Kamis, 22 Oktober 2015

Separation -Dua puluh lima-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 22.15


SEPARATION

-Dua puluh lima-

-------------------


“Sahabat Setia One Radio, semua orang tahu bahwa hidup itu tidak pernah lepas dari apa itu masalah. Dan Woody percaya, setiap masalah yang Tuhan kasih, itu sesuai dengan takaran seberapa mampu kita menampungnya.

Sahabat Setia One Radio di mana pun kalian berada, Woody yakin kita semua pernah merasakan bagaimana berada di saat masalah dalam hidup kita menjepit kita dengan begitu sadisnya. Saat itu kita tidak tahu bagaimana kita menemukan jalan keluar. Frustasi dan putus asa pasti. Rasanya seperti terjebak di dalam pesawat yang dalam hitungan detik akan meledak. Lalu apa yang akan kita lakukan? Yups, jawabannya tentu hanya satu. Berdo’a. Berdo’a pada satu-satunya dzat yang tahu apa yang terbaik untuk kita.

Kadang kita tidak sadar, bahwa do’a mengandung kekuatan yang begitu dahsyat. Do’a adalah jalan terakhir ketika kaki kita tak sanggup lagi untuk melangkah. Do’a adalah satu-satunya harapan ketika kita berada di ambang keputusasaan. Do’a adalah satu-satunya bukti bahwa kita hanya makhluk Tuhan yang memiliki keterbatasan dan ketidakberdayaan. Do’a adalah satu-satunya bukti bahwa kita adalah makhluk rapuh yang tidak pantas menyombongkan diri di atas tanah milik Tuhan.

Sahabat Setia One Radio, ngomong-ngomong soal masalah, Alvin, teman baik Woody yang sudah tiga hari ini koma di rumah sakit pernah bilang sama Woody, jika kita dihadapankan pada permasalahan yang begitu rumit, berliku, tak berujung, kita harus tahu bahwa itu tanda Tuhan sedang jatuh cinta pada kita. Tuhan, sedang ingin kita dekat-dekat denganNya. Tuhan sedang ingin kita selalu menyebut namaNya. Tuhan sedang ingin kita menangis dalam rengkuhanNya. Jadi, tetaplah tegar, tetaplah kuat, karena saat itu, kita sedang dicintai oleh seseorang yang luar biasa.

Well, untuk para pendengar, juga untuk semua orang di dunia yang saat ini dihadapkan pada permasalahan-permasalahan kecil maupun rumit, janganlah berputus asa, tetap tegar, dan senantiasa basahi bibir kita do’a kepadaNya.

 Di malam yang entah kenapa terasa begitu mendung ini, Woody pengen nih puterin Heart Like Yours-nya Willamette Stone. Buat Alvin, sahabat yang paling Woody dan temen-temen Woody sayangi. Sahabat kita yang paling baik, yang dalam hidupnya bahkan tidak pernah tahu apa itu marah. Sahabat juara satu yang selalu kita sebut dalam do’a kita. Pulanglah… kita semua nungguin lo di sini. Ya sudahlah… karena Woody, udah ngerasa sedih banget kalo inget sama dia, dan rasanya pengen nangis, Heart Like Yours,  Willamette Stone. Selamat mendengarkan.

----------------------

Breathe deep, breathe clear
Know that I’m here
Know that I’m here
Waiting

Stay strong, stay gold
You don’t have to fear
You don’t have to fear
Waiting

Dea terdiam. Mendengarkan dengan seksama lagu yang baru saja si penyiar radio putar. Sebelum berangkat siaran, Iel dan teman-temannya yang lain plus Nova, sempat datang menjenguk kakaknya. Dan kekasih Shilla itu meminta mereka mendengarkan siarannya malam ini. Setelah mendengarkan apa yang baru saja Iel utarakan, membuat Dea mengerti, membuat Dea paham, kalau masalah yang menimpanya juga keluarganya sekarang, adalah bukti cinta dari yang Maha Kuasa. Meski hatinya terasa begitu sakit dan pedih, tapi tidak ada alasan untuk ia berputus asa. Terlebih itu untuk kehidupan kakaknya.

Pernah ia merasa waktu akan berhenti dan membawa kakaknya pergi mengingat sudah tiga hari ini tidak ada yang berubah dari tubuh itu. Sempat ia menyerah dan tidak yakin bahwa kakaknya akan kembali. Baru saat ini, ketika ia mendengar suara Iel yang sarat dengan keyakinan penuh, membuat keyakinan dalam dirinya juga kembali tumbuh.

Menarik nafas dalam. Menghilangkan penat yang menghujam dada. Ditatapnya dengan nanar kaca di hadapannya. Di mana kakak satu-satunya sedang berjuang keras di dalam sana. Ada Sivia, gadis yang katanya begitu mencintai Alvin sana. Tapi, Dea berani bertaruh, tak ada yang mencintai Alvin sebesar dirinya saat ini.

“Kak Iel bilang, kekuatan yang paling dahsyat di dunia ini adalah do’a. Let’s pray together for him, you, your mom and your dad. Kita berdo’a untuk kita semua.”

Dea mengalihkan tatapannya ke arah kiri. Deva sudah duduk di sampingnya. Menatapnya dengan penuh keyakinan. Selama Alvin sakit, Deva memang sering ikut Agni untuk menjenguk Alvin. Kadang Dea merasa begitu bangga pada kakaknya yang memiliki sahabat-sahabat super tangguh. Sahabat yang di saat mereka memiliki segudang masalah dalam hidup mereka, tapi mereka tetap ada untuk Alvin.

“Aku selalu berpikir, kalau kakak itu adalah orang yang paling egois di dunia ini. Dia itu licik, maunya menang sendiri, selalu sukses bikin perhatian Ayah dan Ibu terpusat padanya, tidak mau berada di bawah adiknya dalam segala hal. Tapi, waktu Kak Agni memelukku, melindungiku dari pukulan Papa, aku sadar, kalau mereka selalu ingin berada di atas kita, adalah untuk melindungi kita saat tangan seseorang hendak melukai kita, dan untuk menarik tangan kita untuk bangkit saat kita terjatuh.”

Dea tak berkomentar. Semua yang Deva ketakan memang benar. Kak Alvin-nya bahkan tidak pernah marah padanya meski saat itu ia begitu jahat. Perlahan tapi pasti, dibiarkannya kepalanya bersandar di bahu Deva, meminta tempat untuk ia menuangkan segala keluh kesahnya. Tanpa berpikir panjang, laki-laki yang baru tiga hari yang lalu kehilangan handycame-nya itu mengelus rambut Dea dengan lembut. Berusaha menyampaikan ketenangan lewat hangatnya sentuhan tangannya.

---------------------------
I’ll see you soon
I’ll see you soon
How could a heart like yours
Ever love a heart like mine

How could I live before
How could I have been so blind
You opened up my eyes
You opened my eyes


“Orangtua gue mau cerai, Vin. Besok mereka mau ke pengadilan buat sidang. Lo tau kan gimana perasaan gue sekarang? Ancur banget loh, Vin. Rasanya kalo lo gak bangun-bangun buat hibur gue di sini, gue pengen ikut aja sama lo ke sana.”

Sivia mendesah keras-keras ketika hanya suara elektrokardiograf yang merespon kata-katanya. Diraihnya tangan Alvin yang bebas infus, digenggamnya dengan erat tangan pucat itu. Seolah, selemah apa pun tangan itu, ia akan mampu menariknya dari semua masalah yang tengah dihadapinya. Ia tahu Alvin kuat. Ia tahu Alvin tangguh. Ia tahu Alvin bukan orang biasa yang mudah menyerah. Terlebih itu untuk orang-orang yang disayanginya.

“Lo tahu gak, Vin kenapa gue iri banget sama nyokap gue? Kenapa gue gak suka dia jadi artis dan terkenal? Karena gue… gue benci sama dia. Waktu gue kecil, gue lagi jalan-jalan sama dia. Gue seneng banget mengingat jarang banget Nyokap gue ngajak gue main saking sibuknya. Tapi, lo tau gak? Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba nyokap gue dikerubuni banyak orang. Ada yang minta tandatangan, ada yang minta foto, ada yang minta ini dan itu. Dia lupain gue yang waktu itu didorong ke sana-sini sampai gue pusing. Akhirnya gue cuma bisa nangis di pinggir jalan. Sampai gue pulang dianter kakek-kakek juga dia gak inget. Hidup gue miris banget tahu…”

Sivia terisak semakin hebat. Seharusnya, Alvin adalah orang pertama yang mendengar ceritanya ini. Tidak ada yang tahu tentang kisahnya. Ditatapnya dengan sendu wajah pucat Alvin. Berharap laki-laki yang sudahtiga hari tak sadarkan diri itu segera terbangun dan menghapus air matanya.

“Gue bilang kalau gue gak mau nerusin misi lo itu kan pas lagi emosi aja. Gue mau kok lanjutin misi tiga detik itu. Sekarang, dalam hitungan ketiga, lo bangun ya? Lo bangun dan hapus air mata gue. Lo bangun dan bantu gue ngadepin semuanya. Lo bangun dan peluk gue, tenangin gue.

 One… two… three… wake up!

One, two, three, wake up…

One, two, three, wake up…

“Bangun, Vin… gue mohon…”

“Si… vi… a?”

----------------------
Sleep sound, sleep tight
Here in my mind
Here in my mind
Waiting

Come closer my dear
You don’t have to fear
You don’t have to fear
Waiting


“Lo ke mana aja? Jahat banget sih lo gak jengukin Alvin selama dia koma.” Agni nyerocos sebal. Tanpa menoleh ke arah Cakka, dan sibuk menatapi langit gelap di taman rumah sakit malam itu. Dengan lagu yang sama—yang sedang Iel putar—sebagai soundtrack adegan mereka saat ini. Agni hendak pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli makanan untuk Dea, Sivia, juga Deva saat ia melihat Cakka tengah duduk di salah kursi satu taman belakang rumah sakit itu. Penasaran, akhirnya ia menghampiri laki-laki yang ternyata menggunakan pakaian rumah sakit juga.

“Gue sakit juga, Ag.”

Refleks, gadis tomboy itu menoleh ke arah Cakka. Menatap wajah yang masih dihiasi beberapa luka memar itu dengan serius.

“Siapa coba yang gak sakit digebukin gitu sama bokap lo? Udah mah wajah tampan gue ancur, dimarahi bokap gue, dipaksa nginep di rumah sakit lagi. Gak sakit gimana gue coba? Sakit fisik juga mental gue,” lirih Cakka memasang wajah paling menderitanya.

“Salah lo sendiri sok jagoan gitu.” Agni cemberut. Meski ia merasa begitu bersalah, ia masih bisa bernafas lega karena sakit yang Cakka maksud bukan sakit parah seperti yang Alvin derita. Selama beberapa hari ini ia tidak bisa berhenti memikirkan Cakka. Ia benar-benar takut terjadi apa-apa dengan laki-laki yang sudah fix menempati sebagian ruang kosong dalam hatinya itu.

“Tapi, lo udah gak apa-apa kan? Masih ada yang sakit gak? Jujur gue khawatir banget sama lo. Sorry banget ya, gara-gara gue lo kayak gini. Gue ben—”

“Udahlah... gue gak apa-apa. Bonyok dikit kan gak ngurangi kadar ketampanan gue. ” Cakka memotong ucapan Agni dengan sedikit kekehan pelan. Disilangkannya kedua tangannya di depan dada. Ia merasa begitu dingin. Ia merutuki dirinya sendiri tidak mendengarkan perintah Elang untuk tidak keluar ruangan tanpa baju hangat dan selang infus. Kepalanya terasa sangat berat. Jangan lupakan darah yang sudah agak mengering di bagian punggung tangannya karena ia mencabut paksa selang infusnya.

Cakka bosan berada di ruangan selama tiga hari penuh tanpa tahu kabar pasti Alvin. Hanya sedikit informasi dari Elang yang tidak ia percayai sama sekali. Ia tahu kakaknya itu sedang berbohong mengenai kondisi Alvin agar ia tidak cemas. Dan itu benar. Ia bahkan tidak tahu kalau Alvin bahkan belum sempat sadar pasca masuk ruang ICU tempo hari. Kadang kakaknya itu menyebalkan.

“Lo kedinginan?” tanya Agni. Ia menatap Cakka lebih rinci lagi. Bibir Cakka terlihat begitu putih di balik temaram lampu taman. Kadang Agni berpikir, kenapa ada orang macam Cakka yang dalam keadaan sakit seperti sekarang ini masih bisa berbicara konyol dan tertawa lebar.

“Hm... dikit doang, kok. Lo mau main tebak-tebakan sama gue gak?” Cakka berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Apa?”

“Jalan apa yang bisa nanya?”

“Hmm… gak tau. Jalan apa emang?”

“Jalan sama gue besok mau gak?”

“Eh?”

---------------------

I’ll see you soon
I’ll see you soon
How could a heart like yours
Ever love a heart like mine

How could I live before
How could I have been so blind
You opened up my eyes
You opened my eyes

Perlahan, Ray menutup pintu ruangan Dokter Nuraga. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Baru saja ia menyelesaikan pemeriksaan kesehatannya, dan hasilnya seperti biasa. Tidak begitu memuaskan. Tapi, tidak ada alasan untuk ia menyerah saat ini. Ia harus berjuang, terus menantang sampai kapan penyakit bernama kanker itu menyiksa dirinya.

Dengan agak sedikit lunglai, Ray melangkahkan kakinya menjauhi ruangan itu. Ayahnya sudah meninggalkannya lebih dulu untuk menebus obat dan sekarang pasti sedang menunggunya di tempat parkir. Kepalanya agak sedik pusing dan ia ingin segera sampai rumah. Tapi, tepat ketika ia berbelok di ujung lorong rumah sakit, seseorang menabrak tubuhnya dengan agak keras hingga ia terjatuh.

“Oh my God!” Suara yang Ray kenal jelas sebagai suara perempuan itu memekik panik. “I’m sorry…” Dengan segera si pemilik suara itu membantu Ray untuk kembali berdiri. “Aku benar-benar minta maaf. Aku sedang terbu—Ray?”

“Suster Angel?” Ray menatap dengan rinci wanita dewasa di hadapannya. Wanita bermata biru yang selama ia berobat di paris menjadi perawatnya. Suster cantik yang telah membuat ia jatuh hati dan berpaling dari Nova. Suster yang selama ini selalu membantunya melewati banyak hal saat ia berada di ambang keputusasaan. Wanita yang menjadi satu-satunya alasan ia begitu berat kembali ke Indonesia.

Are you oke?” tanya Angel membantu menegakan tubuh Ray yang belum sepenuhnya berdiri sempurna.

“Oke.” Ray menarik nafas dalam. Jantungnya berpacu dengan cepat saat ini. “Sejak kapan suster di—”

“Elang!”

Ucapan Ray terpotong saat tiba-tiba Elang bersama beberapa suster yang lainnya berlari tergesa melewati mereka. Angel meraih tangan Elang dan menatap laki-laki yang tampak terlihat panik itu. Ray hanya bisa membatu di tempatnya. Mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya tengah terjadi saat ini.

“Apa yang terjadi?” tanya wanita bermata biru itu dengan cemas seolah kepanikan Elang menular padanya.

“Alvin kembali kritis. See you again!” Sebelum pergi, Dokter muda itu mengecup singkat kening Angel. Membuat Ray merasa tiba-tiba saja ada sesuatu yang menghujam dadanya dengan keras.

“Suster sama Dokter El?”

“Ah, iya… dua minggu lagi kita mau tunangan. I waiting for your presence, okay?”

Dan Ray merasa tiba-tiba saja ada yang menyekat tenggorokannya. Ia menatap nanar wanita cantik di hadapannya sebelum akhirnya mengangguk pelan.

---------------------

How fast hope
All your love is all I’ve ever known
How fast hope
All your love is all I’ve ever known

How could a heart like yours
Ever love a heart like mine
How could I live before
How could I have been so blind
You opened up my eyes
You opened my eyes


Ify menyesap white tea-nya dengan perlahan. Menyebarkan sensasi menenangkan dalam hatinya. Matanya masih tampak sembab mengingat ia masih saja menangisi semua hal yang terjadi padanya saat ini. Luka dalam hatinya tampak begitu lebar hingga rasanya begitu sulit ia lupakan. Dan memang tidak akan pernah mungkin bisa ia lupakan.

“Sebenarnya ada apa, Fy?” tanya Rio memecahkan keheningan antara mereka. Café dekat rumah sakit tempat Alvin dirawat menjadi lokasi mereka saat ini. Setelah menjenguk Alvin dan memutuskan untuk pulang, Ify tiba-tiba mengajaknya ke tempat ini. Ia menatap Ify dengan canggung. Pasalnya, Rio tidak tahu tatapan mana yang harus ia berikan pada Ify. Entah itu sebagai seorang sahabat, mantan kekasih, atau seorang kakak pada adiknya.

“Lo beneran benci sama gue, Yo?” tanya Ify sedih.

“Bukan benci, Fy. Gue gak tau aja harus gimana.”

Ify menghela nafas lelah. Ia juga sama seperti Rio. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Tapi, ia tidak ingin jika ia berada dalam keadaan diam-diaman seperti beberapa hari terakhir ini dengan Rio. “Kita harus cari jalan keluar, Yo.”

“Itu harus.”

“Sekarang kita ini apa?” Ingin rasanya Ify mendengar jawaban kalau status mereka saat ini adalah sepasang kekasih. Tapi, dosa besar apa yang sedang dilakukannya sekarang? Lagi-lagi Ify hanya bisa membatin sedih mengingat hal itu.

“Kakak dan Adik.” Rio menjawab parau.

Dan keadaan menjadi hening. Ada pedang paling tajam yang menusuk hati Ify tanpa perasaan.

“Yo…”

“Itu pilihan yang paling bener, Fy.”

“Gue minta waktu dua hari aja, Yo. Dua hari buat gue sama lo sebagai kekasih. Dua hari, Yo. Gue mohon… setelah itu, terserah lo mau nganggep hubungan kita ini apa. Gue mohon…”

--------------------------


To be Continue…

Follow me
@nhyea1225
www.nia-sumiati.blogspot.com

--------------------------

Part ini bener-bener kacau. Shilla sama Nova absen. Iel dan Alvin bisa dibilang gitu juga. Suer deh ini gak pake baca sama edit ulang, jadi pasti banyak yang salah. Maaf banget.
Rencananya, part depan mau buat spesial part. Di antara enam couple, kalian mau yang mana dulu?

terimakasih

7 komentar:

  1. Hai kak, sorry baru komen skrg, aku seneng banget sama cerbung kakak^^
    Couple ALVIA dong kak, hehe..
    Aku suka banget sama karakter Alvin di sini..
    Semangat!!

    BalasHapus
  2. Hai ka, finally aku bisa komentar di blog kaka heuheu :D
    Part ini cukup singkat dan membuat fardah berpikiran macem-macem (re: ada apa-apa di tiap pasangan) di next part.
    Well, karena fardah lagi seneng-senengnya sama cakka, next part nya buat cakka aja ya ka hehehe ^^ ummmm yaaa, harus panjang pokonya bagian cakka. Trs abis cakka, rio juga boleh. Alvin trrakhir aja biar aku penasaran sama nasib poor boy satu itu hehehe *peace kak :D
    semangat lanjutinnya ya ka ^^

    BalasHapus
  3. Gak mau comment panjan lebarrr... Next pleaseseeeeeeeee

    BalasHapus
  4. AAAAAAAAAAA OMOOOOOO kak nae #tereakdulubentar
    aku bingung mau komen apa :D, ga ada kata yg tersusun di otak =,=
    aku nemu typo td, tapi ga papalah ga kmenggangu(?)kelancaran membaca :D
    Untuk spesial part pertama siape aje deh kak nae....tapi buat yg terakhir alvin aja ya kakk, yg terakhir lebih spesial (?) :D #eh
    Yaudahlah kak nae aku tunggu jejak separation berikutnyaaa

    BalasHapus
  5. kakk cakkanya dibuat ketahuan aja penyakitnya biar lebih seruu

    BalasHapus
  6. kak nia, ijin copas kata2nya 'Woody' ya kak... keren banget deh ceritanya... next kaaaaak.... ditunggu loh...

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea