Minggu, 16 Agustus 2015

Separation -Dua puluh satu-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 02.11


>Terimakasih yang udah kasih komentar di part 20 kemarin.

>Saya senang akhirnya ada beberapa silent reader cerita-cerita saya akhirnya memperkenalkan dirinya. Mari berteman! ^.^

>saya udah nyiksa Alvin semampu saya. Dan untuk keberlangsungan makhluk hidup(?) hehe…
Maksud saya kelancaran jalan cerita, saya tidak bisa menyiksa Alvin terus-terusan. Jadi yang suka bagian nyiksanya aja, bagian yang tidak disukainya boleh,  Lewat sajaaaaaaa >>>>>

>part ini dan part2 selanjutnya mungkin akan lebih banyak membahas konflik tokoh dan keluarganya dulu mengingat konflik antar sahabatnya udah pernah terjadi.

>Ya udah… lupakan antara Song Joong Ki dan Lee Joon Ki. Aku tau Song Joong Ki, dan yang gak tau Lee Joon Ki? Yuuu… gugeling o_O  Hehehe

Jadi ke sana-sini. Yasud…

Keep Reading and—

Awas typo berserakan di mana-mana

—Enjoy!


-------------------

SEPARATION

-Dua puluh satu-

-------------------

 “Mission Three Seconds?” Sivia menatap Alvin tak mengerti. Alvin mengangguk singkat, meneguk sedikit cokelat panas di hadapannya. “Kenapa jadi Misi Tiga Detik? And, what does it mean?”

“Gue cuma ngerasa nama misi kita sebelumnya terlalu panjang dan ribet.” Alvin berujar santai. Ia mengamati suasana café yang jadi tempat pilihannya untuk bertemu dengan Sivia tanpa minat. Café milik Ayah Shilla yang juga tempat kerja Iel itu cukup ramai mengingat ini malam minggu. Iel sudah pulang setengah jam yang lalu dan mungkin sekarang sudah mulai siaran. Alvin baru tahu beberapa hari yang lalu kalau Iel bekerja paruh waktu di beberapa tempat kerja termasuk di café ini.

Alvin agak kecewa begitu tahu permasalahan yang sedang dihadapi Iel. Lagi-lagi ia merasa menjadi sahabat yang tak berguna. Ia merasa begitu buruk. Ia sampai sakit kepala memikirkan begitu banyak hal-hal penting yang tidak ia ketahui dari sahabat-sahabatnya. Meski Iel sudah meyakinkannya berulang kali kalau ia merasa baik-baik saja dengan pekerjaannya, Alvin tetap merasa begitu sedih melihat masalah yang sahabatnya alami. Dan yang membuat perasaannya begitu terluka, tentu saja karena ia tidak bisa membantu banyak untuk meringankan beban sahabat itu.

“Lo ngelamun terus sih. Gak seru tau!” Sivia bersungut kesal. Ia memukul pelan lengan Alvin. Membuat Alvin cukup tersentak. “Sori. Gue ngagetin ya?” Sivia lupa kalau laki-laki yang saat ini terlihat begitu tampan itu pengidap lemah jantung. Ia menatap laki-laki yang malam ini mengenakan kemeja putih, seluruh kancing kemejanya dibiarkan terbuka, membiarkan tulisan ‘Harmoni’ di bagian depan kaos yang sedang dikenakannya bisa dibaca dengan jelas. Entah kenapa, Sivia begitu suka melihat penampilan Alvin malam ini.

“Gak apa-apa.” Alvin melemparkan senyuman terbaiknya. Mencoba menghapus raut cemas di wajah gadis cantik di hadapannya. “Jadi gimana?”

Sivia menatap Alvin sebentar. Hanya untuk meyakinkan kalau Alvin memang baik-baik saja. “Gue lebih suka nama misi kita sebelumnya. Rasanya lebih kece, tau!”

“Kece?” Alvin tertawa pelan.

Sivia mengangguk semangat. “Soalnya, tiap lo nyebut nama misi itu, nama gue kesebut juga.” Ia berujar cuek. Alvin terkekeh mendengar kata-kata gadis yang baru Alvin ketahui ternyata begitu blak-blakan dan apa adanya itu. “Emangnya maksud Mission Three Seconds itu apa?”

Alvin kembali menyeruput cokelat panasnya yang sebenarnya sudah mulai mendingin. Ia menatap Sivia lebih rinci lagi. “Maksudnya, tiga detik untuk maju dan tiga detik untuk mundur. Misinya cukup mudah dan gue yakin lo pasti bisa lakuin ini.”

Sivia mengerutkan keningnya tak mengerti. “Maksudnya? Lo jelasin yang bener dong!” Sivia mulai tak sabar. Alvin berbelit-belit sekali.

Alvin menarik nafas panjang. Sedikit membenarkan posisi duduknya, dan ia mulai menjelaskan semuanya dengan begitu rinci. Sivia memerhatikan dengan serius. Beberapa kali ia mengerutkan kening, beberapa kali pula ia mengangguk paham. Dan seseringnya, ia tersenyum-senyum sendiri menatapi Alvin. Pesona Alvin ketika menjelaskan sesuatu benar-benar nyaris membuatnya gila.

-------------------

“Gue bahagia banget hari ini.”

“Dulu sih lo kalo bahagia pasti gara-gara berhasil ngerjain Kak Alvin. Sekarang gue gak tahu alasan kebahagian lo itu apa.”

“Emang apaan sih, De?”

“Kak Alvin ngasih gue tanda tangan asli Natasha Kirana! Ya ampuuun…”

“Artis papan atas itu? Dia dapet pengharaan banyak banget di ajang Movie Award tahun kemarin. Yakin lo itu tanda tangan asli?”

“Iyalah… Kak Alvin malah foto bareng tau, sama dia.”

“Aish, si Alvin gak ngajak-ngajak ih ketemu artis!”

“Gue juga gak tahu, Kak, kapan Kak Alvin ketemu Natasha Kirana. Gue juga pengen tau, ketemu langsung.”

Percakapan ketiga gadis itu terdengar bersahutan dengan suara mesin kendaraan di trotoar jalan raya malam itu. Nova, Dea, dan Ify, mereka tidak sengaja bertemu di rumah sakit. Ify yang saat itu hendak menjenguk Ray yang sudah siuman beberapa hari yang lalu, tidak sengaja bertemu Dea yang katanya sedang menemani Nova yang juga sedang menjenguk orang yang sama. Dan saat jam besuk berakhir, mereka  memutuskan untuk pulang bersama, dan berakhirlah dengan berceloteh panjang lebar di sepanjang perjalanan pulang mereka.

“Lo kok seneng banget sih sama Natasha Kirana?” suara Nova terdengar lagi.

“Yang gak suka film kayak lo gak bakalan ngerti. Dia itu Kate Winslet-nya Indonesia.” Dea berujar semangat. Gadis penyuka film itu selalu semangat jika pembicaraan mereka menyangkut soal dunia per-film-an.

“Kate Winslet? Lo nonton Titanic juga dong. Itu kan film dewasa, Dea!” Ify mulai berkomentar. “Umur lo baru nginjek 17 tahun dua tahun lagi!”

“Pas bagian gitunya gue merem kok!” Dea menjelaskan dengan sungguh-sungguh. Ia menatap sahabat kakaknya yang setelah hubungan ia dan Alvin membaik menjadi lebih dekat itu dengan sorot meyakinkan. “Lagian gue gak tertarik sama yang gituan. Gue kan kalo nonton film cuma seneng liat aktornya doang.” Adik satu-satunya Alvin itu nyengir lebar.

“Alasan aja, lo!” Nova menjitak kepala Dea. Dea meringis dan menyeringai bersamaan sembari mengelus kepalanya yang jadi sasaran empuk tangan jahil Nova. Ia hendak protes dan menjitak balik kepala Nova saat Nova menghentikan langkahnya tepat di depan restoran yang saat itu mereka lewati.

Gadis berkacamata itu membenarkan letak kacamatanya. Memastikan kalau pandangannya tidak salah. Dea dan Ify penasaran dan mengikuti arah pandangan Nova.

Di balik kaca restoran bergaya Italia itu, Nova melihat kedua orangtuanya tengah bercengkrama dengan seorang pria dan juga seorang wanita yang sayangnya tidak bisa Nova lihat karena membelakanginya. Nova tidak begitu peduli dengan teman-teman orangtuanya. Ia hanya merasa begitu sedih melihat mereka yang begitu asyik bercengkrama dan makan bersama di restoran mewah itu. Seumur hidupnya ia bahkan tidak pernah diajak makan bersama di luar. Jangankan di luar, di rumah pun tidak pernah. Kedua orangtuanya begitu sibuk bekerja hingga ia begitu sering diabaikan dan diacuhkan. Selama ini, ia sering ditinggal pergi dan tumbuh menjadi gadis kesepian. Nova hampir saja menangis mengingat hal itu jika Dea tidak dengan segera meraih tangannya dan mengajaknya pergi.

“Ayo!”Dea yang sudah tahu permasalahan apa yang terjadi di keluarga Nova, langsung menyeret sahabat baiknya itu menjauh dari restoran. Meski kadang Nova begitu menyebalkan, Nova tetap sahabat terbaiknya yang selalu menerima ia apa adanya. Ia tidak pernah ingin melihat Nova bersedih dan menangis. “Ohya, Deva mana sih? Katanya dia mau ikutan jenguk. Tapi gak dateng-dateng,” lanjut Dea basa-basi. Mencoba mengalihkan perhatian Nova yang memilih untuk diam.

Ify menarik nafas panjang, mengikuti mereka dengan berbagai pertanyaan dalam kepalanya. Ia baru beberapa hari ini, setelah ia mengenal Ray, ia dekat dengan Nova. Dan itu tidak begitu akrab. Tapi ia bisa melihat dengan jelas kesedihan yang terpancar dari wajah polos itu. Sebenarnya siapa yang Nova lihat?

BRUKK!

Belum sempat Ify memikirkan jawaban atas pertanyaannya, ia merasakan ada sesuatu yang membentur tubuhnya dengan begitu keras dari belakang. Ia langsung jatuh terduduk bersamaan dengan si penabrak. Untuk beberapa detik ia mengaduh sebelum akhirnya memutuskan untuk menatap si penabrak. Dea dan Nova segera menghampirinya dan membantunya berdiri.

“Maaf…” Si penabrak mencoba berdiri. Nova dengan sigap membantunya.

Ify menatap lekat-lakat wanita di hadapannya. Rasanya, wajah itu begitu familiar. Ify merasa pernah mengenal dan melihatnya. “Ngga apa-apa,” jawabnya sambil menepuk-nepuk celananya, membersihkan debu dan kotoran yang menempel di sana. Wanita itu tersenyum sekilas. Ify membalas senyuman itu dengan canggung.

“Bu!”

Ify, Nova, dan Dea terlonjak kanget begitu seseorang mencekal tangan wanita itu. Bukan aksi tiba-tiba yang dilakukan orang itu yang membuat ketiga gadis SMA itu melebarkan matanya. Tapi, sosok yang saat ini tengah mencengkram tangan wanita yang tampak sudah berumur, namun masih cantik itu, yang membuat mereka merasa kalau saat ini mereka tengah bermimpi.

“Lepas, Yo!” Wanita itu berusaha menepis tangan Rio yang menempel dengan begitu rekat di pergelangan tangannya.

“Ibu harus pulang, Bu!”

Belum pernah. Sungguh belum pernah mereka melihat wajah sedingin Uchiha Sasuke itu terlihat begitu menyedihkan seperti malam ini. Ify merasa tenggorokannya tercekat. Dea merasakan hal yang sama seperti Ify. Sementara Nova masih mematung dengan kebingungan yang mengerubuninya.

“LEPAS! IBU BILANG LEPAS, YO!” Wanita itu mengibaskan tangannya semakin kuat hingga cengkraman Rio benar-benar terlepas. Lantas wanita dengan pakaian super seksi itu mendorong Rio hingga terjatuh tepat di hadapan Ify yang masih membeku di tempatnya.

“Kak Rio!” Ify tersadar saat Dea memekik, memanggil nama laki-laki yang begitu dicintainya itu dengan cemas. Kedua gadis itu hendak membantu Rio berdiri saat laki-laki itu berdiri lebih cepat dan berlari mengejar wanita yang mereka yakini ibunya itu.

Dan keadaan tiba-tiba saja mendingin. Es-es ketidakpercayaan terasa melingkupi tiap sudut hati ketiga gadis itu. Tidak ada yang bersuara di antara mereka.

-------------------

“Sepertinya Ayah benar. Berhentilah bermain basket.”

Itu adalah kalimat pertama yang memecahkan keheningan yang terjadi di sepanjang lorong rumah sakit yang tengah mereka lewati. Sebelumnya mereka habiskan waktu mereka untuk diam dan larut dalam pikiran masing-masing di sepanjang jalan pasca mereka keluar dari ruang pemeriksaan.

“Jangan mulai deh, Mas…” Cakka berujar malas. Tidak suka dengan kalimat pembuka kakak tunggalnya itu.

“Kesehatan lo memburuk. Harusnya lo paham sama kondisi lo sendiri.” Elang tidak mengerti kenapa Cakka begitu kerasa kepala soal kesenangannya yang satu itu. Padahal beberapa hari yang lalu ia nyaris pingsan seusai latihan basket di sekolahnya. Dan Elang tidak ingin sesuatu yang lebih fatal, terjadi pada Adik yang paling disayanginya itu.

“Justru karena gue lebih paham, jadi jangan sok ngartur apa yang mau dan tidak mau gue lakuin.” Mereka berbelok di ujung lorong. Cakka mengambil ponsel di saku celananya begitu benda mungil itu ia rasa bergetar. Ada SMS masuk. Elang hendak melemparkan protes saat pintu salah satu ruangan yang mereka lewati terbuka. Seseorang berpakaian rumah sakit dengan tiang insfus yang dituntunya, tampak berdiri di ambang pintu. Menatap mereka, cukup terkejut.

Untuk beberapa saat mereka saling tatap. Sebenarnya tidak ada di antara mereka yang saling kenal. Kecuali Elang yang  sedikit tahu identitas pasien yang saat ini sedang ditangani oleh ayahnya itu. Merasa tidak ada yang perlu diucapkan, mereka memutuskan untuk saling lempar senyum dan kemudian berlalu begitu saja. Sebenarnya Elang ingin bertanya kenapa pasien itu keluar ruangan dan tidak beristirahat saja. Namun, tangan adiknya tiba-tiba saja menariknya menjauhi pasien itu.

“Dia pengidap kanker juga?” tanya Cakka menoleh ke arah Elang.

Elang mengangguk, mengiyakan. “Kalau gak salah namanya Raynaldi. Dia salah satu pasien Ayah juga. Menurut info, dia baru sadar dari koma. Dia sempat melakukan pengobatan di luar negeri, dan pengobatannya gagal. Dia kembali dengan kanker otak yang sudah menginjak stadium akhir.”

Cakka manggut-manggut sok ngerti. Tampak tidak peduli, tidak tahu kalau Ray adalah seseorang yang pernah ia do’akan dengan begitu tulus di ruang ICU beberapa waktu silam. “Barusan Agni SMS. Katanya…”

“Bentar.” Elang memotong kata-kata Cakka. Ponselnya berbunyi. Ada panggilan masuk.

Cakka mendengus. Dan ia memilih untuk diam sampai kakaknya itu menyelesaikan pembicaraan yang ia yakini dari seseorang yang begitu penting itu. Kata-katanya terdengar begitu manis dan Cakka merasa mual mendengarnya.

“Kalo gue ada di posisi lo, gue gak bakalan kuat jalani hubungan long distance gitu,” cetus Cakka begitu Elang memutuskan panggilan dan kembali menyimpan ponselnya. Elang hanya tersenyum sembari mengacak pelan rambut Cakka. Mereka sudah memasuki area parkir. Baru saja merela hendak masuk ke dalam mobil saat Cakka melihat seseorang tengah duduk di salah satu kursi di tempat parkir itu. Ia mengenal orang itu dan ia langsung ingat pesan yang Agni kirim padanya tadi.

Kka, Deva hilang. Bantuin gue cari dia bisa gak? Katanya dia pergi ke rumah sakit bokap lo. Please, gue gak tau mesti minta bantuan sama siapa selain lo. Dia gak bawa handycam-nya dan gue yakin dia kesasar.

“Lo ngapain di sini?” tanya Cakka saat ia berdiri tepat di hadapan Deva.

“Kak Cakka?!” Deva memekik senang begitu melihat sosok yang saat ini berdiri di hadapannya. “Take me to home!” serunya tak sabar. Ia berdiri dan sejurus kemudian meraih lengan Cakka yang masih tampak bingung dengan sosok di hadapannya itu. Seingatnya, Deva sudah beberapa kali datang ke rumah sakit ini saat Alvin di rawat. Lalu bagaimana ceritanya Adik kelasnya itu bisa lupa jalan pulang seperti sekarang ini?

Cakka baru saja akan mengulang kembali pertanyaannya saat Elang menghentikan mobilnya tepat di hadapan mereka. Elang memberi isyarat padanya untuk segera masuk, dan Deva lebih dulu masuk ketimbang dirinya. Elang mengernyit heran.

“Kita antar Deva pulang dulu, Mas…”

---------------------

“Yel… kalo lo putus sama cewek lo, bilang sama gue ya?” Debo menatap Iel yang saat ini tengah sibuk membereskan barang-barangnya sambil sesekali menengok ke arah Shilla. Gadis itu tampak sedang asyik mengobrol dengan beberapa kru One Radio di ruang tunggu selama Iel siaran. Shilla memang gadis menyenangkan dan mudah bergaul. Wajar jika teman-teman kerjanya langsung menyukai pribadi Shilla yang lembut dan hangat itu.

“Tunggu sampai menara condong berdiri tegak, oke?!” tukas Iel sembari menggendong ranselnya. Ia menatap Debo dengan tatapan meremehkan. Lantas setelah itu keluar dari studio dan menghampiri Shilla. Debo hanya menatap kepergian Iel dengan kekehan pelan.

“Ayo!” Iel berdiri di samping Shilla yang masih tampak asyik mengobrol dengan teman-teman kerjanya. Kadang, pribadi Shilla yang asyik, tulus, dan ceria membuat Iel sering merasa cemburu. Pasalnya, tak jarang orang-orang langsung jatuh hati pada Shilla padahal baru beberapa jam mereka saling mengenal.

“Makasih loh, kalian udah mau nemenin ngobrol.” Shilla menatap bergantian keempat laki-laki yang ia rasa berumur lebih tua darinya itu. Ia segera berdiri dan mengambil beberapa kantung keresek ukuran besar di atas meja.

“Sering-sering main ke sini ya, Shil. Gue punya banyak miniatur Bugs Bunny loh. Tiap lo ke sini, gue kasih lo satu deh.” Laki-laki dengan gaya rambut undercut itu menatap Shilla penuh harap. Iel langsung menghadiahinya tatapan membunuh. Shilla hanya tersenyum simpul melihatnya, masih sibuk dengan kantung kereseknya.

“Jangan godain cewek gue!” kecam Iel. Ia membantu Shilla mengambil barang bawaannya yang Iel sendiri tidak tahu apa. Satu tangannya meraih tangan Shilla dan mengajaknya keluar dari ruangan tunggu itu. Shilla menatap mereka sebentar dan tersenyum. Keempat laki-laki dewasa itu hanya tertawa pelan melihat tingkah Iel dan juga Shilla.

“Gue bisa beliin lo satu toko miniatur Bugs Bunny, bahkan semua miniatur kartun Loney Toons. Lo jangan percaya begitu aja kata-kata cowok playboy itu. Dia itu mulut besar, tukang modus, tukang gombal. Hampir semua bintang tamu cewek yang dateng dia godain. Menyebalkan!”

Shilla hanya bisa terkikik pelan mendengar cerocosan Iel. Laki-laki yang paling disayanginya itu benar-benar sedang kesal. Dan Shilla merasa bahagia mengetahui alasan raut kesal itu tercoret di balik wajah yang di matanya selalu tampan itu. “Lo cemburu?” tanya Shilla ringan. Mereka sudah meninggalkan bangunan One Radio dan berbaur dengan udara malam yang terasa begitu dingin. Jalan sudah mulai sepi mengingat waktu sudah cukup larut.

“Ah, ini berat banget! Lo bawa apaan sih?” tanya Iel mengalihkan pembicaraan. Ia memandang kantung keresek di tangannya.

Shilla tersenyum dan menatap Iel lembut. Tatapan yang membuat Iel terperosok lebih jauh lagi dalam hati gadis itu. “Ini keperluan lo selama seminggu. Aren dan Lintar harus makan dengan baik. Mereka pasti berjuang begitu keras di sekolah.” Dan kata-kata tulus Shilla membuat perasaan Iel semakin terikat kuat. Tak kuasa melepasnya begitu saja.

Iel menghentikan langkahnya. Shilla melakukan hal yang sama. Cukup lama mereka saling tatap. “Jangan lakuin ini lagi, oke? Sumpah gue ngerasa gak e—”

“Yel…  Selama ini, selama gue kenal sama lo, selama gue nempatin posisi kosong dalam hati lo, tanpa lo sadari, lo itu udah kasih gue banyaaaakk banget hal-hal berharga yang bahkan jauh lebih mahal dari berlian nyokap gue. Satu di antara banyak hal itu, tentu saja kebahagiaan. Dan kebahagiaan itu lo, Yel. Seberapa sering pun gue menangis karena lo, seberapa banyak pun kesedihan yang lo berikan buat gue, itu hanya satu banding seratus dengan diri lo. Lo kebahagiaan gue, dan apa yang gue lakuin, apa yang gue berikan sama lo, itu tuh gak ada apa-apanya sama yang lo kasih ke gue.”

Iel membisu mendengar kata-kata Shilla. Hatinya tersentuh mendengar kata-kata yang bahkan saat bertepi di telinganya, terdengar begitu murni dari dalam hati itu. Tak ada dusta dan kebohongan. Air mata menggantung di pelupuk mata Iel. Seperti inikah gadis yang ia miliki? Secantik inikah? Setulus inikah? Sesempurna inikah? Rasanya Iel tidak ingin melepas gadis itu apa pun alasannya.

“Shil…” panggil Iel lirih saat sebuah mobil mengkilap berhenti di hadapan mereka. Iel kembali menyimpan kata-katanya begitu kaca mobil itu terbuka. Pak Edwin, bosnya yang juga ayah Shilla, tersenyum ke arahnya. Iel membalas senyuman itu dengan canggung. Shilla menoleh dan tersenyum juga ke arah papanya itu.

“Ayo pulang!” ajak Pak Edwin.

Shilla menatap Iel sebentar. “Iel boleh ikut kan, Pa?” tanyanya.

“Tentu saja!”

Iel menatap Shilla ragu, tapi beberapa detik kemudian ia menggeleng yakin. “Gak usah, Pak. Saya pulang sendiri.” Iel menatap Pak Edwin sebentar sebelum akhirnya kembali melirik Shilla. “Lo pulang, gih! Arah jalan pulang kita berbeda, ingat? Jangan khawatir.”

Shilla menatap Iel kecewa. Padahal ia begitu berharap bisa lebih lama bersama sama Iel.

“Besok kita punya banyak waktu. Lo harus nurut sama calon suami lo ini!” Iel tertawa kecil. Begitu pun Shilla. Gadis itu mengangguk dan memberikan satu keresek lainnya pada Iel. Lantas setelah itu ia berjalan masuk ke dalam mobil.

Setelah mobil yang membawa kekasihnya itu melesat meninggalkannya, Iel memutar arah dan berjalan sendiri ditemani sepi dan dingin malam. Ini alasan ia tidak ingin pulang dengan Shilla. Ia tak kuasa menahan air matanya lagi. Sungguh selama beberapa tahun ini tubuh kurusnya sudah dipaksa banting tulang, bekerja dengan begitu keras hingga ia merasa tubuhnya sudah tak mampu lagi menompang beban yang ia pikul. Sampai Shilla datang, meringankan beban itu meski hanya dengan senyum manis dan tulusnya. Gadis yang begitu ia cintai. Gadis yang rela menunggu ia berjam-jam lamanya bekerja hanya untuk pulang bersama. Gadis yang hatinya akui menjadi kebahagiaan terbesarnya juga.

----------------------

“Kak Alvin!” Dea berteriak riang sembari meloncat ke atas tempat tidur Alvin. Ia melingkarkan tangannya di leher Alvin. Tersenyum bahagia begitu menemukan kakaknya sudah berada di kamarnya. Saat ia pergi untuk menjenguk Ray di rumah sakit, Alvin juga pergi untuk bertemu Sivia.

“Ya, Tuhan…” Alvin memekik tertahan. Beberapa butir obat yang sedang digenggamnya berhamburan di sekitar kakinya. Dea benar-benar mengejutkannya. Laki-laki yang saat itu sedang duduk di tepi ranjangnya, membelakangi pintu masuk dan tidak menyadari kehadiran Dea seketika memegang dadanya. Belakangan ini kejutan sekecil apa pun sering menjadi serangan tajam yang kerap membuat jantungnya nyeri. Dea yang melihat hal itu seketika menyadari kekhilafannya. Ia lupa. Benar-benar lupa.

Gadis itu langsung melepaskan pelukannya dan bergegas meloncat dari atas kasur. Dipungutnya butiran-butiran di bawah ranjang dan langsung menjejalkan pil-pil itu ke dalam mulut Alvin. Kata maaf ia lafalkan berulang kali sebagai tanda penyesalan.

“Maafin gue, Kak. Gue lupa. Beneran lupa!” Ia membantu membaringkan tubuh Alvin setelah memastikan obat yang menjadi nyawa kedua kakaknya itu sudah tertelan sempurna.

Alvin tak lantas menjawab. Ia masih berusaha menstabilkan detakan jantungnya yang tiap detakan itu terasa menusuk-nusuk dadanya. Dea semakin gelisah saja ketika Alvin tak urung merespon maafnya. Ia hampir menangis dan hendak melapor pada mamanya saat Alvin mencekal tangannya dan memaksanya untuk duduk di sisi kosong di samping tubuh Alvin yang sebenarnya tidak sepenuhnya berbaring. Dea sengaja membuat tubuh Alvin sedikit bersandar di kepala tempat tidur agar bisa lebih mudah menghirup udara dan menetralisir rasa sakitnya.

Tanpa bicara, Dea memeluk Alvin, membenamkan wajahnya di dada Alvin. Jantung Alvin berdetak lebih cepat dari detakan normal biasanya. Menyadari hal itu membuat Dea merasa begitu sedih. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu dengan Alvin. Air matanya mengalir begitu saja.

“Gak apa-apa. Gue baik-baik aja, De. Jangan nangis!” Alvin membelai rambut Dea dengan lembut saat perlahan sakit itu hilang. Obatnya sudah mulai bereaksi.

Dea tak merespon dan malah menangis semakin kencang. Untuk beberapa saat Alvin membiarkan adiknya itu menangis. Dea juga pasti tak kalah terkejut dan panik darinya. Wajar jika ia menangis seperti ini.

“Mau tau sesuatu gak?” Alvin melepaskan pelukan Dea. Menatap wajah adiknya yang sudah dipenuhi jejak air mata itu. Di hapusnya air mata itu dengan jari-jari kurusnya.

Dea mengangguk samar.

“Gue nanya sama Mama kenapa muka gue oriental gini. Beda sama anggota keluarga yang lain, dan Mama jawab kalo sebenarnya Papa pas lagi muda juga sipit tapi Papa…” Alvin mendekatkan mulutnya ke telinga Dea. Membisikan sesuatu. Dea mengernyit untuk beberapa saat namun beberapa jurus kemudian ia tertawa renyah.

“Operasi plastik? Haha… yang benar saja!” kata Dea masih mempertahankan tawanya.

Alvin mengangguk singkat. Senang melihat Dea berhenti menangis dan tertawa seperti sekarang. Saat ia tahu berita ini dari Mama, ia tidak tertawa seperti Dea sekarang. Ekspresi tak percaya lebih ia tunjukan saat ia mendengar berita itu.

“Menurut lo, muka Papa waktu masih sipit kayak siapa ya?”

“Gue sih bayanginya kayak Jackie Chan.” Alvin tidak tahu kalau Dea menanggapi berita itu dengan serius. Ia juga asal jawab saja.

“Jackie Chan? Kenapa gak Jo Jin Hoon saja?”

“Dia terlalu ganteng!”

Dea tertawa lebih keras. “Di mata gue, Papa itu laki-laki paling ganteng tau.”

“Lo juga bilang Mario Maurer itu cowok paling ganteng. Terus waktu lo udah nonton The Faculty, lo juga bilang, “Ya Tuhan… Kenapa ada cowok seganteng Elijah Wood?”. Bahkan lo juga bilang, kalau Uchiha Sasuke, tokoh kartun dalam anime Naruto itu cowok terkeren dan terganteng yang pernah lo lihat. Jadi Papa itu urutan laki-laki paling ganteng ke berapa di mata lo?” Alvin menyentil gemas hidung Dea.

Dea tidak menjawab. Ngomong-ngomong Uchiha Sasuke, ia jadi ingat kejadian beberapa jam yang lalu. Tentang Rio dan juga wanita yang menabrak Ify. “Kak…” Dea merapatkan tubuhnya dengan tubuh Alvin yang masih setengah berbaring. Di sandarkannya kepalanya di bahu Alvin. Entah kenapa begitu ingat Rio, perasaan sedih menjamah hatinya begitu saja. Dan di saat sedih seperti sekarang, rengkuhan Alvin adalah hal yang paling bisa membuatnya tenang.

“Kenapa?” tanya Alvin bingung begitu melihat reaksi Dea. Dibelainya kepala Dea dengan lembut.

“Sebenarnya, ada masalah apa antara Kak Rio dan ibunya?”

“Hah? Rio dan ibunya?” Alvin tidak mengerti. Dari awal Alvin tahu mengenai perasaan Dea ke Rio. Diam-diam Adik perempuannya itu menyukai Rio. Tak jarang ia melihat Dea memerhatikan Rio. Ia juga sering melihat Dea menunggu Rio bermain futsal dan menikmati pesona laki-laki dingin itu. Ia juga pernah beberapa kali memergoki Dea tengah curi-curi pandang ke arah Rio. Tapi, yang jadi pembicaraan Dea sekarang tampaknya bukan tentang permasalahan perasaan atau tentang Dea yang ingin tahu lebih jauh tentang Rio.

“Emang kenapa?” tanya Alvin dan Dea mulai menceritakan kejadian beberapa jam yang lalu.

Beberapa menit terlewati. Sampai akhirnya…

“De, gue ngantuk nih. Gimana kalau kita bicarain ini nanti?” Alvin melepaskan rengkuhannya dari tubuh Dea. Membenarkan posisinya menjadi sepenuhnya berbaring. Dea mengangguk paham dan menyelimuti tubuh Alvin, lantas segera berlalu meninggalkan kakak satu-satunya itu setelah sebelumnya mengucapkan, “selamat tidur, dan bangunlah dalam keadaan sehat, Kak.”

Sempurna pintu kamarnya tertutup rapat, Alvin menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Menyembunyikan wajah sedihnya dari segala objek dalam kamarnya yang terasa sedang menertawakannya dan mengejeknya. Perasaannya hancur begitu saja begitu mendengar cerita Dea.

Setelah Ify dan Iel, sekarang Rio. Apa lagi yang tidak ia ketahui tentang sahabat-sahabatnya? Apa lagi yang disembunyikan sahabat-sahabatnya dari dirinya? Apa karena ia lemah lantas ia tidak berhak mengetahui beban mereka? Lantas untuk apa ia tetap bertahan jika bahkan orang-orang yang begitu disayanginya  tidak memberinya kepercayaan?

Maka, berhentilah di sini! Gue gak berharap jantung gue berdetak lebih lama lagi!

Alvin hanya merasa dikhianati. Alvin merasa tidak dibutuhkan. Alvin merasa begitu bodoh dan tak berguna. Alvin merasa ingin mati saja saat ini.

--------------------

Ify melangkah masuk ke dalam rumah saat ia mendengar suara keran dari dalam kamar mandi. Saat ia melewatinya, pintu kamar mandi itu sedikit terbuka. Ia melihat sosok ibu tirinya tengah berjongkok sembari menyikat pakaian. Gadis yang tampak kusut itu hendak kembali melangkah dan mengacuhkan wanita yang sejak menjabat sebagai ibu tirinya tidak pernah ia sambut dengan baik itu. Namun, begitu ia melihat tumpukan pakaian di sudut kamar mandi, di antaranya seragam sekolah dan pakainnya, ia kembali menatap punggung itu. Sedikit berjalan lebih mendekat.

“Kenapa mencuci malam-malam seperti ini?” tanya Ify dingin. Pikirannya yang masih melayang-layang pada Rio membuat moodnya begitu buruk. “Dan kenapa dengan mesin cucinya?”

Wanita yang sampai sekarang masih Ify panggil Tante Rara  meskipun status Ibu sudah dijabatnya, seketika terlonjak kaget mendengar suara ketus Ify. Ia segera berdiri dan membalikan tubuhnya untuk menatap Ify. Busa sabun masih memenuhi kedua tangannya. “Ah, besok Ibu harus pergi pagi-pagi sekali. Mesin cucinya rusak dan ibu takut besok gak sempet mencuci.” Wanita itu tersenyum lembut. Senyuman yang begitu Ify benci.

Ify tidak tahu kenapa hatinya tidak pernah bisa menerima kehadiran Ibu tirinya. Saat itu ia masih begitu kecil ketika Ayah dan ibunya memintanya untuk tinggal bersama Nenek dan kakeknya. Dan sejak saat itu juga ia tidak lagi melihat ibunya. Ia bahkan sudah lupa bagaimana wajah ibu kandungnya. Sampai ketika beberapa tahun kemudian ayahnya mempertemukan wanita di hadapannya sebagai ibunya. Ia menganggapnya ibu tiri. Ah, tidak, ia bahkan menganggap wanita itu orang lain.

“Aku bisa mencuci bajuku sendiri!” Ify menatap sengit wanita itu. Menatap pakaiannya.

Tante Rara hanya tersenyum mendengar kata-kata Ify. Bahkan selama ini ia yang mencuci pakaian Ify. “Baiklah… Ibu tidak akan mencucinya untuk saat ini.”

Ify menghentakan kaki kesal. Lantas setelah itu ia berlalu meninggalkan wanita itu. Ia segera masuk ke dalam kamar, membanting pintu dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Memejamkan matanya, dan entah kenapa, bayangan Rio dan juga wanita yang Rio panggil “Ibu” itu saling bergantian memenuhi pikirannya. Berbagai pertanyaan berjajar dalam kepalanya.

Siapa wanita tadi?

Kenapa gue ngerasa pernah kenal baik wajah itu?

Apa itu benar Ibu Rio?

Ada apa dengan Rio dan ibunya?

Kenapa Rio terlihat begitu sedih?

Lo tau, Yo? Gue pengen banget meluk lo tadi.

Tapi kenapa bahkan lo gak natap gue sedikit pun?

Bukannya lo udah tau ya kalo gue tuh masih sayang banget sama lo?

Terus kenapa lo masih dingin gitu sama gue?

Apa lo bener-bener  udah gak nyimpen perasaan lo ke gue?

Atau karena lo emang beneran udah berpaling sama Shilla?

Shilla? Benarkah? Kenapa harus Shi—

“AAARRGGHH!” Ify mengerang kesal. Ia kembali mengangkat tubuhnya dengan kasar. Berjalan tergesa keluar kamar dan menghampiri Tante Rara yang masih berkutat dengan cuciannya. Tanpa bicara Ify mengambil alih sikat dan pakaian yang sedang dicuci itu dari tangan Tante Rara. Tante Rara mundur dan memberi tempat untuk Ify. Wajahnya yang tampak awet muda itu mengguratkan kebingungan. Tapi sejurus kemudian ia tersenyum begitu mendengar kalimat Ify, “aku lapar. Tolong buatkan aku makanan dan biar aku yang membereskan semua ini.”

Ify hanya ingin mengalihkan bayangan Rio pada cucian di hadapannya. Karena cara nomor tiga melupakan orang yang ingin dilupakan :

“Sibukanlah dirimu sesibuk-sibuknya, dan fokuslah pada kesibukanmu.”

Ify benar-benar berharap caranya kali ini benar-benar ampuh.

-----------------------

“Thanks!”

BRUK!

Cakka mengedipkan matanya beberapa kali. Cukup terkejut dengan reaksi yang Agni berikan. Ia baru saja mengantar Deva pulang, saat Agni berdiri di depan pintu, menarik Deva dengan cepat, mengucapkan terimakasih dengan singkat dan menutup pintu dengan keras.

“Dasar Bebek Angsa!” Cakka mendumel. Tidak ingin memedulikan tindakan Agni lebih jauh, ia segera menjauhi rumah Agni dan kembali masuk ke dalam mobil yang masih terparkir di depan gerbang rumah Agni. Meninggalkan Agni dan Deva di antara semua kekacauan di rumah yang pernah Cakka kira rumah angker itu.

Masih memegang tangan Deva, Agni memerhatikan keadaan rumah yang begitu berantakan. Deva menatap Agni dengan bingung. Apa yang sudah terjadi? Agni yang mengerti arti tatapan Deva, semakin mengeratkan genggaman tangannya. Menuntun Deva masuk ke dalam kamarnya.

“Dengar! Apa pun yang terjadi, kita tidak boleh berpisah lagi.” Agni memegang bahu Deva kuat saat mereka sama-sama duduk di tepi tempat tidur. Ditatapnya bola mata Deva dengan keyakinan penuh. Mencoba meyakinkan Deva dan juga hatinya kalau semuanya akan berjalan baik-baik saja. Dipeluknya dengan erat tubuh itu.

Deva. Betapa ia menyayangi adiknya itu meski kadang Deva begitu menjengkelkan. Deva adalah alasan ia kembali menyetujui rujuknya Mama dan papanya. Padahal saat itu ia tidak yakin dengan keputusannya. Ia tidak yakin kalau papanya benar-benar sudah berubah. Itu alasan kenapa Agni tidak banyak bicara dengan papanya saat pria paruh baya itu kembali ke rumah. Dan ketidakyakinannya terbukti saat ia pulang sekolah. Selepas Deva pergi bareng Nova dan juga Dea—yang katanya—untuk menjenguk teman Nova.

Papanya pulang dalam keadaan mabuk. Ia kembali memukuli Mama dengan alasan tidak jelas. Agni berusaha menghentikan aksi papanya dengan memaksa Mama mengunci diri di kamar. Dan Agni melakukan hal yang sama, mengunci diri di kamar Deva mengingat kamar itu ruangan yang paling dekat dengan posisinya. Ia menangis sendirian di ruangan yang penuh dengan CD-CD film itu, diiringi suara-suara keras yang berasal dari benda-benda yang sengaja dilempar. Ia berharap Deva tidak cepat-cepat pulang, karena ia lebih senang benda-benda yang untungnya bukan benda-benda mahal itu menjadi pelampiasan papanya ketimbang orang-orang yang disayanginya.

Agni menangis hingga lelah dan tertidur. Ia terbagun dan keadaan di  luar kamar sepi, dan Agni yakin papanya sudah tidak ada di rumah. Saat Agni membuka mata dan membenahi posisinya, ia melihat Mr. Son milik adiknya itu tergeletak sembarang di atas tempat tidur. Ia melirik jam dinding di kamar itu, dan matanya membulat sempurna. Sudah malam dan Deva belum pulang. Ia yakin adiknya itu tersesat dan lupa jalan pulang. Ia ingin mencari tapi ia takut meninggalkan mamanya sendiri. Begitu mengingat tujuan yang Deva katakan sebelum berangkat, ia mencoba untuk menghubungi Cakka.

Onee-chan…” Deva hanya bisa memanggil lirih nama itu. Membalas pelukan hangat kakak tunggalnya. Entah kenapa, ia merasa de javu dengan kejadian yang tengah ia alami sekarang. Ia memang bukan pengingat yang baik. Ada kerusakan dalam otaknya hingga ia tidak bisa mengingat banyak hal. Ia sering melupakan banyak hal terlebih itu arah dan jalan pulang. Itu alasan ia selalu membawa handycam-nya dan merekam tiap sudut jalan yang ia lewati. Tapi ia tidak pernah lupa kejadian beberapa tahun silam. Kejadiaan serupa seperti yang ia alami saat ini. Ia merasa akan kembali berpisah dengan Agni, dengan keluarganya. Dan ia tidak ingin itu terjadi kembali.

Deva memeluk Agni semakin erat. Memohon perlindungan dari kakaknya. Berharap kalau Agni tidak lagi melepasnya dengan mudah seperti dulu.

------------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225
Pin : 5467BAFB

Silahkan sisipkan komentar terbaik dan terpanjang kalian. ^_^

Nb: Oya, kemarin-kemarin saya nyoba buat fanfic korea, yang suka sama fanfic juga, bisa baca di sini



3 komentar:

  1. Yeay, udah selesai baca part 21-nya. Makasih banyak.. entah bener atau nggak, tapi aku ngerasa part ini salah satu part terpanjang Separation.

    Bahas yang kurang2 dulu sebelum bahas bagian yang aku suka boleh, ya?

    Ada dua bagian yang aku ulang bacanya. Pertama, di bagian ini, "Ia menatap sahabat kakaknya yang setelah hubungan ia dan Alvin membaik menjadi lebih dekat itu dengan sorot meyakinkan." Aku paham maksud dari kalimat itu gimana, tapi boleh saran ya kak.. kata "Ia" yang pertama bisa diganti Dea. Menurut aku, biar lebih gampang ngertiinnya.
    Terus kedua, di bagian ini, " Ia baru beberapa hari ini, setelah ia mengenal Ray, ia dekat dengan Nova. Dan
    itu tidak begitu akrab." Kalimat itu aku kutip dari bagiannya Ify, Nova, sama Dea pas lagi jalan pulang dari RS. Kayaknya bisa lebih dipermudah lagi, kak, penulisannya. Buat sharing aja, aku pernah baca artikel tentang penulisan fiksi, terlalu banyak kata "Ia" dalam satu kalimat terkadang bisa bikin ambigu. Karena tulisan kania bagus, ceritanya asik, menyenangkan, dan anak muda banget, jadi sayang kalo ada beberapa yang miss.

    " Kedua orangtuanya begitu sibuk bekerja hingga ia begitu sering diabaikan dan diacuhkan." Aku ngutip kalimat itu di bagian Nova yang lagi liat orang tuanya di restauran. Itu maksud kalimatnya, orang tua Nova sering mengabaikan dan nggak memedulikan Nova, kan? Kalu iya, kata diacuhkan itu seharusnya ditambah "tidak" atau kata sanggahan lainnya yang pas. Karena "acuh" itu artinya peduli; memedulikan.

    Oiya, one day, kalo kania mau ngedit Separation part 21 ini, dibagian Cakka sama Mas Elang ada beberapa yang typo. (We always remembering each other, right?) (:

    Buat alur dan ceritanya. As always, Iel-Shilla story is the part I love the most. Gak tau kenapa, kalo sebelumnya di cerbung kania aku suka baca bagian Alvin, di Separation ini aku suka banget bagian Iel-Shilla. Suka double bangett! Pas di awal (percakapan antara Iel-Debo) aja aku udah senyam-senyum bacanya. Ini aku kasih jempol juga buat karakternya Iel (y). Dia lapang dada terima semua bantuan Shilla. Ditambah penjelasan Shilla kenapa Iel gak boleh nolak semua bantuannya. Alhamdulillah, di sini Iel bukan tipe yang gengsi. Mungkin kalo cowok lain udah ngerasa mulai direndahin sama ceweknya.

    Kalo dulu-dulu aku gak begitu suka kisah-kisah bagian Ify, kali ini aku suka. Lebih tepatnya, aku suka setiap bagian di part ini. Rasanya kania sangat adil nyeritainnya. Meskipun banyak tokoh dan semuanya gak luput dari masalah, tapi masalah mereka beda-beda. Dan ada aja benang merah yang makin bikin mereka saling berkaitan satu sama lain. Sampe-sampe aku mikir, "Ini Rio sama Ify jangan-jangan satu Ibu." o_O

    Oiya, aku mau bilang, POOR YOU ALVINNN! Tolong kania sampein ke Alvin aku kasian sama dia. Bukan kasian sama penyakitnya. Tapi kasian karena dia emang bener2 terlihat sebagai sahabat yang nggak tau apa2 tentang masalah sahabatnya yang lain.

    Segitu aja ya, kak? Kayaknya udah terlalu makan tempat. Ehehe.. super makasih buat part 21 ini. Salah satu part yang paling aku suka dari seluruh rangkaian part Separation sejauh ini.

    Abis ini, Belongs To Both Of Us part 3 atau Separation part 22 duluan yang dipost? Tapi mana pun itu, kasih tau aku, ya.. pasti dibaca! Makasihhhhhh.. (:

    BalasHapus
  2. Halo, kakak. Aku yang kemarin komen dg nama nana.

    First of all, PLEASE, I BEG ON YOU KAK, jangan jadiin ibu kandungnya Ify itu ibunya Rio :( :( :( plis plip plis banget. huhuhuhuhuhuhu.
    Atau emang Rio dan Ify nantinya akan terlibat hubungan terlarang.

    Alvinnya masih belum terlihat menyukai Sivia, apa emang belum?
    Mau tau apa sih rencananya Alvin itu... misi yang merubah Sivia ke arah lebih baik itu kan maksudnya?

    Papanya Shilla tidak "tidak setuju" dengan hubungan ShIel kan kak? :(
    Btw, i love Iel, kayak Iel di dunia nyata (sok tau, padahal cuma suka liatin twitternya).

    Kak, ga sabar banget nungguin CaGni nih :) mau dong adegan yang Cakka pingsan ditolongin Agni lagi wkwk.
    Masih menanti juga kelanjutan sikap ayahnya Cakka terhadap Cakka setelah tau dia sakit.

    Buat si kocak Deva, aku udah ngira dia pasti tidak luput dari siksaan, tapi sama sekali ga nyangka kalau siksaannya gangguan di otak itu.
    Btw, aku kangen lawakannya Deva dan Dea. Buat mereka bersatu ya kak *request*

    Nah kan... berarti memang bukan cuma Ray yang meninggalkan Nova. Ternyata orang tuanya juga.

    Hm, bingung mau ngomong apa lagi. Pokoknya semangat terus kak lanjutin nulisnya.

    Regards,
    Nana.

    BalasHapus
  3. Lanjutkan kak! mangaattttt ILYSM wkwkwk, klo bisa request Alv jan sampe isdet ye wkwkw dan permudahlah rify ka, jangan dihalangin lagi elah wkwkwk

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea