Selasa, 29 Desember 2015

Separation -Cakka & Agni-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 07.19
SEPARATION

-Special Part (Agni - Cakka)-

--------------------------


7 hari berlalu…

Langit masih dengan warnanya yang serupa. Birunya masih terlihat mendamaikan dengan kumulus-kumulusnya yang indah. Hitamnya masih tampak mengagumkan dengan taburan bintangnya yang terang benderang. Tapi, itu hanya tampak untuk orang-orang tertentu. Tidak untuk gadis yang pagi ini masih berkerumun di balik selimut tebalnya. Tidak peduli seberapa semangat sinar mentari yang mengetuk jendela kamarnya. Tidak peduli dengan teriakan ceria anak-anak komplek yang sudah memulai minggu pagi mereka dengan bermain sepeda. Selama beberapa hari ini ia sama sekali tidak tertarik menyambut pagi harinya. Dan tak berminat hanya untuk sekedar menatap indahnya malam berbintang.

Tak bersemangat. Benar. Ia benar-benar tak ada minat untuk melewati hari-harinya setelah ia sadar bahwa ada harapan semu yang menusuk sadis perasaannya. Galau. Mungkin seperti itu. Hei, tak ada gadis yang tidak galau saat ia disuguhkan sebuah harapan hampa, bukan? Tak terkecuali gadis yang saat ini masih anteng bermain-main dengan bunga tidurnya.  Demi Tuhan, kadang ia berpikir tertidur dan larut dalam mimpinya jauh lebih baik daripada menghadapi kenyataan yang mengecewakan dan menyakitkan.

Dalam hidup Agni—gadis itu—ini adalah pertama kalinya ia merasa sesuatu, yang orang bilang cinta, menyapa hatinya. Sejak kejadian seminggu yang lalu di taman rumah sakit malam itu, Agni yakin kalau ia sedang jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta. Ia tidak lagi mengelak, dan ia tidak lagi membiarkan hatinya menolak kalau ia telah jatuh hati pada Cakka. Terlebih saat ia melihat ada sorot lain juga yang Cakka berikan padanya. Semua yang Cakka lakukan waktu itu, membuat Agni merasa kalau Cakka merasakan hal yang serupa sepertinya.

Tapi, Agni baru tahu kalau ternyata cinta itu menyesakkan seperti saat ini. Saat ia sadar bahwa ia sudah terperosok dalam ruang harapan yang kosong tanpa udara. Ia tidak pernah tahu kalau ternyata, cinta itu hanya tumbuh dalam hatinya sendiri. Cakka tidak benar-benar mencintainya. Sampai sekarang, Agni masih bertanya, apa Cakka hanya memberinya harapan kosong? Atau ia yang terlalu percaya diri kalau Cakka mencintainya? Apa pun jawabannya, tidak ada yang bisa membuat hatinya yang perih kembali pulih.

Sejak kejadian di taman rumah sakit waktu itu, Agni tidak pernah lagi melihat Cakka. Cakka seperti menghilang begitu saja. Tak ada seorang pun yang tahu ke mana perginya laki-laki itu. Padahal, Agni sudah berharap apa yang Cakka katakan waktu itu bukan hanya sekedar gombalan basi saja. Ia berharap kalau Cakka benar-benar mengajaknya jalan yang kemudian berakhir dengan pernyataan cinta padanya. Tapi, apa yang diharapkannya tidak sesuai dengan kenyataan hingga membuatnya terluka seperti sekarang ini.

Cakka pergi entah ke mana. Cakka tidak mengirimnya pesan. Cakka tidak memberinya kabar. Cakka memberinya harapan hampa. Cakka tidak pernah mencintainya. Kenyataan itu membuat Agni terpuruk pada akhirnya. Di seminggu ini ia bahkan hanya masuk sekolah beberapa hari dan selebihnya ia habiskan waktunya untuk mengurung diri di kamar. Berteman dengan kekecewaan dan kesedihan. Berusaha melupakan rasa yang justru semakin kuat dan menancap di relung hati.

Dan minggu pagi ini, Agni memutuskan untuk tidur lebih lama. Karena itu satu-satunya cara agar nama Cakka tidak menggerayami dinding hatinya. Seminggu ini, Agni merasa ratusan kali lebih lelah dan ia ingin beristirahat. Tak ingin mengingat apa pun yang membuatnya begitu terluka. Sebelum akhirnya…

“Agniiii… ada Cakka!”

Bola mata Agni sontak saja terbuka. Dalam satu gerakan ia menyibak selimutnya dan terduduk di atas tempat tidurnya. Entah kenapa tiba-tiba saja jantungnya bergemuruh. Berdetak tak karuan. Untuk beberapa saat matanya yang tampak sayu itu menatap kosong dinding kamarnya. Memastikan kalau saat ini ia sudah benar-benar terbangun dan tidak sedang berada dalam mimpinya.

“Ag… mau tidur sampai kapan?”

Suara ibunya yang diiringi ketukan pintu menyadarkannya kalau ia memang sudah berada dalam dunia nyata. Masih dengan gemuruh di dadanya, gadis tomboi itu segera turun dari tempat tidurnya. “Bentar, Bu.” Melesat ke dalam kamar mandi. Cuci muka, gosok gigi, dan segera keluar kamar tanpa sempat mengganti baju tidurnya.

“Di mana?” tanya Agni tak sabar.

“Di depan. Dari tadi di bangunin susah banget sih!”

Tanpa memedulikan gerutuan ibunya, segera saja Agni melangkah menuju depan rumah. Memastikan kalau laki-laki yang selama seminggu ini memenuhi otaknya benar-benar ada di sana.

----------------------------

Seperti ada lampu merah, Agni menghentikan langkahnya di ambang pintu. Membeku. Membatu. Jantungnya yang sempat berdebar tak karuan, terasa menghisap seluruh darahnya. Ada rasa yang menyekat di tenggorokannya saat matanya menangkap sosok itu. Kerinduan yang terbendung dalam dadanya seketika buncah, membuat lidahnya kelu. Hanya sorot matanya yang di penuhi kaca-kaca bening itu yang menggambarkan seberapa bahagianya ia saat ini. Dan sedetik kemudian, gadis itu menangis. Tak sanggup lagi menahan semuanya. Menahan air mata kerinduan yang selama beberapa hari ini terbendung sempurna.

Cakka yang semula asyik dengan ponselnya dan tak menyadari keberadaan Agni di ambang pintu, seketika menoleh saat ia mendengar ada isak pelan di sana. Merasa kalau tak ada pergerakan berarti dari gadis itu, Cakka segera berdiri, mendekat ke arah Agni. Sedikit mengernyit melihat aksi menangis Agni sebelum akhirnya—

“Ke mana aja?”

—pertanyaan yang Agni lontarkan membuatnya mengerti dan mau tak mau memamerkan cengirannya. Perasaan bahagia menyelimuti hatinya. Bukankah Agni sedang menangisinya saat ini? Senyuman Cakka semakin lebar.

“Lo nyebelin tau, gak? Tukang bulshit. Tukang bohong. Tukang gombal. Lo pikir gak sakit hati apa, di PHP-in? Gue pikir malem itu lo gak cuma gombal. Padahal gue bener-bener udah ngarep lo ngajak gue jalan. Taunya itu cuma gombalan basi doang. Gue benci tau sama lo! Gue benci sama lo! Gue ben—”

“Nggak. Lo kangen sama gue. Gue tau lo kangen sama gue, Ag.” Cakka menarik Agni ke dalam dekapannya. Membiarkan Agni menangis di dadanya.

Agni tak memberontak saat tangan Cakka mengusap pelan kepalanya, sedikit menekannya hingga wajahnya benar-benar terbenam di dada laki-laki yang saat ini mengenakan jaket merah cerah itu. Wangi parfum yang Cakka gunakan, menggelitik hidung bangirnya. Menenangkan kegundahan hatinya. Entah kenapa, dekapan Cakka membuat ia merasa hatinya aman dan damai.

“Maaf.” Cakka sadar, semuanya memang murni kesalahannya. Tepatnya, kesalahan kondisi tubuhnya yang seminggu kemarin drop dan mengharuskannya mendapat perawatan yang lebih intensif. Ia tidak diperbolehkan keluar rumah sakit. Bahkan tiga hari yang lalu ia sempat dipaksa menginap di ICU. Padahal, ia sudah merencanakan ke mana ia akan mengajak Agni pergi.  Penyakit sialan ini benar-benar tidak tahu waktu. Cakka hanya bisa merutuk kesal saat itu.

“Gue kepedean banget ya, Kka?” tanya Agni lirih.

Cakka menggeleng. “Nggak. Gue emang beneran pengen ngajak lo pergi. Hari ini.”

“Hah?”

----------------------------

Agni menatapi pemandangan indah di luar mobil dari balik jendela. Pohon-pohon pinus tampak berdiri gagah di pinggir-pinggir jalan. Dalam hati, gadis tomboy itu tidak berhenti mengangumi keindahan alam yang mereka lewati. Beberapa kali bibirnya menggumamkan kata “wow” dengan intonasi sepelan mungkin. Semuanya membuat Agni melupakan pertanyaan ke mana Cakka akan membawanya pergi hari ini. Padahal sepanjang jalan, ia sudah mengoceh panjang lebar menanyakan ke mana tujuan mereka. Cakka sama sekali tidak memberitahu ke mana mereka akan pergi.

 Cakka yang masih fokus dengan kemudinya hanya tersenyum melihat hal itu. Di matanya saat ini, Cakka melihat sesuatu yang berbeda dari diri Agni. Entah kenapa, raut kagum yang Agni ekspresikan membuatnya terlihat begitu lucu dan manis. Dan itu menciptakan getaran aneh dalam dada Cakka. Kalau boleh jujur, Cakka bertaruh bahwa Agni terlihat lebih indah dan cantik dibandingkan dengan pemandangan terindah yang ada di dunia ini.

“Gue selalu bertanya-tanya kenapa pohon pinus itu selalu berdiri kokoh. Daunnya bahkan tetap berwarna hijau dan tidak pernah berguguran meski di musim salju sekalipun.” Agni masih menatap keluar jendela. Tidak memedulikan Cakka yang tengah menatapnya dengan lembut kali ini.

“Lo mau dengerin cerita gue gak?” tanya Cakka. Ia melajukan mobilnya sepelan mungkin. Menatap lurus ke depan saat Agni mulai menoleh ke arahnya.

“Cerita apa?” Entah kenapa, Agni merasa Cakka banyak berubah akhir-akhir ini. Laki-laki yang biasanya aktif, cerewet, menyebalkan, jail, dan slengean itu, terlihat lebih kalem dan pendiam. Tak lupa dengan wajahnya yang terlihat lebih tirus dan pucat membuat Agni merasa kalau Cakka sedang tidak berada dalam kondisi baik-baik saja saat ini.

“Sebenarnya… dulu, daun pohon pinus dan cemara itu sama seperti daun-daun yang lainnya. Bisa berubah menjadi kuning dan berguguran di musim dingin. Tapi, suatu hari, ada seorang pemburu yang sangat hebat bernama—“

“Cakka.” Agni memotong dengan cepat saat melihat Cakka tampak berpikir.

Cakka tersenyum sebelum melanjutkan. “Bernama Cakka, pergi ke dalam hutan pinus. Ia masuk dengan sangat jauh ke dalam hutan itu hingga bertemu dengan manusia-manusia kecil.”

“Seperti kurcaci dalam film Snow White?”

Cakka menerawang, berpikir sejenak.

“Ah, apa seperti manusia hobbit, Frodo Baggins dalam film The Lord of The Ring?”

“Pokoknya manusia kecil, seorang homo floresiensis, yang mengaku bahwa mereka adalah Manusia Abadi. Mereka meminta bantuan pada Cakka si pemburu untuk menangkap seorang monster mengerikan yang telah membunuh penduduk mereka. Meski sedikit ragu membayangkan seberapa menyeramkannya monster itu, akhirnya Cakka mau membantu manusia kecil itu.

Cakka pun pergi untuk mencari monster itu. Tapi, sepanjang ia tidak menemukan jejak monster dan hanya menemukan seekor serigala. Ia memburu serigala itu sebelum kembali mencari monster yang Manusia Abadi jelaskan. Tapi, bejam-jam Cakka mencari ia sama sekali tidak menemukannya sehingga ia memutuskan untuk kembali dan bilang pada Manusia Abadi kalau ia tidak menemukan monster apa pun dan hanya menemukan serigala. Namun, Manusia Abadi itu bersorak riang karena ternyata monster yang mereka maksud adalah serigala yang berhasil Cakka buru. Mereka berterimkasih padanya  dan berjanji akan memberi Cakka dan bangsanya sebuah hadiah.”

“Lalu?”

“Cakka si pemburu pun pulang dan bercerita pada penduduk di desanya tentang pengalamannya. Penduduk desa pun mulai menunggu kedatangan si Manusia Abadi. Namun, Manusia Abadi tidak datang sampai minggu dan bulan bahkan tahun berikutnya. Hingga semua orang pun berhenti berharap.”

“Terus?”

“Musim dingin pun tiba. Semuanya membeku. Saat itu ada beberapa wanita desa yang pergi ke hutan dan mengumpulkan kayu. Mereka berjalan cukup jauh dan bertemu dengan manusia-manusia kecil. Manusia-manusia kecil itu tampak membawa guci. Wanita-wanita itu melihat mereka dengan wajah lucu dan saling teriak satu sama lain, “Lihat! Lihat! Mereka lucu sekali. Hahaha…” Mereka cekikikan dan membuat manusia kecil itu merasa terhina dan membanting guci-guci yang mereka bawa ke tanah. Akar-akar pohon pinus dan cemara pun menyerap air dari guci-guci yang ternyata air kehidupan yang akan dihadiahkan kepada Cakka si pemburu.

Nah, sampai sekarang manusia tidak bisa hidup abadi, sebab pohon cemara dan pinuslah yang mendapat air kehiduapan itu. Itu sebabnya daun-daunnya yang seperti jarum itu, tetap hijau sepanjang tahun. Tidak menguning, dan tidak gugur bahkan di musim salju.”

Agni membulatkan bibirnya. Ber-oh cukup panjang begitu Cakka menyelesaikan ceritanya. Ia baru tahu asal-usul cerita tentang pohon pinus yang saat ini menjadi pemandangan di sepanjang jalan. Sekali lagi, Agni menatap Cakka lamat-lamat dan tersenyum simpul. Untuk ke sekian kalinya ia melihat sisi lain dalam diri Cakka. Dan apa yang dilihatnya, kembali memberi hawa sejuk dalam dadanya.

“Sejak tadi, lo nanya ke mana tujuan kita sebenarnya, kan?”

“Hm…”

“Sebuah tempat di mana gue bisa terus menggenggam tangan lo sepanjang waktu.”

Mendengar hal itu, hati Agni bergetar. Ia tersenyum. Demi Tuhan, ini kali pertamanya ia diajak jalan seperti ini, disuguhi kata-kata yang begitu manis oleh seorang laki-laki. Dan ternyata, rasanya begitu indah. Lebih indah dari sekedar menonton film romantis.

-----------------------

Faktanya, Cakka benar-benar tidak melepaskan genggaman tangannya. Dua jam setelah mereka turun dari mobil, dan memasuki sebuah vila berukuran sedang, mereka duduk berdua di beranda. Menatapi ikan-ikan kecil berwarna-warni di kolam yang terdapat tepat di depan vila. Vila keluarga Nuraga. Tidak begitu besar, terkesan sederhana namun terlihat begitu menawan dilihat dari sisi mana pun. Saat pertama kali melihat vila itu, perasaan kagum langsung singgah dalam dada Agni. Cakka benar-benar membawanya ke tempat yang indah.

"Waktu itu emang yang paling berkuasa banget ya? Dulu gue tuh sebel banget sama lo. Gue bahkan bilang amit-amit kalo sampai punya cewek kayak lo. Gue gak tau kalau sekarang gue pengen banget lo di samping gue sepanjang waktu."

"Sama gue juga." Agni terkekeh. Mengingat kembali bagaimana hubungan ia dan Cakka dulu. Tidak pernah akur. Saling mengerjai. Saling mengejek. Tapi saat ini, ia bahkan tidak ingin melepaskan genggaman Cakka dari tangannya. "Gue gak bisa berhenti mikirin lo, Kka." Agni menyandarkan kepalanya di bahu Cakka.

"Ternyata benar, ya? Kita tidak boleh membenci seseorang dengan berlebihan karena kita tidak tahu kalau suatu saat orang itu akan menjadi orang yang kita cintai."

Agni mengangguk. "Gue bahkan masih inget pertemuan pertama kita. Rasanya, begitu menyebalkan, tapi itu yang paling gue inget tentang lo."

-Flashback-

Hari terakhir MOS memang selalu identik dengan hiburan. Berbagai macam permainan menarik yang dibuat oleh kakak-kakak mentor dan senior. Di antara semua siswa baru, tidak ada yang tidak terhibur dan tertarik. Termasuk keenam siswa baru yang saat ini masih mengenakan seragam putih biru mereka. Cakka, Iel, Alvin, dan Rio, serta Shilla dan Ify, tampak berdiri bersama kelompok masing-masing.

Nama permainan saat ini. "Mencari Teman Dalam Kegelapan."

Penglihatan Cakka seketika gelap saat kakak mentornya menutup rapat matanya. Ia peserta game kali ini. Matanya ditutup dengan sangat rapat sebelum akhirnya ia masuk ke area permain. Lapangan olahraga kali ini disulap menjadi sebuah labirin bersekat meja. Sebisa mungkin ia mencari teman satu kelompoknya yang masuk lewat jalan yang lain. Entah di mana.

"Ke kanan, Kka. Kiri. Ya, lurus terus. Masih jauh. Si Patton di ujung lapangan."

Sambil meraba-raba udara, Cakka bergerak sesuai intruksi temannya dari pinggir lapangan. Cukup bingung karena ia harus berkonsentrasi penuh pada suara teman satu grupnya itu. Terlalu banyak suara, hingga membuat kepalanya pusing dan ia menabrak meja dan beberapa orang yang ternyata bukan teman setimnya.

"Terus, Kka, lurus. Awas meja! Kanan. Kiri. Terus. Belok. Rio, sebelah sini. Angel lo salah arah. Lo harusnya ke arah sini, Fy. Debo jalan keluarnya sebelah sini."

Suara Kiki, teman segrupnya saling bersahutan dengan suara-suara lainnya, membuat Cakka benar-benar bingung. Suara Kiki lindap, kalah oleh suara lainnya. Membuat Cakka benar-benar tidak tahu harus bergerak ke arah mana. Alhasil ia hanya muter-muter tak tentu di tempatnya sebelum akhirnya.

"Agni! Cakka! Awas!"

BRUK!

Cakka meringis. Agni juga meringis. Buru-buru mereka membuka tutup mata mereka dan terbelalak kaget saat mereka benar-benar berada pada posisi yang sungguh tidak elit. Tubuh Agni berada tepat di atas tubuh Cakka.

"Agni, awas mejanya jatuh!"

Agni baru akan bangkit saat tiba-tiba saja Cakka merubah posisi menjadi di atasnya hingga mau tidak mau meja yang hendak menghantam punggung Agni menjadi menghantam punggung Cakka. tapi, bukan itu yang membuat mata Agni tiba-tiba membulat. Sesuatu yang lembut tiba-tiba saja menempel di bibirnya. Untuk sepersekian detik Agni terdiam, sampai akhirnya gemuruh suara di sekitarnya menyadarkannya. Ia buru-buru mendorong tubuh Cakka dan menonjok perut Cakka dengan kesal hingga tubuh laki-laki itu menjauh.

Cakka meringis. Demi Tuhan, ia tidak bermaksud mencium Agni. Berat meja yang menindihnya membuat mukanya dan Agni menjadi dekat. Lebih dari dekat. Ia benar-benar tidak sengaja.

"Lo! Cari kesempatan dalam kesempitan. Nyebelin tau, gak?"

"Gue-gue, gak sengaja sumpah!"

"Bohong!"

"Beneran ih! Gue gak sengaja." Cakka bingung cara menjelaskan pada gadis yang baru pertama kali dilihatnya itu. Sebelum akhirnya...

"Kalian dihukum karena sudah membuka penutup mata sebelum berhasil menemukan teman kalian dan keluar dari area permainan."

Cakka menghela napas. setidaknya hukuman yang diberikan seniornya jauh lebih baik ketimbang memikirkan bagaimana menjelaskan semuanya pada Agni.

Berdiri di tengah lapangan. Ditonton banyak orang. Menyanyikan lagu anak-anak dengan lantang sembari berjoget. Gila. Benar-benar ide yang bukan main gilanya. Wajah Cakka bahkan sudah seperti kepiting rebus. Cakka benar-benar merutuki hari terakhir MOS-nya. Rasanya ia ingin bersembunyi di tempat tergelap di dunia ini. Image-nya benar-benar hancur bahkan sebelum ia resmi menjadi bagian Albider.

"Cakka Nuraga! Nyanyikan lagu Cicak-Cicak di Dinding, dan kamu Agni Trinurbuwati! Nyanyikan lagu Potong Bebek Angsa. Nyanyikan bersamaan, dengan tempo cepat beserta gerakannya. Sekarang!"

Dan tawa langsung membahana di seluruh lapangan begitu Cakka dan Agni memulai hukuman mereka. Shilla, Ify, juga Iel bahkan ikut menertawakan Cakka. Setelah hukuman ini berakhir Cakka berjanji akan menjitak kepala mereka satu-satu. Ya, wajar saja mereka menertawakan ia dan juga Agni. Cara mereka berjoget, dan lirik lagu yang saling tukar -Agni yang malah ikut menyanyikan lagu yang Cakka nyanyikan atau sebaliknya- membuat mereka tampak begitu lucu.

"Ini semua gara-gara lo. Gue pastiin urusan kita gak sampai sini saja," kecam Agni kesal setelah hukuman mereka selesai. Ia menatap Cakka sebal sebelum akhirnya meninggalkan Cakka yang hanya bisa menggaruk belakang kepalanya.

-Flashback End-

"Gue sebel pas sadar kalo cowok model lo yang rebut ciuman pertama gue." Agni menjauhkan kepalanya dari pundak Cakka. Ditatapnya wajah pucat Cakka dengan rinci. Betapa ia yakin, kalau ternyata Tuhan selalu punya rencana terindah untuk setiap makhluk-Nya. "Tapi, kalau saja gue tau pada akhirnya kita kayak gini, gue gak berhak menyesali kejadian itu."

Cakka hanya tersenyum lebar mendengar kata-kata Agni. Ia menggenggam tangan Agni semakin kuat. Ia benar-benar ingin terus menggenggam tangan itu seharian ini. Kalau bisa selamanya, sampai ia benar-benar menyerah akan penyakitnya. Karena ia sadar, tak ada yang membuatnya menjadi lebih kuat dan lebih tangguh selain gadis yang saat ini duduk di sampingnya.

"Terima kasih." Cakka bangkit dari duduknya dan menarik Agni untuk ikut melangkah masuk ke dalam. "Makasih udah hadir dalam hidup gue, Ag. Dulu, hari ini, dan gue berharap hari-hari selanjutnya juga." Hari melangkah menuju malam. Udara di puncak memang bukan main dinginnya. Tubuh Cakka yang dulunya begitu kuat dan jarang sakit, sekarang menjadi lebih rentan dengan udara sedingin itu.

"Gue ngerasa ada yang aneh sama lo, Kka. Ada apa?" tanya Agni. Ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Masih dengan Cakka di sampingnya.

Cakka tak langsung menjawab. Kepalanya terasa begitu sakit. "Gak apa-apa. Gue cuma capek aja." Cakka membenarkan posisinya. Mencari posisi yang nyaman untuk tubuhnya yang terasa lemas.

"Kalo gitu lo tidur aja. Gue siapin dulu tempat tidurnya, ya?" Agni hendak beranjak dari duduknya saat Cakka kembali menariknya. Agni kembali duduk.

"Gue tidur di sini aja." Lantas, tanpa menunggu persetujuan, Cakka langsung menidurkan kepalanya di paha Agni. Agni terhenyak, sebelum akhirnya tersenyum simpul, dan mulai mengelus lembut rambut Cakka.

Tidak ada hal yang terjadi selama beberapa menit sampai Cakka benar-benar tenggelam dalam bunga tidurnya. Agni menatap Cakka lamat-lamat. Wajah pucat Cakka, tubuh kurus Cakka, sikap Cakka, semua perubahan Cakka, tanpa perlu berpikir keras dan mencari jawaban ke sana-sini, Agni tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan Cakka. Ada sesuatu yang disembunyikan Cakka dari dirirnya dan juga yang lainnya. Dan sesuatu itu bukan perkara sepele, terlebih saat Agni sadar ada banyak helai rambut di tangannya saat ia mengelus rambut hitam laki-laki itu.

"Kka, lo sakit, kan?" Air mata Agni menetes begitu saja.

-----------------------

"Saya mohon, jika kamu benar-benar mencintai Cakka, jauhi dia. Biarkan dia jalani hidupnya selain denganmu."

-------------------------

TBC

Maaf atas keterlambatan post. ^^
Karena kelamaan ditunda, saya lupa konsep awal separation ini. alhasil, semuanya jadi geje kayak gini.
Tapi insya allah untuk spesial  part selanjut gak lama. Insya allah...

yang udah kasih saya support dengan komentar-komentarnya, Terima kasih ^^
Salam hangat dari saya...

Oya, baca cerita saya yang lain di ---> Wattpad : Naesu13






5 komentar:

  1. bagus😂😂😂 part selanjutnya kapan??

    BalasHapus
  2. nggak bisa komen apa-apa. cuma jgga sabar dengan spesial part selanjutnya. keep writing separation kanae :3

    BalasHapus
  3. Halo, Kak.

    Aku udah baca dari lama sebenernya tapi aku lupa belum ninggalin komen wkwk.
    Seperti biasa, aku suka ceritanya dan pas banget aku emang lg inget cagni waktu baca ini.
    Bisa ga sih cakka dikasih sari pati pinus sama cemara? Biar tetep sehat? *kebawa dongengnya* tapi serius, mungkin itu yg ada di pikiran agni kalau tau dengan pasti cakka sakit.

    Dan aku baru tau kalau asal ejekan children song cagni itu dari kejadian MOS. Kirain karena nama mereka aja wkwk.

    Seperti biasa, aku ga bisa maksa kakak buat cepet update, cuma bisa bilang kalau aku selalu nunggu update-an cerita kakak ini *azeg*

    BalasHapus
  4. lanjutin cerita ini lagi kakkkkkkkkkk

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea