Minggu, 06 Maret 2016

Separation -Ray & Nova-

Diposkan oleh Nia Sumiati di 03.47


SEPARATION

-Special Part (Nova-Ray)-


--------------------------

7 hari berlalu...

Waktu terus merangkak, meninggalkan detik untuk menyambut detik berikutnya. Rasanya sudah semingu sejak detik itu, ia melangkah melalui hari meski dengan cukup sulit. Kejadian waktu itu sempat terekam jelas oleh bola matanya, kemudian ter-save aman dalam hatinya. Rasanya seperti virus yang tak mampu di-delete meski dengan antivirus tercanggih sekalipun.

Seperti fragmen yang terus berulang. Berputar tiada lelah dalam ingatan. Membuatnya sesak, perih, dan diam-diam menangisi kenyataan paling pahit yang melukai hatinya.

Benar. Sejak dulu… semua orang yang disayanginya memang selalu berpaling dan kemudian meninggalkannya. Lagi dan lagi, kesunyian dan kesepian adalah teman yang paling setia menemaninya. Ia selalu sendiri. Benar-benar sendiri.

Seperti malam ini…

Secangkir white tea dan sepiring cake penuh meses adalah satu-satynya hal yang ia jadikan melampiasan kesedihan yang mengendap dalam jiwa. Lost Stars Adam Levine yang dibawakan penyanyi kafe mendayu-dayu di telinganya. Turut berkonspirasi dengan suasana hati yang membuat semuanya terasa lebih sendu.

“Lo ke mana aja sebenernya, Nov?”

Terlalu tiba-tiba untuk tidak terkejut. Gadis berkacamata itu bahkan nyaris tersedak jika saja ia tidak segera menelan minumannya. Buru-buru ia mengalihkan tatapannya ke arah si pemilik suara di samping kirinya. Memastikan gelombang suara yang baru saja bertepi di telinganya adalah suara orang yang selama ini selalu dirindukannya.

“Lo ngehidar dari gue, kan?”

Nova tergagap sementara Ray sudah duduk di hadapannya. “Gue…” Nova benar-benar tidak tahu harus berujar apa. Ia sendiri tidak tahu fakta sesungguhnya yang saat ini ada dalam hatinya. Seminggu ini ia memang tidak bertemu dengan Ray atau berusaha menemui Ray. Ia hanya merasa lelah bersikap defensif selama ini.

“Lo marah sama gue?” tanya Ray lagi. Ia mulai tidak sabar dengan sikap Nova.

Nova menggeleng. “Nova cuma butuh waktu buat menata hati Nova balik, Kak. Rasanya Nova emang perlu nyerah. Toh, nungguin Kak Ray selama apa pun, ujungnya Nova bakal ditinggalin, kan? Orang kalau udah berpaling sama sesuatu yang lebih baik, kemungkinan untuk menoleh ke arah sebelumnya itu kecil banget.” Nova mengaduk white tea-nya. Tak berniat sekalipun untuk kembali menatap kakak kelas di hadapannya. Terlalu menyakitkan.

“Gue tau kalo lo terluka, Nov. Dan gue yang udah lukain lo. Gue emang udah berpaling dari lo. Tapi, semudah itu ya lo mutusin buat pergi gitu aja?”

“Nova gak nyangka Kakak seegois itu.” Nova menggigit bibirnya. Menahan sesak. Bagaimana pun juga, kata-kata Ray sungguh menyakiti hatinya. Seperti itukah Ray berpikir tentang dirinya? Bahkan sampai sekarang Ray adalah laki-laki nomor satu yang menempati tahta paling tinggi hatinya. Butuh waktu lama untuk ia melupakan Ray meski sampai saat ini ia tidak bisa. Tidak pernah bisa.

Dalam satu gerakan, Nova bangkit dari duduknya. Meninggalkan uang lima puluh ribuan di atas meja. Meninggalkan white tea-nya yang mulai mendingin, sedingin hatinya saat ini. Meninggalkan cake penuh meses yang belum sempat dimakannya. Meninggalkan Ray yang masih membisu di tempatnya.

Ditariknya napasnya sedalam mungkin begitu kaki bersepatu merah marun itu melangkah keluar dari kafe. Menahan sesak dan perih. Nova tidak ingin menangis karena ia lelah untuk itu. Ia sudah menangis sejak tahu kalau Ray-nya telah berpaling. Orang yang selama ini ditunggunya tanpa lelah tidak lagi mencintainya. Orang yang membuatnya menanggung kerinduan tanpa ujung, tak menginginkannya lagi namun ketika ia ingin pergi, langkahnya dicegah. Demi Tuhan, Nova hanya gadis biasa yang bisa rapuh ketika semua hal yang begitu diharapkannya selama ini mengkhianatinya.

“Gue gak ngerti tau, gak?! Sedrama inikah hidup gue?” Nova meracau di tengah langkahnya. “Dia pergi dari gue tanpa gue tau ke mana. Dia kembali dan gue denger dia sakit parah. Kemudian dia bilang dia berpaling dari gue. Di saat gue mau berusaha melupakannya, dia bilang dengan mudahnya gue lakuin itu? Sebodoh itukah gue?” Nova berbicara pada angin malam yang terasa ribuan kali lebih dingin. Tanpa sadar kalau Ray mengikutinya dari belakang.

“Kak Ray sialan! Gue bahkan gak pernah bisa berhenti melupakannya. Bagaimana bisa dia bilang kalau gue melupakannya dengan mudah?” Nova menghentak-hentakan kakinya di setiap langkahnya. Dilepaskannya kacamata sewarna sepatunya yang sudah mulai berembun. Kesal, sedih, sakit, sesak, semuanya bercampur dan hampir saja merobohkan pertahannya jika saja tangan seseorang tak melingkar di tubuhnya.

“Maaf…”

Nova terhenyak. Ia kenal dengan suara dan tangan kurus yang saat ini merengkuh tubuhnya. Langkahnya terhenti seketika. Bola matanya yang sudah membendung banyak air mata membulat seketika. Tak peduli bahwa saat ini mereka sedang berada di jalan, ia tidak beniat melepaskan pelukan Ray. Meski Ray sudah berpaling dari dirinya, tapi pelukan milik laki-laki pengidap penyakit kanker itu tetap sama. Hangat. Lembut. Nyaman. Nova tidak ingin sedetik saja melewatkan hal itu.

“Angel, wanita yang sudah membuatku berpaling darimu, akan bertunangan seminggu lagi. Bertahanlah untukku dan buat aku berpaling padamu lagi. Kumohon, Nov… Jika tidak bisa seperti itu, tetaplah di sisiku sebagai orang yang sama-sama patah hati. Setidaknya kita bisa saling menguatkan sampai kita bisa menyatukan dua hati yang patah ini menjadi satu.”

Bergeming. Lama. Tak ada yang bisa Nova katakan. Lidahnya kelu. Hanya air mata yang sejak tadi dibendungnya yang megikrarkan banyak kata. Meski Ray tidak sepenuhnya kembali berpaling padanya, tapi harapan yang sempat padam itu kembali muncul ke permukaan. Rasanya seperti White Tea yang terasa pahit campur manis tapi begitu menenangkan.

“Kumohon…”

“Jahat!” Dalam sedetik Nova membalikan tubuhnya. Dipeluknya tubuh Ray yang kurus itu dengan erat. Dibenamkannya wajahnya di dada laki-laki yang saat ini mengenakan baju hangat super tebal itu. Air matanya menderas juga pada akhirnya.

Semakin erat pelukan Ray, semakin keras juga tangis Nova. Mereka bahkan tidak peduli dengan tatapan heran orang-orang yang berlalu di sekitar mereka. Aksi pelukan mereka saja sudah mengundang banyak perhatian, sekarang ditambah tangisan Nova yang seperti anak kecil, membuat mereka yang sedang melintas di sekitar mereka menoleh dengan tatapan heran. Hidup Nova memang selalu penuh dengan drama.

“Kenapa Kak Ray begitu jahat sama Nova? Emang Nova salah apa sama Kak Ray sampai-sampai Nova disakitin terus sama Kakak? Nova salah apa, Kak? Apa Nova pernah nyakitin Kakak? Apa Nova pernah bikin Kakak nangis? Apa Nova pernah buat Kakak terluka? Kenapa Kakak selalu bikin Nova me—”

“Maaf…” Luka sekecil apa pun tak pernah Nova guratkan dalam hatinya. Nova adalah satu-satunya gadis yang selalu membuatnya bahagia, sejak dulu. Ialah yang selama ini selalu menyakiti gadis itu. Ray merasa penyakit yang saat ini menggerogoti tubuhnya bahkan tidak bisa menebus rasa sakit yang Nova rasakan.

Tangis Nova semakin keras saja. Sebagai luapan emosi dan sakit yang sejak tadi, kemarin, dan masa-masa yang sudah dilewatinya.

---------------------

Aroma cokelat panas itu membuat hidungnya yang masih merah hasil menangis itu terasa lebih lega. Terlebih jika ingat kalau cokelat itu buatan orang yang begitu disayanginya. Rasanya begitu menenangkan, menyapa hatinya yang paling dalam. Lagi, Nova menghirup aroma khas minuman itu sebelum benar-benar meminumnya. Menangis sekeras itu memang melegakan, meski akhirnya kepalanya terasa cukup pening dan matanya begitu berat.

Ray menatap Nova dalam diam. Keputusannya membawa Nova ke rumahnya dan membuatkannya cokelat panas tidak begitu buruk ternyata. Nova terlihat menikmatinya meski ia tidak yakin kalau gadis pecinta novel itu sudah memaafkannya. Ia juga tidak terlalu berharap banyak untuk itu. Ia sadar terlalu banyak goresan luka yang diguratkannya dalam hati gadis itu.

Tak ada dialog yang berarti. Rasanya begitu awkward. Nova masih sibuk dengan cokelat panasnya. Ruang tengah keluarga Ray tampak sepi. Membuat keadaan semakin terasa lebih kelu. Ray ingin memulai pembicaraan, tapi semua kata seperti memusuhinya dan menghilang begitu saja. Sampai—entah di detik ke berapa—suara serak Nova terdengar, memecahkan keheningan.

“Ayo ke pertunangan Suster Angel bersama.” Diteguknya sedikit cokelat panas. Lantas menoleh sebentar ke arah Ray yang masih menatap ke arahnya. Ia tidak ingin lagi membahas masalah yang telah lalu. Meski rasanya masih menyakitkan, mencari topik yang lebih baru selain membahas maaf dan memaafkan yang pada akhirnya hanya membuat sedih lagi, itu sama sekali tidak membantu.

Ray tersenyum. “Tapi sebelumnya… ayo habiskan waktu bersama malam ini.”

Untuk kedua kalinya hampir saja Nova tersedak mendengar kata-kata Ray. Matanya melotot penuh ancaman. Kode keras kalau ia tidak akan tinggal diam jika Ray melakukan tindakan macam-macam.

“Hanya seperti ini…” Ray membawa tubuh Nova ke dalam rangkulannya. Terkekeh pelan setelahnya.

Wajah Nova memerah. Semerah hidungnya. Pelan, ia memukul lengan Ray. Tapi buru-buru ia menjatuhkan kepalanya di bahu Ray. Tertawa pelan. Rasanya begitu hangat. Lebih hangat dari cokelat panas digenggamannya. Seandainya ini terjadi selamanya. Seandainya hati Ray masih untuknya dan belum berpaling seperti sekarang, semuanya pasti jauh lebih hangat lagi.

“Beritahu Nova bagaimana caranya agar Kakak mau berpaling lagi sama Nova.” Karena sungguh Nova tidak ingin kehilangan Ray. Dalam hidupnya, Nova hanya ingin Ray. Ray seutuhnya.

Senyum tipis Ray sematkan. Tak ada respon apa pun yang Ray lafalkan karena tiba-tiba saja ada denyutan hebat yang menjalar di kepalanya. Ia meraih gelas digenggaman Nova, menyimpannya di atas meja terdekat, lantas menarik Nova lebih dalam lagi dalam dekapannya. Ia biarkan wajah gadis satu tahun di bawahnya itu tenggelam di balik dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak. Digigitnya bibir bawahnya, menahan erangan untuk tidak lolos dari bibir pucat keringnya.

Tanpa tahu Ray yang tengah berusaha berjuang menahan sakit, Nova membalas pelukan Ray. Mencari ketenangan dan kehangatan di baliknya. Nova mengerti, Nova sadar, ia tidak perlu untuk tahu cara agar Ray-nya kembali berpaling lagi padanya. Karena seperti ini saja rasanya cukup.

------------------------

“Karena sekeras apa pun kalian berjuang, pada akhirnya takdir tidak akan memihak kalian. Jadi, berhentilah!”

---------------------------

To be Continue…

--------------------------

Tolong baca…

Sebelumnya, maaf karena aku sering sekali nunda-nunda separation ini. Demi mata sipit Alvin yang menawan, aku sama sekali tidak bermaksud membanding-bandingkan antara reader separation sama fanfiction yang aku buat. Karena faktanya, ada beberapa tulisanku yang silent readernya banyak—komentar/review-nya dikit—tapi masih aku lanjut. Banyak atau tidaknya yang kasih komentar, itu sama sekali gak berpengaruh. Hanya saja, kadang aku suka kehilangan arah buat lanjutin sebuah cerita. Daripada aku berhenti gitu aja, mending lanjutin cerita yang lain dulu kan? Yang emang lagi lancar jaya…
Jadi, maaf kalau ada yang mikir aku ngaret lanjutin separation karena komentarnya jauh lebih dikit dari cerita lain yang aku buat. Maaf…

Makasih juga yang masih mau nunggu dan baca kelanjutan separation ini meski separation part Nova sama Ray ini pendek bgt. Habisan, konflik mereka emang gak begitu berat sih… tapi, aku benar-benar berusaha keras mengumpulkan rangkaian cerita yang sempat tercecer *alaimodeon* untuk melanjutkan separation ini

Reader-ku yang baik… mungkin, ini part terakhir yang bakal aku post di blog ini. Untuk special part selanjutnya, silahkan follow wattpad-ku (naesu13) untuk bisa kalian baca. Insya allah gak lama-lama lagi. Doakan semoga semuanya diberi kelancaran.

Terima kasih…

Link separation at wattpad

https://www.wattpad.com/story/65104828-separation
 

5 komentar:

  1. Selalu nunggu kelanjutannya kak, tolong dipercepat yaa

    BalasHapus
  2. Kak... ini lanjut di wattpad yaa? aku komen di sana aja yaa... janjinya masih berlaku kan kak? yang kalau komen terus dan panjang? wkwk

    BalasHapus

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea