Jumat, 15 Juli 2016

Happiness

Diposkan oleh Nia Sumiati di 23.06



Bagaimana keheningan menjaganya. Bagaimana sepi melindunginya. Bagaimana gelap meninabobokannya. Dan bagaimana diam membuatnya tersenyum damai.

Aku tidak pernah mengerti semua ini. Tapi, aku lebih menyukai hal ini. Aku lebih menyukainya tertidur lelap seperti ini meski sungguh aku juga senang melihat binar terang di balik mata sepekat malam miliknya.

Apa aku psikopat? Tentu saja bukan. Meski aku lebih suka akhir sebuah kisah sad ending, aku bukan orang sejahat itu yang akan tertawa puas melihat orang yang diam-diam kucintai tertidur lelap dalam damai seperti ini. Rona pucat di balik wajah—yang baru kusadari—tampan itu bahkan meyakinkan hatiku bahwa dia yang selama lima  tahun ini hadir dalam hidupku tengah tertidur namun tidak untuk bangun kembali.

Tak ada air mata yang menetes meski aku menginginkan hal itu. Salahkan ia yang terlalu sering membuatku menangis hingga saat ia pergi seperti ini sungai di mataku mengering.

“Aya…”

Aku menoleh ke samping kiriku, tempat di mana Kanis—teman baikku—berdiri dan merengkuh tubuhku. Matanya sudah basah, dan aku begitu menginginkan air mata itu. Bagilah denganku, Kanis. Bagilah air matamu. Kau tahu betapa aku ingin menangis saat ini. Betapa aku juga kehilangan dirinya, betapa aku tak ingin melihatnya terbaring dengan kulit memucat, tak bernapas, dan tak bergerak seperti saat ini.

“Menangislah…” Kanis menggenggam tanganku lebih erat. “Meskipun kau berjanji tidak akan menangis saat ia pergi, menangislah jika itu membuatmu merasa lebih baik.”

Aku menggeleng. Kubenamkan wajahku saat itu juga di bahu Kanis. “Kanis… apa aku jahat jika aku merasa bahagia Ginan akhirnya seperti ini?”

Samar, kurasakan Kanis menggeleng. “Jika memang seperti itu, berarti aku juga sama jahatnya denganmu.”

“Jika jalan inilah yang Ginan pilih untuk akhir kisah hidupnya, itu berarti dia telah memilih jalan kebahagiaan versinya . Tidak ada alasan untuk kita tidak turut bahagia dengan keputusannya.” Mika berdiri di samping kami. Membawa kami ke dalam pelukan besarnya.


Aku akan menjemput kebahagiaanku. Dan aku tidak perlu lagi melihat kalian cemas ketika harus mengobati luka-lukaku.

Pesan terakhir dari Ginan.

*

“Apa salahnya melawan, Nan? Gue udah berapa kali bilang sama lo buat ngelawan?! Sumpah ya, gue gak ngerti sama lo! Lo tuh kelewat pinter atau bego sih?”

“Dia orangtua gue, Mika. Lo ngerti gak sih.”

“Gak ada orangtua yang nyiksa anaknya kayak gini tau gak?”

“Lo gak ngerti apa-apa.”

“IYA! Gue gak ngerti sama lo. Gak ngerti sama lo yang sekali aja gak pernah mau dengerin gue, Nan!”

“Bukan gitu, Mika. Gue—”

“Berhenti bikin temen-temen lo cemas bisa gak sih, Nan?! Gue gak mau lihat lo kayak gini terus.”

“OKE! GUE BAKAL BERHENTI BIKIN LO SEMUA KHAWATIR!”

Aku hanya bisa menghela napas lelah. Lima tahun persahabatan ini terjalin, itu pertama kalinya aku melihat Ginan yang selalu diam dan tenang berteriak dengan keras. Itu pertama kalinya aku melihat Mika yang konyol dan humoris begitu serius dan terlihat sangat marah. Itu pertama kalinya aku melihat Kanis yang selalu ceria menangis sesegukan di antara kami.

Masalah yang satu itu memang yang selalu bisa membuat kami berada di posisi goyah. Dan hari itu adalah yang paling parah. Separah luka-luka yang memenuhi tiap inci tubuh laki-laki tampan yang saat itu  duduk di hadapanku.

Baiklah… tanpa harus kujelaskan dengan rinci, aku yakin kalian mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi saat itu.

Saat aku mengenal Ginan, saat itu juga aku mengenal cinta. Aku mencintai Ginan dalam diam. Aku tidak pernah berani mengatakan perasaanku meski jarak kami hanya beberapa jengkal saja. Aku tidak pernah bisa menyentuh hatinya seperti aku menyentuhnya saat mengobati luka-lukanya. Perasaan ini terus terpendam, tak terungkap bahkan sampai ia menutup mata. Dan semua itu menciptakan kebencian dalam jiwa.

Sungguh, aku membenci diriku. Diriku yang selalu memilih diam dan menangis terpuruk di saat dengan jelas aku melihat tubuh rapuh itu menjadi samsak manusia keji yang mengaku diri sebagai ayah Ginan. Aku tak mampu membela dan hanya bisa menangis meski berulang kali aku melihat Ginan dipukuli dan disiksa tanpa henti. Harusnya saat itu aku berusaha melindungi Ginan, membawanya dalam dekapanku, menjadikan diriku tameng untuknya. Namun, aku terlalu pecundang untuk itu. Mungkin cintaku tidak sebesar itu meski aku tahu aku sangat mencintainya.

“Gue pergi.”

Aku yang hendak menempelkan plester di kening Ginan terhenti begitu laki-laki pucat itu menepis pelan tanganku. Ia berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan kami, meninggalkanku yang lagi dan lagi tak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa menatap nanar punggung tegak itu perlahan menjauh dan menghilang dari pandanganku. Rasanya, dadaku dihimpit sesak saat itu juga.

Kami membisu. Angin sore padang rumput yang kami klaim tempat favorit tiga tahun silam itu terasa menebarkan bau perpisahan saat itu.

*

“Aya…”

“Hm?” Dengan perlahan kutempelkan plester di dagu Ginan. Luka terakhir yang berhasil kuobati. Entah ke berapa puluh kalinya aku melakukan hal itu untuk Ginan. Yang pasti, itu terjadi tiga hari setelah perdebatan kami sore hari di padang rumput waktu itu.

Ginan menghilang setelah waktu itu. Membuat kami bertiga cemas dibuatnya. Lebih cemas dari melihat luka-luka di tubuh Ginan. Terlebih kata-kata Ginan sebelumnya yang seolah menyampaikan salam perpisahan pada kami. Aku tak berhenti menangis tiga hari itu hingga rasanya aku ingin mati saja.

Dan tadi pagi, ketika layar ponselku menampilkan panggilan dari Ginan, rasanya aku ingin berteriak, menarik napas lega sebanyak yang tak terhingga. Ginan ingin aku menemuinya di tempat biasa, tempat ini, padang rumput milik kami. Berdua, berdua saja. Rasanya… ada taman bunga paling indah yang tumbuh dalam sanubariku.

“Terima kasih.”

Aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

“Aya…”

“Hm?”

“Lo jauh lebih pendiam dari gue.”

Aku terkekeh mendengar ungkapan Ginan. Aku tidak berpikir seperti itu. Bersama Kanis aku bisa lebih cerewet dari apa pun.

“Lo juga harus lebih kuat dari gue setelah ini. Berjanjilah untuk tidak lagi menangisi gue setelah ini.” Ginan membereskan kotak P3K mini yang setelah aku tahu Ginan selalu dipukuli oleh ayahnya adalah hal terwajib yang harus selalu kubawa ke mana-mana. “Gue juga  janji ini terakhir kalinya lo bawa kotak P3K ini.”

“Ginan...” lirihku. Entah kenapa aku merasa kata-kata Ginan benar-benar salam perpisahan yang sesungguhnya. Bukan salam perpisahan untuk pergi tiga hari seperti sebelumnya. Aku merasa… tidak! Aku tidak ingin membayangkan hal itu. Rasanya begitu menyakitkan.

“Gue selalu berharap lo itu bawa sekotak nasi atau cake buat gue kalo ketemu. Bukan bawa obat merah dan plester seperti ini.” Ginan terkekeh. Ia menghempaskan tubuhnya di antara rumput. Menatapi plester luka merk hansaplast yang jadi lebih sering kubeli.

Mendengar hal itu, mau tidak mau membuat dadaku kembali melega. Aku turut menghempaskan tubuhku di samping Ginan. Menatapi wajahnya dari samping. Demi semua idola K-pop yang kugemari, Ginan jauh lebih tampan dari mereka saat ini. Wajahnya putih pucatnya tampak bersinar terang disapa matahari senja. Oh, Tuhan… aku jatuh cinta pada Ginan setiap harinya, dan hari ini adalah puncaknya. Ingin rasanya kuraih tangan kurusnya yang mengudara di sana, membawanya dalam genggamanku. Namun, lagi aku terlalu pengecut untuk itu. Aku hanya bisa mengepalkan tanganku kuat-kuat di antara pahaku. Menahannya untuk tidak melakukan itu. Aku terlalu takut, terlalu malu.

“Aya…” suaranya terdengar lagi. Ia menurunkan tangannya. Memanggil namaku dengan lembut tanpa menoleh ke arahku.

“Hm?”

“Sejak dulu gue sadar kalo gue terlahir bukan untuk bahagia. Gue anak di luar nikah. Gue sering banget digunjingin orang. Nyokap dan bokap gue cerai pas gue masih SD, tapi gue ngerasain gimana sakitnya itu. Sejak saat itu, bokap gue berubah dan sering banget mukulin gue tanpa alasan yang jelas. Tapi, lo tau? Sekasar apa pun dia, seberapa besar pun rasa marah gue sama dia, seberapa sering pun gue dipukuli sama dia, gue selalu sayang sama dia.”

Napasku tercekat. Mendengar cerita Ginan adalah hal yang paling kuinginkan selama ini. “Kenapa?” ragu kubertanya.

“Karena dia sayang juga sama gue. Meski gue gak tau sekarang dia masih sayang atau tidak, setidaknya dia pernah sayang sama gue. Kata pernah meski sesuatu yang lampau, itu tetap menyimpan kekuatan yang begitu besar.”

“Ginan…” Aku menoleh ke arahnya bersamaan dia menoleh ke arahku. Gue juga sayang sama lo. Dulu, hari ini, besok, dan sampai kapan pun. Tidak akan ada kata pernah karena sayang gue sama lo abadi. Lidahku kelu meski sesungguhnya aku begitu ingin mengungkapkan hal itu.

“Aya… gue ingin bahagia.”

Aku terhenyak saat tangan dingin Ginan menyentuh tanganku yang masih terkepal. Meski tak menggenggamnya dengan kuat, tapi aku merasa ada kehangatan yang tiba-tiba menjalar dalam hatiku. “Apa keberadaan gue, Mika, dan Kanis selama ini tidak pernah membuat lo bahagia, Nan?”

Samar, kulihat Ginan menggeleng. Aku hanya bisa mengembuskan napas letih. Merasa gagal menjadi sahabat yang baik.

“Aya, gue mau kita piknik. Kita berdua saja. Lo bawa sekotak nasi dan cake paling manis ya? Jangan bawa kotak P3K, oke?”

Ginan menatapku hangat. Sehangat sentuhan tangannya yang masih parkir di tanganku. Mendengar hal itu mau tidak mau membuatku tersenyum lebar. Aku mengangguk semangat. Terlebih mendengar kata-kata Ginan selanjutnya…

“Karena yang membuat gue bahagia hanya ada satu hal, Ya. Duduk di tempat ini dan menghabiskan senja berdua sama lo.”

“Ginan…” Gue sayang sama lo. Bagaimana caranya gue bilang ini sama lo? Gue sayang sama lo, Nan.
*

Sehari setelah pertemuan itu, Ginan benar-benar pergi piknik lebih dulu. Meninggalkan sekotak nasi dan cake paling manis yang kubuat. Meninggalkan sesak tiada ujung dalam dadaku. Meninggalkan diriku dan juga kedua sahabatnya yang lain dalam penyesalan.

Seandainya aku tahu kalau pertemuan itu adalah pertemuan terakhir kami, aku akan menghabiskan waktu lebih lama lagi untuk duduk bersamanya, untuk membuatnya bahagia.

Seandainya aku tahu kalau semua yang Ginan katakan adalah kode kalau ia akan mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak pernah kuduga, aku tidak akan pernah membiarkannya pergi saat itu dan akan menempel terus padanya.

Tapi, melihat wajah pucatnya yang tersenyum damai dalam tidur damainya dan juga raut penyesalan di balik kedua wajah orangtua Ginan, membuatku tidak ada alasan untuk tidak  bahagia dengan keputusannya.

Meski perasaanku yang tak terungkapkan tetap yang membuat kesedihan itu tak kunjung menyurut.


Fin

0 komentar:

Poskan Komentar

Do'a dan Asa Blog

Do'a dan Asa Blog
Follow juga

Followers

Yang paling kamu banget?

Chat Box

 

Queen Of Sad Ending Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea