Senin, 05 Oktober 2015

Separation -Dua puluh tiga-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 08.24


Minta lebih cepat, berarti lebih pendek gak apa-apa, ya?

Maaf untuk issue cerita ini bakal berhenti. Sebenarnya saya tidak ingin mengecewakan reader-readerku yang baik, yang selalu kasih komentar, yang selalu kasih semangat, dan yang saya yakin gak akan mengecewakan usaha saya juga.

Cerita ini Insya Allah saya tamatin. Tapi, please… jangan maksa saya terlalu buru-buru lanjutin tiap part, karena yang saya tahu, sesuatu yang dikerjakan dengan terburu-buru itu tidak akan menghasilkan sesuatu yang bagus. Dan saya tidak ingin mengecewakan kalian dengan cerita yang buruk. (Seperti Part ini) Mohon pengertian , yaa?

Oke…

Keep Reading



SEPARATION

-Dua puluh tiga-

-------------------


“Katakan di mana obatnya, Kak?!” Dea memekik panik. Ia mengobrak-ngabrik meja belajar Alvin. Mengeluarkan semua benda yang ada di dalam laci meja itu.

 Alvin tidak menjawab dan sibuk dengan segala sakitnya. Tak menghiraukan seberapa paniknya Adik perempuannya saat ini. Karena ia jauh lebih panik menghadapi sakitnya yang entah kenapa terasa beberapa kali lipat lebih menyakitkan dari sakit sebelumnya. Ia mencengkram kuat dadanya. Mengerang lebih keras saat ia merasa jantungnya seperti ditarik paksa keluar dari rusuknya. Tubuhnya  bergerak gelisah di atas tempat tidur. Membuat seprai berwarna merah itu tampak kusut dan berantakan.

“Kak, di mana?!” Dea melompat ke atas tempat tidur Alvin. Diraihnya pundak Alvin. Tatapannya kian cemas melihat wajah Alvin yang tampak pucat dengan bibir membiru.  Dengan perlahan ia membantu menyamankan posisi Alvin. Bergelung di tempat tidur bukan posisi yang cukup baik. Disandarkannya tubuh itu di balik kepala tempat tidur.

“Obatnya di mana?” tanya Dea lagi. Ia menggenggam tangan Alvin yang masih mencengkram kuat dada kirinya.

Alvin menggigit bibir bawahnya yang sudah membiru. Lantas, sekuat tenaga ia mencoba menggeleng. “Hh-ha—”

“Habis?” tebak Dea. Alvin mengangguk lemah.

Dea menggeleng cepat. Seingatnya, semalam ia masih melihat botol obat Alvin masih penuh. Ia bahkan sempat menjatuhkan pil-pil itu dan memungutnya. Bagaimana bisa obat itu sudah habis? “Di mana?” tanya Dea lirih. Apa kakaknya ini berniat bunuh diri dengan menyembunyikan obat itu? Air matanya sukses mendarat di pipinya.

Alvin menggeleng. Ia mengigit bibirnya semakin kuat sekuat remasan tangannya pada dadanya. Ia tidak bisa menjelaskan pada Dea kalau semalam ia sudah membiarkan obat-obat itu berakhir mengenaskan di westafel kamar mandi. Semalam ia diliputi kekecewaan yang mendalam mengetahui konflik-konflik tentang sahabatnya. Membuat ia rasanya ingin menyerah saja dengan hidupnya. Meski pada akhirnya ia menyesal begitu menyadari seberapa mahal dan susahnya kedua orangtuanya mendapatkan uang untuk menebus obat-obat itu, tetap saja ia tidak akan bisa mengambil kembali nyawa keduanya itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk lebih berhemat sampai bisa membeli obat itu tanpa perlu tahu kedua orangtuanya.

Tentu saja harus bertahan dengan segala sakit yang mengoyak seluruh tubuhnya seperti sekarang ini juga.

“Di mana?” suara Dea semakin serak. Tubuhnya seakan ikut melemas setiap kali mendengar rintihan kakaknya itu. Ia menatap nanar ponselnya yang tergeletak sembarang di atas tempat tidur. Sejak sampai rumah, ia sudah berusaha menghubungi Mama dan papanya yang berakhir dengan sambutan suara merdu operator. Apakah ini sebuah kebetulan sehingga secara kompak ponsel mereka tidak aktif? Dea tertunduk frustasi. Seakan ikut menyerah dan pasrah pada keadaan. Mungkin ia akan ikut bunuh diri jika Alvin berakhir saat ini.

Isak tangis Dea saling bersahutan dengan erangan Alvin. Membuat keadaan di dalam ruangan yang tak lagi rapi itu terasa begitu dingin. Ketakutan, kecemasan, dan kesedihan tampak menyambut tamu tak diundang masuk ke dalam ruangan itu.

“ALVIN!!”

-------------------

Sudah ke sekian kalinya Ify membiarkan punggung tangannya menghapus liquid bening yang urung berhenti mengalir dari balik mata indahnya itu. Kesedihan seolah tiada henti menjamah sanubarinya yang paling dalam. Kenyataan pahit yang baru saja ia dengar telah menyobek sadis perasaannya. Alur drama apa yang sedang ia perankan saat ini? Kenapa ia bahkan tidak pernah merasa kalau Rio adalah kakak kandungnya?

Lebur sudah harapannya di atas cinta yang masih berpijak angkuh dalam dada. Menyisakan kepedihan yang seolah tiada akan ada habisnya. Tangis lirih untuk kenyataan pahit itu kian menggema di depan rumah minimalis yang sepi itu. Tiang penyangga langit-langit beranda menjadi sandaran penuh kesedihannya. Marmer-marmer mengkilap yang Ify tahu selalu dipel bersih oleh Tante Rara—ibu tirinya—menjadi satu-satunya wadah yang menampung air matanya yang kini tak mau lagi di halau oleh tangan lemasnya. Gadis cantik itu membiarkan air matanya jatuh begitu saja di teras rumah.

Siapa yang salah di sini, Tuhan? Ify biarkan hembusan angin menjawab pertanyaannya. Berharap udara yang bergerak itu membawa pergi kesedihannya. Ia bahkan berharap lebih agar ingatannya turut dibawa juga. Atau perlukah nyawanya juga hilang seketika. Ia bahkan tidak berani melewati hidup dengan kenyataan pahit ini. Ia tidak ingin hidup dan menanggung dosa besar karena mencintai saudaranya sendiri. Tangis Ify terdengar lebih pilu.

Mungkin masih ada sisi di mana Ify boleh tersenyum bahagia saat ini. Sisi di mana ia mulai mengetahui ibu kandungnya yang selama ini selalu dirindukannya. Tapi demi Tuhan, bukan alur ini yang ia ingini. Ia tidak ingin Rio menjadi saudara kandungnya. Karena faktanya, cinta dalam hatinya bukan cinta biasa, cinta yang tumbuh untuk saudara dan teman. Tapi cinta khusus yang merangkai jutaan mimpi dan asa yang ia pupuk sendiri dalam hatinya.

“Tak peduli siapa sosok ini di matamu, saat kamu bersedih, bersandarlah di sini.”

Ify menegakan kepalanya yang semula bersandar di balik tiang begitu suara itu bertepi di telinganya. Ia menatap sebentar sosok itu. Berpikir cukup lambat, sampai akhirnya menerjang tubuh itu dengan keras. Menangis sesegukan di dada itu. Meluapkan kesedihannya.

-------------------

“Gak apa-apa. Kita bisa membelinya lagi besok.”

Dengan berurai air mata, gadis itu membereskan semua kekacauan yang terjadi di rumah kecil itu. Sesak menghujam keras dadanya saat ia melihat betapa berantakannya keadaan rumah kekasihnya itu. Bahan-bahan masakan yang ia beli dengan uang tabungannya sendiri, karena ia tidak pernah ingin memberikan apa pun pada Iel dengan uang Mama dan papanya itu, sudah hancur dan tidak ada yang tersisa. Hanya nasi goreng buatan Iel yang masih tampak utuh di atas wajan.

Air matanya berurai tiap kali tangannya yang gemetar meraih tumpukan beras yang sudah berhamburan di lantai. Bukan. Bukan beras itu yang membuat hatinya seperti tersayat. Entah apa alasan yang jelas, tapi mengingat betapa rumitnya guratan takdir hidup kekasihnya, membuat Shilla merasa begitu terluka. Bagaimana mungkin anak-anak kecil yang masih butuh tangan-tangan orangtua itu harus berusaha keras mengarungi hidup yang sedemikian sulit? Tidakkah orangtua mereka  menyesal meninggalkan mereka di zona hidup yang begitu memilukan? Tidakkah seharusnya jika kedua orangtua itu ingin meninggalkan mereka, pastikanlah mereka hidup bahagia. Bukan dengan menanggung apa yang seharusnya tidak mereka tanggung.

Shilla tidak tahu siapa yang harus disalahkan di sini. Mungkin orangtua Iel? Shilla tidak tahu. Karena faktanya ia juga patut disalahkan karena tidak tahu bagaimana caranya mengeluarkan Iel dari jerat kehidupan yang terkesan mengkhianatinya.

“Kita akan membeli lebih banyak dari ini besok.”

Shilla terus meracau. Masih menangis lirih sampai seseorang tiba-tiba memegang tangannya dan memeluknya dengan begitu erat. Sangat erat hingga ia tidak bisa melanjutkan aktifitasnya.

“Jangan nangis! Maaf…”

---------------------

Cakka menyandarkan tubuhnya di balik dinding, di samping pintu rumahnya. Menunggu siapa pun membukakan pintu rumah mewah itu untuknya. Kepalanya terasa begitu sakit. Ada beberapa warna biru yang tampak menghiasi wajah tampannya. Sesekali ia meringis menahan nyeri dari luka-luka memar itu. Mengingat betapa anarkisnya sakit yang menghujam kepalanya dan anggota tubuhnya yang lain, membuat Cakka enggan menceritakan apa yang terjadi dengannya saat ini. Terlebih baru saja suara kunci rumah terdengar disusul dengan pintu yang terbuka untuknya.

Dan Cakka sudah menduga sebelumnya kalau jeritan panik itu akan menyambutnya di muka pintu jika si pembuka pintu itu ibunya sendiri.

“Ya Tuhan! Apa yang terjadi?!” Wanita pendiam itu tampak cemas begitu melihat ada banyak warna biru di wajah Cakka. Mata, hidung, sudut bibir, pipi, dan mungkin bagian tubuhnya yang lain benar-benar dihiasi warna biru keunguan. Wanita paruh baya itu segera mungkin memapah Cakka masuk ke dalam rumah saat melihat tubuh Cakka mulai limbung.

“Bagus! Setelah memutuskan untuk tidak bermain basket, sekarang beralih untuk menjadi berandal, heh?” Dokter Nuraga tampak berdiri di hadapan Cakka. menatap putra bungsunya itu dengan sengit dan marah. Tidak perlu tahu apa alasan Cakka pulang dalam keadaan terluka seperti sekarang, karena ia yakin kalau putranya pulang dalam keadaan babak belur seperti sekarang, itu berarti anak laki-lakinya sudah melalukan tindakan yang salah.

“Yah, Cakka sedang sakit. Jadi seb—”

“DIAM!”

Ibu Nuraga langsung bungkam begitu teriakan itu menggema di ruangan mewah itu. Jangan lupakan wanita yang sudah melahirkan Elang dan Cakka itu selain pendiam, juga penurut. Apa pun yang terjadi, ia tidak pernah suka membantah perkataan suaminya.

“Maaf…” lirih Cakka pelan. Tubuhnya terasa begitu lemah dan sakit sehingga ia tidak punya kekuatan untuk mendebat ayahnya. Terlebih saat ia merasa ada sesuatu yang bergejolak dalam perutnya. Memberikan sensasi mual dan sesak. Tak lama kemudian, sesuatu terdorong dalam perutnya, memaksa ia memuntah isi perutnya. Cakka menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.

Bola matanya sontak saja membulat sempurna saat ia menjauhkan telapak tangannya dan melihat sesuatu berwarna merah tampak mewarnai telapak tangan itu. Sebagian cairan pekat itu menetes ke lantai. Cakka menoleh ke arah ibunya yang tak kalah panik darinya. “Ibu…,” lirih Cakka yang dalam hati merasa cemas juga dengan kondisinya. “Ke-kenapa darah?” Cakka bertanya pada ibunya dengan bingung. Ini baru pertama kalinya ia memuntahkan darah. Kepala Cakka terasa dua kali lipat lebih sakit dan pening sekarang. Dan di detik berikutnya, ia merasa semuanya berputar sebelum akhirnya gelap dan pekat.

-----------------------

To be Continue

-----------------------

I just wanna say
Thanks for All ….

7 komentar:

  1. ahay aku kembali hahaha......
    maaf ya kak nae baru komen, baru keisi kuotanya :D
    aku mah ga papa lama yg penting lanjutttt, aku sabar kok
    sempet syok jg sih kemarin katanya mau discontinued, jgn ya ak naeeee
    Aku sih merasa yg paling kasian disini pasangannya Rify, incest itu menyakitkan :D
    Disini blm dikasih tau ya sakitnya cakka tapi kyknya aku bisa nebak #soktau
    dan aku masih penasaran, alvin bkn anak kandung kan kan kan kan #justfeeling
    yahhh intinya disini dpt part nyeseknya dan aku suka itu :D
    ya wislah yg penting dan harapanku lanjut ya ka nae.. ya ya ya ya

    BalasHapus
  2. ahhh,nggak ada kata lain selain "wow" buat separation kak nae. keren abis pokoknya mah! selalu dapet feel nya,tiap baca akunya kayak lagi ngrasain apa yang dirasain tokohnya.
    two thumbs up!! cakka sakit apaan sih?? kanker usus ya?? *sotoy* rio juga sakit apaan?? kanker juga?? iel sakitnya apaan?? kok kayaknya dia jadi lemah??
    dan ada satu kalimat tentang alvin yang bikin penasaran,

    Ketakutan, kecemasan, dan kesedihantampak menyambut tamu tak diundang masuk ke dalam ruangan itu.

    alvin kenapa kak?? jangan bilang kalo tamunya malaikat izroil a.k.a pencabut nyawa?? omaygattt,dag dig dug zerrr jangan dimatiin dulu dong kak,masih belum siap pisah nihh *gaje*

    yaudah deh kak,sorry banget ya kalo komen ku puanjang banget :D ditunggu part selanjutnya,keep fighting kak nae,SEMANGAT!!

    -- Demi --

    BalasHapus
  3. oiyaa kak nae,aku udah invite bbm tapi belum di acc sampe sekarang T_T

    BalasHapus
  4. Cinta mati sama ceritanya <3

    BalasHapus
  5. Setelah tenggelam entah di samudera mana, akhirnya Disa muncul ke permukaan kolom komen lagi(?)
    Huua!! Baru ada waktu kakniaa.. Sebenarnya udah baca part 21 sama 22 dari waktu aku chat kaka waktu itu, tapi bacanya lewat samsungku. Sementara blog cuma bisa di pake lewat bb--udah aku jelasin kan waktu itu. Yasudahlah yah, itu gak penting. Yang penting sekarang aku mau komenin 3 part sekaligus nih *eh itu kalo aku masih inget yang terjadi di part 21 sama 22 yah*

    Di cerbung ini aku paling suka konflik di keluarganya Cakka. Entah kenapa, tapi aku emang sukaaaa banget sama cerita yang tokohnya gak harmonis sama 'papa'nya. Mungkin karena kebanyakan cerita emang kayak gitu yah. Tapi di cerita kaka ini agak beda, mungkin di cerita lain, kalo papanya udah tau anaknya sakit, pasti langsung berubah 180 derajat. Jadi super lembut, selalu berfikir positif. Nah Dokter nuraga malah apa? Tetep aja -_- jadi makin greget sama mereka :3. Oh ya, daaaaan... Kayaknya aku bener Cakka sakit kanker lambung! Udah sama tuh kayak dialamin Alvin di cerbung Don't Over. Muntah darah. Aaaa..

    Trus paling suka juga konflik keluarganya Iel. Karena selain cerita tentang papa, aku juga sering nangis kalo baca cerita tentang kaka laki-laki. Padahal aku gak punya kakak btw._. . Tapi aku suka banget di sini cerita Iel jagain adek2nya. Sumpah aku pasti nangis kalo ada scene mereka! Terlebih di part 22 itu, waktu Aren hampir diambil sebagai jaminan. Aaaaa.. Keren banget Iel sama Lintarnya!

    Trus konflik Alvin, sebenernya udah mulai bosen. Entah kenapa. Soalnya aku suka waktu Deanya jahat. Suka aja baca kakak laki-laki yang selalu sabar ngehadapin adek perempuan yang bahkan sering nyaris pengen ngebunuh dia._. Jadi pas dea baik, jadi males baca scene mereka *gak usah dipeduliin karena ini cuma pendapat aneh Disa* . Tapi tapi, Karena gimanapun Alv adalah yang paling aku suka di Icil, jadi tetep ada rasa lah pas baca scene dia *ceilah*. Apalagi Alvin udah mulai nyerah. Oh yes! (?) Iya oh yes bukan oh no, karena aku suka baca Alv menderita *ini dipastikan karena sebagian besar author cerbung yang nulis cerita Icil, pasti Alvin yang disiksa, makanya kan Disa jadi ketagihan*.
    Oh ya, btw, itu ceritanya ada yang dateng kan? Emm.. Mau nebak, tapi gak seru karena part 24 udah ada di sebelah. Artinya beberapa menit lagi aku juga tau jawabannya. Tapi yaudahlah, mau coba nebak, itu pasti... Via. Mungkin aja dia ngikutin Alv sama Dea karena ngerasa bersalah.

    Ngomong-ngomong soal Via, konflik Via juga menarik nih, ortunya udah mau cerai OOU! Mungkin gak yah, Via balik lagi kayak dulu bahkan sebelum misi nya Alvin terlaksana.

    BalasHapus
  6. Trus konflik yang nimpa Rio. Oh astaga... Rio Ify ternyata saudaraan? Jadi inget Novel Love in Paris nih. Tapi lebih sedihnya ini karena ibunya Rio tuh emang kayak gak peduliin Rio sama sekali. Sakit banget deh jadi cowok pesek tapi ganteng satu ini. Padahal Rio juga sakit kan yah? Entaran deh.. Kalo Rio nya udah pergi, baru ibu sama papanya nyesel.

    Btw, awalnya aku fikir tuh Rio-Ify saudaraan, tapi dari ibu yang beda. Maksudnya kan ibu Rio itu 'ehm ya itulah'. Jadi mungkin dulu ibunya Rio jadi simpenan gitu. Tapi di part ini aku nangkepnya, maksudnya ibu rio ibu Ify juga? Oh.. Trus kenapa dong bisa seumuran? Rify kembar gitu?

    Agni. Kalo konflik hidupnya cewek tomboi satu ini, termasuk yang paling berat juga. Karrna kan Ortunya yang rujuk terancam lagi.ayahnya jadi kasar lagi. Trus dia sama deva juga terancam bakal dipisahin lagi. Ngomong-ngomong deva, aku kangen sama pemilik handycam itu! Deva dari kapan gak muncul? Terakhir yang aku inget waktu agni meluk dia dan bilang, mereka gak akan kepisah lagi, apapun yang terjadi.

    Shilla. Kalo cewek paling sempurna di cerbung ini, kayaknya yang bikin hidupnya berat yah cuma masalah si iel doang. Ortu shilla utuh, akur, kaya. Gak ada masalah keluarga kan.-. Kecuali mungkin... Shilla bakal dijodohin sama ortunya.

    Ray. Kenapa sih ray tega sama nova? Padahal nova udah nungguin Ray balik loh. Tapi aku punya firasat kalo Ray bohong tentang ada 'orang lain' itu. Mungkin aja itu akal-akalannya supaya Nova jauh-jauh dari dia, karna dia gak mau liat cewek berkacamata itu tau kalo sakit nya Ray gak bisa disembuhin lagi. Tapi Nova si cewek beruntung, selalu aja ketemu cowok cakep. Jadi, bikin aja tuh si Ray panas sekalian. Bikin Nova deket sama siapa kek gitu. Biar Ray cemburu. Hihi.

    Kayaknya semua tokoh udah aku sebutin yah. Anggap ini mewakili komenan di 3 part sekaligus. Maaf di 2 part sebelumnya aku jadi dark readers kak Nia. Aku ke sebelah dulu yah. Baca part 24. Papay!!

    BalasHapus
  7. Eh salah, maksudnya Autumn in Paris bukan Love in Paris. Itu sinetronnya sctv yah, hehe

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea