Senin, 16 November 2015

Separation -Gabriel & Shilla-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 02.19


SEPARATION

-Special Part (Shilla-gabriel)-

-------------------

7 hari berlalu..

Masih berjalan di alur yang sama. Di tengah-tengah konflik yang sama pula. Tak ada celah untuk melarikan diri. Hanya perlu berjalan dan menghadapinya dengan berani. Tak lupa membasahi lisan dengan do'a. Menetramkan jiwa dengan mengingat satu-satunya pemilik skenario hidup yang tengah dijalani. Hati berpasrah namun raga tetap berjuang mengarungi atlas kehidupan yang kadang begitu sulit digambarkan. Tak perlu menyerah. Karena Tuhan akan menyibakan tirai jalan keluar hanya untuk orang-orang yang mau berusaha.

Dan, Iel juga Shilla percaya dengan semua itu. Mereka percaya Tuhan tidak pernah melepaskan genggaman tangan-Nya untuk senantiasa menolong mereka. Seperti tautan tangan mereka yang tidak mudah dilepas sekuat apa pun gelombang masalah mencoba memisahkan.

Tetap bersama.

Tetap berpegangan.

Tetap ceria.

Tetap bahagia.

Seperti di sore yang indah ini...

Shilla tidak bisa berhenti tersenyum. Ia melangkah pendek-pendek sambil sesekali melompat ceria. Fantofel merah cerahnya yang beradu dengan jalan semen di gang kecil itu menciptakan suara ketipak-ketipuk yang lucu. Senyumnya terus mengembang seiring semakin terhapusnya spasi antara ia dan pintu rumah yang ditujunya.

Menarik nafas pendek sebelum mengetuk pintu. Dan belum sempurna kepalan tangan lembutnya menyentuh kayu bercat cokelat kusam itu, pintu itu terbuka. Shilla terperanjat dan menurunkan kembali tangannya saat sosok yang selalu menjadi penguasa hatinya itu berdiri di hadapannya. Menatapnya dengan matanya yang tegas namun selalu meneduhkan. Mata yang selalu menarik Shilla lebih dalam, dalam, dan dalam untuk tak pernah berhenti mencintai dan menyayanginya. Mata yang membuatnya selalu merasa jatuh cinta setiap kali menatapnya. Shilla sadar, cintanya pada Iel memang selalu tumbuh banyak setiap harinya. Betapa ia menyayangi sosok itu lebih dari apa pun.

"Sejak kapan di sini, Shil? Kenapa gak masuk?" tanya Iel. Pemuda hitam manis itu tampak sudah rapi dengan kemeja kotak-kotaknya.

Shilla terperangah. Baru saja pertanyaan Iel menyadarkannya yang tengah larut karena pesona indah yang dipancarkan oleh mata kekasihnya itu. "Baru aja kok, Yel. Lo mau pergi?" Gadis cantik itu memperhatikan Iel dengan rinci.

Iel mengangguk. "Iya. Gue disuruh siaran sore ini. Gantiin Debo."

"Padahal kan lo baru pulang kerja dari café. Kenapa gak istirahat dulu?" Shilla memasang raut wajah mendung. Ia tidak suka Iel bekerja terlalu keras. Padahal dilihat dari kondisi fisiknya saja Iel tampak begitu kurus. Lingkaran hitam di sekitar matanya juga sudah menjelaskan kalau pemuda itu kelelahan. Bibirnya juga selalu tampak kering dan pucat. Shilla merasa sangat sedih melihat hal itu.

"Shilla Sayang..." Iel mengacak gemas rambut Shilla. Memberi pengertian lewat senyum manisnya. "Lo lupa ya sama going extra mile-nya kita? Kita kan udah janji buat berusaha di atas rata-rata orang lain."

Shilla merengut. "Gue inget kok, Yel. Tapi kan gak kayak gini juga. Lagian..." Gadis berwajah cantik itu menggantungkan kalimatnya. Ia tampak berpikir.

"Lagian?" Kening Iel berkerut penasaran.

Shilla mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ia terlihat ingin menyampaikan sesuatu. Sesuatu yang begitu penting, yang menjadi alasan sebenarnya kenapa ia datang ke rumah Iel. Tapi, melihat ekspresi penasaran yang tercoret di balik wajah yang selalu membuatnya terpukau itu, membuat ia akhirnya menahan mulutnya untuk tidak mengatakan apa pun. Tanpa sadar, gadis bermata indah itu tersenyum penuh rencana.

"Woi! Malah ngelamun lagi lo. Hayo... mikirin yang macem-macem kan, lo?" Iel menyentil kening Shilla, membuat gadis yang selalu mencintai dan dicintainya itu terlonjak kaget dan meringis pelan.

"Enak aja!" Shilla mengusap keningnya, memajukan bibirnya beberapa senti. Pura-pura ngambek dengan aksi Iel.

Melihat hal itu, membuat Iel terkekeh geli. Gadisnya yang paling sempurna itu terlihat begitu menggemaskan. Membuat nalurinya tak tahan untuk tidak mengecup singkat bibir merah gadis itu.

Bola mata Shilla kontan saja melebar begitu sadar sesuatu yang lembut baru saja menyentuh bibirnya. Butuh beberapa detik untuk ia kembali ke alam sadarnya begitu suara teriakan Iel yang -entah sejak kapan- sudah berdiri di depan pagar rumah, menampar keras kesadarannya.

"Iel!" Shilla berteriak. Mengejar Iel yang sudah melarikan diri darinya. "Awas ya, lo!" Shilla kembali menghentikan langkahnya. Dirabanya bibirnya dengan jari-jari tangannya. Entah apa yang terjadi, tapi Shilla merasa kecupan singkat Iel di bibirnya seperti drugs yang sesaat membuatnya mabuk kepayang. Membuatnya melanglangbuana.

Senyumnya merekah lebih lebar. Dan saat ia sadar posisinya dengan Iel semakin menjauh, ia segera menurunkan tangannya, kembali berlari menghampiri Iel yang sudah tidak lagi berlari. Laki-laki pekerja keras itu tampak berdiri beberapa meter di hadapannya. Siap menyambut gadisnya dengan senyuman lebarnya.

"I love you..." Shilla mengapit lengan Iel dan menyandarkan kepalanya di bahu kokoh laki-laki itu. Mereka berjalan beriringan membelah gang sempit di sore hari yang sejuk itu.

"I love you too..." perahan Iel menghirup bau wangi rambut Shilla. Wangi khas yang selalu menyebarkan kesempurnaan yang dimiliki gadis itu padanya.  Wangi yang membuat ia merasa menjadi makhluk paling sempurna. Tak memerlukan apa pun lagi. Ia hanya ingin Shilla. 

Shilla-nya yang cantik. Shilla-nya selalu ada untuknya. Shilla-nya yang manis dan ceria. Ashilla Zahrantiara-nya yang paling ia sayangi.

----------------------

Shilla mengangkat kedua tangannya ke udara. Menghirup dalam-dalam udara malam Jakarta yang entah kenapa terasa lebih sejuk. Dirapatkannya kelopak mata indahnya. Mencoba mengingat banyak hal indah yang selama ini telah diusung dengan tertatih. Dan di antara banyak hal indah itu, Shilla merasa malam ini, di atas atap gedung mall yang sedang dikunjunginya, di bawah langit malam berwarna gelap berbintang adalah hal paling indah yang pernah ia rasakan. Tentunya, itu karena adanya Iel di sampingnya.

"Shil...," panggil Iel. Diraihnya tangan Shilla yang masih mengudara.

Shilla membuka matanya. Dialihkannya tatapannya pada Iel yang saat ini tengah menatapnya dengan lembut.  Laki-laki tangguh itu tersenyum. Senyum yang membuat perasaan siapa pun tenang dibuatnya. Shilla membalas senyuman itu tanpa mampu berkata-kata. Dieratkannya genggaman tangannya di jari Iel. Senyuman yang saling mereka lontarkan mewakili jutaan kalimat bahagia yang ingin mereka ungkapkan.

Tanpa melepaskan genggamannya di tangan halus Shilla, Iel mengalihkan tatapannya ke arah hamparan horizon gelap yang luas di atasnya. Ia tersenyum lebih lebar. Tersenyum untuk Tuhan yang telah memberinya kebahagiaan di tengah-tengah problema hidupnya yang pelik dan rumit. Dan kebahagiaan itu adalah Shilla. Shilla, bintang yang berpijar terang di tengah-tengah langit kehidupannya yang gelap dan pekat.

Kejadiaan beberapa jam yang lalu kembali berputar di kepala Iel. Saat tiba-tiba Shilla merebut ponselnya dan menghubungi atasannya di One Radio. Gadis itu memberitahu kalau ia tidak bisa masuk kerja karena alasan tertentu. Hal itu membuat Iel benar-benar panik. Ia bisa saja dipecat dari pekerjaannya.

"AYO! KITA SENANG-SENANG HARI INI!"

Dan selanjutnya Iel melupakan kepanikannya saat teriakan Shilla menggema di telinganya. Gadis itu menariknya ke sana-sini. Bermain di taman kota, bermain game di game center, makan bakso di pinggir jalan, mengelilingi mall super besar tanpa membeli apa pun, dan berakhir dengan menonton film super melow di bioskop yang dilanjutkan dengan duduk berdua di atas atap gedung saat ini.

"Shil...," panggil Iel sembari membawa tangan Shilla menempel di pipinya. Tangan halus dan lembut gadis itu selalu menyimpan ketenangan dan kehangatan tersendiri untuknya.
"Hm...?" respon Shilla tanpa menoleh ke arah Iel.

"Kalo seandainya gue ninggalin lo kayak di film yang kita tonton tadi gimana?" tanya Iel. Shilla menoleh dengan cepat dan melemparkan tatapan sengit pada kekasihnya itu.
"Jangan rusak momen indah ini cuma karena imajinasi yang lo bawa dari film itu deh."
Mendengar hal itu, Iel terkekeh pelan.

"Kita tuh harus selalu bersama, Yel. Akan selalu bersama. Kecuali kalo lo mau bunuh diri kayak di film tadi dan ninggalin gue sendiri. Dan kalo lo ninggalin gue pake cara itu, gue juga bakal ninggalin diri gue sendiri dengan cara yang sama."

"Hush! Lo kok ngomongnya ngawur sih?" tegur Iel.

"Abisan lo juga ngomongnya ngawur!" Shilla cemberut.

"Jangan cemberut gitu. Mau gue cium lagi emangnya?"

Mendengar hal itu sontak saja Iel menggeplak lengan Iel dengan keras, membuat laki-laki hitam manis itu meringis. "Jangan suka cari kesempatan dalam kesempitan gitu!" protesnya kemudian.

Dan Iel tertawa melihat ekspresi Shilla.  Wajah cantik itu terlihat begitu memukau malam ini. Membuat ia selalu betah menatapnya lama-lama. Caranya tersenyum, caranya berkedip, caranya cemberut, caranya bicara, seperti magnet dengan kutub yang berlawanan dengan hatinya. Menariknya dengan begitu kuat.

"Oh, ya, Yel. Gue punya kabar gembira." Shilla menatap Iel dengan serius. Bola mata caramelnya yang menenangkan seperti cappucino hangat berbinar dengan terangnya.

"Apa?"

----------------------------

-Flashback-

Kaki jenjang dengan ditemani sandal rumah berboneka Tweety itu melangkah pendek, menuruni undakan tangga yang akan membawanya ke lantai bawah. Tampak ragu, si pemilik kaki itu berjalan mendekati ruangan paling pojok di rumah super mewah itu.
Menarik nafas sedalam mungkin. Melepas kegugupan yang sempat merambah habis keberaniannya. Lantas dengan agak gemetar, tangan berkuku cantik itu memutar handle pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

"Pa...," panggil Shilla melongokan kepalanya di balik pintu yang baru se-per-empat terbuka. "Boleh Shilla masuk?" tanyanya.

Pria gagah yang saat itu tengah sibuk dengan tumpukan map yang Shilla tak tahu apa, mengangkat kepalanya, menatap Shilla lembut dan tersenyum hangat. "Masuk saja..."

"Papa gak lagi sibuk kan?" tanya Shilla membuka pintu lebih lebar. Baru setelah mendapat kode gelengan dari ayahnya, ia membiarkan kaki yang ditemani sandal kuningnya itu melangkah mendekati meja sang Ayah. Ia duduk di tangan kursi ayahnya.

"Ada apa?" Pak Edwin menutup laptop dan beberapa pekerjaan yang sedang dikerjakannya. Dielusnya rambut Shilla penuh sayang.

"Papa sayang kan sama Shilla?" Pertanyaan konyol karena tentu saja jawabannya 'iya'.

Pak Edwin mengangguk. Ia akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan putri satu-satunya itu.
"Kalau gitu, Papa mau kan dengerin cerita Shilla. Hanya perlu mendengarkan sampai tuntas. Jangan berkomentar apa pun sebelum Shilla menyelesaikan cerita Shilla.”

Pak Edwin tersenyum dan mengangguk lagi.

Dan saat itu juga Shilla memulai ceritanya. Cerita tentang pertemuan pertamanya dengan Iel. Tentang seberapa lekatnya persahabatan mereka hingga akhirnya ia harus jatuh cinta pada laki-laki itu. Ia bercerita seberapa besarnya mereka saling menyayangi. Ia juga bercerita tentang seberapa baiknya Iel, kuatnya Iel, tegarnya Iel, dewasanya Iel, lucunya Iel, manisnya Iel, pintarnya Iel. Tentang Iel, Iel, Iel, dan Iel. Ia habiskan satu jam penuh untuk menceritakan sosok yang begitu disayanginya itu pada ayahnya yang hanya sesekali mengangguk dan tersenyum menanggapi.

Dan ketika Shilla ber-epilog. Cerita akhir tentang masalah rumit yang tengah Iel hadapi.  Tentang hutang-hutang yang Iel tanggung. Tentang beban hidup yang Iel pikul. Keadaan tiba-tiba saja menjadi lebih sunyi. Mereka terdiam cukup lama.

"Bantu Shilla, Pa. Bantu Iel lunasi hutang-hutangnya. Shilla sangat menyanyangi Iel dan keluarganya. Bagi Shilla, kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan Shilla. Shilla gak mau melihat mereka menanggung beban yang tidak seharusnya mereka tanggung. Tolong bantu Shilla bebasin kebahagiaan Shilla, Pa."

Pak Edwin tak langsung merespon. Ia menatap Shilla tak percaya. Mencari maksud apa yang Shilla pikirkan. Mencoba memahami Shilla. Mencoba menyelami lebih dalam perasaan putri satu-satunya itu pada laki-laki yang entah kenapa bisa membuat Shilla begitu mencintainya.

"Pa... Shilla mohon. Cuma Papa harapan Shilla satu-satunya." Shilla mengatupkan kedua tangannya. Mata indahnya menyorotkan harapan penuh.

Pak Edwin menghela nafas. Mencari keputusan terbaik. Ia agak ragu sebenarnya. Terlebih begitu mendengar cerita Shilla bahwa uang yang harus dikeluarkan bukan jumlah kecil. Tapi, melihat Shilla, putri satu-satunya yang begitu disayanginya, anak gadisnya yang tidak ingin ia kecewakan, memaksa ia akhirnya mengangguk dan tersenyum. Shilla refleks saja memeluk Ayah terbaiknya itu. Ia sampai menangis terharu dan bahagia mendengar keputusan itu.

------------------------

-Flashback end-

Bola mata Iel membulat sempurna. Ia bahkan sampai menghentikan langkahnya saat Shilla menyelesaikan ceritanya. Padahal tinggal beberapa langkah lagi mereka melewati pintu keluar mall. Ia menatap gadis di hadapannya tak percaya. Untuk beberapa saat ia lupa caranya berkedip. Ia merasa sedang berenang di tengah-tengah lautan mimpi dan tidak tahu jalan pulang.

Melihat ekspresi Iel yang -menurut Shilla- begitu lucu, membuat gadis bernama lengkap Ashilla Zahrantiara itu terkekeh pelan. Sebentar ia menatapi wajah 'cengo' kekasihnya itu sebelum akhirnya meraih tangan Iel. Oh, bahkan Iel masih tak berekasi saat ia menyentuh tangan kokoh itu. Baru saat ia




"Auw! Lo ngapain gigit tangan gue, Shil?" Iel menjerit dan meringis bersamaan saat tiba-tiba saja gigi rapi dan putih Shilla menggigit punggung tangannya. Beberapa orang yang ada di sekitar mereka seketika menoleh. Melemparkan pandangan bertanya. Merasa tidak ada hal berarti selain aksi konyol pasangan muda, orang-orang itu kembali sibuk dengan aktifitas masing-masing.

"Gue cuma mau ngasih bukti kalo saat ini lo tuh gak lagi mimpi, Yel." Shilla nyengir. Diraihnya tangan Iel yang sedang dikibas-kibas pemiliknya. Diperhatikannya bekas tancapan giginya yang lumayan dalam di tangan itu. Lantas tanpa banyak kata, diciumnya tangan -tepat di bagian bekas gigitannya- itu cukup lama.

Sebenarnya, Iel cukup bahagia dengan aksi Shilla saat ini. Kecupan lembut Shilla di tangannya seperti menghantarkan sesuatu yang hangat ke dalam hatinya. Ingin rasanya waktu berhenti saat ini juga. Demi cintanya pada Shilla yang tidak bisa diukur dengan penggaris, betapa ia ingin momen ini terus berlangsung selamanya. Tapi, melihat ada banyak pasang mata yang memerhatikan adegan mereka, mau tidak mau ia harus menghentikan momen indah itu dan segera menarik Shilla keluar mall.

"Bersama lo, gue selalu merasa seperti sedang bermimpi." Iel menautkan jari tangannya di jari Shilla. Mereka menyusuri malam yang jutaan kali lebih indah dari biasanya.

Shilla tidak merespon. Ia bergelayut manja di tangan Iel.

Dan keheningan mulai menguasai.

"Shil, soal hutang gue"



"Hutang bokap lo."

"Iya, soal itu. Gue pikir lo gak usah—"



"Gak usah protes. Itu tuh udah jadi rejekinya orang baik kayak lo."

"Semuanya tuh terlalu berlebihan, Shil."

"Please, Yel. Kalo lo sayang sama gue, jangan pernah nolak yang satu ini."

"Selama ini gue gak pernah nolak apa pun. Tapi buat yang satu ini gue ngerasa ini berlebihan banget, Shil. Gue ngerasa gak enak deh sumpah!"

"Please, Yel. Gue udah bilang berapa kali sama lo kalo apa pun yang gue beri tuh tulus. Jadi jangan nolak, oke?!"

Akhirnya, Iel memilih untuk diam. Tidak mengiyakan dan tidak juga menolak. Pilihan dilematis menari-nari dalam pikirannya. Untuk hal-hal kecil yang Shilla berikan padanya, seperti kebutuhan sehari-harinya, mungkin itu terbilang cukup wajar. Tapi, untuk yang satu ini Iel perlu berpikir puluhan kali.

Bukan soal harga dirinya yang terasa jatuh. Karena sejak awal, selain ia menjatuhkan hatinya pada Shilla, ia menjatuhkan harga dirinya juga di hadapan gadis itu. Melainkan perasaan tak enak yang tiba-tiba saja mencekik kuat hatinya.

"Yel?"

"Hm?"

"Gue sayang sama lo."

"Hm..."

---------------------

"Pastikan ini terakhir kalinya kamu bersama-sama dengan Shilla. Jauhi dia..."

---------------------

To be continue...

-----------------------

Saya tidak tahu part selanjutnya kapan dipost. Mungkin bisa lebih cepat, mungkin juga bisa lebih lama. Jangan tanyakan kapan. Do’akan saja semoga segalanya diberi kemudahan dan kelancaran.

Terimakasih.

8 komentar:

  1. Aaaa akhirnya lanjut juga
    Lama bat gak dilanjut nih kak
    Oiya jangan berhenti di tengah jalan ya kak
    Suka banget sama cerbung ini

    Oiya buat cakka sama alvin special partnya yang terakhir aja, kepo sama mereka berdua.
    Buat rio, kasih tau donk sakitnya rio itu apa dan kejelasan hubungannya sama ify

    BalasHapus
  2. Halo, Kak!

    Udah lama banget ga komen di sini. lg hectic bgt.

    Kak! Duluuuuuuuu bgt aku pernah blg di komen
    "Papanya shilla tidak 'tidak setuju' kan sama hubungan shiel?"
    Waktu itu aku udh seneng bgt papanya shilla adem ayem. But now..................... :(

    Kayaknya aku udh mulai bisa liat maksud dari judul cerbung kakak ini deh :(
    That's all about how these couples separate from their loving ones? Bener gaak?
    *sok tau aja dulu wkwk*

    Setuju deh sama notes kakak di akhir. Ku kan doain semoga kakak selalu dikasih inspirasi dan semangat buat nulis.

    Regards,
    Nana.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Kak, lanjuuttt. Part ify nya banyakin yaa :) ;)

    BalasHapus
  6. kanaee.. Next dong kak, jangan ngestuck dan bikin penasaran:(

    BalasHapus
  7. Kak, part alvinny dong... Banyakin yaa :D

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea