Sabtu, 26 September 2015

Separation -Dua puluh dua-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 21.24


Maaf ya udah bikin kalian nunggu lama. Maaf banget!
Terimakasih yang udah nunggu dan kasih komentar di part sebelumnya.
Langsung aja biar gak lama.

Keep reading
And
Enjoy!

-------------------

SEPARATION

-Dua puluh dua-

-------------------

 “Ke mana, Kka?” Wanita cantik istri Dokter Nuraga itu menoleh ke arah putranya yang baru saja berjalan melewatinya. Ia menghentikan sejenak aktifitasnya menata makanan dan memerhatikan Cakka dengan seksama. Putra bungsunya itu tampak rapi.

“Jalan-jalan, Bu,” jawab Cakka menghampiri ibunya dan mencium kedua pipi wanita itu dengan manja. “Jangan kangen ya, Bu,” sambungnya nyeletuk.

Wanita pendiam itu tertawa pelan dan mengusap lembut rambut Cakka. “Kenapa gak pake baju hangat?” tanyanya sembari mengambil sepotong roti di atas meja dan menyuruh Cakka memakannya. Cakka tidak bisa menolak dan memakan roti berselai cokelat itu.

“Cakka mau jalan-jalan, Bu. Bukan mau camping ke gunung,” komentar Cakka di sela kunyahannya. Ibunya hanya tersenyum dan mengangguk paham.

“Jangan bermain basket lagi! Kamu harus benar-benar sehat saat pertunangan kakakmu nanti.” Kedua pasang mata itu berputar, mencari sumber suara. Dokter Nuraga muncul dari kamar mandi sembari mengelap kacamatanya dengan ujung kaos yang sedang dikenakannya. “Dua minggu sebelum pertunangan, kita juga harus bertemu dengan tamu penting. Jadi pastikan kondisi kamu baik-baik saja,” sambung Dokter  pemilik rumah sakit terbesar itu sembari mendudukan dirinya di salah satu kursi. Ia langsung menyantap makanan yang baru saja disiapkan istrinya. Di hari minggu memang tidak ada acara sarapan bersama seperti hari-hari biasanya. Wajar jika pria gagah nan berwibawa itu tidak menunggu keluarganya lengkap untuk memakan sarapannya.

“Hm… Ayah tenang saja. Cakka bakalan sehat sampai waktunya nanti. Lagipula siapa yang mau main basket dengan pakaian seperti ini?” Cakka memutar bola matanya malas. Laki-laki dengan kemeja putih dan jeans hitam itu menatap ibunya sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan kedua orangtuanya.

-------------------

“Dalam hidup, hanya ada dua sisi yang harus kita pilih. Positif dan negatif, baik dan buruk, atau terang dan gelap. Kita hanya tinggal memilih di sisi mana kita akan berpijak. Dan untuk misi kita ini, lo hanya punya waktu tiga detik untuk nentuin pilihan lo. Tiga detik untuk maju dan melakukan kebaikan, dan tiga detik untuk mundur dan mejauhi keburukan.”

“Kenapa hanya tiga detik? Itu terlalu singkat, tau.”

“karena hidup ini juga singkat. Lagipula, untuk berbuat baik, berpikir tiga detik tuh bahkan terlalu lama.”

“Gue gak yakin.”

“Kenapa? Lo tinggal bilang, one… two… three…  and go buat maju pas  ada niat baik dalam hati lo. Dan, one… two… three… and go buat mundur pas lo niat lakuin sesuatu yang salah.”

Sivia menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata Alvin kemarin malam terputar kembali dalam ingatannya. Membuat ia disudutkan pada pilihan yang sulit. Ia bahkan tidak tahu apa ia harus maju atau mundur. Alhasil, ia hanya mampu berdiri mematung di tempatnya. Menelan bulat-bulat sesak yang menghujam dadanya. Untuk ke sekian kalinya, minggu paginya harus diwarnai dengan pertengkaran kedua orangtuanya. Dan ia selalu tidak tahu harus melakukan apa.

‘Apa yang harus gue lakuin, Vin?’ Sivia membatin sedih. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak tahu mana yang lebih baik. Apa maju dan menghampiri kedua orangtuanya, berdiri di antara mereka dan menghentikan pertengkaran itu, atau justru mundur dan kembali ke kamar, menyumpal telinganya dan pura-pura tidak tahu saja? Mana yang lebih baik, Sivia bahkan tidak tahu.

Dan Sivia mulai menangis dalam diam. Menyaksikan adegan di depannya dengan lirih. Teriakan dan saling serang cemoohan kedua orangtuanya terasa seperti jarum-jarum kecil yang menusuk-nusuk hatinya. Hatinya yang sebenarnya begitu lembut dan polos. Yang selalu bercerita banyak hal. Bercerita tentang harapan-harapan kecil nan sederhana miliknya.

Seperti pagi hari yang indah dengan suara lembut Mama sebagai alarm pagi yang merdu. Suara tegas Papa sebagai penyemangat untuk melewati hari. Aroma nasi goreng buatan Mama. Suara piring dan sendok dipadu dengan percakapan ringan dan tawa ceria. Dan hal-hal kecil lainnya yang Sivia sadari hanya  ada dalam angannya saja.

“Kalau gitu, kita cerai saja!”

Sivia menegang di tempatnya. Air matanya merembes semakin banyak. Kata-kata yang baru saja keluar dari mulut wanita yang dalam hatinya selalu menjadi nomor satu itu, terasa seperti tombak yang sengaja ditancapkan dalam hatinya yang bahkan masih menyimpan luka yang mendalam.  Tubuhnya serasa lemas, seolah tulang-tulangnya merapuh saat itu juga. Ia mendudukan dirinya di depan kamarnya, menarik lututnya dan menangis pilu di baliknya.

------------------------

Perlahan Rio membuka matanya. Menarik tubuhnya dan menyandarkannya di kepala tempat tidur. Pening langsung menyerangnya saat itu juga. Kepalanya terasa berdenyut dengan hebatnya. Mencoba memijit pelan keningnya, berharap dengan begitu sakitnya bisa menghilang. Namun, bukan menghilang, justru terasa semakin menyakitkan. Ia menghela nafas dalam-dalam, berusaha meredam segala  sakit dalam tubuhnya dan juga hatinya begitu ia ingat satu hal yang paling menyesakan. Ia tidak berhasil membawa ibunya pulang.

Padahal ia begitu membutuhkan sosok itu. Meski ibunya jarang sekali memasak untuknya, ibunya jarang menyapanya, ibunya bahkan jarang menatapnya, tapi ia begitu membutuhkan wanita itu. Setidaknya hanya untuk menemaninya. Karena bagi Rio, bisa melihat ibunya duduk santai di sofa, melihat ibunya menatap kosong televisi, atau aktifitas apa saja yang dilakukan ibunya meski tidak ada hubungan dengannya, ia sudah merasa itu cukup. Setidaknya ia tidak perlu melewati hari-hari yang sepi dan sunyi. Kesunyian yang kerap mencekiknya dan membunuhnya perlahan-lahan.

Ia memutar bola matanya ke arah nakas. Satu botol dengan obat yang masih penuh tampak melambai-lambai padanya. Membuat emosi Rio semakin memuncak. Sudah hampir satu tahun ini ia mengkonsumsi obat-obatan penenang itu. Bahkan sekarang dosisnya semakin tinggi saja. Tapi, pil-pil itu sama sekali tidak bisa menghilangkan luka dalam hatinya. Luka yang begitu lebar dan dalam.

Ia bangkit dan satu detik kemudian ia meraih botol obat itu dan melemparnya ke dinding. Seketika botol itu pecah dan seluruh isinya berhamburan. Rasa sakit di kepalanya juga hatinya, membuat Rio tidak bisa menahan emosinya. Ia mengerang kasar, mengamuk dan melempar apa saja yang ada di hadapannya. Ia frustasi, benar-benar frustasi. Dan seluruh benda yang ada dalam ruangan yang dipenuhi poster lambang klan Uchiha itu menjadi pelampiasannya.

“RIO! Apa yang kamu lakukan, hah?”

-----------------------

“Benar kamu mencintai Iel?”

Shilla yang waktu itu tampak asyik menikmati sarapan paginya, seketika mendongak, menatap papanya yang sudah lebih dulu menghabiskan sarapannya. Mengangguk pasti dan tersenyum lebar. Mama yang juga tengah sibuk dengan sarapannya hanya tersenyum tipis melihat respon Shilla. Binar di mata putri satu-satunya itu benar-benar terlihat begitu yakin dan tulus. Membuat siapa pun tidak akan tega menghancurkan cinta dan harapan yang ada di baliknya.

“Iya. Kenapa, Pa? Gak boleh ya?” tanya Shilla sedikit khawatir.

Pak Edwin menggeleng tenang. “Tidak. Papa tidak melarang kamu mencintai siapa pun. Karena yang paling  Papa inginkan adalah melihat anak gadis Papa bahagia.”

Senyum gadis cantik itu merekah semakin lebar. Ia menatap kedua orangtuanya penuh haru. Apa yang papanya ucapkan membuat perasaannya begitu tenang. Seolah pria paruh baya yang tampak gagah itu turut menjaga dan membentengi hubungannya dengan Iel, laki-laki yang saat ini begitu ia rindukan.

“Makasih loh, Pa, udah restuin hubungan Shilla sama Iel.” Shilla kembali fokus pada makanannya. Mama dan papanya hanya tersenyum penuh arti melihat tingkah anak gadisnya.

“Ya udah, sekarang cepet habisin sarapannya dan temenin Mama,”kata Bu Edwin  membuat Shilla kembali mendongak.

“Ke mana?” tanya Shilla ogah-ogahan.

“Ke rumah temen.”

“Arisan? Gak mau ah. Shilla mau ke rumah Iel aja.”

Bu Edwin menghela nafas. “Entar bosen loh kalo ketemu terus,” godanya.

“Mama sama Papa juga ketemu tiap hari. Emang gak bosen ya? Shilla sih gak bakalan deh kayaknya. Kalo diibaratin, Iel tuh kayak nasi, meski dimakan tiap hari tapi gak pernah bosen.”

Sontak saja, Pak Edwin tertawa mendengar kata-kata Shilla. Putri satu-satunya yang polos, yang selalu ingin ia lindungi, kini sudah berubah menjadi gadis remaja yang manis. Sebagai Ayah, tentu ia merasa begitu cemas saat anak gadisnya mulai tumbuh dan mengenal apa itu mencintai dan dicintai. Mulai mengenal apa itu mencintai lawan jenis, dan tentu saja ia merasa begitu takut jika pilihan Shilla itu salah. Bagaimanapun juga, tidak ada orangtua yang tidak ingin melihat anaknya bahagia.

-----------------------

Ify memeluk Rio dengan erat. Sangat erat. Mencoba menghentikan aksi mengamuk laki-laki yang paling disayanginya itu. Sejak semalam—pasca kejadian di pinggir jalan—gadis berdagu tirus itu benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan Rio. Perasaannya dikuasi berbagai pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepalanya nyaris pecah. Belum lagi rasa cemas yang dengan sangat pintarnya mengacak-ngacak perasaannya. Ia benar-benar mencemaskan Rio entah untuk alasan apa. Bahkan sampai ia tertidur dan bangun, perasaan itu tidak juga menghilang dan malah semakin parah. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke rumah Rio dan menuntaskan apa yang menjadi permasalahan hatinya.

Namun, semuanya terasa lebih kacau saat ia melihat kondisi Rio yang benar-benar mengenaskan. Ia tidak pernah menduga kalau hidup orang yang begitu disayanginya itu begitu berantakan dan menyedihkan seperti sekarang ini.

“Jangan kayak gini, Yo… gue mohon! Seberat apa pun masalah lo, lo harus tetap tenang seperti lo biasanya.” Entah kenapa, melihat Rio yang tampak kacau seperti saat ini membuat air mata Ify meleleh begitu saja. Rio-nya, orang yang selalu terlihat tenang, orang yang selalu bisa menyembunyikan banyak hal di balik wajah datarnya, untuk pertama kalinya tampak begitu menyedihkan di mata Ify. Membuat Ify sadar, begitu banyak hal yang tidak Ify ketahui tentang mantan kekasihnya itu. Padahal ia mengaku  mencintai Rio lebih dari apa pun. Tapi, kenapa ia bahkan tidak tahu ada beban berat yang sedang Rio tanggung sendirian saat ini. Bukankah seharusnya cinta itu adalah rasa ingin melindungi, menjaga, dan berkorban banyak hal? Ify hanya menangis dalam diam menyadari kealpaannya akan kondisi Rio selama ini.

“Pergi, Fy. Tinggalin gue sendiri,” titah Rio namun tidak sedikit pun ia memberontak dalam dekapan Ify. Seolah apa yang ia katakan berbanding sebaliknya dengan apa yang ada dalam hatinya.

“Gak bisa. Selama ini, sejak gue mutusin buat pergi dari lo, ternyata hanya tubuh gue aja yang pergi. Hati gue sebenarnya masih tetap berdiri di tempat yang sama. Gak pernah beranjak sedikit pun meski gue udah nyoba berbagai cara buat pergi dari lo. Kali ini, gue gak akan ninggalin lo lagi apa pun yang terjadi.” Jeda beberapa saat—mempererat pelukannya. “Saat ini, gak peduli seberapa dalam harga diri gue jatuh, gue mau bilang kalau gue masih sayang sama lo, Yo. Gue nyesel gak bisa ngertiin lo waktu itu. Gue nyesel gak bisa bertahan waktu lo tiba-tiba beda sama gue. Gue nyesel udah mutusin lo, Yo. Sekarang, gue minta sama lo buat balik lagi sama gue. Kita mulai semuanya dari awal dan gue janji bakal jadi cewek yang lebih baik buat lo. Demi Tuhan, Yo… bahkan selama ini gue gak pernah bisa lupain lo. Ja—”

“PERGI! Jangan bilang apa pun lagi tentang hubungan lo sama gue!” Rio tiba-tiba saja berteriak. Ia mendorong kasar tubuh Ify hingga gadis itu terhuyung dan terjatuh tepat di bawah kaki Rio. “Jangan pernah berpikir kalau gue mau berjalan mundur dan kembali ke masa lalu. Sekarang pergi, Fy. PERGI!” Rio meraung dan Ify menangis semakin hebat.

“T-tapi kenapa, Yo?” Suara Ify tercekat. Rasa nyeri seketika menancap kuat dalam hatinya. Sesak itu menghujam keras dadanya. Membuat tangisnya pecah seketika. Ditatapnya wajah Rio yang mengguratkan kemarahan padanya. Ify tidak pernah menduga kalau Rio akan semarah  dan sekasar ini padanya. “Ke-kenapa lo kayak gini sama gue? Lo harusnya nolak gue secara baik-baik. Gue tau gue udah jatuhin harga diri gue, tapi bukan berarti lo boleh jatuhin harga diri gue lebih dalam lagi.” Ify terisak hebat. Ia menundukan kepalanya sedalam mungkin.

Rio mematung di tempatnya. Pemandangan  di hadapannya membuat tak butuh waktu banyak untuk penyesalan hinggap di dadanya. Masih di sertai rasa sakit di bagian kepalanya, Rio beringsut mendekati meja belajarnya. Mengambil sesuatu di dalam laci dan kemudian kembali berjalan mendekati Ify. Laki-laki pendiam itu segera mendudukan dirinya di hadapan Ify dan sejurus kemudian menarik Ify ke dalam dekapannya.

“Maafin gue…” lirihnya. “Maaf karena gue udah berbuat kasar sama lo. Maaf karena gue gak bisa kembali sama lo, Fy. Maaf, karena pada akhirnya gue harus bikin lo sedih dan sakit hati dengan bilang kalau alasan gue gak bisa memperbaiki hubungan kita adalah—” Jeda. Ditariknya udara yang ada sebisa mungkin untuk mengurangi sesak yang ada. “—karena lo adik kandung gue.”

Bola mata Ify melebar seketika saat kalimat terakhir Rio terdengar dengan begitu jelas di telinganya. Ia berusaha melepaskan pelukan Rio untuk meminta penjelasan yang sesungguhnya. Namun Rio malah memeluknya lebih erat. Menahan Ify dalam dekapannya.

“Jauh sebelum hubungan kita berakhir, gue udah tahu kalau bokap lo itu bokap gue juga, Fy. Itu alasan gue akhirnya berusaha jaga jarak sama lo. Gue berusaha jauh-jauh dari lo, karena gue sayang sama lo, Fy. Gue gak mungkin hancurin hidup Adik gue sendiri. Asal lo tau aja, Fy… gue melewati waktu yang berat waktu gue tau kalo lo adik gue, dan gue harus lupain lo.”

“B-bagaimana bisa?” Ify masih larut dalam ketidakpercayaannya sampai Rio melepas pelukannya dan menyodorkan sebuah foto pada Ify. Ify menatap lekat-lekat foto itu. Foto ayahnya dan juga wanita yang semalam menabraknya—ibunya Rio.

“Ini pasti bohong!”

--------------------

“Lo yakin gak mau beli apa-apa?”

Alvin menggeleng saat Dea melemparkan pertanyaan itu padanya. Ia sibuk mengelilingi rak-rak super market sambil menjinjing keranjang belanjaan yang hampir penuh dengan bermacam-macam snack.

“Kenapa? Bokek, ya?” tanya Dea lagi. Ia memasukan satu kotak sereal ke dalam keranjang yang dibawanya. Sebentar ia menoleh ke arah Alvin yang sejak tadi masih tampak bad mood. Sejak bangun tidur kegalauan emang terlihat jelas di balik wajah kakaknya itu. Dea tidak tahu kenapa Alvin yang biasanya selalu terlihat semangat, tampak begitu lesu. Melihat hal itu, akhirnya Dea berinisiatif mengajak Alvin ke super market untuk membeli beberapa cemilan sekaligus belanja bahan makanan untuk seminggu ke depan. Itung-itung membantu Mama juga, pikirnya. Namun, suasana hati orang yang diajak tampaknya tidak juga berubah dengan aksi belanja ini.

“Bulan-bulan ini gue harus hemat,” jawab Alvin lagi.

“Kenapa? Mau bantuin Mama bayar tagihan listrik ya?”

Gelengan Alvin membuat Dea merengut sebal. Padahal ia sedang bercanda dan mencoba menghibur Alvin. Tapi kakaknya itu masih saja larut dalam kegalauannya. Akhirnya Dea memutuskan untuk tidak berceloteh lagi sampai selesai belanja dan keluar dari super market yang berada di alun-alun kota itu.

“Kak…”

“Hm?”

Dea meraih tangan Alvin dengan tangan kanannya yang bebas tanpa belanjaan. Alvin seketika menoleh dan menatap Dea penuh tanya. “One… Untuk kenangan buruk yang menguasai hati terdalam. Two… Pergilah dan jangan pernah kembali.  Three… Biarkan kesedihan berlalu  dan izinkan kebahagiaan memenuhi segenap hati . Go!  lupakan semuanya, and keep smile.” Dea tersenyum lebar. Mengingatkan Alvin tentang mantra penghilang kesedihan yang dulu selalu dibacakannya kala sedih dan galau. Ia menatap Alvin dalam, mencoba meyakinkan kakak satu-satunya itu kalau semuanya akan baik-baik saja.

Melihat senyum Dea yang begitu tulus, mau tidak mau membuat Alvin tersenyum juga. Ia melupakan mantra penghilang kesedihan itu. Tepatnya, ia lupa kalau tidak seharusnya ia larut-larut memikirkan masalah tentang kenapa ia tidak bisa menjadi sahabat yang baik untuk teman-temannya. Padahal yang paling penting sekarang adalah bukan larut dalam kesedihan dan penyesalan. Tapi mulai bergerak dan memperbaiki semuanya.

“Nah, gitu dong. Mikirin kesedihan itu cuma nyiksa hati dan perasaan lo. Lagipula, semuanya itu gak akan pernah selesai kalau cuma dipikirin.”

Alvin tidak merespon. Tapi hatinya membenarkan kata-kata Dea.

“Ya udah, ayo!” Dea menarik tangan Alvin dan berjalan menuju di mana mobil mereka terparkir. Namun, belum sempat mereka sampai di tempat tujuan, langkah Alvin terhenti. Membuat Dea mau tidak mau turut menghentikan langkahnya juga.

“Ada apa?” tanya Dea sembari mengikuti arah pandangan Alvin.

“Itu Sivia ya?” Alvin balik tanya. Dea menajamkan penglihatannya dan beberapa detik setelahnya mengangguk pelan. “Lo tunggu di mobil ya? Gue nyamperin dia dulu bentar.” Tanpa menunggu persetujuan dari Dea, Alvin ngeloyor pergi meninggalkan Dea. Berjalan menuju salah satu kursi taman kota di mana gadis yang ia kenal betul itu duduk termenung di sana. Dea hanya mengangkat bahu tak acuh dan kembali melanjutkan langkahnya.

“Kacamata hitam itu, biasanya dipakai oleh orang-orang yang sedang mengalami krisis pede.” Alvin berujar santai. Khas Alvin biasanya. Ia mendudukan dirinya di samping Sivia yang hanya menoleh sebentar padanya lantas kembali menatap kosong keadaan di hadapannya. Alvin mengernyit mendapat respon seperti itu dari gadis yang saat ini mengenakan kacamata hitam itu.

“Lo kenapa? Galau?” tebak Alvin.

“Pergi, Vin!” desis Sivia tajam. Tanpa menoleh ke arah Alvin.

Alvin mengernyit. “Ini kan tempat umum.”

“Gue bilang pergi, Vin. Gue lagi pengen sendiri!” Sivia membalikan tubuhnya, menatap tajam Alvin di balik kacamata hitamnya. Mood-nya benar-benar sedang kacau dan ia tidak ingin diganggu oleh siapa pun.

Meski Alvin tidak bisa melihat dengan jelas tatapan tajam Sivia, tapi laki-laki pucat itu cukup peka untuk tahu kalau gadis cantik di hadapannya itu benar-benar sedang dikuasai kemarahan. “Gue mau pergi, tapi lo kasih tau dulu apa yang terjadi sama lo.” Alvin tetap berusaha tenang. Ia memegang bahu Sivia, berusaha menyebarkan ketenangannya untuk gadis itu.

Sivia mengedikan bahunya, dan menepis tangan Alvin dengan cukup kasar. Dilepasnya kacamata hitam yang sejak tadi dipakainya. Seketika itu juga Alvin bisa melihat mata sembab Sivia yang masih terlihat merah dan basah. Begitu banyak luka di balik mata indah itu. Membuat Alvin menerawang lebih jauh lagi tentang gadis di hadapannya.

“Ada apa?” Alvin mengulang kembali pertanyaannya. Ingin saja Alvin tidak peduli dengan Sivia, tapi begitu melihat air mata Sivia dan juga tatapan luka gadis itu, mau tidak mau membuat Alvin bertahan pada posisinya. Ia tidak akan pergi sampai ia berhasil menenangkan gadis itu dan menghapus air matanya.

“Pergi! Gue bilang pergi, Vin! Gue gak mau diganggu sama siapa pun!” Kali ini Sivia berteriak lebih keras. Beberapa orang yang melintas di hadapan mereka sampai menoleh heran pada mereka. Tapi kemudian mereka kembali sibuk dengan aktifitas mereka saat Alvin mengangguk mohon maklum ke arah orang-orang yang kebanyakan mengenakan pakaian olahraga itu.

“Gue gak ada niat gangguin lo sama sekali. Kalo emang lo lagi ada masalah, gue ke sini buat jadi sandaran lo. Buat hapus air mata lo.” Sekali lagi Alvin berusaha meraih tubuh Sivia. Ia hendak mengapus air mata gadis itu saat tangannya ditampik dengan keras hingga terasa begitu nyeri.

“Pergi! Gue bilang pergi! Gue gak butuh siapa pun di hidup gue termasuk lo! Gue gak mau kenal lo lagi dan gue gak mau lanjutin misi konyol lo lagi. PERGI!” Sivia mendorong tubuh Alvin dengan kasar hingga Alvin terjungkal ke belakang, jatuh dengan cukup keras ke bawah kursi.

Di sela kebingungannya, Alvin berusaha bangkit, menatap Sivia yang masih tampak megap-megap mengatur nafas karena aksi teriak-teriaknya. Ia cukup terkejut dengan aksi gadis itu. Ia tidak menyangka kalau Sivia tidak seperti ketiga sahabat perempuannya yang mudah ditenangkan. Bahkan gadis itu sampai hati berbuat kasar padanya. Baru saja Alvin hendak mendekati Sivia kembali saat dadanya terasa sakit dan sesak. Seperti ada yang menekan  jantungnya dari dalam. Ia tidak menyalahkan Sivia yang mungkin lupa soal penyakitnya. Salahkan saja jantungnya yang bahkan sudah tidak kuat, meski hanya mendapat serangan kecil seperti itu.

Alvin mengerang kecil. Ia membungkukan badannya dan meremas dadanya dengan kuat.

“Kak!” Dea yang entah sejak kapan berdiri di samping Alvin, sesegera mungkin merengkuh tubuh yang masih membungkuk dalam itu. “Kalo terjadi yang buruk sama Kakak gue, lo orang pertama yang gue salahin!” kecam Dea, menatap tajam bola mata Sivia yang terlihat terkejut dengan kondisi Alvin. Faktanya, ia memang melupakan penyakit yang ada di dalam tubuh laki-laki itu.

“De, g-gue…”

“Kita pulang sekarang, Kak.” Tanpa ingin repot-repon mendengar penjelasan Sivia, Dea segera mungkin memapah Alvin meninggalkan tempat itu. Jika saja ia tidak kebosanan menunggu Alvin dan memutuskan untuk menyusul kakaknya itu, ia tidak akan tahu kalau penyakit Alvin kambuh.

“Lo bawa obatnya?” tanya Dea cemas saat mereka sampai di tempat parkir. Dengan susah payah ia mencoba menyamankan posisi Alvin sebelum ia masuk dan mengambil alih kemudi yang sebelumnya menjadi tugas Alvin.

Alvin menggeleng. Satu tangannya masih sibuk meremas dadanya, sementara tangannya yang lain ia tumpu pada dashboard.

“Shit!” umpat Dea sembari memasang sabuk pengaman untuk Alvin dan kemudian cepat-cepat tancap gas. “Bertahan, oke!”

Alvin tidak menjawab. Nyeri itu mengalihkan seluruh perhatiannya. Membuat Dea semakin panik di tempatnya.

-----------------------

“Tumben lo ngajak gue ketemuan. Baru nyadar ya kalo gue itu cowok kece yang cocok diajak kencan?”

Sambil terkekeh Cakka menempelkan sebotol minuman isotonik yang ia beli sebelum pergi ke tempat ini. Lapangan basket tua—tempat favorit ia dan sahabat-sahabatnya—yang ia pilih saat Agni meneleponnya dan mengajaknya ketemuan. Saat ia tiba di sana, Agni sudah duduk di satu-satuya kursi tua yang ada di tempat itu. Gadis yang saat ini mengenakan T-shirt kuning cerah dan jeans selutut itu tampak tertunduk lesu sembari memainkan ponselnya, dan baru menyadari kehadiran Cakka saat sensasi dingin terasa di pipinya.

Agni tidak merespon dan mengambil alih botol di tangan Cakka. Ia menghela nafas dan kemudian kembali tertunduk.

Sadar kalau ucapannya tak mendapat respon, Cakka segera mendudukan dirinya di samping Agni. Mengamati gadis itu serinci mungkin. Mencoba menebak apa yang sedang Agni pikirkan dan rasakan saat ini. “Ada apa?” tanya Cakka serius juga akhirnya. Biasanya ia tidak bisa berhenti menggoda Agni, tapi melihat Agni yang tampak begitu sedih seperti sekarang membuat ia terpaksa menunda kejahilannya.

Agni kembali tak menjawab. Tiba-tiba saja ia menyandarkan kepalanya di bahu Cakka. Membuat laki-laki pecinta basket itu terhenyak dengan aksi gadis di sampingnya. “Gue… cuma pengen kayak gini aja,” gumam Agni. Dipejamkannya matanya, menikmati ketenangan di balik sandarannya. Cakka semakin mengernyit tak mengerti.

“Lo lagi ada masalah?” tebak Cakka.

Agni menggeleng. Tentu saja itu bukan jawaban sebenarnya. Sejak kemarin rasa sedih, sesak, dan kecewa sedang pintar-pintarnya menguasai hatinya. Membuat ia rasanya ingin menangis sekeras yang ia bisa. Terlebih saat bangun tidur tadi ia mendapati ayahnya kembali marah-marah, tentu saja karena dikuasai minuman keras. Membuat perasaan Agni semakin terluka parah. Agni mencoba kuat dan bertahan semampunya, mencoba untuk tegar dan tidak menangis. Namun faktanya, ia tidak sekuat yang dipikirkannya. Ia membutuhkan topangan saat ini. Ia membutuhkan seseorang, setidaknya untuk bersandar seperti sekarang. Dan entah kenapa hatinya menunjuk Cakka.

“Cerita aja..,” bujuk Cakka. Meski ia tidak sepintar Alvin, ia cukup tahu mana orang yang sedang sedih dan mana yang tidak. Rasanya tidak tega juga melihat Agni yang biasanya ceria, galak, dan mengesalkan, rapuh seperti saat ini. Laki-laki itu mengusap pelan punggung Agni saat perlahan tapi pasti telinganya mendengar isakan menyakitkan. Awalnya hanya isakan pelan, tapi perlahan-pelahan isakan itu semakin keras. Agni menangis sejadi-jadinya, menangis dengan keras.

Cakka yang mulai larut dalam kebingungannya, memilih untuk membiarkan Agni menangis sepuasnya di bahunya. Ia diam dan mengusap-ngusap pelan punggung Agni. Mencoba memberitahu gadis di sampingnya, kalau ia ada di sisinya dan sedang mencoba untuk memberikan ketenangan.

Dan beberapa jam mereka lewati untuk moment—yang bagi Cakka—akan selalu ia kenang sampai saatnya ia pergi. Melihat Agni menangis di bahunya, membuat ia merasa menjadi begitu berarti.

“Bawa gue pergi, Kka,” tukas Agni akhirnya setelah beberapa saat ia meluapkan kesedihannya.

“Hah?”

Agni menjauhkan kepalanya di bahu Cakka, menghapus air matanya dan menatap Cakka yang masih memasang wajah bodoh dan tak mengertinya. “Gue gak mau pulang. Bawa gue pergi ke mana aja yang lo mau.”

Cakka menarik nafas dalam. Ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap gadis di sampingnya itu. “Ngomong aja kalo lo emang mau jalan sama gue. Gak usah ada acara nangis-nangis dulu kayak gini.” Cakka tidak tahan menggoda Agni lagi.

“Gue serius!”

“Iya… iya… gue tau. Lo serius kerjain gue, eh?”

“Cicak!”

“Oke! Kita jalan-jalan. Sekarang minum dulu, nih. Cape kan udah akting nangis kayak tadi.”

“Gue serius tauuu…”

------------------------

Iel sedang sibuk di dapur, dan lintar baru saja keluar dari kamar mandi saat Aren berteriak di balik kaca memanggil-manggil Iel dan lintar.

“Kak Iel! Kak Lintar! Orang-orang itu datang lagi!”

Mendengar teriakan itu, buru-buru Iel mematikan kompor dan melesat ke dekat Aren. Dilemparkannya pandangannya ke arah luar, dan saat itu juga matanya melebar sempurna. Sebentar ia melirik ke arah kalender yang menempel di dinding di dekat pintu. Tanggal 15. Benar. Orang-orang berjas hitam yang sebelumnya pernah menemuinya dan menagih hutang kedua orangtuanya itu sudah berjanji akan kembali di tanggal ini.

“Siapa?” tanya Lintar berdiri di belakang Iel sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia menatap Iel sebentar sebelum turut melemparkan pandangannya keluar jendela. “Mereka lagi?”

“Kalian tunggu di sini, oke?” Iel menepuk pundak Lintar dan mengusap pelan rambut Aen sebelum keluar ruangan.

Dan kedua kakak beradik itu hanya terdiam di tempatnya. Menuruti perintah kakak pertama mereka. Mengamati Iel di balik jendela. Laki-laki yang selalu tampak kuat di balik tubuh kurus dan ringkihnya itu tampak berjalan menghampiri ketiga pria berjas hitam yang saat ini masih berdiri di depan luar pagar rumah. Mereka tampak berbincang-bincang. Sayang, Lintar tidak bisa mendengar percakapan mereka. Melihat raut-raut tak bersahabat ketiga orang itu membuat Lintar yakin kalau Iel berada dalam situasi tak baik-baik saja. Terlebih ketika orang-orang itu memaksa masuk dan mendorong Iel hingga terjatuh. Lantas mereka dengan tergesa berjalan menuju rumah. Iel sesegera mungkin berdiri dan mengejar orang-orang itu. Aren  memeluk erat lengan Lintar, tampak ketakutan saat gebrakan pintu terdengar memekakan telinga.

“Apa yang kalian lakukan?” Lintar berteriak panik saat ketiga orang-orang itu mulai mengacak-ngacak rumah kecil mereka. Mereka tampak mencari sesuatu yang mungkin sedikit bernilai dan bisa dijadikan jaminan. Suara pecahan kaca dan benda-benda yang jatuh dan mungkin rusak terdengar seperti melodi menggetarkan nan menyesakan jiwa. Bahkan ketika ketiga pasang mata itu melihat dengan jelas bagaimana bahan-bahan masakan untuk satu minggu ke depan yang kemarin malam Shilla berikan tampak mereka lempar ke sana-sini hingga berhamburan di lantai dapur.

Iel hanya mematung di ambang pintu melihat hal itu. Meredam semua marah dan sedih yang menghantam telak jiwanya. Ia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Lintar hendak menghentikan aksi orang-orang itu jika saat Aren tak menahan tangannya. Gadis itu tampak menangis ketakutan.

“Sial! Bahkan tidak ada satu pun barang di rumah butut ini yang bisa dijadikan jaminan.” Pria berbadan paling gemuk berkacak pinggang dan menatap ke sekeliling rumah yang sudah berantakan karena ulah mereka.

“Sudah kubilang, aku tidak punya apa-apa saat ini untuk dijadikan jaminan. Tapi percayalah kalau aku akan melunasi semua hutang orangtuaku. Kalian hanya perlu bersabar karena aku perlu waktu untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.” Iel berujar mohon pengertian. Ia menatap hampa orang-orang di depannya.

Pria bertubuh gemuk itu menoleh ke arah Lintar dan Aren dan menyeringai tajam. “Siapa bilang kamu tidak punya jaminan?” Pria itu mendekat ke arah kedua adik Iel itu dan saat itu juga tangan kasarnya menarik Aren menjauh dari Lintar. “Adikmu yang manis ini akan menjadi jaminan.” Aren menangis keras dan meronta dari genggaman pria kasar itu.

“JANGAN!” Kompak tanpa komando, Iel dan Lintar berteriak panik. Saat itu juga mereka menerjang orang itu dan menarik Aren dari pria itu. Cukup sulit saat kedua orang yang lainnya menahan mereka. Namun, apa pun yang terjadi, Iel dan Lintar tidak akan pernah membiarkan Adik kecil mereka disentuh lebih lama oleh orang-orang kejam itu. Mendengar tangis ketakutan Aren, membuat amarah Iel dan Lintar semakin bergejolak, memacu tenaga mereka. Dalam satu gerakan, Iel memukul orang-orang itu, dan Lintar mengambil kesempatan untuk mengambil alih tubuh Aren. Didekapnya dengan erat tubuh kecil itu dalam gendongannya. Memberikan perlindungan terkuat agar tidak ada yang bisa menyentuh adik kecilnya itu.

“Aku mohon… aku mohon jangan lakukan ini padaku dan adik-adikku. Kalian tahu hidup kami sedang berada di titik terbawah. Kumohon beri kami pengertian. Kumohon…” Iel menjatuhkan tubuhnya. Berlutut di bawah kaki ketiga orang itu. Ia katupkan kedua tangannya di depan dada. Memohon dengan sangat. “Aku janji akan melunasinya, tapi kumohon jangan lakukan apa pun pada adik-adikku. Aku akan memberikan nyawaku sebagai jaminan, asal jangan pernah menyentuh adik-adikku. Aku mohon… aku mohon… aku mohon…”

“Baiklah… di tanggal yang sama bulan depan, kami akan kembali. Jika kamu masih tidak bisa melunasinya, seperti yang kamu bilang, nyawamu adalah jaminannya.”

Dan ketiga orang itu berlalu setelah sebelumnya menendang tubuh Iel hingga laki-laki itu tersungkur. Rasa sakit di bahunya karena tendangan itu tidak seberapa di banding dengan sakit di hatinya. Air matanya meluncur dengan derasnya saat itu juga. Iel menangis tanpa suara. Baru ketika Lintar menjatuhkan dirinya dan menangis—masih memeluk Aren—hingga isakannya sampai di telinganya, suara tangis Iel mulai terdengar. Di tengah-tengah kesunyian ruangan yang sudah tidak tertata dengan rapi seperti sebelumnya itu, suara isak tangis ketiga saudara itu terdengar memenuhi ruangan. Semua hal yang ada di ruangan itu tampak menjadi saksi diam kesedihan mereka.

Dan semuanya berlalu dengan cepat sampai seseorang membuka pintu dan berteriak kaget.

“Ya Tuhan, apa yang terjadi?

------------------

Sorry... gue gak ada maksud buat nyakitin lo, Nov.”

Nova tidak bersuara. Ia sibuk melipat pakaian Ray dan memasukannya ke dalam tas. Hari ini Ray dibolehkan pulang dan kembali melakukan rawat jalan. Dan ia menawarkan diri untuk membereskan pakaian Ray dan membiarkan Pak Aris menemui Dr. Nuraga. Sejak beberapa menit yang lalu, ada beberapa percakapan antara mereka yang membuat Nova akhirnya bungkam dan larut dalam pikirannya sendiri. Tentang kenapa tiba-tiba Ray memohon maaf padanya, dan meminta Nova menjauhinya dan tidak lagi berharap padanya. Mendengar hal itu mau tidak mau menjadi pertanyaan dalam kepala Nova. Kenapa?

“Karena Kakak sakit terus kakak minta Nova jauhi Kakak, gitu?” tanya Nova. “Klasik!” Suara restleting ransel terdengar keras pertanda Nova menutup resleting itu dengan kuat penuh amarah. Ia menatap Ray penuh tuntutan.

“Nov…” panggil Ray penuh penyesalan. Ia meraih tangan Nova dan menggenggamnya seerat mungkin. “Gue sayang sama lo. Beneran, Nov… alasan gue kembali dari Paris, adalah lo. Buat ketemu sama lo. Tapi, gue gak pernah menduga sebelumnya kalo ternyata setelah gue kembali ke sini, gue sadar kalo gue udah ninggalin sesuatu yang begitu berharga di Paris sana. Seseorang yang ternyata sudah membuat hati gue berpaling dari lo.”

Nova mematung. Tidakkah kalimat itu terlalu jujur, dan juga terlalu sadis? Air matanya berkumpul di balik mata polosnya yang selama ini menyimpan banyak kerinduan. Ia menatap kosong mata Ray yang penuh dengan penyesalan. Semudah itukah laki-laki itu berpaling sementara ia membutuhkan waktu yang begitu lama untuk itu?

“Nov… gue minta maaf. I’m sorry so much.”

“Semudah itukah?” Nova memalingkan wajahnya ke arah jendela. Menyembunyikan air matanya. Ia buru-buru berdiri dari duduknya saat Ray hendak menyentuh bahunya. “Gue mau bawa ini ke mobil, terus mau langsung pulang aja.” Nova menjijing ransel berisi pakaian Ray yang tadi ia benahi dan langsung melesat dari ruangan itu.

“Nov, sorry…” gumam Ray. Ia hanya menatap lirih pintu ruangan yang menelan tubuh gadis itu.

Nova sendiri, masih berdiri, bersandar di dinding  di samping pintu itu tanpa Ray tahu. Gadis itu menangis lirih. Menahan sesak yang hinggap di dadanya. Sekian tahun ia ditinggal pergi tanpa kabar. Hingga ia menanggung beban rindu yang tak mampu dihitung. Dan saat orang yang paling dirindukannya kembali, ia harus disuguhkan berbagai kenyataan pahit. Dan apa yang baru saja didengarnya adalah kenyataan paling pahit dari kenyataan mana pun. Lantas untuk apa Ray kembali jika untuk melukai hatinya yang bahkan masih berdarah?

“Ada apa? Kenapa menangis di sini? Apa terjadi sesuatu?”

Refleks saja Nova menyeka air mata dan mengangkat kepalanya saat suara itu bertepi di telinganya. Dengan ragu ia menoleh ke arah si pemberi pertanyaan. Nama Dr. Elang Nuraga  yang menempel di balik jas dokter laki-laki itu membuat Nova yakin kalau orang yang berdiri di hadapannya saat ini adalah kakaknya Cakka.

Nova menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Aku hanya merasa kalau bagian hatiku patah saat ini.”

Mendengar kata-kata Nova, sontak saja membuat dokter muda itu terkekeh. Bukankah gadis yang berusia jauh di bawahnya ini begitu manis? Membuat ia rasanya tidak tahan untuk tidak mengacak-ngacak pelan rambut Nova.  “Obat yang paling manjur untuk patah hati itu hanya ada satu. Jatuh cinta lagi.” Elang tersenyum lebar. Membuat Nova terpana dengan senyuman itu. Jangan lupakan Nova yang mudah terpesona.

Nova menarik nafas dalam-dalam dan segera melemparkan senyumnya untuk membalas senyuman dokter muda itu. Bukankah ia selalu menjadi gadis paling beruntung? Di saat kesedihan menyapanya selalu ada orang yang dengan senang hati menghiburnya. Mengalihkan sejenak kesedihannya.

“Jangan nangis, oke?” Elang menepuk puncak kepala Nova yang langsung mengangguk singkat. “Adik manis…” Dan setelah itu dokter muda itu melenggang masuk memasuki ruangan tempat Ray dirawat.

Nova kembali menarik nafas dalam. Sejak dulu, saat ia sedih merindukan Ray, hal yang selalu dilakukannya adalah mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Mungkin mengingat senyum Mas Elang bisa sedikit mengalihkan perhatiannya saat ini. Setidaknya sampai ia melewati koridor rumah sakit ini. Ia harus kuat.

---------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225
Pin : 5467BAFB

Maaf kalau part ini mengecewakan.
Di part ini dan selanjutnya, saya tidak akan memaksa kalian untuk kasih komentar lagi. Saya hanya berharap kalian menikmati tulisan saya yang banyak kekurangannya ini.

Terimakasih banyak ^_^


2 komentar:

  1. First comment =D
    Hai kak nae!! :D setelah penantian sekian lamanya akhirnya dilanjutin jugaa..

    Aku benar benar terkesan sama sikap dea. Dulu dia adalah satu satunya orang paling bahagia saat lihat kakaknya, alvin tersiksa. Bahkan dengan ulahnya sekalipun. Tapi sekarang dia berubah 180 derajat jadi salah satu dari sekian banyak orang paling over protektif yang amat sangat ingin melindungi alvin, seolah dea mau nebus hutang kejahatannya selama ini sama alvin. Dan ini adalah salah satu kebahagiaan buat separation lovers \=d/

    Dan scene favorit aku di part 22 ini adalah couple cakka agni tentunya. Sukaaaa bangeettt sama mereka. Agni yang malu gengsi tapi mau dan cakka yang unpredictable unik slengean, ngebuat mereka dipandang sebagai couple yang greget banget pokoknya *Rotfl* aku ngakak berat pas scene cakka agni di part ini. Cewe tomboy yang berusaha ngasih kode ke orang yang jarang serius, kurang peka dan overpede, menurutku mereka sama sama kurang pengalaman *Rotfl* *Rotfl*

    Dan 1 kalimat. Baper berat sama scene ray nova *tear* dan.. story kak nae yang mana sih yang gak bikin baper =-d

    Juga, salut sekaligus sedih sama kisah dan penderitaan iyel. Dari awal aku udah miris sama takdir iyel.. huhuhuhu
    Secara keseluruhan aku suka sama part ini. Kayanya konflik mulai agak naik lagi. Dan semoga ini berlangsung lamaaa kalo bisa jangan pernah tamat kak, sampai alvin dan via jadi couple kakek nenek teromantis=)) daann.. semangat ya kak nyiksa alvinnya \=d/ kayanya kalimat itu gak pernah lepas ya dari penggemar tulisan kakak:D

    Aku tunggu part selanjutnya. Gak update kilat gapapa asal panjaaaanggg... hehehe :d fighting kak nae !!
    mungkin kakak tau aku ini siapa :D

    BalasHapus
  2. halooo kak nae?? ini pertama kali aku ngasih komentar :p satu hal yang pualing aku suka adalah bagian penyiksaan Alvin,semangat ya kak nyiksa dia :D selalu ditunggu separration part selanjutnya...

    salam kenal kak nae,Demi.

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea