Jumat, 10 Juli 2015

Separation -Sembilan belas-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.36


Maaf lama post. Sebelumnya tolong baca dulu, oke?
Seperti biasa, terimakasih udah kasih komentar di part sebelumnya. Saya sangat senang dengan komentar kalian semua. Dan… hmm, untuk menghargai. Bukan! Tepatnya, ucapan terimakasih atas komentar-komentar kalian, saya mau buat kesepakatan. *gayanya* hhe…

Begini…
Di akhir part, saya akan memilih reader yang paling sering kasih komentar—maksudnya, selalu kasih komentar di tiap part. Tentunya dengan komentar terbaik, ya? Saya akan senang hati membuatkan cerpen atau oneshoot, sesuai keinginan mereka. Tokoh/couple, genre, jalan cerita, (kecuali dengan rate M ya?) semuanya terserah mereka. Bener saya gak bohong!
Catatan, buat yang komennya di blog  aja ya? biar yang lain juga bisa nilai mana komentar terbaik. Hehe… yang gak punya blog, yuuukk buruan bikin! >_<

Yaudahlah… yuuu keep reading and—

satu lagi. Awas banyak typo...

Enjoy!

---------------------

SEPARATION

-Sembilan belas-

-------------------


“Kak Alvin gak mau ketemu sama kalian, tau! Kalian tuh menyebalkan!”

“Gak usah bergurau! Sekarang biarin kita masuk, Deva!”

“Kalian sudah terlambat. Kak Alvin hampir ninggalin kita tadi.”

“Makanya, sekarang biarin kita masuk dan minta maaf sama dia.”

“Gak bisa semudah itu. Di sekolah, terlambat itu sebuah kesalahan. Dan tidak ada maaf sebelum menjalankan hukuman. Hm, biasanya, hukuman buat yang telat masuk sekolah itu, berlari mengelilingi lapangan. Tapi—”

“Deva, lo gak usah becanda gini! Ini bukan sekolah.”

“Apa aku keliatan sedang becanda? Kak Shilla bahkan tidak tahu seberapa paniknya aku tadi.”

“Gue bener-bener ada urusan tadi. Gue gak tau kalau semuanya bakal gini. Sekarang biarin kita masuk!”

“Kak Iel! Aku kan udah bilang, Kak Alvin gak mau ketemu sama kalian. Lagian, urusan apa yang bikin ponsel kalian bahkan kompakan tidak diak—”

“Oke! Sekarang hukuman apa yang harus kita terima biar kita bisa ketemu sama Alvin?”

Alvin tertawa kecil mendengar perdebatan itu. Rasanya, mendengar suara-suara yang sarat dengan penyesalan dan kecemasan itu membuat perasaannya begitu lega. Hei, ia bahkan tidak melarang mereka untuk menemuinya. Itu hanya akal-akalan Deva saja. Anak laki-laki yang sejak ia belum sadarkan diri tidak beranjak sedikit pun dari depan pintu itu benar-benar marah. Tapi ia tidak tahu kalau kemarahannya malah berujung dengan keisengan.

“Lo beruntung ya punya sahabat kayak mereka.”

Alvin menoleh ke arah kiri. Terlalu fokus pada teman-temannya membuatnya lupa masih ada gadis cantik yang sejak tadi duduk di sampingnya. Sivia. Gadis yang begitu ia khawatirkan beberapa jam yang lalu itu tengah menatapnya sendu. Alvin mengangkat tangannya yang bebas infus guna membelai lembut rambut Sivia. Senyum merekah di balik bibirnya yang tampak pucat. Dan senyuman itu membuat Sivia semakin merasa bersalah. Alvin bahkan masih bisa tersenyum pada orang yang jelas-jelas sudah berbuat jahat padanya.

“Kadang gue selalu mikir mereka itu menyebalkan. Mereka selalu over protective dan nganggep gue lemah. Tapi hari ini pertama kalinya mereka biarin gue berjalan sendiri. Dan lo tahu? Tenyata benar, tanpa mereka gue memang lemah.”

Mendengar kata-kata Alvin, tatapan Sivia malah semakin sendu. “Alvin, gue bener-bener minta maaf. Sungguh, gue gak tau kalau lo sakit separah itu.” Kalimat yang sama dengan kalimat satu jam yang lalu saat Alvin sadar itu, meluncur untuk ke sekian kalinya dari bibir tipis Sivia. Gadis berambut dua warna itu tampak begitu menyesal.

“Gak apa-apa. Gue udah baik-baik aja.” Laki-laki dengan perban melilit di sekitar kepalanya itu kembali mengelus rambut Sivia yang tampak lembab. Gadis itu pasti berusaha begitu keras menyelamatkannya sampai berkeringat seperti ini. “Terimakasih…”

Dengan cepat Sivia menatap Alvin lebih rinci lagi. Kenapa terimakasih? Batinnya. Ia merasa semakin bersalah.

Melihat wajah kusut Sivia yang masih saja menghiasi wajah cantiknya meski dengan belaian dan senyuman tulus darinya, mau tidak mau membuat Alvin menghela nafas. “Mau bermain sama gue?” Alvin berhenti membelai rambut Sivia. Ditatapnya wajah itu dengan serius. Sivia menautkan alis tebalnya. Tak mengerti.

“Bermain?”

Alvin mengangguk. “Sekarang, tutup mata lo,” perintah Alvin. Sivia mengernyit sesaat sebelum akhirnya menutup matanya seperti yang Alvin perintahkan. “Di hitungan ketiga, lo buka mata dan tersenyum, oke?” Sivia mengangguk paham.

One…” Untuk kenangan buruk yang menguasai hati yang terdalam. Alvin melanjutkan dalam hati. Ditatapnya wajah Sivia yang tampak menggemaskan saat terpejam itu dengan senyuman. “Two…” Pergilah dan jangan pernah kembali.  Three…” Biarkan kesedihan berlalu  dan izinkan kebahagiaan memenuhi segenap hati .Go!” lupakan semuanya, and keep smile.

Sivia membuka matanya perlahan. Wajah Alvin dengan senyuman termanis di bibir pucatnya menjadi hal pertama yang memenuhi bola matanya. Entah sihir apa yang Alvin gunakan, tiba-tiba saja Sivia merasa perasaannya begitu tenang. Ia menatap mata teduh Alvin dengan seksama. Dan saat itu juga, ia sematkan senyum terbaiknya untuk Alvin.

“Berhitung dan lupakan semua kesedihan lo. Gue dan Dea dulu sering melakukan hal itu,” kenang Alvin. Dalam hati ia masih mengharapkan kehadiran Adik perempuannya itu. Melihat raut wajah Alvin, Sivia cukup mengerti apa yang Alvin rasakan. Ia mengelus tangan Alvin lembut dan berujar, “one… two… three… go!”hibur Sivia membuat Alvin kembali tersenyum.

“Jangan melanggar aturan kalau tidak mau waktu hukuman kalian ditambah!” Deva masuk ke dalam ruangan Alvin, meninggalkan kelima sahabat yang masih sibuk dengan gerutuan mereka. Alvin dan Sivia sama-sama menoleh ke arahnya. Ia nyengir lebar sembari menggaruk tengkuknya begitu tatapannya bertemu dengan Alvin. Setelah memastikan pintu tertutup rapat, ia berjalan ke arah kedua kakak kelasnya itu.  “Kali-kali mereka harus diberi pelajaran, Kak.”

Alvin tersenyum dan mengangguk. Bukan berarti setuju dengan cara Deva. Meski, ia juga tidak keberatan dengan cara laki-laki yang kali ini sepertinya tidak membawa  Mr. Son-nya itu. Biasanya Alvin melihat handycame itu menggantung di leher Deva. Tapi tampaknya sekarang tidak ada. Sivia memilih untuk menatap wajah Alvin, sekali pun ia tidak ingin melakukan kontak mata dengan Deva. Ia masih merasa begitu malu dengan laki-laki yang satu tahun lebih muda darinya itu.

-----------------------

Isak tangis memenuhi ruangan bernuansa merah putih itu. Kesedihan, ketakutan, kecemasan, dan penyesalan seakan merambati tiap jengkal dinding ruangan hingga rasanya begitu dingin. Dan gadis itu, masih meringkuk, bergulung dengan bedcover merah cerahnya. Tangisnya terdengar begitu lirih dan menyakitkan. Dadanya sesak bukan main. Kesalahan terfatal yang telah ia lakukan benar-benar menjelma menjadi penyesalan dan ketakutan yang menusuk-nusuk perasaannya tiada ampun. Ia dihantui dengan kecemasan.

Kata-kata Deva beberapa jam yang lalu terus berputar dalam benaknya. Ia memang gadis jahat. Benar-benar jahat. Lebih jahat dari semua antagonis dalam film-film yang pernah ditontonnya. Melukai Alvin, kakak yang semasa hidupnya tidak pernah sekali pun memarahinya, membentaknya, dan membencinya meski ia begitu sering mengerjainya, adalah tindakan terjahat yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang adik.

Dan tindakannya tadi, adalah kesalahan terfatal dari kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan sebelumnya. Dan kali ini ia benar-benar menyesal. Sakitnya, sesaknya penyesal itu bahkan tidak sebanding dengan sakit yang Alvin rasakan kali ini. Tangisnya semakin kencang dan memilukan.

“Dea…”

Pintu kamarnya terbuka dan gadis bernama Dea itu masih bergeming. Tak memedulikan suara—yang ia yakini suara mamanya—yang baru saja terdengar di telinganya. Ia masih pada posisinya. Masih dengan tangisannya juga saat wanita paruh baya itu berjalan mendekat dan membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.

“Kenapa, Sayang?” tanya Mama cemas begitu melihat wajah Dea yang begitu berantakan dan penuh dengan air mata. Sembab dan warna merah di mata itu menandakan begitu lama waktu yang putrinya habiskan untuk menangis. “Kamu sakit?” sambungnya membiarkan tangannya membingkai di wajah Dea.

Dea mengubah posisinya menjadi duduk, lantas dipeluknya wanita itu dengan erat. Tangisnya pecah lebih hebat. Mama semakin panik dibuatnya. “Kak Alvin…” Dea tak melanjutkan. Ia tidak berani bilang pada sang Mama bagaimana kejadian sebelumnya kenapa kakaknya bisa kambuh seperti itu. Ia takut, benar-benar takut. Ia tidak berani bilang kalau ia yang membuat jantung Alvin kumat. Ia tidak berani. Sungguh!

“Gak apa-apa, Sayang… Kakanya pasti baik-baik saja. Nanti kita sama-sama ke rumah sakit ya?” Mama akhirnya mengerti kenapa Dea menangis seperti itu. Ia tidak tahu kenapa Alvin bisa kambuh dan terluka, karena Deva hanya bilang kalau Alvin jatuh dari tangga dan telat mendapat pertolongan. Yang ia tahu, adik Alvin yang biasanya acuh dan tidak peduli dengan kondisi Alvin itu mulai mencemaskan Alvin. Ia bersyukur dengan hal itu.

Dea mengangguk samar. Karena merasa begitu lelah, akhirnya gadis itu terlelap dalam pelukan mamanya. Pelukan yang selalu membuatnya begitu nyaman dan tentram. Ia jadi berpikir, kenapa ia harus menyimpan keirian yang begitu mendalam untuk Alvin, sementara pelukan Mama untuknya sama hangatnya dan sama menenangkannya.

Sebelum benar-benar terlelap, Dea melafalkan janji yang hanya ia dan Tuhan yang tahu dalam hatinya. Janji kalau ia akan mulai menyayangi Alvin sepenuh hatinya, ia akan menerima Alvin sebagai kakak terbaiknya kali ini dan seterusnya. Ia berjanji akan menjaga Alvin sekuat yang ia bisa. Ia tidak akan lagi melakukan kesalahan yang sama. Ia berjanji. Sungguh!

----------------------

-Flashback-

“Ada panggilan darurat, Mas Elang ke rumah sakit dulu. Jaga diri, oke!”

Cakka  terkesiap, ia  baru saja hendak kembali membaringkan tubuhnya setelah melepas kepergian Agni dari kamarnya lima menit yang lalu, saat Mas Elang melongokan kepala di balik pintu kamarnya. Wajahnya terlihat cemas. Lantas dokter muda itu segera berlalu setelah menutup rapat kembali pintu berwarna cokelat tua itu.

Cakka  terdiam untuk beberapa saat, sampai kinerja otaknya yang agak lambat itu kembali bekeja dengan normal. Keadaan darurat? Setelah pindah kerja ke rumah sakit ayahnya, Mas Elang hanya diberi tugas untuk menangani—

“Alvin!” Cakka memekik tertahan. Ia meraih ponselnya yang tergeletak sembarang di atas nakas. Dan bola matanya melebar seketika begitu melihat apa yang terpampang di balik ponsel keluaran terbaru itu.

Meski sedikit limbung karena kondisinya belum stabil, Cakka segera turun dari tempat tidurnya, menyambar baju hangat yang tersampir di kursi belajar, dan beberapa jurus kemudian ia melesat keluar kamar. Berjalan tergesa menuju pintu utama. Ia menarik nafas lega saat melihat Agni masih berdiri di depan rumahnya dan belum pulang. Segera saja ia menarik tangan Agni tanpa memedulikan kedua wanita dewasa di hadapan mereka yang tampak mengernyit bingung. Mereka berjalan dengan cepat menjauhi kedua orangtua itu.

“Cicak! Lo ini ke—”

Sebelum mendengar protesan Agni, laki-laki penyuka basket itu menunjukan ponselnya. Agni meraih ponsel itu dan melihat apa yang hendak Cakka tunjukan. Dan seketika bola matanya membulat sempurna. Di detik berikutnya, Agni yang menarik Cakka, menyeret laki-laki itu tanpa perasaan. Cakka yang masih dalam keadaan tidak fit, cukup kewalahan mengikuti Agni.

Sementara di tempat lain…

“Yang tadi siapa?” Iel bertanya ragu. Ditatapnya wajah kusut Nova dengan penasaran. Dan ia menghela nafas ketika pertanyaannya hanya dijawab gelengan singkat oleh Nova. Ia tidak akan bertanya lagi kalau begitu.

Nova masih diam. Pandangannya terlihat kosong. Es krim yang ada digenggamannya dibiarkan mencair. Lupakan kafe! Mereka sekarang malah memilih duduk di salah satu bangku taman sambil menikmati—tidak benar-benar menikmati sebenarnya—es krim yang baru saja Iel beli. Hah, tadinya mau ditraktir, malah dia yang balik mentraktir.

“Hah, udahlah… lupakan dia!” Nova mendesah keras-keras. Dijilatnya es krim cokelatnya yang sedikit cair. Tatapannya masih terarah ke depan. Iel memperhatikan dalam diam. “Oya, Kak. Boleh minta nomor Kak Shilla gak? Send V-card ya?” Kali ini gadis berkacamata itu menoleh ke arah Iel.

Iel mengernyit sebelum mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Menyalakannya terlebih dahulu mengingat ia membawa ponselnya dalam keadaan mati. Ia sebenarnya sudah hafal nomor kekasihnya itu, tapi karena Nova memintanya untuk mengirim via v-card, mau tidak mau ia harus mengaktifkan ponselnya.

Tidak lama Iel menunggu seluruh sistem dalam ponselnya bekerja. Tapi saat ponsel jadul itu mulai bisa digunakan, Iel mengernyit mendapati getaran yang cukup banyak di genggamannya. Satu-satu, ia membuka pesan yang masuk dan matanya terbelalak. Nova yang melihat raut wajah Iel hanya menatap heran laki-laki itu.

“Gue pergi dulu, Nov. Nanti nomornya gue kirim. Sory…”

Tanpa menunggu persetujuan Nova, Iel segera melesat meninggalkan gadis yang tampak kecewa itu. Nova menghela nafas sedih. “Gak apa-apa, gue udah biasa ditinggal kayak gini, kan?” gumamnya lirih sembari kembali menjilat es krimnya, yang entah kenapa terasa pahit.

Sementara Shilla dan Rio, mereka baru membaca puluhan pesan itu saat Shilla hendak menghubungi dokter begitu sadar kondisi Rio tidak juga membaik. Suhu tubuhnya malah semakin panas. Shilla begitu panik saat itu, dan kepanikannya bertambah saat pesan-pesan itu selesai dibacanya.

“Gue telpon dokter dulu, terus gue baru berangkat ke rumah sakit kalo dokternya udah dateng.” Raut wajah Shilla terlihat begitu cemas saat itu. Ia benar-benar berada dalam pilihan yang sulit. Kedua sahabatnya sama-sama berada dalam kondisi yang buruk. Dan ia tidak tahu harus memilih yang mana.

Susah payah, Rio mengangkat tubuhnya. “Gak usah telpon dokter. Bawa gue ke rumah sakit sekalian lebih baik.” Suara Rio terdengar semakin lemah saja. “Kondisi gue gak seburuk itu.” Perlahan ia turun dari ranjangnya. Berjalan mengambil jaket super tebalnya. Dengan sigap Shilla membantu Rio memakai jaket itu.

“Jadi lebih kuat, oke!” Shilla tersenyum sembari membenarkan jaket Rio.

Rio tersenyum tipis dan mengangguk. “Ayo!”

----------------------
-Flashback End-

Helaan nafas di lorong rumah sakit itu terdengar kompak. Baru saja sahabat Alvin itu menceritakan kenapa mereka bisa mendapatkan pesan-pesan—yang menurut mereka—lebih mengejutkan dari gempa bumi berkekuatan 99,2 skala richter sekali pun. Beberapa orang yang berjalan melewati lorong itu hanya menatap mereka dengan bingung, bahkan beberapa orang ada yang sampai menertawakan mereka. Wajar saja, tidak ada orang waras berjajar di sisi lorong sembari berlutut dengan tangan terangkat ke atas. Mereka hanya tertunduk malu mendapat tatapan cemooh itu.

Dan setelah itu, mereka larut dalam diam. Tidak berani melanggar aturan Deva. Mereka bahkan tidak menyangka kalau bocah itu bisa benar-benar mengerikan seperti ini. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Agni memilih untuk memerhatikan Cakka yang tampak sibuk memerhatikan Ify sama dengan yang Iel lakukan. Mau tidak mau Agni turut memerhatikan Ify yang tampak tertunduk dalam sambil sesekali menengok ke arah Shilla yang lebih memusatkan perhatiannya pada Rio. Gadis yang belum mau buka suara sejak datang ke tempat itu tampak begitu sedih. Tatapannya penuh dengan kepedihan.

“Ah, ini benar-benar pegal!” Cakka mulai mengeluh. “Gue gak nyangka kalau adik lo menyebalkannya setingkat sama lo!” Agni tahu Cakka sedang berusaha meramaikan suasana yang mulai terasa dipenuhi aura-aura negatif.

“Tingkat nyebelin lo bahkan jauh lebih tinggi dari adik gue!” Agni melotot. Menyeringai kesal. Ia tidak tahu, kenapa sikap Cakka padanya berubah-ubah seperti ini. Bahkan beberapa jam yang lalu, tepat di kamar Cakka, laki-laki itu tampak manis padanya. “Dasar cicak Berkulit Bunglon!” sebalnya. Cakka menoleh mendengar ejekan baru itu.

“Lo ngatain gue apa tadi? Cicak Berkulit Bunglon? Mana ada yang seperti itu? Dasar Angsa Jelek!”

Perhatian sahabat-sahabat itu kini beralih pada Cakka dan Agni yang mulai beradu mulut lagi. Kompak mereka menghela nafas sembari menggeleng-gelengkan kepala.  Kecuali Ify tentunya. Gadis itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Tak ingin berbaur dengan keributan yang diciptakan sahabat-sahabatnya.

“Sampai kapan lo mau hukum mereka?” Alvin bertanya pada Deva. Lagi-lagi perasaan hangat menyebar dalam hatinya mendengar keributan di luar ruangannya.

Deva mengangkat bahunya. “Sampai Kak Alvin izinin mereka masuk.”

“Gue gak pernah larang mereka masuk, Deva.” Deva nyengir saja mendengar kata-kata Alvin. “Sekarang, cabut hukuman mereka dan biarkan mereka masuk. Gue mau ketemu dan meminta penjelasan sama mereka.”

Deva mengangguk singkat dan segera berjalan ke arah pintu. Lantas setelah itu ia berseru riang, “sekarang, kalian boleh masuk!”

---------------------- 

Shilla adalah orang pertama yang masuk ke dalam ruangan, berlari ke arah Alvin dan berhambur memeluk sahabatnya itu. Sivia memilih untuk menyingkir, memberi celah untuk sahabat-sahabat Alvin itu memposisikan diri di dekat Alvin. Rasa tak ingin jauh-jauh dari Alvin sebisa mungkin ia penjarakan dalam hatinya. Terlebih begitu melihat aksi Shilla yang begitu so sweet pada Alvin. Rasanya, kehadirannya sekarang sudah tidak dibutuhkan lagi. Perlahan ia berjalan mundur menjauhi Alvin yang sudah dikerubuni sahabat-sahabatnya dan segera meninggalkan ruangan. Bahkan, saking fokusnya pada Alvin, tidak ada di antara mereka yang menyadari kehadirannya. Entah kenapa, ia tiba-tiba saja merasa sedih melihat adegan itu. Mungkin iri, mungkin cemburu, ia tidak mengerti perasaan apa itu.

“Maaf… Maafin kita semua,” ungkap Shilla tulus. Ia melepas pelukannya dan memandang wajah pucat Alvin penuh dengan penyesalan. Kelima sahabat itu sempat terkesiap melihat perban yang melilit kepala Alvin. Yang artinya, Alvin berada di sini bukan hanya karena penyakitnya saja yang kambuh.

“Gak apa-apa. Gue udah baik-baik aja…” Kata-kata yang sama yang dilontarkan pada Sivia beberapa saat yang lalu. Alvin menepuk-nepuk pelan tangan Shilla yang menggenggam tangan kanannya dengan tangan kirinya. Menenangkan.  Ia menatap Shilla sekilas sebelum memandang teman-temannya yang lain secara bergantian. Tak lupa senyuman terbaiknya ia sematkan di bibir tipisnya. Berusaha menenangkan kelima sahabatnya itu.

Melihat senyum Alvin yang begitu tulus, mau tidak mau  membuat perasaan kelima sahabat itu begitu kacau berantakan. Cakka sampai mengepalkan tangannya dengan kuat menahan tangis. Iel menatap Alvin tanpa berkedip seolah tidak ingin melewatkan sedetik pun senyuman itu. Rio, meski datar, hatinya berteriak menahan sesak dan tangis. Agni memilih untuk membalas senyuman Alvin sembari memijit-mijit pelan kaki Alvin, mengalihkan rasa sedihnya. Ify memilih menatap objek lain selain Alvin. Dan Shilla, ia memang yang tidak pernah bisa menahan perasaannya. Gadis itu kembali memeluk Alvin, menangis sesegukan di bahu Alvin. Deva memilih untuk keluar dan membiarkan suasana mellow menguasai ruangan berbau obat kimia itu.

Dari awal, mereka tahu kalau kejadian di depan ruangan tadi cuma aksi iseng Deva saja. Alvin, sahabat terbaik mereka, tidak akan pernah bisa membenci mereka, tidak akan pernah bisa marah pada mereka sebesar apa pun kesalahan mereka. Hatinya putih seputih kulit pucatnya. Tapi sumpah demi Tuhan, mereka bahkan merasa hukuman berlutut sembari mengangkat tangan satu hari penuh jauh lebih baik ketimbang melihat senyum Alvin yang begitu tulus tanpa kemarahan itu.

“Hei, kenapa jadi pada nangis sih? Gue beneran udah gak apa-apa tau.” Alvin menatap bingung sahabat-sahabatnya itu. Agni sudah mulai menangis juga ketika mendengar isak tangis Shilla.

“Lo kenapa gak marah? Lo harusnya marah sama kita. Demi Tuhan, Vin… marahlah! Lo berhak marah sama kita yang bego ini. Kita yang udah buat lo kayak gini.” Cakka mulai meracau. Ia membenamkan wajahnya di sisi kaki Alvin. Membiarkan ranjang rumah sakit itu menampung air matanya. Iel dan Rio kompak menepuk bahu Cakka, berusaha menenangkan perasaan Cakka di saat mereka memendam perasaan yang sama. Iel menoleh ke arah Rio dan Rio menoleh ke arah Iel. Sorot saling benci yang kemarin sempat terpancar di balik kedua manik mata dengan warna berbeda itu, sesaat meredup, berubah menjadi sorot lain yang lebih menenangkan. Iel bahkan sempat mengangguk dan tersenyum ke arah Rio, meski tak lama. Mereka langsung mengalihkan tatapan mereka ke arah Alvin.

Alvin menarik nafas dalam. “Iya, gue marah sama kalian. Jadi, berhenti bersikap gini, oke?” ujar Alvin disusul dengan kekehan pelan begitu sahabat-sahabatnya menatapnya dengan sengit.

“Tidak ada ekspresi marah seperti itu, tau!” sungut Cakka kesal. Kenapa ia harus memiliki sahabat seperti Alvin yang bahkan tidak tahu caranya marah. Dengan cepat ia menghapus air matanya, begitu pun dengan Shilla dan Agni. Kedua gadis itu mengangguk menyetujui pendapat Cakka. Ify yang memang tidak sampai menangis, hanya menatap hampa situasi di hadapannya.

“Kenapa jadi lo yang marah sih, Kka?” Iel menjitak kepala Cakka yang langsung meringis.

“Yel!!!” Cakka menatap Iel sebal.

“Apa? Jangan cengeng! Gimana Alvin bisa marah, kalau tiap dia kayak gini, lo selalu memasang wajah menyedihkan kayak gitu!”

“Gak usah ngejek gitu juga kali!” Cakka cemberut. Agni terkikik geli melihat ekspresi Cakka begitu pun dengan Shilla. Iel ber-peace ria sambil nyengir lebar. Sementara Alvin, memilih untuk membiarkan matanya menyapu ruangan, mencari keberadaan orang yang sejak tadi menungguinya. Tidak ada. Sivia sudah tidak ada. Lagi-lagi, karena sahabatnya ia lupa keberadaan gadis itu. Ia menghela nafas bersamaan ketika fokus matanya terhenti pada sosok Ify yang tampak diam saja sejak tadi. Begitu pun dengan Rio. Sejak masuk ke dalam ruangan, Rio terus memerhatikan gerak-gerik Ify, dan ia merasa ada yang beda dengan gadis yang pernah menjadi pemilik hatinya itu.

“Fy…” Alvin memanggil nama itu akhirnya. Ify menoleh, begitu pun dengan sahabatnya yang lain. “Maaf,” ujar Alvin yang memang menjadi satu-satunya orang yang membaca status Ify kemarin malam.

Ify tersenyum tipis dan mengangguk singkat. “Gue yang harusnya minta maaf.”

“Ada apa?” tanya Cakka yang sebenarnya sejak di luar tadi ingin sekali menanyakan ada apa dengan raut wajah sedih yang Ify tunjukan.

Menarik nafas panjang. Menatap Alvin penuh dengan penyesalan. “Sebenernya gue ada urusan. Gue pulang ya, Vin? Get well soon, oke?” Ify tersenyum sebentar, menepuk kaki Alvin dan setelahnya ia keluar dari dalam ruangan. Meninggalkan sahabat-sahabatnya dengan kernyitan bingung dan tak mengerti. Belum pernah Ify seperti ini sebelumnya. Iel yang sempat bertemu dengan Ify tadi siang sempat menduga kalau kesedihan yang terpancar dari mata Ify adalah karena kejadian antara ia, Nova, dan si pemilik kamera SLR yang tidak Iel kenali siapa.

Satu menit setelah Ify keluar, seseorang membuka pintu. Sempat berpikir kalau Ify kembali, tapi begitu sosok itu terlihat, kompak saja mereka mendengus. Tampaknya mereka tidakbegitu suka dengan kehadirannya. Berbanding dengan Alvin yang merasa begitu bahagia dengan kehadiran orang yang memang sejak tadi ditunggunya. Dea. Ia berjalan mendekati Alvin dan teman-temannya dengan kepala tertunduk.

Hening untuk beberapa saat saat Dea memposisikan diri di samping Alvin, mengambil alih posisi Shilla sebelumnya. Kepalanya masih tertunduk.

“Maafin gue, Kak…”

Terkesiap. Tidak ada yang percaya begitu kata-kata dan suara yang penuh dengan penyesalan itu sampai di telinga mereka. Semua mata kini terfokus pada gadis dengan satu kotak berukuran besar di tangannya itu. Alvin tidak bersuara dan menatap Dea dengan raut sama-sama tidak percaya. Oh, terimakasih, Tuhan… bukankah selalu ada hikmah di balik semua kejadian? Alvin tidak menyesal berlari menuju lantai empat dan merasakan sakit hingga rasanya mau mati, dan juga dengan luka baru di kepalanya. Sungguh ia tidak menyesal jika sakit yang beberapa jam lalu ia rasakan itu dibayar dengan kehadiran adiknya. Adiknya dengan sosok baru. Adiknya yang tampak hangat dan lembut. Tak ingin banyak berpikir, langsung saja Alvin menarik sosok itu dalam dekapannya.

“Gue salah. Gue salah. Maafin gue. G-gue… gue… sadar kalo gue juga t-ta—”

“Gak apa-apa. Sungguh gak apa-apa…” Alvin memotong ucapan Dea sambil mengeratkan pelukannya. Tidak peduli dengan jarum infus  yang tertarik dan membuat tangannya linu. Perasaannya begitu bahagia saat ini hingga ia tidak tahu harus digambarkan dengan apa perasaan bahagianya itu.

Tangis Dea pecah semakin hebat hingga bahunya bergetar. Alvin mengusap-ngusap punggung Dea dengan lembut. Tak ada yang tidak terharu melihat adegan itu.  Shilla bahkan ikut menangis. Rio berinisiatif mengambil alih kotak—yang ia yakini—berisi makanan kesukaan Alvin dari tangan Dea. Memudahkan tangan Dea untuk bergerak bebas membalas pelukan Alvin. Cakka menepuk-nepuk kepala Dea, menenangkan.

“Maaf. Maafin gue yang bodoh ini. Maafin gue yang jahat ini. Maafin gue… gue udah buat lo susah selama ini. Maaf. Maafin gue…” Dea menangis semakin kencang. Baju pasien Alvin sampai basah karena air matanya.

“Gak apa-apa. Gak apa-apa. Sungguh gak apa-apa. Gue gak marah sama lo. Gue sayang banget sama lo.” Alvin ikut menangis juga akhirnya. Haru biru menyelubungi sanubarinya. Ia melepaskan pelukannya, menatap wajah Dea yang penuh dengan air mata. “One… Untuk kenangan buruk yang menguasai hati terdalam. Two… Pergilah dan jangan pernah kembali.  Three… Biarkan kesedihan berlalu  dan izinkan kebahagiaan memenuhi segenap hati . Go!  lupakan semuanya, and keep smile.”

Dea mengerjap. Mantra pengusir kesedihan yang dulu selalu ia dan Alvin lafalkan ketika mereka benar-benar sedang bersedih. Sebentar Dea tersenyum mendengar mantra itu.  Terakhir ia melafalkan mantra itu saat pertama kali ia masuk SMP, sebelum perasaan bencinya pada Alvin tumbuh. Dea kembali memeluk Alvin dengan protektif, seolah saat ini, detik ini, ia tidak akan membiarkan kakaknya itu terluka lagi. Ia akan menjaganya. Benar-benar menjaganya. Alvin mengelus lembut rambut Dea.

Meski suasana penuh dengan isak tangis, tapi perasaan mereka tengah dipenuhi bunga-bunga mekar. Penuh kebahagiaan.  Rio dan Cakka yang bahkan dalam keadaan tidak fit tiba-tiba saja merasa begitu baik. Dan di luar ruangan, Deva dan mama Alvin tampak tersenyum bahagia.

-----------------------

Ify mendudukan dirinya di depan ruangan dengan label ICU. Ruangan yang cukup jauh dari ruang rawat Alvin. Ia menghela nafas sedalam mungkin. Menghilangkan sumpek dalam dadanya. Sejak semalam, ia sudah berniat untuk menarik diri dari sahabat-sahabatnya. Ia cukup frustasi memikirkan hal itu. Ia masih berpikir, ia memiliki banyak sahabat, namun tidak ada di antara mereka yang peduli padanya. Tidak ada di antara mereka yang mengerti perasaannya. Tidak ada di antara mereka yang mau mendengar keluh kesahnya. Dan setelah pertemuannya dengan Ray tadi sore, setidaknya sedikit menghibur perasaan sedihnya. Tapi sekarang, ia bahkan tidak tahu bagaimana keadaan teman barunya itu.

Sudah dua jam sejak ia membawa Ray ke rumah sakit, laki-laki itu masih ditempatkan di ICU. Ia bahkan tidak tahu ada apa dengan Ray sebenarnya. Ia tidak tahu siapa yang harus ia hubungi. Ia sama sekali tidak tahu keluarga Ray yang bisa dihubunginya. Ada kamera milik Ray di tasnya, dan itu sama sekali tidak membantu. Lagipula ia tidak tahu cara menggunakannya.

Ify menghela nafas, mencoba berpikir. Ah, tadi ia sempat ingin menghubungi Nova saat ia mendapat sms dari Deva. Ia sempat melupakan itu saking cemasnya. Pesan-pesan Deva benar-benar membuatnya panik.

“Where are you now, hah?”

“Kak Alvin masuk rumah sakit. Kondisinya benar-benar buruk. Cepatlah ke sini.”

 Oh, my god, kenapa ponsel kalian tidak aktif?”

“Demi apa pun, satu jam lagi kalian tidak ke rumah sakit, aku gak yakin kalian bisa ketemu sama Kak Alvin lagi.”

Dan puluhan pesan lainnya hanya pesan kosong.

Ify terkekeh pelan. Ia tidak tahu kenapa pesan seperti itu bisa membuatnya juga sahabat-sahabatnya begitu panik. Benar, itu karena mereka takut kehilangan Alvin. Mereka menyayangi Alvin bahkan lebih dari diri mereka sendiri. Lalu jika seperti itu, bagaimana caranya untuk ia menjauhi Alvin dan sahabat-sahabatnya yang lain?

“Bagaimana keadaannya?”

Belum sempat Ify memikirkan jawaban untuk pertanyaannya, ia dikagetkan oleh suara baritone seseorang. Ia memasukan ponselnya ke dalam saku bajunya dan menatap pria berumur di hadapannya. Dan saat itu juga bola matanya membulat tak percaya. “B-bapak?” gugup Ify. Di hadapannya berdiri kepala sekolah Albider. Pak Aris.

“Ify? Ah, kamu yang membawa anak Bapak ke sini? Tadi Dokter Nuraga menghubungi Bapak dan bilang kalau Ray masuk ICU. Keadaannya kritis, benar?” Pak Aris terlihat begitu sedih.

Shilla mengangguk canggung. Ia masih tidak memercayai apa yang baru saja terjadi. Jadi, Ray itu anaknya Pak Aris? Oh, Tuhan… dunia begitu sempit ternyata. Sebenarnya, Ify ingin bertanya banyak hal, tapi rasa canggung menguasai hatinya. Ia tidak begitu dekat dengan kepala sekolah Albider itu. Pak Aris mengenalnya karena ia teman sebangku Alvin di kelas IPA. Jadi ia memutuskan untuk pamit dan pulang saja.

“Maaf, Pak. Berhubung Bapak  sudah ada di sini, saya mau pamit pulang.” Ify berujar sopan. Ia mengeluarkan kamera milik Ray dari dalam tasnya. “Ini punya Ray. Tasnya saya simpan di meja resepsionis.” Pak Aris menerima benda kesayangan anaknya itu. Ia mengucapkan terimakasih banyak pada Ify yang berlalu setelahnya.

--------------------

“One… two… three… go!”

Sivia membuka matanya. Menatap langit-langit kamarnya dan tersenyum. Berhitung dan lupakan semua kesedihan. Ia ingat betul kata-kata Alvin tadi. Satu jam setelah sampai di rumah, Sivia hanya diam termangu di balkon kamarnya. Memikirkan banyak hal yang entah kenapa membuat perasaannya begitu buruk. Ia merasa begitu sedih. Kecewa. Marah. Dan itu tanpa alasan yang jelas.

Rasanya ia ingin menjadi bagian dari mereka. Atau tepatnya, ia ingin menjadi bagian dari Alvin. Namun, ia tidak yakin dengan itu. Terlebih mengingat sikap buruknya pada Alvin sebelumnya. Sahabat-sahabat Alvin tidak mungkin dengan mudah menerima kehadirannya. Mengingat hal itu, ia hanya bisa menghela nafas lelah.

“Tuhan, jangan tertawakan ini
Ini adalah aku yang tengah menari-nari di tengah kebingungan
Ini tak tertahankan
Rasanya seperti terombang-ambing dalam ketidaknyataan
Rasa apa ini aku bahkan tak mengerti.”

Sivia berpuisi. Ditatapnya langit yang sudah mulai melukiskan diri dengan warna gelapnya. Apa yang ada dalam hatinya, kebingungan, kebimbangan, kerinduan, dan ketidakpahaman dengan perasaannya sendiri membuat ia merasa begitu sedih. Angin berhembus menerpa tubuhnya. Rasa dingin membuatnya memutuskan untuk kembali ke dalam kamar. Menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Menutup matanya dan mulai berhitung. Berusaha menghilangkan rasa sedihnya.

Yang diingat Sivia saat membuka adalah senyum manis Alvin yang begitu tulus. Dan dalam bayangan saja, senyuman itu membuat perasaannya begitu tenang. Masih dengan senyumannya, Sivia meraih ponselnya. Memutar musik. Dan Because You Loved Me Celine Dion mengalun, perlahan mengiringnya ke alam mimpinya. Masih membawa senyuman Alvin yang membingkai indah di matanya.

--------------------

To be Continue

Follow me
@nhyea1225
Pin : 5467BAFB

Aku tahu kalau part ini agak mengecewakan. Tapi saya udah berusaha semampu saya. Huft! *ngusappeluh*.
Khusus yang  One, two, three, go!” itu, saya terinspirasi dari dramannya Donghae Oppa yang Miss. Panda and Hedgehog. Kalian tahu? Saya senang sekali dengan karakter Hae Oppa di drama itu. *yaahhCurcol* haha… Ya udahlah…

Sisip komentar terbaik kalian, Oke..

One
Two
Three

Go !!!!!

9 komentar:

  1. Huahhh... Kak Nae! Gak kepikiran sampai kesana kalau Ray anaknya pak kepsek. Hihi. Ikutan lega deh akhirnya Dea udah tobat. Sivia juga udah damai sama Alvin ciee. Sampai netes nih bacanya (alah lebay).
    Deva juga sampe segitunya ya, jadi pengen deh punya cowok kayak deva (istighfar Han)
    Oh ya, yang one two three go itu kata-katanya bagus banget kak. Sukaa deh !
    One two three go next ya kak ^^

    BalasHapus
  2. As ur wish! (:

    Semenjak Kania bilang dapat 6 halaman Separation sambil dengerin Scream, aku mulai gak sabar nunggu2 part 19. Jadi, pas Kania laporan part 19 udah di-post, nggak ada alesan buat nunda bacanya.

    Wohoo, jadi ini hasil Separation yang dibuat sambil ditemenin Scream? Sama kayak nada lagunya yang sedih dan mengharu-haru, part 19 ini juga penuh keharuan. Mungkin dari semua part, part 19 ini adalah part yang paling santai. Santai dalam artian, seakan konflik2nya dikesampingin dulu. Hampir semua karakter difokusin di satu latar, dan itu langsung bikin suasana yang haru. Yap, kalo buat aku part 19 ini cerita dan alurnya emang tepat banget dibuat di antara part2 Separation sebelumnya yang penuh masalah, salah paham, dan semua2 konfliknya.

    Sebelumnya, aku agak bingung sama bagian yang "One, two, three, and go!" itu. Tapi, setelah bagian itu diulang beberapa kali, aku baru paham, dan aku langsung senyum sambil mikir *entar nyoba ah kalo lagi sedih* ehehee

    Kania inget kan komentar aku di part 18, yang bilang bikin Dea nyesel senyesel2nya? Jadi, aku mau bilang makasih, di part ini udah bikin Dea nyesel sampe takut bilang sejujurnya sama ibu-nya dan berujung sama sikap dia yang mulai berubah. Oiya, ada yang aku suka banget di bagiannya Dea, kalimat ini > Pelukan yang
    selalu membuatnya begitu nyaman dan tentram. Ia jadi berpikir, kenapa ia harus menyimpan keirian yang begitu mendalam untuk Alvin, sementara pelukan Mama
    untuknya sama hangatnya dan sama menenangkannya.

    Kalau aku bersaudara dan iri2an sama saudaraku sendiri, pas baca kalimat2 itu aku pasti langsung ngerasa kesindir dan bersalah banget.

    Di part ini aku juga suka penggambaran sikap Ify. Dia yang bingung, niat jauhin temen2nya, eh tau2 malah harus ketemu mereka. Pantes deh kalo dia cuma bisa diem.

    Oiya, mau bilang selamat buat Kania udah bikin aku melongo pas tau ternyata Ray itu anak kepala sekolah Albider. Gak nyangka bakalan seribet ini benang merah antartokohnya. *tepuktangan*

    Initinya, aku enjoy banget baca part ini. Banyak kalimat yang aku ulang bacanya karena suka sama kata2nya. Salah satunya yang dibagian Dea itu, terus satu yang lainnya adalah ini > Ify terkekeh pelan. Ia tidak tahu kenapa pesan seperti itu bisa membuatnya juga
    sahabat-sahabatnya begitu panik. Benar, itu karena mereka takut kehilangan Alvin. Mereka menyayangi Alvin bahkan lebih dari diri mereka sendiri. Lalu jika seperti itu, bagaimana caranya untuk ia menjauhi Alvin
    dan sahabat-sahabatnya yang lain?
    Dan masih banyak lagi yang gak mungkin aku copasin satu2.

    Tapi, ada masukan dikit boleh ya?
    Kayak yang kania bilang di bagian sebelum masuk cerita, "awas banyak typo", tapi ada satu typo yang buat aku cukup ganggu.
    Di bagian ini > “Gue pergi dulu, Nov. Nanti nomornya gue
    kirim. Sory…”
    Kurang satu lagi huruf r di kata "sory". Kayaknya di part sebelumnya aku juga nemuin kata sory yang kurang r. Cuma waktu itu aku gak bilang, sekarang nemuin lagi, makanya baru bilang.
    Terus satu lagi, di kalimat pas ibunya Dea sama Alvin bilang gini, “Gak apa-apa, Sayang… Kakanya pasti baik-baik saja. Nanti kita sama-sama ke rumah sakit ya?”
    Mau kasih input, lebih baik kata "kakaknya" diganti jadi "kakakmu". Soalnya, kalo pake "kakaknya" kesannya itu nunjukkin kakaknya orang lain.

    Itu aja komennya. Intinya, aku tetep suka bacanya dan tetep mau baca sampe Separation sampe selesai. Makasih banyaaaak! (:

    BalasHapus
  3. Oiya, kak, ada komen yang kurang.

    Pas di bagian ini > Shilla mengangguk canggung. Ia masih tidak memercayai apa yang baru saja terjadi. Jadi, Ray itu anaknya Pak Aris? Oh, Tuhan… dunia begitu sempit ternyata.

    Itu nama Shilla seharusnya Ify kan?

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Kak Nae, aku lagi flu lohh *lah trus?* teruusss, gara2 baca ini--pas baca bagian Dea minta maaf ke Alvin--jadi nangis kan *ngelapitutuuhyangkeluardarihidung* . Makin mampet deh idung saya :'(. Dan tau gak kak, yang bikin sedih dari part ini itu adalah... karena aku baru tau dan baru baca sekarang:"( . Okeh, salahkan Disa yang gak pernah buka blog belakangan ini. Tapi tapi, omong omong part ini kerasa beda yah sama part lain? Entah kenapa. Menurut aku sih gitu. Mungkin karena semua masalah kayak diabaikan dulu, dan cuma fokus ke penyesalan-dan-maafmaafan. Tapi itu sukses bikin terhura kak! Aaah... akhirnya Dea sama Via udah baikan sama Alv. Tinggal masalah Via sama sahabat2nya Alv, tapi menurut aku dia juga bakal cepet ketrima kok. Iyakan? Iyadong .-.V. eh iya, kok aku nyium ada bau bau kenyataan baru bakal terungkap yah ? Tentang Ray-Alvin gitu. Karena kan mereka udah di satu tempat yang sama. Di Rumah Sakit keluarganya Cakka. Jadi mungkin, bakal terungkap tentang... Pokoknya yg ada hubungannya sama suster Angel dan apapun yang pernah Ray sebutin di part (Nahloh, Disa lupa part berapa) Ah tapi kayaknya masih belum sih. Kali aja kan penciuman saya salah, kan idung lagi mampet *lah nyambung ke situ(?)* hihi. Tapi udah dapat satu fakta kalo Ray anaknya kepsek Albider. Gak begitu kaget sih, soalnya udah pernah ada cluenya pas Ray liat-liat gambar sambil nyebutin nama-nama gitu, di part..(Duh part berapa sih). Yang jelas kan waktu itu Ray sempat nyebut nama Alvin sama Albider. Jadi yah pasti ada hubungannya gitu deh. Awalnya aku kira Ray mantan anak Albider gitu, trus pindah. Tapi di part kemarin dugaan itu salah karena Kalo kayak begitu, kenapa Ray gak kenal sahabat2nya Alvin?--dalam hal ini Ify sama Iel yang udah sempet ketemu sama dia. Jadi, aku bikin kesimpulan baru. Ray sama Alvin kenalnya di Rumah Sakit tempat mereka dirawat. Cluenya yah suster Angel itu. Tapi, biasalah, abaikan otak sok tau saya. Mending liat aja nanti. Disa bakal sabar kok, sampe masalah ini ada penjelasanny.
    Btw btw, aku dapet Typo yang nyata lohh kak, Ify kok jadi Shilla? Haha kak Nae butuh Aqua nih kayaknya. Sampai salah fokus. Ify Sandoro jadi Shilla Sandoro *Maafkan saya yang korban iklan*. Eh tapi cuma becanda yah kak, jangan tersinggung. Bukannya ngatain kakak gak bisa fokus.-.
    Tapi lagi, aku pengen protes, kalo partnya berakhir kayak gini, gak ada yang bikin kepo! Kan gak seru gak bisa main tebak-tebakan lagi *kalo mau kayak gitu main game aja sana Dis, jangan baca cerbung* hh~ maafkan saya yang kalo komen selalu dilengkapi dengan kata-kata sanggahan dari saya sendiri juga(?). Soalnya Disa tuh gitu orangnya._. Sering terjadi pergolakan batin. *asli ini orang gaje banget*. Yasudahlah yah,
    Terakhiirrr, sebagai penutup, marilah kita bersama-sama *lah?* sorry sorry salah. Ulang ulang!
    Terakhir, Disa cuma mau bilang,
    One Two Three Go!!
    Yaudah. Itu aja._.
    Gaje gaje tralala~

    BalasHapus
  6. Gomen baru ngasih komentar ^^
    ada beberapa typo sih kak. Tapi keseluruhan oke. Pengen deh punya sahabat kayak Deva, kekeke~
    Tinggal nunggu penjelasan tentang Ray-Nova.
    Oke oke . . Ditunggu part selanjutnya! ^^

    BalasHapus
  7. Oh iya, ada yang kelupaan. Waktu di part sebelumnya (lupa part yang mana) kan di bagian akhir, ada yang pas seseorang kesakitan itu nyebut nama 'Alvin' untuk bertarung siapa yang bisa bertahan lebih lama. Berarti kalau orang itu Ray, itu artinya Ray kenal Alvin dong kak ? Mereka ada hubungan apa ? Ray kan anaknya pak kepsek. Tapi masa' iya sih Ray kenal Alvin ? Kenal darimana coba' ?
    Atau itu Rio ? Kalo itu Rio berarti Rio ada dendam dong sama Alvin ?
    Ya sudahlah, daripada nebak nebak nggak ketemu mending cepet dilanjut dan segera diungkap masalahnya. Iya kan kak Nae ?

    BalasHapus
  8. Keren banget!! Tapi alvinnya kalau lebih sering disiksa lebih keren deh *plakk* ✌
    Cakka juga punya masalah ya ama perutnya? Cakka juga perlu disiksa kaya Alvin tuuhh.. *waduuh*
    Pokoknya ngefans banget sama ceritanya&penulisnya!! 💞

    BalasHapus
  9. KAK? serius... setelah ada kata-kata pembuka di atas itu, komentar-komentar jadi dua kali lipat lebih panjang... aku? aku komentarnya nanti aja kalo udah selesai baca :D okee

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea