. Ia sudah paham bagaimana sifat Cakka yang selalu ingin terlihat baik-baik saja di hadapan siapa pun.  “Gak usah gitu juga kali, Kka. Nanggung udah tau lo sakit, jadi gak usah sok kuat gitu. Namanya juga manusia, gak selamanya harus sehat. Kalo lo sakit, itu tandanya Tuhan sayang sama lo.” Agni tersenyum setelah berkata demikian. Dan Cakka tertegun lama.

“Ya udah… Mas Elang keluar dulu ya?” Dokter muda itu berlalu. Menyisakan Agni dan Cakka dalam kesunyian.

Sunyi. Lama.

“Jadi, alasan lo di sini apa, Nona Bebek Angsa?”

Agni menoleh. Ah, rasanya sudah lama Cakka tidak memanggil nama itu. Kangen juga. Ia ingat perdebatannya dengan Deva tadi pagi. Kalau ‘Cicak’ berarti panggilan kesayangan untuk Cakka darinya, berarti ‘Nona Bebek Angsa’ juga panggilan kesayangan untuknya dari Cakka. Mengingat hal itu, Agni tersenyum senang.

“Ya jengukin lo, lah. Apa lagi, coba?” jawab Agni seadanya. Ia malas kalau harus menjelaskan panjang lebar kenapa ia ada di rumah Cakka dari awal.

“Tau dari mana gue sakit?” tanya Cakka lagi. Kali ini Agni tersenyum kikuk.

Ck, lagi sakit aja lo bawel ya? Dasar Cicak!” Agni menggerutu. Pasalnya ia tidak tahu harus menjawab apa. Toh, sejak awal ia tidak benar-benar berniat menjenguk Cakka.

“Iiisshh, Bebek Ang—argh!” Baru saja Cakka hendak melempar bantal ke arah Agni, saat sakit di perutnya kembali lagi. Awalnya Agni mencibir. Kualat, tuh! Makanya kalo lagi sakit jangan suka isengin orang. Pikirnya dalam hati. Namun, begitu melihat Cakka tiba-tiba meringkuk, menggulung tubuhnya sembari meremas perutnya, mau tidak mau membuat ekspresi Agni berubah seketika. Ia tampak begitu cemas.

“Lo kenapa? Ap-apa… kenapa? Ya ampun, gu-gue harus bagaimana ini? Apa yang sakit? Bi-bilang sama gue! Mas Elang, ya gue pang—”

“Jangan panik, Angsa Jelek!”

“—CICAK!” Agni berteriak begitu Cakka menarik tubuhnya dan membuatnya berbaring di samping tubuh itu.  Ia meronta dengan keras saat Cakka tiba-tiba saja memeluknya dengan begitu kuat. Ia tidak terima. Ia merasa ini pelecehan. “Le-lepas!” Agni terus meronta. Cakka memeluknya dengan begitu kuat hingga ia tidak bisa bernafas. Wajah Agni bahkan sampai terbenam sempurna di dada Cakka. Jangan lupakan bau khas parfum Cakka yang bercampur dengan keringat, membuat Agni benar-benar seperti penderita gangguan paru-paru kali ini.

“Gue gak apa-apa… jangan panik!” Cakka tahu betul bagaimana sikap Agni yang selalu over panic saat melihat orang kesakitan seperti ini.

Akhirnya Agni diam dalam dekapan Cakka. Setelah sedikit mengubah posisi kepalanya hingga menjauhi dada Cakka, Agni melihat tangan Cakka yang lain yang masih tampak sibuk meremas perutnya sendiri. Agni jadi heran, kenapa pelukan Cakka begitu kuat padahal Cakka memeluknya hanya dengan satu tangan? Dan Agni sadar, Cakka benar-benar tengah kesakitan saat ini. Sedikit mendongak, ia melihat wajah Cakka yang sudah dipenuhi keringat dingin. Lantas kembali memandang tangan Cakka yang masih pada posisi yang sama.

“Ini yang sakit?” Agni berusaha tenang. Ia meraih tangan Cakka, menghentikan aksi Cakka meremas-remas perutnya seperti itu. “Maag lo pasti udah parah ya?” Cakka mengangguk lemah, namun Agni yakin kalau sakit yang Cakka derita bukan benar-benar sakit maag.

“Gue harus bagaimana?” tanya Agni lagi.

“Jangan panik. Tetap begini sampai sakitnya hilang.”

Akhirnya Agni diam. Cakka juga diam. Cukup lama.

“Cakka?”

“Hmm…”

“Lo gak lagi cari kesempatan dalam kesempitan, kan?”

“Menurut lo?”

Dan Agni merasa ada gemuruh disertai dentuman keras dalam dadanya.

---------------------

“Makasih…”

Shilla tersenyum dan mengangguk. Menatap laki-laki yang sepuluh menit yang lalu membuka matanya, yang saat ini tengah berbaring penuh di tempat tidurnya. Suhu tubuhnya masih panas, tapi Shilla bersyukur karena akhirnya Rio sadar juga.

“Yo, ini sebenarnya kenapa?” Pertanyaan yang sejak tadi ingin sekali Shilla tanyakan.

Rio menggeleng. Tubuhnya masih terasa begitu sakit. Suhu tubuhnya memang terasa panas, tapi di dalam sana, Rio merasa ada jarum-jarum yang terbuat dari es tengah menusuk-nusuk seluruh organ tubuhnya. Begitu dingin dan sakit. Ia melewati malam dan hari terburuk saat ini.

Shilla menghela nafas begitu tak mendapat jawaban memuaskan dari Rio. Tapi ia tidak ingin memaksa. Digenggamnya tangan Rio. “Ibu lo ke mana?” tanyanya lagi. Rio kembali menggeleng. Shilla gemas dibuatnya. Dan itu membuat Shilla diam pada akhirnya. Tapi tangannya masih mengusap-ngusap tangan Rio dengan lembut. Ia tahu, di dalam dada Rio, di dalam hati terdalam sahabatnya itu, ada bongkahan es yang membuatnya merasa begitu dingin, membuatnya merasa begitu kesepian, dan Shilla berharap dengan itu bisa memberi kehangat untuk sahabat pendiamnya itu.

“Maaf…”

“Hmm?”

Susah payah, Rio mengangkat tubuhnya. Dengan sigap Shilla membantunya, menyandarkan tubuh Rio di kepala tempat tidur.

“Maaf buat kejadian kemarin. Gue gak bener-bener bermaksud bikin hubungan lo dan Iel berantakan.”

Shilla tersenyum dan menggeleng. “Gak apa-apa. Soal perasaan lo ke gue…”

“Itu bener. Bener banget.” Suara Rio terdengar benar-benar lemah hingga Shilla harus menajamkan pendengarannya. Rio seperti mendesah saja. “Bener, gue sayang sama lo. Namun sayang yang gue maksud, adalah sayang seperti sayangnya Alvin dan Cakka sama lo. Gak ada sayang yang bener-bener spesial seperti sayang Iel sama lo. Maaf…”

Butuh beberapa detik untuk Shilla mencerna kata-kata Rio. Sebelum akhirnya, gadis cantik itu menghela nafas lega. Sungguh lega, yang artinya tidak kisah cinta segitiga seperti yang ia pikirkan. Tidak akan ada yang terluka di antara mereka. “Makasih, Yo…  gue juga sayang sama lo.” Shilla tersenyum, memeluk Rio dengan begitu erat. “Cepet sembuh ya? Kita harus jelasin ini semua sama Iel.”

Rio mengangguk singkat. Dalam dekapan hangat Shilla, tidak ada yang dipikirkannya selain wanita itu. Wanita yang ia panggil ‘Ibu’ yang bahkan tidak ia temukan sejak kemarin bahkan sampai hari ini. Mengingat betapa menyedihkannya hidupnya, membuat hati Rio begitu terluka. Dalam diam, dalam pelukan lembut Shilla, laki-laki yang tampak sangat pucat itu menangis. Menangis untuk kedua kalinya setelah tangisan semalam.

----------------------

Dalam hidupnya, hanya ada satu hal yang Deva benci, satu hal yang membuat Deva yang selalu ceria dan penyabar, menjadi begitu marah. Hanya satu hal dan itu adalah orang-orang yang berbuat jahat di hadapannya. Dan ini adalah aksi marah pertamanya setelah beberapa tahun silam yang lalu saat papanya memperlakukan mamanya dengan buruk, setelah beberapa tahun yang lalu keluarganya hancur berantakan. Ia tidak tahu kalau ia akan semarah ini pada Dea, Sivia dan juga pada sahabat-sahabat Alvin yang bahkan tidak ada di antara mereka yang bisa dihubungi. Bahkan Agni, kakaknya sendiri pun sama. Bukankah mereka begitu jahat. Melupakan dan mengabaikan Alvin begitu saja menurutnya adalah hal yang begitu jahat. Seberat apa pun masalah persahabatan mereka, tidak seharusnya mereka membebankan itu semua pada Alvin yang mestinya harus dijaga dan diperhatikan.

Oh, Shit! Where are you now?!” Deva menggerutu tak jelas. Ia terus bolak balik di depan ruang rawat Alvin. Dalam hati ia bersyukur Alvin tidak sampai menginap di ruang ICU. Padahal saat ditemukan, kondisi Alvin begitu buruk. Wajahnya pucat, bibirnya biru, dan kepalanya berdarah. Ia bersyukur karena Alvin cukup kuat dan tangguh sehingga masa kritisnya tidak begitu lama.

Argh… I will kill you when you meet me!” Deva kembali menatap layar ponselnya frustasi. Baru saja ia hendak melempar ponselnya saat pintu kamar rawat Alvin terbuka. Mama dan papa Alvin keluar dan berjalan menghampirinya.

“Deva, Om sama Tante pulang dulu. Jangain Alvin bentar ya?”

Deva tersenyum dan mengangguk, mengiyakan perintah—lebih tepatnya permintaan—mamanya Alvin. Oh, bahkan baru saja mereka berkenalan. Tapi Deva merasa sudah mengenal mereka sudah lama. Deva bisa merasakan tatapan lembut dari mata mereka berdua.

“Sekali lagi kami berterimakasih sama kalian berdua,” ujar mama Alvin lagi. Kali ini sembari melirik ke arah ruangan tempat Alvin dirawat. Deva mengikuti arah pandangan kedua orang dewasa itu.

Di balik kaca pintu, Deva bisa melihat Sivia duduk di samping ranjang Alvin.  Gadis itu menggenggam tangan Alvin yang bebas jarum infuse dengan begitu erat. Raut wajahnya penuh dengan kecemasan dan penyesalan. Dalam hati Deva benar-benar lega melihat Sivia seperti itu. Gadis itu benar-benar gadis baik sebenarnya.

“Ya udah, kami pulang sekarang ya?” Kali ini papa Alvin yang besuara. Laki-laki tinggi tegap itu menepuk bahu Deva. Dan sekali lagi Deva merasa kehangatan menyebar hingga jiwanya. Bahkan selama ini ia tidak pernah merasakan kehangatan semacam ini dari papanya. Deva tersenyum sebelum mereka berlalu dan menghilang dari pandangannya.

Dan Deva kembali fokus pada ponselnya. Mengetik banyak pesan dan mengirimnya ke banyak nomor pula.

“Kalau ketemu, akan kubuat kalian menyesal!” ancamnya sambil menatap tajam ponselnya. Tentu saja maksudnya pada pemilik-pemilik nomor yang baru saja ia kirimi pesan. Ah, bahkan mereka tidak mendengar  ancamannya. Deva menggerutu menyadari kebodohannya.

------------------------

“Raynaldi Prasetya, ya?”

“Ini sudah ke dua puluh kalinya lo nyebut nama gue.”

Ify terkekeh mendengar protesan laki-laki berambut agak panjang yang saat ini tengah duduk di hadapannya itu. Mereka masih berada di tempat yang sama dari sejak tadi pagi. Begitu anteng membicarakan banyak hal sampai lupa sudah lebih dari lima jam mereka di sana. Laki-laki yang rupanya bernama Ray itu ikut terkekeh juga.  Ia mengambil kameranya dan buru-buru mengambil gambar Ify. Ini sudah ke sekian kalinya si pemilik Cannon EOS 60D itu mengambil gambarnya. Setiap kali gambarnya terambil, ia mengucapkan, “Alyssa Saufika Umari.” Tampak seperti sedang menghafal benar-benar nama itu.

Ify menutup wajahnya dengan telapak tangannya secara refleks. “Ray… sekali lagi lo ambil gambar gue, gue bener-bener nuntut lo bayar biaya pemotretan ya?” Ify mendengus sebal. Gadis yang memang tidak biasa eksis di depan kamera itu menggembungkan pipinya lucu.

“Yayaya, oke!” Ray kembali menyimpan kameranya. Lagi pula, ia sudah merasa cukup mengambil gambar gadis itu. Bahkan, sebelum mereka bertemu, Ray sudah memotret gadis itu dari kejauhan. “Oh, ya… ngomong-ngomong, lo kenapa bolos sekolah? Apa saking penasarannya sama gue, ya?”

“Hah? Nggak juga…” Ify mengelak. Ia menyeruput jus jeruknya hingga sensasi dingin membuat tenggorokannya segar. Lantas setelah itu menghela nafas, membenarkan posisinya agar lebih nyaman dan menatap jus jeruknya dengan pandangan sayu. Ray memperhatikannya dalam diam.

“Lo tau gak, kadang pas lagi nonton sebuah drama, gue sering banget gak nyelesain ceritanya sampai tamat ketika konflik si tokoh mulai terasa begitu rumit. Alasannya karena gue gak pernah suka dihadapkan pada kenyataan pahit. Rasanya begitu aneh, tapi memang mesti itu sebuah drama, meski gue tahu kalau akhirnya bakal bahagia, gue tetep gak suka.”

Mendengar kata-kata Ify, mau tidak mau membuat Ray tersenyum geli. Tapi ia cukup mengerti apa yang sedang Ify alami dan Ify rasakan sekarang. Ya, bersyukur karena ia termasuk orang yang cukup peka. “Hm, gue ngerti, Fy. Terkadang, saat masalah menghadapi kita, hal termudah adalah menghindarinya. Tapi, percaya sama gue, bahkan menghindarnya kita itu adalah hal yang jauh lebih mengerikan. Lo harus tau, kalau penyesalan jauh lebih menakutkan dan menyakitkan dari sebuah penyakit paling mematikan di dunia ini. Terlebih ketika tidak ada cara untuk kita melupakan dan memperbaikinya.”

Ify tertegun. Lama.

“Di dunia ini, kita bukan seorang penonton yang kalau gak suka konflik yang dihadapi, kita bisa mematikan tontonan dan menghindarinya. Kita adalah pemeran utama di sini, jadi hadapi saja.” Jeda. Ray mulai menengok ke arah kiri dan kanan, berniat memanggil pelayan. Entah kenapa, pembicaraan kali ini membuat ia merasa begitu haus dan ia benar-benar membutuhkan air putih. “Jangan pernah menghindar seperti yang pernah gue la—”

Kata-kata Ray terputus. Ify menoleh ke arah laki-laki yang tampak sibuk mengamati pintu masuk kafe. Ify mengikuti arah pandangan Ray, dan ia mengernyit.

“NOVA!!!”

Ray tiba-tiba berteriak. Beberapa pengunjung sampai menoleh ke arahnya. Ify sendiri masih tak percaya dan menatap Nova yang juga menatap mereka. Gadis yang baru saja masuk bersama Iel di sampingnya, terlihat membeku untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia berjalan mendekati meja yang Ify dan juga Ray duduki. Pengunjung yang lain kembali fokus pada kegiatan mereka begitu Ify memberi anggukan, memohon maaf pada mereka beberapa kali.

“Kak Ray?” Suara Nova bergetar. Ia memandang Ray dengan begitu dalam. Begitu pun dengan Ray. Ify dan Iel hanya memperhatikan mereka dalam diam dan keheranan.

Ify terhenyak ketika Nova beralih memandangnya dengan sedih. “Ja-jadi, selama ini… selama ini Kak Ray sama Kak Ify?” Bola mata Ify membulat sempurna. Pertanyaan macam apa itu? Kenapa Nova langsung bertanya seperti itu? Baru saja ia hendak membuka suara, saat Nova tiba-tiba berbalik dan menarik Iel menjauh dari mereka.

“Kita cari tempat yang lain, Kak.” Iel tampak pasrah begitu Nova menariknya keluar dari kafe itu. Ia memandang Ify dengan bingung sekilas sebelum akhirnya mengikuti langkah cepat Nova. Ify mengalihkan tatapannya pada Ray yang tampak membeku di tempatnya. Laki-laki itu terlihat begitu shock.

“Ray… lo—”

Belum sempurna Ify menyelesaikan kalimatnya, gerakan Ray membuatnya akhirnya menutup mulutnya kembali. Ray berdiri dari duduknya, dan beberapa jurus kemudian berlari keluar kafe. Berusaha mengejar Nova dan Iel. Tak mempedulikan Ify yang masih larut dalam kebingungan.

“Ini ada apa sebenarnya?” Ify menggerutu entah pada siapa. Ia mengambil uang seratus ribuan di dalam dompetnya, menyimpannya di atas meja, dan setelah itu ia berlalu, ikut keluar kafe setelah sebelumnya mengambil Kamera dan ransel yang ditinggal pemiliknya.

“Ray…” Ify menepuk bahu Ray yang sudah menghentikan langkahnya tidak jauh dari kafe dan, memilih menatap punggung Nova yang perlahan menjauh dari pandangannya. Semula ia tidak mengerti kenapa Ray memilih untuk diam dan tidak mengejar Nova sampai berhasil menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi, sampai akhirnya…

“HEI, RAY!!!” Ify memekik dengan begitu keras saat tubuh yang jauh lebih tinggi darinya itu tiba-tiba terhuyung, hampir saja menyentuh aspal jika tidak dengan sigap Ify menahannya. Dan hal yang benar-benar mengejutkan Ify ketika itu adalah ia melihat banyak darah yang keluar dari kedua lubang hidung teman barunya itu. Gue harus bagaimana? Ify benar-benar kalut sekarang.

----------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225
Pin : 5467BAFB

Mari beri tepuk tangan yang meriah untuk “Nur fadilah syawal  karena semua tebakannya benar semua. Hehehe… terimakasih sudah mau membaca dan repot-repot menebak-nebak cerita saya. Sungguh saya sangat senang… ^.^

Saya sudah berusaha buat part ini sepanjang mungkin, meski bagian Alvinnya dikit banget! Maaf kalau mengecewakan… Maaf…

Jangan lupa sisipkan komentar. Semakin banyak yang komen, semakin cepat update. hehehe..

Terimakasih ^.^

6 komentar:

  1. Kak naeee akhirnya dilanjut juga. Bener deh ngga sabar banget nget nget nunggunya!!!
    Part ini sumpah bikin mlongo. Gimana ngga, pemeran yang cowok pada sakit semua (kecuali deva). Ngenes amat yaak kak kayaknya punya temen yang pada punya penyakit masing masing. Tapi aku suka banget cara kak naee nyiksa mereka. Rasanya kita bisa masuk banget ke cerita.
    Oke kak, makasih udah bikin aku PENASARAN BANGET sama si Ray sama Nova. Oke, aku tau kakak penulis yang baik. Jadi jagan lupa tanggung jawab buat ngejawab penasaran kita sebagai pembaca setia kakak dengan lanjutin part selanjutnya dengan tempo yang sesingkat-singkatnya (kok kayak proklamasi ya?!)
    Yaudah deh kak, ditunggu segera kelanjutannya. Oiya makasih part ini udah panjang banget. Semoga part selanjutnya bisa lebih panjang.
    Akhir kata, arigatou gozaimasu ^^

    BalasHapus
  2. Amazing! ^_^
    tokoh cowoknya bener-bener disiksa total!
    Jadi part akhir kemarin itu Rio. Baru inget ada Rio *plak*
    oke kak nae. . . Lanjut lagi!

    BalasHapus
  3. Wiiih.. !! Panjang banget lohh ini ๐Ÿ˜ฑ *tuhkandiamulailebai-_-* kalo gak salah ada 12 scene. Dan scene Alv cuma 1. Eh, sempat sih tersirat di beberapa scene lain, tapi di scenenya Deva. Yaudahlahyah, yang penting Via udah tau, dan kayaknya bakal jadi baek Yeayy! ๐Ÿ˜†. Tapi Dhea kemana? Duh Dheaa. Jahat banget sih, tuh si Deva jadi benci kan! Ais-_- . Itu juga Cakka, kenapa gak mau bilang sakitnya apaseeh!! Cakka mah gitu. Sok kuat. Kayaknya, Tuan Cicak ini sakit kanker lambung kayak Alvin di cerbung Don't Over deh. Iya kali yah? Soalnya kan maag yg udah parah gitu. Eh tapi, aku kok juga curiga kalo kedatangan Agni sama mamanya ke rumah Cakka itu ada maksud gitu deh.. apa mungkin kalo Agni sama Mas Elang mau dijodohin?๐Ÿ˜ฑkalo bener kayak gitu, patah hati dong Cakkanya ๐Ÿ˜ข. Udah Cak, sama Disa aja sini *eh. Dan yang paaaling bikin kepo, itu Nova sama Ray ada apa? Biar aku tebak, mereka ada hubungan gitu yah? Pacar? Mantan? Saling suka? Pokoknya gitulah. Trus ceritanya si Nova tadi tuh jealous sama Ify. Nyangkanya Ray selama ini udah lama deket sama Ify, pdhl baru aja, Nov. SI Ray juga sih, dulu main pergi pergi aja, ninggalin nova. Eh bener gak sih? Au ah.. saya kan emang suka soktau. Eh tapi dari yg kemarin bener semua yeay!! Kak Nae, aku gak dapet piring cantik atau gak payung gitu? Hahahah *dipikir hadiah sabun colek*. Yaudahlah yah, kayaknya ini udah panjang banget. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ๐Ÿ’

    BalasHapus
  4. Kak Nae kebanyakan nonton drama, baca komik, sama main game ya. I know that kak :D part kali ini dramatis banget. Beberapa bagian jadi buat aku deg deg an sendiri. Oh ya, part yang katanya ngaret ini panjang loh kak. Tapi seru banget (y)
    Part selanjutnya ditunggu ya kak. Yang panjang dan tidak ngaret. Siksa aja semuanya. Penulisnya sekalian (peace kak :v )

    BalasHapus
  5. salam kenal, aku amanda... maaf Baru komen di part ini karena bacanya Baru kemarin di kebut... nyuri" waktu pas dengerin dosen sama di jln (curhat)... aku suka bgt sama semua cerita kakak, selama ini jadi sider... pas, buka eh ada cerbung Baru langsung kebut baca setelah baca intronya... aku suka tulisan kakak yg menggambarkan bahwa tdk ada hidup yg sempurna, sehebat apapun seseorang pasti ada kelemahan yg dimilikinya, persahabat yang erat, pokonya aku suka cerita buatan kakak... oh Iya, kebetulan aku sukanya sama Alvin, jadi harapan aku part bagian Alvin lebih banyak... di tunggu ya kak chapter 19nya...

    BalasHapus
  6. okee, kak nae si psikopat mulai beraksiiii... *eh! piss kaaak... tapi bener kan??

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea