Sabtu, 25 Juli 2015

Separation -Dua puluh-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 17.54


Maaf update lama. Makasih yang udah komentar di part kemarin. Karena buru-buru, saya gak sempet baca ulang, pasti typonya berserakan di mana-mana. Ohya, Minal aidin wa faidzin yaaa… mohon maaf lahir batin.

Yaudah yuuu…

Keep reading

-------------------

SEPARATION

-Dua puluh -

-------------------

“Lo tau? Rasanya udah lama banget kita gak kayak gini.”

Tersenyum. Laki-laki dengan plester di kening sebelah kirinya itu hanya tersenyum simpul mendengar ungkapan yang baru saja terlontar dari bibir ranum gadis yang saat ini tengah bergelayut manja di lengannya. Ia mengacak gemas poni gadis itu. Karena lo terlalu lama berubah. Gue berharap kemesraan ini berlangsung selamanya. Jangan pernah menjauh lagi dari gue. Lo kebahagiaan terbesar dalam hidup gue. Laki-laki benama Alvin itu hanya bisa mengungkapkan kata-kata itu dalam hatinya. Ia terlalu bahagia hari ini. Sangat bahagia. Tidak ada alasan untuknya tidak bahagia. Deanya telah kembali.

“Lo beneran udah sehat, kan?” Dea menatap Alvin sejenak.

Alvin mengangguk dan tersenyum. Ia sudah beristirahat tiga hari penuh di rumah sakit. Ia merasa begitu sehat hari ini.

“Terus kenapa diem aja?” tanya Dea mengingat hanya dia yang mendominasi pembicaraan dari sejak mereka turun dari mobil.

Alvin menggaruk tengkuknya. “Lo sadar gak, De, kalo banyak orang yang perhatiin kita?” tanya Alvin. Beberapa siswa yang tengah asyik beraktifitas di koridor sekolah tampak memerhatikan mereka. Wajarlah, sebelumnya mereka tidak pernah melihat adegan seperti itu. Meski mereka tahu kedua orang yang saat ini berjalan bergandengan itu kakak-beradik, mereka tidak pernah melihat Alvin dan Dea berjalan seakrab ini.

Mendengar pertanyaan Alvin, refleks saja Dea mengalihkan perhatiannya pada orang-orang di sekitarnya. Benar, sebagian dari mereka tampak memerhatikan ia dan Alvin. Tapi, ia tidak peduli dan malah memeluk lengan Alvin lebih erat. “Gak apa-apa. Kita couple baru, jadi wajar mereka begitu,” katanya cuek. Alvin hanya terkekeh pelan mendengar kata-kata Dea.

“Belajar yang bener, Sweetie…” Sekali lagi Alvin mengacak-ngacak poni Dea yang langsung merengut kesal. Tatanan rambutnya jadi berantakan. Tapi dalam hati ia merasa senang dengan hal itu. Mereka berada tepat di depan kelas Dea saat ini.

“Jangan panggil Sweetie! Itu lebai tau,” rutuk Dea sebelum benar-benar masuk ke dalam kelas. Deva dan Nova yang kebetulan sudah ada di kelas dan melihat adegan itu saling pandang dan kemudian tersenyum senang. Tidak ada yang tidak bahagia melihat kedekatan Dea dan Alvin sekarang. Bahkan ketika Alvin masih dirawat di rumah sakit, kebersamaan mereka membuat orang-orang yang melihatnya begitu iri.

“Kita pasangan baru, ingat? Bersikap manis dan lebai dikit kan gak apa-apa.” Alvin dan juga Dea tertawa kecil setelahnya. “Gue ke kelas dulu. Lo masuk gih!” Dea mengangguk.

“Kak!” Baru satu langkah Alvin menggerakan kakinya saat Dea kembali memanggilnya. Ia berbalik dan memandang Dea yang masih berdiri di ambang pintu. “Kelas lo kan ke arah sana.” Gadis itu menunjuk arah yang berlawanan dengan arah yang baru saja hendak Alvin lewati. Ia berjalan mendekat ke arah Alvin. Mengamati Alvin serinci mungkin. “Jangan-jangan, luka di kepala lo bikin lo hilang ingatan ya?”

Alvin menepis pelan tangan Dea yang hendak menyentuh keningnya. “Gue gak hilang ingatan tau. Lo kali yang mulai pikun. Sekarang masuk gih. One, two, three, go!” Alvin memaksa tubuh Dea berbalik dan mendorongnya hingga masuk ke dalam kelas.

Sebelum benar-benar masuk ke dalam kelas, Dea menghentikan langkahnya dan kembali berbalik. “Lo jaga diri, oke! Terus, kalau jalan tuh matanya di buka, jangan sambil merem gitu. Hehe… lagian lo kok sipit sih, Kak? Setahu gue, di keluarga kita gak ada yang matanya sipit kayak lo. Jangan-jangan lo bukan anak biologis Papa lagi.”

“Iisshh… Ini karena waktu Mama hamil, dia ngefans berat sama Lee Joon Ki. Aktor Korea yang gantengnya gak kira-kira itu. Udah, ah…” Alvin kembali berbalik. Berjalan meninggalkan Dea.

“Kak!”

Alvin menghentikan langkahnya, tapi tidak berbalik. Apa lagi?

“One, two, three, go!”

Tanpa berbalik, Alvin mengacungkan ibu jarinya. Lantas kembali berjalan. Dea baru masuk kelas saat Alvin benar-benar menghilang di belokan koridor. Entah kenapa, rasanya ia ingin terus bersama Alvin. Ah, ia benar-benar merindukan laki-laki itu. Rasanya rindu yang ia tampung jauh lebih dalam dari rindu pasangan kekasih.

--------------------

 Alvin menatap nanar punggung mungil itu. Mungkin selama ini ia memang belum bisa menjadi sahabat yang baik untuk gadis yang saat ini tampak sedang berkonsentrasi dengan bukunya itu. Gadis itu sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Atau mungkin gadis itu memang tidak peduli dengan kehadirannya, dengan dirinya. Membayangkan hal itu, membuat perasaannya begitu sesak.

“Haaahh… kenapa gue harus ditakdirkan untuk menghafal rumus-rumus mengerikan ini?” Gadis itu menghela nafas lelah. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Raut wajahnya tampak frustasi. Ia masih belum menyadari ada Alvin yang sejak tadi berdiri di belakangnya, memerhatikannya dengan sedih.

Sekilas Alvin melirik buku kimia yang sudah penuh dengan stabilo warna-warni itu dengan rinci. Lantas setelah itu ia mendudukan dirinya di kursi kosong di samping gadis itu. Diambil alihnya buku tebal dengan nama ‘Alyssa Saufika Umari’ di bagian jilidnya itu dengan cepat. Ify—gadis itu—refleks menoleh ke arah Alvin. Ia cukup terkejut dengan kehadiran sahabatnya itu.

“Yang namanya pelajaran itu, bukan dihafal, tapi dipahami. Hafal itu belum tentu paham, tapi paham sudah pasti hafal. Dan hafal itu besar kemungkinan lupa. Tapi, kalau paham, tidak mungkin lupa.” Tanpa menoleh ke arah Ify, Alvin sibuk mewarnai bagian-bagian penting di buku paket itu dengan stabilo warna hijau yang sejak tadi tergeletak di atas meja.

“Kenapa di sini? Kenapa lo ada di kelas ini?” Ify menatap Alvin tak percaya. Ia merebut bukunya dengan kasar, membuat Alvin sontak saja memandang Ify kaget. Tidak pernah Ify bersikap seperti ini sebelumnya. Tiga hari tidak bertemu dengan gadis itu, begitu banyak hal kah yang ia lewatkan hingga saat ia kembali bertemu dengan Ify, gadis itu berubah seperti ini?

“Tentu saja karena ini kelas gue,” bela Alvin. Selama tiga hari dirawat di rumah sakit, Ify tidak pernah hadir bersama yang lain untuk menengoknya. Ia merasa begitu sedih tentu saja. Terlebih begitu sahabatnya yang lain bilang kalau di sekolah, ketika mereka berusaha bicara dengan Ify, gadis itu malah menghindar dengan banyak alasan. Kenapa di saat seseorang yang penting dalam hidupnya kembali, seseorang yang penting dalam hidupnya yang lain harus pergi? Alvin hampir frustasi memikirkan hal itu.

Dan berakhirlah dengan keputusannya sekarang. Ia memutuskan untuk kembali ke kelas IPA.Urusannya dengan Sivia yang bahkan belum dimulai, akan ia pikirkan nanti. Karena yang terpenting sekarang adalah membuat Ify kembali menjadi Ify yang dulu. Cukup Dea saja yang pernah berubah menjadi orang asing dalam hidupnya selama bertahun-tahun, tidak dengan sahabatnya yang lain. Sesungguhnya Alvin tidak begitu suka ditinggalkan dalam hubungan yang tidak baik seperti saat ini.

Ify tak menjawab. Ia kembali fokus pada bukunya. Dan Alvin tidak lagi berkomentar karena baru saja seorang guru masuk ke dalam ruangan. Dan kecanggungan itu, kebisuan itu, terus berlangsung hingga pelajaran berakhir. Bahkan hingga bel istirahat berbunyi, tidak ada di antara kedua sahabat itu yang memulai pembicaraan.

“Fy…” Alvin mencekal pergelangan tangan Ify yang saat itu hendak beranjak dari duduknya. Ify menoleh sejenak ke arah Alvin, menghela nafas, menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah di kursi. “Lo kenapa gak jengukin gue?”

“Gue sibuk belajar,” jawab Ify singkat. Ditatapnya papan tulis yang sudah penuh dengan soal-soal matematika yang baru saja ditugaskan untuk dikerjakan di rumah itu tanpa berniat menoleh sedikit pun ke arah Alvin. Ia tidak berani menatap wajah pucat sahabatnya itu, atau pertahanannya akan runtuh. Sungguh, dalam hati, ia begitu merindukan Alvin. Sangat merindukannya. Setiap malam, ia bahkan tidak pernah berhenti berdoa untuk kesembuhan Alvin. Namun, lidahnya tampak sedang mengkhianati hatinya beberapa hari ini.

“Fy…” Alvin memegang tangan Ify yang terkepal di atas meja. Ify tak menolak. “Kalo lo gini terus, bukannya malah bikin lo makin ngerasa sendiri ya?” tanyanya menatap wajah Ify yang masih memasang raut datarnya. Alvin merasa begitu sedih melihatnya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan sahabatnya itu? Tidak mungkin jika hanya karena insiden di UKS tempo hari Ify menjadi sedingin ini.

Ify tak menjawab. Alvin menarik nafas dalam-dalam, mencoba bersabar. Dibiarkannya sepuluh menit berlalu dalam kebisuan. Beberapa siswa yang memilih untuk menghabiskan waktu istirahat di kelas tampak memandang mereka sebentar sebelum akhirnya kembali dengan aktifitas masing-masing.

“Fy… lo kenapa? Bilang sama gue, Fy! Lo kenapa jadi kayak gini? Lo marah sama gue? Lo benci sama gue? Bilang sama gue, Fy, jangan diem gini! Kalo emang gue salah, gue minta ma—”

“IYA! LO SALAH! Lo salah, Vin…” Ify memotong ucapan Alvin. Ia memutar tubuhnya refleks, menatap Alvin sengit, namun tampak kepedihan di balik matanya. Alvin tersentak kaget. Bukan karena bentakan Ify, namun karena air mata yang mengalir dengan begitu derasnya di mata Ify. Selama ini ia tidak pernah melihat Ify menangis seperti ini. Terlebih karenanya.

“Lo salah, Vin…” Kali ini suara Ify terdengar lirih. Gadis itu tiba-tiba membenamkan wajahnya di bahu Alvin. Tangannya terkepal di atas pahanya, menahan sesak. “Lo salah ninggalin gue sendiri di kelas ini, Vin. Lo salah biarin gue duduk sendiri. Lo salah percaya sama gue kalo gue bisa menghafal banyak rumus tanpa bantuan lo. Lo salah, Vin… Lo yang bikin gue ngerasa sendiri selama ini.”

“Fy…” Alvin menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Dirasanya bahunya basah oleh air mata Ify.

“Gue benci hidup gue, Vin. Gue benci bokap gue. Gue benci nyokap tiri gue. Gue benci karena gue gak pernah tau di mana nyokap kandung gue sekarang. Gue benci gak ada nyokap yang bisa gue peluk pas gue sedih. Gue benci gak ada yang bisa nampung kesedihan gue. Gue benci karena gue gak bisa ungkapin dengan mudah perasaan gue. Gue benci kenapa gue gak bisa secengeng Shilla yang bisa lo peluk kapan aja pas lagi rapuh kayak gini. Gue benci lo yang malah ninggalin gue sendiri saat gue butuh sandaran. Dan gue benci karena sampai sekarang gue gak bisa lupain Rio. Gue benci…”

Alvin terdiam untuk beberapa saat. Isak tangis Ify membuat telinganya terasa berdenging. Ada sesak yang merambat di dadanya hingga nyeri. Berapa banyak hal yang tidak ia ketahui tentang sahabat-sahabatnya? Tiba-tiba saja Alvin merasa menjadi orang paling buruk. Di saat semua orang—keenam sahabatnya—memerhatikan dirinya, melindungi dirinya, memedulikan dirinya, mengetahui semua kelemahannya, kenapa ia bahkan tidak mengetahui semua hal tentang mereka? Seberapa apatiskah dirinya pada sahabatnya selama ini? Alvin membatin sedih.

Alvin mengeratkan pelukannya. “Gue gak ninggalin lo, Fy.”

“Lo ninggalin gue. Lo ninggalin gue. Lo ninggalin gue, Vin.”

“Nggak. Nggak pernah. Sorry… gue gak akan ninggalin lo lagi. Jadi jangan jauh-jauh dari gue. Biar gue yang nampung semua kesedihan lo kali ini. Lo gak butuh bokap lo, lo gak butuh nyokap tiri lo, dan lo gak butuh nyokap kandung lo yang entah di mana, lo gak butuh siapa pun buat dengerin kisah sedih lo, buat meluk lo pas lagi rapuh. Lo gak butuh siapa pun  selain gue. Percaya sama gue, asal lo jangan pernah selangkah pun menjauhi gue, menjauhi sahabat-sahabat lo. Alvin ikut menangis saat itu. Dan mendengar penuturan Alvin, Ify malah menangis semakin kencang. Tampak seperti anak kecil yang mohon perlindungan pada orang dewasa. Kepolosannya membuat keinginan Alvin untuk melindungi gadis itu semakin kuat. Ternyata, Ify bahkan jauh lebih polos dan cengeng dari Shilla.

Tanpa Alvin mau pun Ify sadari, kelima sahabat mereka yang lainnya, yang hendak mengajak Alvin dan juga Ify pergi ke kantin bareng, tengah berdiri di belakang mereka. Mendengarkan curahan hati Ify yang spontan dibeberkan. Selama ini, Ify bukan tipe orang yang pandai mengungkapkan perasaannya. Dan apa yang baru saja terlontar dari bibir tipisnya yang tampak bergetar, mau tidak mau membuat mereka terenyuh. Terlebih Rio. Rasa sesak seakan ikut menohok perasaanya dengan tajam. Jadi selama ini, Ify tengah berjuang keras melupakannya? Itu berarti gadis itu masih mencintainya?

Dan tidak ada yang bersuara saat itu. Semuanya diam dalam keterpakuan. Beberapa penghuni kelas IPA-1 itu menatap haru adegan kedelapan sahabat yang selalu terlihat kompak meski beberapa hari terakhir ini kesalahpahaman menguji persahabatan mereka.

--------------------

“Raynaldi. Raynaldi. Raynaldi.”

Seolah tak lelah gadis dengan kacamata berframe marun itu, tidak berhenti mengucapkan nama itu berulang kali. Meski tidak ada respon apa pun dari si pemilik nama yang tetap damai dalam tidurnya selama tiga hari pasca Ify membawanya ke tempat ini, gadis itu tetap saja memanggil nama itu. Berharap dengan begitu laki-laki yang tengah ia rindukan selama ini, mendengar panggilannya dan segera terbangun. Kenapa di saat ia kembali menemukan cintanya yang pergi selama beberapa tahun yang lalu, keadaannya seperti ini? Ia bahkan merasa kalau akan ada perpisahan yang lebih hebat dari perpisahan sebelumnya.

“Raynaldi. Raynaldi. Raynaldi.”

Tangan berkuku pendek polos tanpa kutek itu menusuk-nusuk pelan pipi laki-laki yang akrab dipanggil Ray itu dengan pelan. Sengaja mengusik tidur lelapnya. Betapa ia merindukan wajah di hadapannya itu. Benar-benar merindukannya. Dua tahun pergi tanpa pamit dan tanpa kabar apa pun, membuat rindunya kian menumpuk tak terbendung, meski selama ini ia cukup mampu menahan luapan rindu itu.

Malam itu Ify, kakak kelasnya, datang ke rumahnya. Menceritakan semuanya dari awal. Ia bernafas lega. Ternyata Ray, kakak seniornya di SMP dulu yang merangkap menjadi pacar pertamanya itu, tidak mempunyai hubungan khusus dengan Ify seperti yang ia bayangkan. Ify bahkan meyakinkannya kalau Ray sampai saat ini masih mencintainya dan tidak ada gadis lain dalam hatinya selain ia, cinta yang ia tinggal pergi untuk alasan berobat di Prancis.

Namun, belum lima detik paru-parunya menghirup udara yang melegakan, Ify kembali memberitahu tentang keadaan Ray. Saat itu juga, Nova tidak bisa menahan dirinya untuk segera pergi ke rumah sakit dan menemui Ray. Dan sejak saat itu, ia sama sekali tidak menemukan perubahan apa pun dari laki-laki yang begitu dicintainya itu. Ray tetap diam, asyik dengan bunga tidurnya.  Ray koma. Begitulah katanya. Kanker otak yang dideritanya sudah memasuki stadium tiga.

“Lo boleh pergi selama apa pun, asal suatu saat nanti, kapan pun itu, lo kembali lagi. Dan gue gak maksa lo buat bangun sekarang.Lo boleh tidur sepuas yang lo mau, asal suatu hari, kapan pun itu, lo harus bangun kembali.”

Menghentikan aksi menusuk-nusuk pipi Ray dan sekarang ia biarkan tangannya terlipat di sisi tubuh Ray. Ditumpunya dagunya di sana. Bola matanya dibiarkan mengamati wajah damai Ray yang tampak pucat. Ia bersyukur bisa melihat wajah itu lagi. Meski wajah itu tampak lebih tirus dan pucat dari dua tahun yang lalu.

Cukup lama ia menatapi wajah itu, sampai sesuatu mengalihkan segala perhatiannya. Segera ia bangkit begitu dilihatnya kelopak mata yang sekian lama tertutup itu terbuka. Senyum bahagia terpatri di balik bibirnya. “Ray…” panggilnya suminggrah. Ditatapnya lekat-lekat wajah itu dan wajahnya seketika mengernyit bingung, tak lama setelah itu berubah menjadi panik. Ada yang tidak beres dengan Raynya.

Lima detik setelah bola mata itu terbuka dan menatap kosong langit-langit ruangan, tubuh laki-laki itu tiba-tiba mengejang. Nafasnya memburu, berusaha meraup oksigen yang terasa begitu sulit meski masker oksigen terpasang menutupi hidung dan mulutnya. Bunyi dengan nada tak beraturan dari kadiograf di sisi ranjang seakan menelan Nova dalam ketakutan luar biasa. Ia menjerit panik sambil memanggil-manggil nama Ray. Untuk beberapa detik ia larut dalam kepanikannya sampai tombol merah di atas tempat tidur Ray menyadarkannya. Dengan tangan gemetar ia menekan tombol itu, dan tidak lama setelah itu dokter beserta pasukannya datang menyerbu ruangan itu dengan tergesa. Nova beringsut keluar saat pria berbaju putih khas dokter itu, menyerukan banyak perintah pada pasukan-pasukannya.

Ia mendudukan dirinya di kursi tunggu di depan ruangan dengan nomor 125 itu. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya mengalir dengan arus yang begitu deras. Tak mampu dibendungnya.  Lorong rumah sakit yang begitu sepi mengingat saat ini bukan waktu jam besuk dan hari memang sudah beranjak malam, membuat tangisnya terdengar begitu jelas. Ia begitu takut. Sungguh takut.

“Siapa pun yang lo tangisin di dalam sana, mari kita berdo’a untuknya.”

Nova terhenyak. Seseorang menepuk pundaknya pelan. Dialihkannya pandangannya ke arah si pemilik tangan itu. Masih dengan air mata mengalir, ditatapnya dengan intens laki-laki yang tampak tersenyum ke arahnya itu. Setelah Ray kembali, ia tidak pernah merasa salting dan gugup lagi ketika ditatap dengan begitu dalam oleh laki-laki tampan seperti laki-laki di hadapannya itu.

“Kak Cakka? Lo kenapa ada di sini?”

Laki-laki yang rupanya Cakka itu tak merespon pertanyaan Nova. Ia memilih menundukan kepalanya. Ditautkannya jari-jemari tangannya. Diletaknnya tangan itu di bawah dagunya. Mulai memejamkan mata, dan mulutnya mulai bergerak-gerak melafalkan banyak hal. “Tuhan yang Maha Baik, yang selalu memberikan hal baik juga untuk kami, dan yang tidak pernah bosan mendengar keluh-kesah kami, izinkan kami menambah daftar permintaan kami di antara ribuan permintaan lainnya. Karena hanya padaMu kami meminta dan tidak ada dzat lain yang bisa mewujudkannya, kami mohon dengarlah permintaan kami, dan Kau boleh mengabulkannya dalam bentuk apa pun yang menurutMu terbaik untuk kami.”

Nova membisu. Sedetik pun tak ingin ia memalingkan wajahnya dari Cakka yang tampak begitu serius. Ia merasa, saat ini, laki-laki tampan yang selalu bertingkah konyol dan lucu itu terlihat begitu mengesankan. Ia mendengarkan dengan seksama tiap kosakata yang keluar dari bibir yang tampak pucat itu. Ia merasa begitu ingin mengingat baik-baik kata-kata yang Cakka lafalkan.

“Tuhan Sang Pemilik Nyawa, berilah kekuatan pada teman kami yang tengah berjuang dengan begitu keras di dalam sana. Larang ia untuk menyerah dalam menghadapi segala sakitnya. Tuntun ia untuk kembali pada kami, dan biarkan kami kembali melihat senyumnya yang tulus untuk dunia. Jangan pisahkan kami sebelum kami benar-benar bahagia bersamanya. Sebelum kami bisa memberi yang terbaik untuknya. Kami mohon… kami mohon… dengarkanlah kami. Karena kami begitu menyayanginya.”

Nova terus menatapi Cakka. Tanpa sadar, air matanya yang sempat dihapusnya, kembali meluncur lebih deras begitu ia melihat laki-laki yang baru saja memanjatkan do’a itu menangis juga. Entah untuk alasan apa Cakka menangis, karena setahunya, Cakka bahkan tidak kenal dengan Ray.

“Suatu saat, kalau gue berada dalam kondisi yang sama dengan orang-orang yang saat ini menghuni ruangan-ruangan di rumah sakit ini, gue berharap ada yang mau berdo’a buat gue.” Cakka membuka matanya setelah melafakan ‘amiin’. Di hapusnya air matanya dan kembali mengalihkan tatapannya pada Nova yang belum berhenti menatapnya. Gadis itu masih menangis, dan dengan sigap ia menghapus air mata itu dan menarik Nova dalam dekapannya. “Lo boleh menangis di sini. Gak bakalan ada yang marah kayak lo meluk Iel waktu itu. Gue jamin seratus persen.”

Dalam tangisnya, Nova tertawa mendengar kata-kata terakhir Cakka. Bahkan beberapa saat yang lalu laki-laki itu terlihat begitu serius. Ia hendak kembali bertanya kenapa Cakka ada di rumah sakit ketika ia mulai ingat kalau Cakka putra pemilik rumah sakit ini, jadi wajar kalau Cakka berada di sampingnya saat ini. Ketika Cakka mendekapnya, ia merasa begitu tenang. Ia tidak tahu kenapa sahabat-sahabat dari Alvin itu memiliki aroma pelukan yang begitu menenangkan seperti ini.

-------------------

Mata Alvin membulat sempurna. Keningnya berkerut. Keterkejutan, ketidakpercayaan, dan kebingungan tergurat penuh di balik wajah pucatnya. Ia menatap sosok yang saat ini berdiri di hadapannya. Wanita cantik yang saat ini berdiri di ambang pintu itu, turut menatapnya bingung juga begitu melihat ekspresinya. Dalam beberapa gerakan, Alvin menyentuh dadanya yang tiba-tiba bergetar tak karuan. Ada apa ini? Ini kenapa? Rasa bahagia yang berlebihankah?

“A…  a-hmm…” Alvin sulit mengeluarkan kalimatnya. Wanita super cantik itu menatapnya semakin bingung, namun ia terlihat sabar menunggu apa yang hendak diucapkan pemuda di hadapannya itu.

“Alvin? Ayo masuk!”

Beruntung. Sosok gadis dengan T-Shirt kuning cerah itu tiba-tiba menariknya masuk ke dalam rumah super besar itu. Dari hematnya, rumah itu bahkan lebih besar dari rumah Cakka dan Shilla. Untuk beberapa saat ia mengamati rumah yang tampak lenggang itu. Maksudnya, rumah itu besar tapi tidak dipenuhi hiasan-hiasan mewah seperti yang selalu ia lihat di rumah Cakka. Seperti guci dengan harga selangit, atau karya-karya seniman dunia yang tidak bisa dibeli hanya dengan uang sepeser.

“Semua barang-barang di sini udah berakhir mengenaskan di tempat sampah.” Sivia menyimpan dua gelas es jeruk dan tiga toples cemilan yang baru saja diambilnya di atas meja. Ia duduk di hadapan Alvin yang sudah berhenti mengamati keadaan rumahnya.

Alvin mengangguk paham. Tak berniat menyinggung apa pun soal rumah Sivia. Sedari tadi ada hal yang begitu ingin ditanyakannya. Ia memperhatikan Sivia yang sudah mulai membuka beberapa buku yang  sejak ia diajak ke ruangan yang Sivia bilang ruangan keluarga itu, sudah berada di atas meja. Tampaknya Sivia sudah mempersiapkannya sejak awal. Gadis itu terlihat begitu semangat sepertinya.

“Natasha Kirana.” Alvin tiba-tiba berujar.

Sivia menoleh sejenak ke arah Alvin dan mengangguk malas. Ia sudah paham apa yang akan Alvin bicarakan selanjutnya. “Tidak ada yang tidak mengenalnya. Filmya yang liris tahun kemarin benar-benar menginvasi box office di seluruh Asia. Ia aktris yang cantik dan berbakat. Aktingnya selalu terlihat memukau, dan tidak ada satu pun peran yang tidak bisa dilakoninya.” Jeda. Sivia membolak-balik halaman buku matematika yang hendak  dipelajarinya. “Gue iri sama dia,” sambungnya.

“Mana ada anak yang iri pada ibunya sendiri.” Alvin terkekeh geli. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Sivia adalah putri seorang aktris ternama. Selama dua tahun menjadi bagian di Albider, Alvin bahkan tidak pernah tahu seluk-beluk pemilik sekolah terbesar itu, karena ia memang tidak berniat untuk mengetahuinya. Jadi wajar saja ketika wanita yang ia kenal sebagai pemain film itu membukakan pintu untuknya, ia begitu terkejut. Ia sempat mengira ia salah alamat. “Gue dan Dea ngefans berat sama dia.”

“Gue gak suka nyokap gue lebih terkenal dari gue. Dan sekarang gue gak suka lo ngefans sama dia.”

“Apa popularitas buat lo begitu penting?” tanya Alvin. Sivia menatap Alvin serius dan mengangguk.

“Sempat berpikir tidak juga. Tapi, begitu lo pindah ke kelas IPA lagi, gue rasa iya. Kalo ambisi gue buat bisa jadi yang pertama dan melangkah di depan lo, bisa bikin lo tetep deket sama gue, gue rasa itu penting. Jadi sekarang, ayo kita mulai! Lo harus menyelesaikan misi ‘Mengubah Sivia ke Arah yang Lebih Baik’ yang ditugaskan kepala sekolah dan nyokap gue kan?”

Alvin hanya tertawa kecil mendengar ungkapan Sivia. Beberapa hari ke belakang, ketika gadis itu mengetahui alasannya masuk kelas IPS, ia menolak mentah-mentah kehadirannya. Tapi sekarang, tanpa harus repot-repot menyusun rencana untuk menyelesaikan misi ‘Mengubah Sivia ke Arah yang Lebih Baik’, gadis itu sudah mempunyai niat untuk mengubah dirinya sendiri. Ia bahkan yang mengusulkan agar Alvin menjadi tutor belajarnya di rumah.

“Pokoknya lo harus jadi guru privat gue. Salah sendiri kembali ke kelas IPA, padahal misi penting dari kepsek dan nyokap gue bahkan belum sempat lo mulai.”

“Guru privat? Gue bahkan gak dapat bayaran apa pun buat menjalankan misi itu.”

“Ah, lo pamrih juga ternyata. Kalau gitu, bagaimana kalau gue aja yang bayar?”

“Berani berapa?”

“karena gue gak punya duit banyak, gimana kalau bayarannya, gue jadi cewek lo aja? Gue yakin kalau sebenarnya lo suka kan sama gue?”

“Yakin banget sih lo!”

“Pokoknya, lo mesti datang ke rumah gue jam enam sore dan lo boleh pulang jam sepuluh pas.”

“Jam sepuluh malam? Gue rasa lebih baik gue bilang sama Pak Aris kalau gue gak bisa lanjutin misi itu. Gue punya banyak alasan buat angkat tangan.”

“Jangan! Emang lo maunya sampai jam berapa?”

“Kalau emang lo cuma pengen bisa liat gue dan PDKT sama gue, satu jam juga terlalu lama.”

Alvin hanya bisa tersenyum tipis mengingat percakapan mereka sepulang sekolah tadi. Ia menatap Sivia yang terlihat benar-benar sibuk dengan soal-soal matematikanya. Dari awal bertemu, Alvin sudah merasa kalau tidak ada yang harus diperbaiki dari nilai-nilai pelajaran Sivia. Ketika ia melihat Sivia menghitung detik jam di bukunya, yang ia yakini Sivia hitung tanpa menggunakan kalkulator atau kotretan, Alvin sudah tahu kalau Sivia itu pintar bahkan mendekati jenius seperti dirinya. Belum lagi puisi-puisi  indah yang beberapa kali dibacanya di bagian belakang buku Sivia, membuatnya semakin yakin kalau Sivia itu siswa berbakat. Dari sikap dan perilaku juga Alvin merasa tidak ada yang perlu diperbaiki. Sivia begitu manis, baik, meski agak keras kepala.  Alvin mengambil kesimpulan kalau bukan Sivia yang harus diubah, tapi orang-orang disekitar Sivia yang membawa perubahan begitu besar untuk gadis itu.

“Vi…” panggil Alvin.

“Hm…” respon Sivia pendek. Entah apa yang sedang dikerjakannya. Itu yang membuat Alvin begitu yakin kalau Sivia itu pintar. Orang yang tidak pintar tidak akan sefokus itu pada soal-soal pelajaran.

“Gue gak suka cara ini. Lo itu pinter dan jadi tutor orang pinter itu membosankan. Gimana kalo lo aja yang ikutin cara gue? Gue jamin kalau cara ini menguntungkan banyak pihak. Waktu buat lo PDKT sama gue juga lebih banyak.”Sivia menyeringai begitu mendengar kalimat terakhir Alvin. Siapa juga yang mau PDKT, heh? Batinnya geram.  Alvin tidak tahu kenapa dengan Sivia ia merasa menjadi senarsis saat ini. Yang pasti, ia begitu suka melihat ekspresi yang selalu Sivia tunjukan saat ia berhasil menggodanya. Pipinya yang tembam itu selalu berubah warna seperti tomat masak.

“Cara apa?” tanya Sivia penasaran.

Alvin tak menjawab. Ia mengambil salah satu buku di atas meja. Membukanya dan membacanya. Sivia Memandang Alvin sebal.

“Alvin Jo! Cara apa yang lo maksud?”

“Nanti gue kasih tau. Sekarang, ayo kita belajar bersama. Lo cuma punya sepuluh menit lagi buat PDKT sama gue malam ini.”

-----------------------

“Makasih…”

Shilla tersenyum. Melirik ke arah laki-laki yang menjadi pemilik hatinya yang saat ini duduk di sampingnya. “Lo harusnya bilang dari awal sama gue. Kenapa malah Nova yang kasih tau gue soal masalah lo ini.”Shilla mendengus kesal.

Iel hanya tersenyum dan tak berniat menjawab. Ia merasa begitu bahagia saat ini. Selain hubungan ia dan Shilla yang mulai membaik, ia juga sudah mendapat pekerjaan yang baru. Dan itu di dua tempat sekaligus. Terimakasih untuk Nova yang sudah memberitahu Shilla tentang kesulitannya mencari pekerjaan selama ini. Ia tidak tahu kalau Shilla begitu mudah mencarikan pekerjaan untuknya. Ah, itu karena ayah Shilla begitu kaya dan mempunyai banyak perusahaan. Ia bahkan dipekerjakan di dua perusahaan sekaligus. Meski hanya menjadi pelayan café dan office boy hotel, Iel begitu bersyukur untuk hal itu.

“Gue gak enak sama Nova. Selama beberapa hari ini gue bersikap begitu buruk sama dia. Dia care banget sama lo.” Shilla mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hamparan langit gelap bertabur bintang menjadi objek yang dipilihnya. Mereka tengah berada di lantai akhir hotel ayahnya saat ini. Setelah berbicara dengan Pak Edwin yang adalah ayah Shilla, mereka memutuskan untuk naik ke atas gedung berlantai lima dan menikmati pemandangan kota yang terlihat jelas di sana. Bukankah semua ini terasa begitu indah? Shilla menyandarkan kepalanya di bahu Iel.

“Pertemuan gue sama Nova itu selalu gak disengaja. Dan dia selalu buat gue ngerasa nyaman di dekatnya. Percaya deh sama gue, kalau Alvin, Cakka, dan cowok-cowok  lainnya juga bakal ngerasain hal berbeda di dekatnya. Senyumnya, tatapan matanya, cara bicaranya, semuanya itu begitu polos dan alami. Ia melakukan hal tanpa berpikir dan itu membuatnya terlihat seperti anak kecil yang begitu lucu dan menggemaskan. Siapa pun pasti merasa begitu ingin melindunginya. Dan, dia selalu tampak begitu kesepian.”

“Lo gak pernah muji gue kayak gitu!” Shilla merengut sebal. Membuyarkan segala lamunan Iel tentang Nova.

Melihat ekspresi cemburu Shilla, langsung saja laki-laki bermata tegas itu menarik gadisnya dalam rangkulannya. “Jangan cemburu. Lo itu satu-satunya cewek nomor satu di hati gue. Seberapa buruk pun lo, seberapa menyebalkan pun lo, lo tetap nomor satu dan tidak ada yang bisa geser posisi lo di hati gue. Percaya sama gue! Gue sayang lo.” Dan kecupan singkat di kening Shilla membuat perasaan Shilla begitu tenang.

“Gue juga sayang sama lo. Ohya, gue gak nyangka kalo ternyata Woody itu lo. Suara lo itu beda banget. Kadang gue mikir, lo itu aneh, Yel. Lo itu bisa begitu tegas dan berwibawa di hadapan para anggota osis. Lo bisa begitu menyeramkan kalo lo marah. Lo bisa begitu lembut di hadapan adik-adik lo. Lo bisa benar-benar cuek, lo bisa benar-benar keras kepala, lo itu sebenarnya punya berapa banyak kepribadian?”

“Itu hanya tuntutan profesi. Iel yang sebenarnya tentu saja Iel yang begitu sayang sama lo!”

Mendengar hal itu, Shilla tersenyum lebar dan memeluk Iel lebih erat. Ia begitu bahagia saat ini.

------------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225
Pin : 5467BAFB

Silahkan sisipkan komentar terbaik dan terpanjang kalian. ^_^

One, two, three. GO!!!

9 komentar:

  1. Ciyee Dea-Alvin, pasangan kaka-adek yang bikin ngiri :3. Ciyeee juga Shilla-Iel yang udah baikan. Ciyee lagi buat Nova yang ternyata pacar-atau-mantan-atau-apa-gue-gak-ngerti--yang jelas ciyee Nova yang cinta pertamanya Ray :3. Ciyee Via yang ngajuin diri buat jadi ceweknya Alv. Ciyee juga Ify yang udah baikan sama Alvin, plus sahabat2nya yang lain juga denger dan makin plus plus dengan Rio yang tau perasaannya.. Tapi, gak ada ciyee bukan Cagni neh. Duh, kak Nae lupa apa gimana? Kan kangen juga sama Cicak-Angsa itu, Yaeks! Uuhhs.. Part 20 ini, udah banyak konflik yang reda. Masalah Ify sama sahabat2nya, masalah Shiel, masalah Nova-Ray, masalah Alvia, dan pastinya juga Aldea. Tapi, banyak yang belum terungkap. Dan sepertinya part ini emang sengaja dibikin adem ayem dulu sebagai persiapan mental buat kita para readers buat baca konflik atau sedih-sedihan yang lebih BOOM!! *okeinilebay*. Cakka udah ngasih kode tuh, 'Kalo suatu saat gue ada di posisi itu...' Ouch! Aaaaah!! Cakkanya kena penyakit apa sih?? Bener gak tebakan aku yang kemaren? Kanker lambung? Kalo salah, yaudah kasih tau buruan :v . Eh tapi ngomongin Cakka nih kak, aku kangen Papanya Cakka nih._. Kenapa? Karena aku suka aja konflik Cakka sama Papanya. Aku pengen tau, gimana papanya Cakka perlakuin Cakka yang sekarang--yang lagi sakit parah. Atau, aku pengen tau, apa papanya Cakka udah tau tentang penyakitnya Cakka? Duh... Part berikutnya ngarep ada penjelasan tentang konflik yang ini deh. Oh iya, aku juga mau nanya, tentang Mamanya Via. Bukannya waktu itu, waktu Alvin mau di kasi tugas 'Mengubah Sivia ke Arah yang Lebih Baik', Alvinnya udah ketemu sama mamanya Via yah? Atau aku salah inget :? Ah tau ah, mungkin belum.-. Tapi kalo udah, kenapa ini baru kaget ketemu mamanya via? Ah itu gak penting lah! Yang penting ceritanya mama Via itu artis, dan Alvin ngefans hihi. Jadi keinget Refrain.-. *gak usah dibahas*. Sebenernya banyak banget yang mau aku bahas, tapi gak tau harus pake kata2 kayak gimana(?) Dan gak mau ini jadi kelewat panjang. Yang jelas aku tunggu part selanjutnya selanjutnya dan selanjutnya. Pokoknya aku bakal selalu nunggu kabar hubungan Alvia, Shiel, Rify *yang ini kayaknya bakal berlanjut karena Rio udah tau perasaan Ify\=D/ . Tapi ggak tau juga sih, siapa tau ada lagi halangannya. Penyakitnya Rio misalnya* oh iya itu!! Rio juga sakit APA?? -oke, aku bakal sabar nunggu yang ini juga-, trus kabar tentang pasangan terkeren Cicak-Angsa, pasangan Nova-Ray, dan pasangan ter--eum apa yah?... Pokoknya Deva-Dea lah! *Deva udah gak marah lagi dong sama Dea, Deanya kan udah baik*. Ihihihi. Okeydeh, karena ini udah kepanjangan, jadi saya mohon undur diri. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuu !!

    Oh yah, ketinggalan,


    One Two Three Go!!

    BalasHapus
  2. Cerita ini dibuat waktu aku ultah lhoo!! (25/07) *gak ada yang nanya* *lupakan*
    Waktu bagian ini Alvinnya gak disiksa? 😢
    Aku harap selanjutnya Alvinnya disiksa (?) dan semoga Alvin-Dea jadi kakak adik yang baik.. Kan greget+terharu(?) kalau Alvinnya lagi kumat terus Dea yang ngurusin di rumah semaleman, terus kalau di sekolah juga. Biar keliatan akur banget.. Ceritanya jangan cepet cepet end ya kak..
    Makasih 😀 💋
    Love❤

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah udah update part 20-nya. Kirain harus nungguin sebulan dua bulan sampe di-update, ternyata nggak juga.

    Aku nggak tau apa part ini dibikin sambil dengerin Scream juga atau nggak (tapi kayaknya nggak), soalnya part ini penuh kecerian menurutku. Walaupun Ify nangis-nangis, tapi di sisi baiknya, akhirnya dia bisa ngungkapin semua yang jadi masalahnya, hal-hal yang selama ini jadi beban dia, dan syukurnya tanpa sengaja semua temen2nya itu denger. Aku nafas lega buat bagian ini, finally! Dan walaupun belum sepenuhnya tuntas masalah Ify ini (terutama semua hal yang menyangkut perasaan dia ke Rio), tapi setidaknya aku seakan menemukan titik cerah hubungan persahabatan mereka bakalan membaik, semoga..

    Well, sejujurnya untuk bagian Nova sama Ray ini aku nggak seseru baca bagian yang lainnya, tapi aku tetep baca kok, dan tetep yakin kalo mereka berdua punya peran penting (nggak kayak sinetron2 yang tokohnya kadang cuma tempelan doang buat manjang2in durasi).

    Dan kayaknya aku dulu pernah bilang, nggak begitu suka karakter Nova, tapi cukup iri sama karakter dia. Di part ini aku bener-bener jealous sama dia hahaaa. Dia itu kayak lucky girl, malah super lucky girl kayaknya deh. Hidupnya penuh kebetulan ketemu cowok-cowok kece. Kemarin Gabriel (plus meluknya dan puji2an Gabriel buat dia), terus sekarang Cakka, ditambah dia udah ketemu lagi sama Ray yang ternyata sejarah pacar pertamanya. Yak, she must be a lucky girl!

    Oiyaaa, pas di rumah sakit, pas Cakka berdoa, dia emang bener-bener bikin terkesan sih. Gak salah kalo Nova merasa, "saat ini, laki-laki tampan yang selalu bertingkah konyol dan lucu itu terlihat begitu mengesankan."
    Aku juga setuju sama yang ini, " Ia merasa begitu ingin mengingat baik-baik kata-kata yang Cakka lafalkan". Emang bener pengen ngafalin juga jadinya.

    Intinya, aku menemukan banyak kebaikan di part ini. Mulai dari hubungan kakak-adik Dea-Alvin yang emang bener lebih kayak couple baru, hubungan saling narsis Alvin-Sivia yang kemajuan pesat, Nova yang nggak salah paham sama Ray ataupun Ify, Ify yang akhirnya bisa jujur tentang semua yang jadi beban dia, sampe yang jadi favoritku itu hubungan Gabriel-Shilla. Meski entah di part selanjutnya nanti bakalan ada "apa" lagi, yang jelas harus di-update terus Separation-nya sampe bener-bener tamat.

    Thank you! (:

    BalasHapus
  4. Minal aidin wal faizin ya..

    Nunggu part selanjutnya :))

    BalasHapus
  5. Aku baru aja menemukan cerita ini pagi td dan langsung seharian baca dari part 1 sampai 20 ini. Love bgt. Aku suka bgt aama cerita kakak ini :)

    Aku lg suka bgt sama couple alvin-sivia. Dan langsung seneng bgt pas ketemu cerita ini. Tp kayaknya alvinnya blm nunjukkin something special ke sivia. Kayaknya dia baik ke semua cewek deh.

    Buat rio-ify. Please bgt kak. Jangan jadiin ibu kandungnya ify itu ibunya rio. Please bgt kak. Pengen bgt mereka bersatu. Suka bgt sama tokoh rio di sini. Ga ketebak. Bener2 mengingatkan pada uchiha sasuke.

    Cakka-agni nya makin sweet suka deh. Apalagi pas cakka meluk agni di kamarnya itu. Akhirnya cakka menunjukkan bahwa dia butuh seseorang, dan itu agni. Semoga agni ga berlarut2 dlm traumanya thdp cowok deh ya.

    Shilla-iel. Ihhhh ini nih yg perpaduan karakternya paling aku suka nomor dua. Iel yg bijak dan shilla yg ekspresif. Seolah cuma iel yg bisa menangani shilla. Jangam tambah beban iel kak please huhu :(

    Ray-nova. Sama sekali blm kebayang sama couple ini kecuali kalaj ray dulu ninggalin nova tanpa alasan yg jelas. Dan kalau diloat dr kalimatnya nova, kayaknya ga cuma ray yg pernah ninggalin dia.

    And last but not least, Deva-Dea. LOVE BANGET SAMA MEREKA DI SINI. Suka bgt sama lawakannya deva yg "perang harus dihentikan supaya ga ada pahlawan yg namanya perlu dihapal" please deh itu ngakak abis. Suka juga sama alurnya mereka. Sweet dan smooth. Devanya masih marah ga kak sama dea? :( jangan bikin mereka menderita2 bgt yah kak...

    Maapkeun kak banyak komennya. Pokoknya aku selalu tunggu deh lanjutannya. Btw, salam kenal kak.

    Regards,
    Nana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada yg kelupaan kak.

      Nova di sini beruntung bgt. Bergantian dpt perhatiannya cakka alvin gabriel. Tinggal rio aja nih. Dan itu jd bikin aku inget sama salah satu cerbung lama yg nova jd adiknya CRAG "cinta poni diatas sepeda" kalau ga salah.

      Dan kalau td aku bilang rio mirip sasuke, aku ngerasa kalau cakka mirip killua. Ngegemeshin kayak kucing. :3

      Hapus
  6. I'M COME BACK !!!!!!!!!!!!!!!!!!! yuuhuuuuuuuu
    kak nae maafkan aku yg baru timbul(?) setelah sekian lama. ada beberapa alasan untuk itu #gaadaygnanya
    kak nae aku bacanya ngebut lhooo dari chap entah berapa aku lupa hehehehe
    kak nae itu maksudnya song joongki atau bener song joonki ?kalau bener song joongki, yampun oppa-ku yg tamfan(?) disebut dudududu~~~~~~ aku lg nunggu drama comebacknya nih #please deh (=.=") #skipbagiangapentingini
    ngomong2 ada pertanyaan besar dikepalaku dan masih menjadi misteri(?) APA ALVIN EMANG BUKAN ANAK KANDUNG?????<----jgn dianggap pertanyaan ngawur ini. tapi..tapi..tapi..tapi akusih berharapnya iya, karna aku suka Alvin dan aku lebih suka Alvin yg tersiksa hahaha #tawajahat. dan aku jg pengen tau gmn perasaan alvin pas tau permaslahan sahabat2nya
    oh ya kak nae ngomong2 aku jg yg waktu itu komen pake akun google eve cap***e *uhuk*kodekeras*uhuk*
    okesiplah aku selalu menunggu kelanjutan this story
    dan aku mendoakan untuk kesehatan komputernya dan jg kak nae tentunya. Amin
    dan yg terakhir maafkan atas komenku yg panjang tapi g bermutu ini -.- aku tuggu lhooo kak nae lanjutnya
    BYE BYE.....SAMPAI BERTEMU(?) DI CHAPTER SELANJUTNYA :*

    BalasHapus
  7. wahahaha... saking asyiknya bayangin Apin disiksa sama Kak Nia, Tata jadi nda sadar kalo ini udah part 20.. oke, Tata komentar dari part satu ya di sini.
    Overall, dari part 1 sampe yg ini, KECE BADAI!!! kalo kata Super Junior, ini mah DEVIL ABIS!! dan, seperti biasa, bukan Kak Nia namanya kalo gak nyiksa tokoh cowok. dan, aku udah yakin berat, Kak Nia pasti bakalan super duper sadis di sini. *ini kan comebacknya Kak Nia, meskipun produknya lama :p*
    Oya, Kak, Tata rada gak suka nih, Dea dijadiin adeknya Apin.. Kesannya jadi, Apin bukan anak kandung lhooo... meskipun katanya ngidamnya karena nonton Joong Ki.. Em, by the way (lagi), pas emaknya Apin hamilin si Apin, Joongki Oppa maen drama apaan???? emang udah lahir juga yaa?? hehehe...

    Untuk penulisan... Kata-katanya enak bangeeeet dibaca, Kak! Sampe Tata gak berasa kan kalo udah baca 20 part, meskipun tadi ke pause gara-gara si modem ngambul, hehehe :v Typo sih, sejauh ini gak ada ya Kak... KAKAK PASTI BOHONG KALO BILANG GAK DIEDIT *pinjem matanya Kyuhyun klo lagi jahilin hyungdeul*

    Kak, ngomong-ngomong, kenapa cuman di post di blog?

    Ini udah panjang belum Kak???
    Sama, CEPETAN DI LANJUT, PENGEN LIAT KAKAK NYIKSA CRAG NIH...

    BalasHapus
  8. Udah pada akur :3 ga seneng bacanya*eh bercanda piss :D Si cicak sakit apa coba? sampe segitunya jadi pengen meluk deh :v

    Cerita-cerita lo ga ada yg ga bagus deh kak :3 semuanya keren, bagus, nyesekin dll..



    Oiya.. lanjutin ya kak, pengen tau selanjutnya :* :*

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea