Minggu, 11 Oktober 2015

Separation -Dua puluh empat-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 20.02


Jujur saja saya menulis ini dalam waktu singkat. Sangat singkat. Sekitar empat jam mungkin. Tanpa berpikir banyak. Tanpa edit ulang. Jadi mohon maaf jika banyak typo dan mengecewakan.

Enjoy

----------------------

SEPARATION

-Dua puluh empat-

------------------- ---
Mereka tidak tahu sejak kapan sosok itu menjadi prioritas utama dalam hidup mereka. Mereka tidak tahu apa alasan mereka begitu menomorsatukan laki-laki pucat itu. Padahal sumpah demi apa pun, saat ini masalah mereka tengah menari-nari erotis dalam alur hidup mereka. Saat ini, hati-hati mereka sedang diliputi kesedihan yang mendalam. Namun,  entah untuk alasan apa, ketika mereka mendengar kabar sosok pucat itu kembali masuk ke ruang ICU, permasalahan mereka tiba-tiba saja sirna. Pikiran mereka seketika berpindah haluan. Berpusat penuh pada sosok itu. Dan lagi-lagi tidak ada yang tahu apa alasan semua itu.

“Demi Tuhan, Vin… duduk di depan ruangan ini, menunggu kepastian akan kondisi lo jauh lebih mengerikan dari didatangi bajingan-bajingan itu! Gue lebih seneng mereka yang datang dan mukuli gue ketimbang menunggu di sini dan seolah didatangi malaikat kematian untuk memaksa gue relain lo pergi.” Iel berujar dengan pelan. Sangat pelan hingga hanya Shilla yang duduk di sampingnya saat ini yang bisa mendengarnya. Gadis cantik yang masih bermata sembab itu seketika merengkuh Iel dalam dekapannya. Mencoba menenangkan dan mencari ketenangan di balik tubuh itu.

Mereka datang hampir bersamaan begitu mendapat pesan dari nomor tanpa nama yang setelah mereka melihat Sivia di depan ICU, mereka tahu kalau itu nomor Sivia. Gadis pindahan dari Singapura itu langsung menghubungi semua teman-teman Alvin saat ia berhasil membawa Alvin ke rumah sakit. Pertemuannya dengan Alvin yang berujung dengan kambuhnya penyakit Alvin, membuat putri pemilik Albider itu merasa bersalah dan cemas sehingga ia memutuskan untuk menyusul Alvin dan Dea yang langsung disuguhi kecemasan luar biasa. Alvin sudah memucat dan tak bergerak saat itu.

Ify tampak menggigit bibir bawahnya, menahan kesedihan dan ketakutan. Gadis itu menunduk dalam. Tidak berharap mendapat rengkuhan hangat dari laki-laki yang duduk berhadapan dengannya saat ini, seperti rengkuhan Shilla pada Iel atau Deva pada Agni. Orang yang begitu dicintainya yang ternyata adalah kakak kandungnya sendiri itu juga tampak berantakan. Ada rasa ingin menarik tubuh itu dalam dekapannya, namun tangannya terlalu berat dan alhasil hanya mampu memeluk tubuhnya sendiri. Demi Tuhan, ia bahkan masih menangis lirih di pelukan Tante Rara saat ia mendapat pesan itu. Kesedihan tentang Rio seketika menyisi dan kecemasan akan kondisi Alvin jauh lebih menguasai hatinya.

“Mama!” Dea memekik keras, berdiri dengan cepat dan menerjang tubuh yang baru saja berjalan tergesa mendekati mereka itu dalam satu gerakan. Gadis itu memeluk wanita paruh baya itu dengan erat. Semua mata langsung terarah pada adegan di depan mereka saat ini.

 “Kenapa Mama dan Papa susah sekali dihubungi? Dea takut, Ma...” Dea menangis. Air mata Dea membuat air mata sahabat-sahabat Alvin yang lain turut mengalir juga. Sivia hanya bisa menatap adegan di depannya dengan penuh rasa bersalah. Ia masih ingat bagaimana raut frustasi adik satu-satunya Alvin itu. Kalau saja ia tidak membentak Alvin, semua itu tidak akan terjadi.

“Maafin Mama…” Wanita yang akrab dipanggil Tante Winda itu menuntun Dea untuk duduk kembali. Ia duduk di antara sahabat-sahabat Alvin. “Untuk ke sekian kalinya, terimakasih udah nungguin Alvin buat kami, tante, Om, dan juga Dea. Terimakasih selalu ada buat Alvin di saat kami terlambat berada di sisinya. Terimakasih selalu menjadi orang-orang pertama yang berdo’a untuk Alvin di saat ia seperti ini.” Tante Winda menatap satu persatu sahabat-sahabat Alvin itu.

“Kami semua sayang Alvin, Tante…” Shilla berujar tulus. Air matanya berurai semakin deras. Ia melepaskan pelukannya pada Iel dan beralih memeluk tubuh wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri itu dengan erat. Saling menguatkan.

“Sudah puluhan kali kita berada di situasi yang sama seperti ini. Dan dengan selalu bersama-sama, saling menguatkan dan terus berdo’a, kita selalu berhasil melewati semuanya. Kuatlah… Percaya pada Alvin yang sama kuatnya dengan do’a-do’a kita.” Iel turut memeluk Tante Winda. Disusul dengan pelukan-pelukan hangat lainya. Membuat air mata wanita yang sudah merawat Alvin dan Dea itu tak kuasa dibendungnya. Air matanya tumpah di balik pelukan-pelukan hangat tangan-tangan lembut yang bahkan sudah ia anggap sebagai anak-anaknya.

Dan semuanya berlangsung cukup lama sampai suara Tante Winda melepaskan satu persatu tangan-tangan itu. Ia menatap bergantian teman-teman Alvin itu. Ada yang kurang.

“Cakka mana?” Padahal Cakka adalah sahabat Alvin yang tidak pernah sekali pun absen di saat seperti ini.

“Nomor hapenya gak aktif.” Sivia menatap ponselnya dan melihat tidak ada laporan untuk pesan yang dikirimnya pada Cakka.

Agni memandang Deva. Lantas memandang sahabat-sahabatnya yang lain. “Sebenarnya…” Semua mata kini terarah pada Agni.

“Sebenarnya?”

--------------------

-Flashback-

Agni tidak bisa berhenti tersenyum di sepanjang hari ini. Alasan satu-satunya tentu saja laki-laki yang saat ini berdiri di sampingnya. Setelah pertemuannya di lapangan basket tua yang menghabiskan beberapa jam untuk menangis di bahu Cakka, laki-laki yang sering Agni panggil Cicak itu, mengajaknya berjalan-jalan. Cakka bahkan mengajaknya ke Dunia Fantasi dan menaiki semua wahana yang ada di sana. Membuat ia melupakan sejenak semua masalahnya.

Demi pertemuan pertamanya dengan Cakka, Agni merasa hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Bukan, bukan karena secara gratis ia bisa masuk ke Dunia Fantasi dan menaiki semua wahana, bukan karena secara cuma-cuma ia ditaktir es krim dan banyak makanan oleh Cakka. Tapi, untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari laki-laki pecinta basket itu. Agni melihat ada sorot menakjubkan di balik mata Cakka yang dulu selalu tampak menyebalkan di matanya. Ia melihat ada garis lembut yang mempesona di balik bibir Cakka yang membuat ia sadar jantungnya berpacu lebih cepat dari saat menaiki roller coaster. Dan saat itu ia tidak bisa mengelak lagi, kalau ia telah jatuh cinta pada orang yang dulu selalu membuatnya kesal itu.

“Kka, makasih banyak ya?” ujar Agni saat mereka beriringan untuk pulang. Waktu sudah cukup sore. Jalan yang mereka lewati cukup sepi.

Cakka tidak menjawab. Ia memberikan lengannya untuk Agni gandeng, seperti pangeran kepada putri.

Dengan enggan dan salting, Agni mengaitkan lengannya di lengan Cakka. Jantungnya kembali berpacu dengan cepat. Pipinya sudah memerah menahan perasaannya yang meletup-letup tak karuan. “Kka…”

“Hmm…?”

“Coba tebak! Di hidung ada, di mulut ada, di rambut juga ada, apa coba?” tanya Agni mengalihkan rasa saltingnya.

“Apa?” Sebenarnya Cakka begitu lelah hari ini. Tapi melihat begitu bahagianya Agni membuat rasa lelahnya menguap begitu saja. Ia senang melihat Agni tersenyum seperti sekarang ini. Terlebih itu karena dirinya.

“Mikir dulu, dong…” protes Agni.

Cakka tersenyum. Pura-pura berpikir. “Apaan, deh? Gak bisa mikir, nih…”

“Huruf U,” jawab Agni yang langsung membuat Cakka terkekeh pelan. Tanpa sadar ia mengacak gemas poni Agni. Gadis tomboy itu terlihat begitu manis saat ini. “Deva sering sekali main tebak-tebakan kayak gitu,” sambung Agni tiba-tiba ingat adiknya yang ia tinggal seharian ini di rumah.

“Adik lo itu emang manis. Tapi manisan gue, sih. Manisnya gue alami tanpa pemanis buatan lagi,” narsis Cakka. Agni mencibir. “Sekarang coba tebak! Di mata ada, di dada ada, di kepala juga ada. Apa?” sambung Cakka.

Agni diam, berpikir. “Huruf A?”

Cakka menggeleng.

“Terus apa?”

“Lo lah, Ag…”

Pipi Agni terasa semakin panas. Ia melepaskan kaitan lengannya. Beruntung mereka sudah sampai depan rumahnya, hingga Agni bisa menyembunyikan perasaan tak karuannya dan segera masuk. “Lo gombal aja. Gue masuk dulu, ya? Makasih loh…” Agni benar-benar salah tingkah. Ia membuka gerbang rumah dengan tergesa.

Cakka mengangguk dan tersenyum sebelum Agni melangkah memasuki rumah dan membiarkan pintu putih itu menelan tubuh gadis itu. Sempurna tubuh Agni menghilang di balik pintu, Cakka menyandarkan tubuhnya di balik gerbang. Menahan pusing yang sedari tadi ditahannya. Perutnya terasa melilit lagi. Ia mencengkram bagian itu lantas menarik nafas sedalam mungkin. Baru saja ia menegakan tubuhnya dan hendak melangkah saat suara teriakan seseorang mengalihkan perhatiannya.

“JANGAN, PA! DEVA! YA TUHAN…”

Cakka panik. Ia yakin itu suara Agni. Kembali melupakan sakitnya, Cakka buru-buru membuka gerbang dan berlari menuju pintu utama, membuka pintu dan menerobos masuk ke dalam rumah itu. Anak bungsu keluarga Nuraga itu refleks berlari mendekat ke arah Agni yang tengah merengkuh tubuh Deva, dan memeluk kedua orang itu saat pria bertubuh tegap itu hendak melayangkan pukulannya pada Agni. Seketika tangan pria yang saat ini dikuasai bau alkohol itu terhenti begitu punggung tegak Cakka melindungi Agni dan juga Deva sekaligus.

“Cakka…” lirih Agni. Matanya yang tadi begitu berbinar, kini terlihat kelam kembali. Banyak air yang melesak keluar dari sana.

“Siapa kamu, hah?!” Pria itu menarik tubuh Cakka menjauh dari Agni. Ia membalikan tubuh Cakka dan mencengkram kerah kemeja Cakka. Menatap tajam bocah di hadapannya.

“Jangan pernah menyakiti mereka atau aku akan melaporkan Anda ke polisi!” Cakka berteriak kesal yang langsung dihadiahi pukulan keras di pipinya beberapa kali hingga ia tersungkur ke lantai.

“Jangan ikut campur urusan keluargaku, bocah sialan!” Pria itu kembali mengangkat tubuh Cakka untuk berdiri dan mendorongnya hingga membentur dinding. Lantas ia mengunci pergerakan Cakka. Agni memekik keras dan mendorong Papanya dengan kasar saat papanya melayangkan pukulannya tepat di perut Cakka. Ia memeluk Cakka dengan erat.

Cakka mengerang tertahan. Kepalanya terasa begitu pusing dan sakit di perutnya berkali-kali lipat lebih sakit.  Namun ia masih memberontak dalam pelukan Agni. Berniat kembali menyerang papa Agni.

“Pergi, Kka… “Agni menatap Cakka penuh harap. Ia tidak ingin Cakka mendapat luka lebih mengerikan lagi.  “Gue mohon lo pulang , Kka. Gue mohon, Kka. Gue sayang sama lo.” Demi Tuhan, apa yang Agni ucapkan benar-benar tulus dari dalam hati.

Di balik ringisannya Cakka menatap Agni sendu. Secara  tidak langsung, apa yang Agni ucapkan barusan menciptakan kebahagiaan dan juga kesedihan mendalam dalam hatinya. “Aku minta jangan sakiti Agni dan Deva juga semua orang di rumah ini. Setidaknya jika Anda tidak bisa membuat seseorang bahagia, maka tidak menyakitinya, itu sudah cukup.” Lantas setelah itu, dengan tertatih Cakka melangkah pergi meninggalkan rumah itu.

Dan ruangan itu menjadi lebih hening. Papa Agni bungkam dan tubuh Agni merosot di balik dinding. Menatap kosong Mr. Son milik Deva yang sudah hancur berantakan di hadapannya. Papanya pasti sudah melempar benda kesayangan adiknya itu. Deva beringsut mendekati Agni. Memeluk Agni dengan erat.

“I shall give up the name of Mr. Key for my new handycam, Nee-chan…”

Agni memeluk Deva lebih erat. Harusnya ia mengajak Deva pergi tadi. Beruntung mamanya sedang tidak ada dan tidak mendapat bagian mengerikan untuk saat ini.

------------------

-Flashback end-

“Janji gak bakalan bocorin semua ini sama Ayah, Ibu, dan Mas El, ya?”

“Okay! I promise.”

“Aku tau calon kakak iparku ini orang yang baik.”

Wanita yang lima tahun lebih tua dari Cakka itu tersenyum dan membenarkan letak selimut Cakka. Baru saja ia bertanya kenapa Cakka bisa terluka hingga kambuh seperti saat ini. Dan adik dari calon tunangannya itu langsung menceritakan semuanya dengan rinci. Wanita cantik bermata biru itu cukup senang karena Cakka bisa dengan mudah terbuka padanya.

“Kapan tiba di sini?” tanya Cakka. Ia masih sering meringis setiap kali bersuara. Saat ia membuka mata satu jam yang lalu, ia tidak menemukan anggota keluarganya di dalam ruangan, dan hanya mendapati sosok cantik yang tampak sedang sibuk membaca sesuatu di sofa di ruang rawatnya saat ini.

“Aku dan Mas El baru tiba di rumah saat melihat kamu muntah darah dan pingsan. Kamu membuat kita semua cemas.” Wanita muda yang terlihat dewasa itu masih tersenyum manis. Cakka cukup menyesal kenapa wanita itu harus mencintai Elang, bukan dirinya. Padahal senyumnya membuat laki-laki mana pun langsung jatuh cinta melihatnya.

“Ngomong-ngomong Mas Elang mana?” tanya Cakka sedikit membenarkan posisinya. Ia meringis saat merasa perutnya kembali sakit.

“Ada pasien yang harus ditangani. Udah dua jam dia terjebak di ICU.”

Cakka mengernyit. Berpikir. Seingatnya, di rumah sakit ini, Mas Elang hanya menangani satu orang. Dan… “Argh!” Cakka memejamkan matanya. Memikirkan siapa orang itu membuat sakit di perutnya naik level.

“Sebaiknya kamu istirahat.” Wanita itu membantu menyamankan posisi Cakka.

“Siapa pasien yang Mas Elang tangani?” tanya Cakka penasaran.

I don’t Know. Close your eyes, okay! Your Dad said your condition is very bad.” Bola mata berwarna biru itu menatap Cakka lembut namun menuntut. Sedikitnya ia tahu kondisi calon adik iparnya itu.

“Siapa?” tanya Cakka mencoba tidak memedulikan ucapan wanita itu. Ia ingin memastikan kalau orang yang saat ini tengah kakaknya tangani bukan—

“Alvin.”

Cakka memutar bola matanya ke arah pintu masuk. Elang berjalan lunglai mendekat ke arahnya. Dokter muda itu tampak begitu lelah dan kusut, membuat perasaan Cakka tak enak. “Maksud lo? Alvin temen gue?” Pertanyaan Cakka terdengar begitu konyol rasanya.

Elang mengelus punggung kekasihnya dan berbisik pelan tanpa memedulikan pertanyaan Cakka. “Wait in my room, An. Istirahat sebentar di sana. I have to talk with him.” Gadis itu mengangguk dan segera meninggalkan ruangan. Elang mengambil alih tempat duduk kekasihnya itu.

“Alvin kenapa, Mas?” tanya Cakka cemas.

“Teman-teman lo harusnya tau kalo lo juga sakit, Kka.” Elang terlihat begitu lelah. Ia melewati masa yang sulit beberapa jam yang lalu. Ia nyaris tidak bisa menyelamatkan Alvin hingga ia terpaksa meminta bantuan ayahnya untuk itu. Dan rasanya ia tidak ingin membahas Alvin dulu untuk saat ini. Ia begitu terpukul.

“Nggak, Mas… gak ada yang boleh tau soal ini. Gue gak bisa bayangin gimana reaksi sahabat-sahabat gue kalo mereka tau. Gak bisa, Mas. Mereka udah cukup khawatir dengan kondisi Alvin. Gue gak boleh nambah daftar kekhawatiran mereka.”

“Cakka… mereka harus tau juga.”

Cakka menggeleng tegas. Menatap Elang penuh permohonan. “Mas… gue janji bakal sembuh. Gue bakal minta Ayah buatin jadwal kemoterapi buat gue. Tapi gue minta sama lo, simpan semua ini rapat-rapat dari sahabat-sahabat gue. Gue mohon…”

“Demi Tuhan, Kka… ini bukan drama yang kalo lo sakit parah lo harus nyembunyiin penyakit lo cuma gara-gara lo gak mau mereka khawatir. Lo kanker, Kka! Kanker stadium akhir. Dan kanker lo udah bermetastasis ke organ tubuh lo yang lain. Penyakit lo sama parahnya kayak penyakit Alvin. Dan lo butuh sahabat-sahabat lo seperti Alvin juga. Gue tau itu, Kka. Gue tau lo butuh mereka. Lo pengen mereka ada di sini, nemenin lo, do’ain lo. Gue tau lo butuh...”

“Gue cuma butuh dokter hebat kayak lo dan Ayah. Percaya sama gue…” Cakka memalingkan mukanya. Menyembunyikan air matanya dari Mas Elang. Tidak ada yang salah. Apa yang Mas Elang katakan memang benar. Ia hanya tidak siap melihat teman-temanya terluka saat tahu ia sakit parah seperti Alvin. Karena setelah vonis itu jatuh padanya, Cakka hanya ingin melihat teman-temannya bahagia.

Elang mendesah keras. Tak mampu berkata-kata lagi. Beberapa saat terdiam dan kemudian beranjak dari duduknya. “Alvin udah berhasil ditangani dan siap dipindahkan ke ruang rawat. Istirahatlah!” Dan kemudian dokter muda itu berlalu meninggalkan Cakka.

Cakka menutup matanya rapat. Kepalanya pusing dan perutnya kembali mual. Perdebatan kecil dengan Elang membuat tenaganya terkuras. Ia mendesah keras. Menahan sakit yang kembali menguasai tiap persendian tubuhnya. “Sial!” desisnya saat sesuatu berwarna merah kembali meluncur dari lubang hidungnya.

--------------------

To be Continue…

Follow me
@nhyea1225

------------------

Saya pengen liat dong berapa banyak yang pengen banget cerita ini di lanjut.
Tak perlu komentar banyak, cukup penuhi wall fb saya atau twitter saya dengan kata : NEXT--->

Thankuuu…. ^^

7 komentar:

  1. nextttt kak nae,nggak cepet ngga papa asalkan bisa panjangggggg dan scene alvin dibanyakin :D thanksoooo :>

    BalasHapus
  2. Kanaeee sumpah kenapa aku lebih suka cakka yang disiksa daripada alvin, jarang banget cakka disiksa
    Aaa suka banget sama watak kka di cerita ini

    BalasHapus
  3. Reader baru nih wkwk.. kerennnn cerita2nya, aku suka bgt pas bagian cakkanya.. kapan nih di next? Ditunggu yaaa :D

    BalasHapus
  4. Kak nae lanjutttttt...... Scene alivinnya bykin dong kakkk :D
    Gapapa deh lama yg penting lanjut terusss.......

    BalasHapus
  5. Kak Naeee.. Alvin kasihaaaaan 😭 tapi seru hihihihi
    Next kaaak next!!!

    BalasHapus
  6. Aaaaa!! Suka part ini!!!
    Kenapa?
    Karena pembahasan fokus ke Alvin dan Cakka.
    Duh Cakka sok kuat banget sih, pake acara gak mau kasi tau sahabat-sahabatnya. Tapi terharu juga sih, pas doi bilang, "Gue cuma butuh dokter hebat kayak lo sama Ayah. Percaya sama gue," aaa... Seandainya dokter Nuraga dengar, reaksinya gimana yah? Duh jleb gimana tuh pasti. Apalagi kalau Dokter Nuraga tau sebenernya Cakka kenapa sampe babak belur. Ah tapi jangan sampe tau dulu deh. Biarin lama-lama. Biar tamatnya makin lama. Hehe. Bikin aja semuanya nyesel pas Cakka udah gak ada.

    Trus Alvin, uuuuh... Bikin komanya lama yah kak Nae. Biar yang lain gak mikirin masalahnya dulu, pikirin aja Alvin terus (?).
    Hihihihihii. Tapi kalau gitu kapan selesainya yah?
    Gak usah selesai dulu deh kak Nia. Kalo kata cerbung jadul kakak sih, "Don't Over". *nyambung ke situ* pokoknya aku masih mau lama-lama baca tentang 10 tokoh dengan 10 konflik beratnya ini.
    Ganbatte!! Ngetiknya!!

    BalasHapus
  7. Halo, kakak. Udah lama nih aku ga komen. Sibuk kuliah huhu.

    Kayaknya permohonanku biar rio ify bukan adik kakak ga terkabul. Huhu. Tapi yasudahlah. This is your story, not mine.

    Buat Cagni. AKKKK LOVE ABIS. Cakka keren deh pas bantuin agni ngadepin ayahnya huehue. But i agree with elang. Cakka should tell his friends!!! Mau bgt tau reaksinya agni pas tau cakka sakit. Btw bbrp hari yg lalu liat cakka sama elang di kompas tv.

    Tapi untunglah gabriel shilla direstuin ayahnya shilla. Kasian gabriel :( bebannya paling berat menurutku.

    Takjub deh sama kakak yg bisa konsen nyeritain kisah masing2 tokoh yg beda2.

    Ga bisa komen panjang2, tapi aku selalu nunggu kelanjutan cerita ini. Jadi kalau kakak lagi males nulis, ingatlah ada yg menunggu lanjutan cerita ini wkwk. Lho kok maksa(?) pokoknya semangat kak nulisnya.

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea